The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
199. Mengantar Dimas dan Ryan



Dara mengantar Kai ke penthousenya, saat Dara hendak pulang Kai menghalanginya. Ia mengatakan jika ia masih merindukan Dara yang sudah Lima hari ini keduanya tidak bertemu. Jadi Dara hanya menurut dan masuk ke dalam penthouse untuk sejenak.


"Sayang, Kapan kamu ke Kota S?" tanya Kai


"Minggu depan, Mama dan papa udah ngabarin aku suruh ambil cuti selama seminggu buat urus keperluan dan persiapan pertunangan kita" ucap Dara


"Yah, aku hanya di berikan cuti selama tiga hari" ucap Kai cemberut.


"Kan bisa nyusul" ucap Dara


"Iya sih, tapi sebelum Cuti aku harus melakukan pelatihan rutin dulu di pangkalan. Aku nggak bisa nemenin kamu buat urus persiapan pertunangan kita" ucap Kai merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa aku ngerti sayang, selesaikan dulu kewajiban kamu untuk negara. Setelah itu kita bisa bertemu di kota S nanti" ucap Dara lembut mengelus rahang Kokoh kekasihnya itu.


Kai memegang tangan Dara yang berada di pipinya, kemudian menarik tangan itu lalu mengecupnya.


"Terimakasih sudah memahami dan mengerti soal pekerjaanku Yang" ucap Kai tulus.


"Tentu, bukankah kita selain saling mencintai dan menyayangi, kita sama-sama harus saling mengerti, percaya, menguatkan dan berbagi cerita" ucap Dara


"Cerdas sekali, calon istri siapa sih?" tanya Kai tersenyum.


"Kenalin dulu kalau gitu, ekhmm...." Ucap Dara berdeham dan duduk tegak seolah benar-benar ingin memperkenalkan diri.


"Kenalin, calon nyonya muda keluarga Narendra. Addara Azalea Narendra" ucap Dara mengulurkan tangannya.


"Hai calon istriku, perkenalkan aku calon suamimu. Kaisar Raka Narendra" ucap Kai membalas uluran tangan Dara. Keduanya kemudian tertawa bersama dengan tingkah absurd keduanya.


"Besok kamu mau ikut aku?" tanya Dara


"Kemana?" tanya Kai.


"Ke tempat bawahannya Flo" ucap Dara.


Bukan hanya Kai yang menceritakan semuanya, Dara juga sama. Semua hal Dara ceritakan pada Kai, terkecuali tentang semua hal yang berhubungan dengan Liu Annchi dan dirinya.


"Jika tidak ada tugas aku ikut" ucap Kai mengelus pipi Dara


"Oke" ucap Dara menatap lembut Kai.


Keduanya pun melepas rindu dengan bercerita, makan siang bersama dan menonton bersama. Namun setelah jam satu siang, Dara pamit pulang karena harus mengantar kedua adiknya ke sekolah.


....


Di Star mansion, Dimas dan Ryan tengah bersiap-siap mengepak barangnya untuk berkemah. Jam dua siang hari ini semua murid kelas sepuluh dan sebagian senior kelas sebelas dan dua belas berkumpul di Teranish School.


"Sudah di packing Yan?" tanya Dimas.


"Sudah Dim, aku udah cek beberapa kali. Bahkan aku udah mencatatnya biar nggak lupa. Lihat ini, menurut kamu ada yang kurang nggak?" tanya Ryan menyodorkan catatan kecil pada Dimas.


Ryan sudah terbiasa merinci segalanya, semenjak ia memutuskan untuk menjadi manager Dimas saat saudara angkatnya itu ingin menjadi selebgram. Ia melakukannya agar semua agenda dan keperluan Dimas tidak ada yang kelupaan dan tertata dengan rapih.


"Wah rinci sekali, ini sih lengkap banget Yan. Kamu luar biasa" ucap Dimas memuji Ryan dengan mengacungkan jempol nya.


"He-He, syukurlah kalau sudah lengkap. Bagaimana dengan kamu, Udah di packing semua? Udah di cek?" tanya balik Ryan


"Hmm sepertinya sudah, coba lihat" ucap Dimas menunjukan barang bawaannya.


"Udah lengkap juga, tapi ini buku apa Dim? Kamu mau bawa buku ke perkemahan" tanya Ryan.


"Ah, itu bukan buku tapi power Bank. Lihat ini kalau di buka jadi gini" ucap Dimas menunjukan cara membuka power bank yang berbentuk seperti buku itu.


Ryan membuka mulutnya terkesima melihat kotak yang sangat mirip dengan buku itu menjadi power bank.


"Ini di buka, terus ponselnya tinggal taruh di sini, Cuma butuh 15 menit ponsel sudah di charger penuh. Power bank ini bisa di gunakan selama 48 jam setelah di charger dan bisa di gunakan untuk ponsel tipe apa saja. Kan bisa bantu isi baterai nanti di perkemahan, kan kita nggak tahu di sana ada terminal atau sambungan listrik ke tenda kan?" jelas Dimas.


"I-ini, luar biasa. Dapet dari mana power bank model begini? kok aku baru lihat" ucap Ryan melihat-lihat power bank itu.


"Ini nggak di perjualbelikan. Ini buatan Kak Theo, beberapa waktu lalu saat menunggu kakak pulang kak Theo kasih ini padaku" ucap Dimas.


"Kok aku nggak tahu" ucap Ryan.


"Kamu lagi keluar sama Pak Agam waktu itu. Kak Theo bilang, dia baru buat dua buah, satu buat dia sendiri satunya buat aku. Dia bilang ini juga sebagai ujicoba rakitan buatannya, kalau berhasil dia mau buat lagi. Buat kak Dara, kamu dan yang lain. Kalau tidak ada keluhan lain, nanti ia akan ajuin ke kak Dara buat produksi ini barang" ucap Dimas


"Waaahhh Kak Theo luar biasa" ucap Ryan kagum


"Kalau dia nggak luar biasa, nggak mungkin Kak Dara rekrut dia" ucap Dimas terkekeh.


"Ha-ha kau benar, Kak Dara memang punya mata yang sangat jeli dan tajam. Ia bisa melihat bakat dan karakter seseorang hanya dalam sekali lihat" ucap Ryan mengangguk


"Kakak ku juga kali" ucap Ryan tak kalah sombong, keduanya kemudian tertawa.


....


Pukul 13.15 Dara sampai di Star mansion, Dia langsung pergi ke kamar, mandi lalu berganti pakaian. Setelahnya ia langsung ke kamar sang adik.


Ia tak melihat Dimas di sana, jadi ia turun ke lantai satu. Ia melihat Dimas dan Ryan sedang duduk bersama dengan Ezio lengkap dengan beberapa tas besar tergeletak di sana.


"Loh kalian di sini. Pantesan kakak ke kamar nggak ada" ucap Dara.


"Loh kakak udah pulang?" tanya Dimas langsung mencium tangan Dara di lanjut oleh Ryan dan Ezio yang melakukan hal yang sama dengan Dimas.


"Kalau belum, kakak nggak mungkin ada di sini atuh dek. Kamu pikir yang di hadapan kamu sekarang siapa?" ucap Dara dengan mencubit pipi adiknya itu gemas.


"Ezio mau berangkat bareng?" tanya Dara menoleh ke arah Ezio


"He-He iya kak, orang tua aku belum pulang. Boleh kan kak?" tanya Ezio dengan senyum tiga jarinya.


"Boleh, ya sudah ayo berangkat, takut telat" ucap Dara


Mereka berempat pun keluar Mansion, di depan sudah ada Sandi menunggu dan membukakan pintu. Dan membantu memasukkan tas besar ketiga bocah SMA itu ke bagasi.


Lima orang itu pun berangkat ke Teranish School dan tiba di sana 10 menit kemudian.


Di sekolah, sudah banyak murid dan keluarganya yang berada di sana untuk mengantar. Kedatangan mobil Dimas membuat semua atensi semua orang tertuju padanya.


Saat Dimas, Ryan dan Ezio turun semua heboh melihat most wanted sekolah mereka. Terlebih saat Dara turun semua orang menganga terkejut dan juga terkagum-kagum karena kecantikannya.


Bahkan beberapa orang siswa dan yang mengantar anak, adik atau saudaranya sampai mimisan masal.


"Kalung dari kakak di pake kan?" tanya Dara pada kedua adiknya memastikan.


"Di pake dong, kan udah janji sama kakak nggak bakal di lepas" ucap Ryan dan Dimas kompak.


Ezio hanya diam tidak mengerti, ia hanya menyimpulkan jika Dara memberikan hadiah pada kedua adiknya itu. Dia tidak kepo dan heran, karena perhatian Dara adalah hal yang wajar di lakukan seorang Kakak pada adiknya.


"Ini..." ucap Dara menyerahkan tiga kantong plastik pada tiga bocil itu.


"Apa ini kak?" tanya Dimas


"Makanan ringan untuk kalian di sana biar nggak kelaparan" ucap Dara


"Waaahhh makasih kak, kakak emang paling The Best tidak ada lawan" ucap ketiganya, Dara hanya terkekeh saja dan mengacak rambut ketiga bocil itu gemas.


"Kamu bawa uang cash kan Dimas, Ryan dan kamu Ezio?" tanya Dara


"Zio bawa kak, aku udah ambil di ATM kemarin" ucap Ezio


"Aku lupa kak, aku belum ambil di ATM" ucap Dimas cengengesan.


"Ryan udah ambil uang dari ATM yang kakak kasih. Buat Dimas juga udah aku ambil sekalian" ucap Ryan.


"Kamu memang selalu bisa di andalkan adik pintar kakak" puji Dara tersenyum tulus dengan adiknya itu. Membuat Ryan tersenyum, ia merasa senang karena ia bisa berguna untuk keluarga nya itu.


Dara memang sudah memberikan adik-adiknya kartu debit untuk uang saku mereka. Berbeda dengan Dimas yang memiliki kartu platinum yang memiliki limit besar, Alan dan Ryan hanya di isi 5 juta tiap bulannya sebagai uang saku dari Dara.


Ryan jarang membelanjakan uangnya, ia menabungkan sebagian uangnya. Ia selalu memanage keuangan dengan baik. Ia juga memback-up semuanya dengan baik, sama seperti saat ini.


Bakat dia sudah terlihat sejak dini, ia merupakan calon manager dan pemimpin yang sangat kompeten.


Ia bahkan kepikiran dan antisipasi Dimas lupa bawa uang cash, jadi ia mengambil uang cash double untuk Dimas juga. Ternyata tebakannya benar.


"Ya sudah, kalian bertiga hati-hati di sana. Kalau ada apa-apa hubungi kakak oke" ucap Dara


"Siap komandan" uca ketiganya kompak.


...••••••...


Hay guys, besok author mau ke Bandung selama dua hari. Kalau sempat author tetap usahakan tetap update saat ada waktu senggang buat nulis.


Untuk Novel sebelah, Xena Mungkin off dulu. Update lagi mulai Rabu pas author udah balik ke rumah.


Terimakasih buat dukungan semuanya, selamat membaca...


😉☺️🤗🥰