The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
240. Penyerangan di pangkalan



Dean mengetuk-ngetuk meja kerjanya, sungguh baru kali ini ia merasa ketar ketir sendiri karena merindukan seseorang gadis yang selalu terbayang di kepalanya.


Ya siapa lagi kalau bukan Dara, gadis yang sudah mengobrak-abrik hatinya sejak pertama kali mereka bertemu di UGD Prayoga Hospital. Gadis yang memiliki kecantikan luar biasa, pesona yang menakjubkan dan juga aura mendominasi yang kuat.


Dean yang hidupnya selalu di kelilingi wanita cantik yang bahkan rela membuka kaki untuknya, berharap agar pewaris Kusuma Group itu mau menjadikan mereka wanitanya. Namun Dean justru menatap jijik wanita seperti itu dan tidak pernah mau berhubungan dengan wanita manapun


Tapi kali ini sangat berbeda dengan Dara, gadis itu sama sekali tidak menatapnya. Membuat jantungnya berdetak kencang, bahkan setelah ia mengatakan siapa dirinya. Dara sama sekali tidak merespon seperti wanita lainnya dan tetap cuek saja, hal itu membuat Dean semakin tertarik.


Biasanya para wanita dengan rela melemparkan diri padanya, namun Dara justru menghindar dan berbicara dengan dingin padanya.


"Aaahhh si*l kenapa wajah kamu selalu terbayang baby.... Padahal baru kemarin kita bertemu, tapi aku sudah sangat merindukanmu" gumam Dean


Tak lama kemudian pintu di ketuk dan Nandar masuk ke dalam ruangan atasannya itu. Seperti biasanya, Nandar membacakan agenda pagi hari ini sampai sore nanti pada tuan mudanya itu


"Apa kamu sudah tahu?" tanya Dean tiba-tiba


"Eh, ya?" ucap Nandar yang bingung yang di maksud tuan mudanya itu apa.


"Hais... keberadaan Dara" ucap Dean mencebikkan bibirnya, membuat Nandar mengerti.


"Aaah, maaf tuan muda saya tidak bisa melacak keberadaan Dokter Dara saat ini, namun saya pastikan Dokter Dara menggunakan transportasi udara entah kemana tujuannya.


Saya menyelidikinya dan mendapati Dokter Dara tengah berada di bandara. Tapi sepertinya Dokter Dara melakukan penerbangan dengan pesawat jet pribadi, karena saya tidak menemukan namanya di penerbangan manapun" ucap Nandar apa adanya


"Jet pribadi?" ucap Dean mengeryitkan kening dan menggaruk janggutnya dengan jari telunjuknya memikirkan sesuatu.


"Bagaimana mungkin pemilik perusahaan kecil seperti A.A Entertainment bisa punya jet pribadi?" gumam Dean.


"Mungkin saja tuan muda" jawab Nandar, menurutnya tidak ada kesalahan jika orang membeli pesawat jet pribadi. Apalagi ia tahu perusahaan Dara sedang naik daun.


"Aku tahu kalau harga jet pribadi hanya puluhan milyar saja. Hanya saja biaya perawatannya juga tidak sedikit, belum lagi membayar pilot dan pramugari. Aku sangat paham jika Gadisku itu punya uang untuk membeli apapun yang ia kau. Hanya saja jika melihat harga saham di perusahaan miliknya yang hanya berkisar ratusan milyar atau triliunan dan itu merupakan harta tidak bergerak, uang Puluhan milyar cukup banyak untuk di belikan Transportasi itu" ucap Dean


"Bisa jadi Dokter Dara menyewanya" ucap Nandar


"Benar juga, ah jika ia begitu menyukai jet pribadi. Aku tidak akan pikir panjang untuk membeli pesawat itu untuknya, jika ia mau" ucap Dean dengan senyum-senyum


Tentu saja ucapan Dean membuat Nandar terkejut. Pasalnya Dean tidak pernah membelikan sesuatu untuk wanita. Terlebih ia menghela nafas, karena ia pikir tuan mudanya bodoh.


Bukankah ia sudah mengatakan jika Dara tengah dekat dengan seseorang. Ya meskipun berita itu belum tentu kebenarannya. Apakah cinta membuat mata seseorang buta dan telinga mereka tuli?


....


Di Pulau N, Dara bersiap untuk sarapan di hotel. Kai pulang subuh tadi karena menurut informasi dari si Untung itu, bahwa hari ini akan ada orang suruhan dari bosnya yang akan menyerang pangkalan militer.


Dara tetap diam di hotel atas permintaan Kai, Dara pun tidak bersikeras untuk meminta ikut karena ia percaya sepenuhnya pada Kai bisa mengatasi semuanya.


Meskipun begitu, Dara tetap standby di balkon kamar hotelnya untuk mengawasi keadaan Pangkalan.


Memang mustahil mengawasi dari hotel yang jaraknya lebih dari lima kilometer itu. Hanya saja Dara tidak kehabisan akal, Dara memberikan Kai jimat pertunjukan yang di upgrade dalam jarak jauh. Jadi Dara masih bisa melihat apa yang terjadi di pangkalan, terutama mengawasi orang yang menjadi targetnya.


Terlebih Kai sudah menghubungi Theo untuk datang ke Pulau N, tentu saja Theo menyanggupi dan akan melakukan penerbangan pagi ini. Kemungkinan dalam tiga jam kedepan Theo sudah sampai di pulau N.


Di dalam Pangkalan militer Kai bangun dari duduknya karena merasakan aura kekuatan kultivator, yang mendekat dalam radius kurang dari lima puluh meter. Ia juga mendengar teriakan salah satu anak buahnya.


Dengan bergegas Kai berlari keluar dan melihat salah seorang pria paruh baya yang Kai tebak usia sebenarnya sudah hampir satu abad itu, sedang tertawa sembari menyerang anggota Falcon yang mencoba menahan masuk.


Setidaknya ada 3 orang anggotanya yang terluka cukup parah, bisa di pastikan itu adalah luka dalam.


BRAK!!!


"Ugghhhhh...." ucap orang itu mundur tiga langkah kebelakang karena pukulan Kai.


"Siapa kamu?" ucap orang itu, keningnya mengeryit. Ia bingung kenapa Kai bisa memblokir kekuatannya dan juga berhasil menyerangnya balik meskipun Kai adalah manusia biasa.


"Apa tidak salah? Penyusup yang menanyakan hal itu pada tuan rumah? Apakah otak mu masih berjalan pak tua?" ucap Kai dingin dan datar, tidak ada rasa takut sama sekali di wajahnya. Meskipun di depannya adalah kultivator dengan tingkatan yang sama dengannya.


"Ha-ha, jangan hanya karena kau berhasil menyerangku barusan kau jadi besar kepala nak. Kau sama sekali bukan lawanku!!" ucap orang itu masih sempat tertawa.


"Kalian, bawa yang terluka ke dalam! Jangan ada orang dalam radius 20 meter, ini perintah" ucap Kai pada yang lain.


"Baik!" ucap yang lain langsung menuruti ucapan Kai


Mereka yakin komandannya yang hebat itu akan mengalahkan penyusup gila itu.


"Dan Kau! Tidak ada ampun bagi penyusup!" ucap Kai langsung menyerang orang yang bernama Doso itu.


BUGH!!!


BLAM!!!


"Si*l!!" ucap Doso kesal dan marah saat ia terkena pukulan telak di dadanya yang terasa sangat sakit.


"Bagaimana bisa kamu...." ucap Doso.


"Kau salah masuk ke tempat panglima perang, Tuan Doso dari Rin Hill, Right??" ucap Kai menyeringai.


Ucapan Kai membuat jantung Doso berhenti berdetak sejenak, ia heran. Dari mana pria tampan yang menyebut dirinya panglima perang itu, bisa tahu jika dirinya seorang kultivator.


Dan apa maksudnya panglima perang? Pria muda di depannya adalah panglima perang? Sungguh mustahil!


Tak perlu basa basi lagi, Kai langsung menyerang kembali Doso hingga membuat ia tersudut bahkan sekarang sudah terluka sangat parah.


"Katakan siapa dalang dari semuanya? Siapa yang membayarmu? Dan bukankah kau tahu jika seorang kultivator tidak di perbolehkan menyerang warga sipil tanpa sebab?" ucap Kai


"Katakan padaku! Atau aku akan membuatmu menderita dan menghancurkan kultivasi yang sudah sangat lama kau perjuangkan selama puluhan tahun ini" ucap Kai lagi dengan suaranya yang begitu dalam yang membuat orang lain mendengarnya seketika merinding.


"Itu..." ucap Doso ragu.


"Kau punya pilihan untuk tidak menjawabnya, tapi kau harus siap terima konsekuensi dari semua yang akan keluar dari mulutku" ucap Kai dengan tenang.


Doso diam saja, ia tampak sekali memikirkan semuanya. Sejujurnya ia merasa sangat di permalukan di kalahkan oleh seorang manusia biasa.


Namun ia juga percaya jika Kai akan melakukan semua yang di ucapkannya barusan dan menghilangkan kultivasinya. Terlebih dari ucapan Kai, Doso yakin jika Kai tidak sesederhana itu, kemungkinan pria itu memiliki orang dekat yang seorang kultivator juga. Begitu yang di pikirkan Doso.


Untuk kabur? Sepertinya tidak mungkin. Dengan tenaganya yang sudah sangat sedikit itu, terlebih dia berada di dalam wilayah musuh.


"Sial, aku terjebak karena kecerobohanku, harusnya aku aku memancingnya lebih dulu keluar pangkalan dan menyergapnya" Gumam Doso dalam hati.


Ia merasa tidak bisa keras kepala untuk menyembunyikan dalang sebenarnya. Jadi ia memutuskan untuk mengatakannya pada Kai siapa di balik ini semua.


"Baiklah aku akan mengatakannya, yang menyuruhku ad...." ucap Doso terpotong.


DOR!!!!!


Tiba-tiba saja suara tembakan begitu nyaring terdengar sangat kencang di sana, sudah di pastikan itu adalah tembakan dari Sniper.


...••••••...