The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
251. Menyelidiki - Hadiah



Kai mulai bergerak ke alamat yang di beritahu Theo, ia berangkat sendiri untuk mengamati situasi di sana dan melihat sendiri bagaimana kekuatan musuhnya.


Sebenarnya Ia sudah membaca semua informasi tentang Mr.D.


Namun ia tidak bisa ceroboh, ia harus mengukur sendiri seberapa tinggi kekuatan yang di miliki Mr.D. Semisalkan ia ternyata benar-benar seorang kultivator, bukankah ia harus hati-hati.


Kai sengaja menggunakan motor yang ia beli menggunakan identitas di palsukan. Tidak sulit membeli motor dengan identitas palsu miliknya, apalagi motor itu hanya motor bekas atau motor sebelah alias motor hasil curanmor yang akan Kai buang setelah selesai ia gunakan.


Villa X distrik C jalan xx adalah kawasan hunian kelas atas di kota Sy di negara A. Hanya orang-orang dengan kekayaan lebih dari 10 milyar USD yang mampu membeli rumah di sana, karena harga rumah yang di luar nalar.


Villa itu di ketahui adalah salah satu properti milik Sanim, seorang warga negara R yang berusia 35 tahun. Sanim di ketahui memiliki tiga orang istri di negara R, namun ia hanya memiliki satu orang anak perempuan. Itu pun bukan anak dari ketiga istrinya, melainkan anak dari salah satu gundiknya atau anak tidak Sah.


Kai menghentikan motornya tak jauh dari sebuah Villa yang tak lain adalah Villa milik Sanim. Kai menahan nafasnya dan mendekati villa itu dengan hati-hati, ia mulai menyusup ke villa itu.


Saat Kai sampai di sebuah ruangan, sayup-sayup Kai mendengar suara seseorang yang tengah berbicara. Kai pun mulai mendekat ke sana, namun langkah Kai terhenti tatkala ia merasakan aura kultivator yang kuat.


Ternyata tebakannya benar, kalau Mr.D adalah seorang kultivator. Yang lebih membuat Kai terkejut adalah, Aura kekuatan Mr.D tidak bisa ia ukur. Tebakan Kai tingkat kultivasi Mr.D lebih tinggi darinya. Namun tingkatan berapanya Kai tidak tahu.


TRANG!!!


Saat akan keluar dari villa itu, Kai tidak sengaja menyenggol barang di sana dan membuat Vas yang ia senggol itu pecah.


"****!!" gumam Kai dalam hati merutuki kebodohannya karena tidak berhati-hati.


"Siapa itu?" ucap Mr.D menggunakan bahasa negara A.


Sanim tiba-tiba saja menggigil, ia merasa ketakutan. Ka berpikir jika orang-orang yang memburunya sudah berhasil menemukannya, meskipun kenyataan sebenarnya memang demikian.


"Mr.D tolong aku!" ucap Sanim dengan tubuh bergetar.


"Tenang, aku akan memeriksanya. Jangan bergerak dari ruangan ini sebelum aku kembali. Aku sudah memasang mantra di ruangan ini, jadi kamu akan tetap aman di sini jika kau tidak keluar. Mengerti?" ucap Mr.D


"Ba-baiklah" ucap Sanim mengangguk.


Dengan langkah cepat, Mr.D langsung menuju ke arah sumber suara. Tapi ia hanya mendapati sisa vas yang jatuh, ia memfokuskan indranya dan mencoba mencium apakah ada jejak orang datang. Namun hasilnya nihil, tidak ada nafas kultivator atau manusia yang masuk ke area sini dan sekitaran Villa. Terlebih jika ada kultivator di area sekitarnya, tentu saja Mr.D bisa mengetahuinya dengan cepat.


Setelah memastikan tidak ada orang, Mr.D kembali ke ruangan di mana Sanim berada.


"Ba-bagimana Mr.D, apa anda sudah menangkap penyusup itu?" tanya Sanim


"Tidak ada penyusup, saya sudah mengeceknya namun tidak jejak manusia datang" ucap Mr.D


"Lalu bunyi itu?" tanya Sanim.


"Itu vas bunga yang terjatuh, mungkin itu jatuh karena ada tikus lewat. Bukankah villa ini lama tidak huni? Dan dekat dengan view hijau dari hutan sebelah sana, mungkin ada beberapa tikus masuk" ucap Mr.D.


Sanim mengangguk karena alasan yang di ucapkan Mr.D sangat masuk akal. Seketika ia lega karena penyusup itu benar-benar tidak ada.


....


Meanwhile, Kai menghela nafas lega dan mengelus dadanya. Ia berhasil sedetik lebih cepat pergi dari vila itu sebelum Mr.D datang. Ia menggunakan batu mantra yang di berikan oleh Dara beberapa hari yang lalu sebelum ia pulang. Batu itu adalah baru Teleportasi.


Meskipun jarak berteleportasi hanya sampai batas tidak lebih dari 200 meter dan hanya bisa di gunakan tiga kali, itu sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkan diri di waktu krusial atau darurat.


Setelahnya Kai langsung melajukan motornya menuju ke arah hotel. Kai pun menaruh motor itu di sebuah gedung tidak terpakai dan tentunya tidak ada CCTV di sekitar sana.


Kai tidak membuang motor itu sementara, karena ia akan menggunakannya lagi nanti. Setelahnya Kai mencoba menelepon Dara, namun teleponnya tidak di angkat. Kai pun tidak meneleponnya lagi, karena ia tahu kemungkinan tunangannya itu tengah bekerja. Karena jam di Negara A dan si tempat Dara berbeda, jadi ia memutuskan untuk menunggu Dara mengabarinya balik.


....


Bagaimana tidak, di ruangannya kini terdapat sekotak perhiasan satu set lengkap. Itu adalah perhiasan yang terbuat dari berlian. Untuk harganya, ya jelas merogoh kocek yang sama sekali tidak dangkal alias yang membuat jiwa misqueen menjerit.


"Astaga, kenapa lagi nih orang" ucap Dara


"Kenapa Dok?" tanya Nia yang memang membawa peralatan Dara.


"Tuh!" ucap Dara menunjuk dengan dagunya.


"Woooww, perhiasan... Indah sekali" ucap Nia takjub


"Kalau nggak suka jangan di buang dok, di hibahin ke saya juga saya tidak nolak he-he" ucap Nia nyengir kuda dengan nada bercanda. Ia juga tidak mungkin serius mengatakan itu, ia bukan orang serakah menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.


"Saya mau balikin nih barang, apa otaknya gesrek ngirim beginian. Kalau masalah hibah, aku hibahin yang ngirimnya aja deh" ucap Dara


"Namanya juga orang jatuh cinta dok. Kenapa nggak di terima aja Dok? Tuan Dean kan ganteng, kaya dan juga romantis idaman wanita banget. Pasti cewe di luaran sana kalau dapet kaya Dokter pasti lompat-lompat kegirangan. Saya udah merit dok, bisa perang dunia ketiga kalau nyantolin berondong ganteng dan tajir. Sadar diri, sadar body dan sadar kantong dok" ucap Nia. Nia menikah muda di usia 22 tahun, setelah ia lulus akademi keperawatan ia langsung menikah dan baru berjalan beberapa bulan ini.


"Itu cewe lain, bukan aku Nia. Lagian aku nggak suka dia, aku punya tunangan yang sangat aku cintai" ucap Dara


"Loh dokter sudah punya tunangan?" tanya Nia terkejut


"Hmm, aku akan menikah setelah aku menyelesaikan kuliahku" ucap Dara


"Woaahh, ini Hot News. Aku kira dokter masih single" ucap Nia lagi


"Kalian aja yang nggak pernah nanya" ucap Dara terkekeh.


"Seperti apa ya cowo beruntung yang berhasil mencuri hati dokter Dara, apa dia sangat tampan?" tanya Nia.


"Tampan itu relatif, tergantung dari sudut mana di lihatnya. Tapi kalau menurutku, tunanganku adalah pria paling sempurna. Aku sangat beruntung memilikinya" ucap Dara


"Semoga langgeng ya Dok" ucap Nia


"Berbelok dukung nih, tadi bilangnya suruh aku terima tuh orang" ucap Dara


"He-He, kan saya mah tim netral Dok. Kalau Dokternya sudah pulih tunangan Dokter, saya bisa apa? Lagian kan yang jalanin dokter bukan saya. Saya mah nggak mau ribet ngurusin orang lain dok. Urusan saya aja udah bikin otak, kantong dan badan menjerit karena keberatan ha-ha" ucap Nia tertawa


"Kamu ini ada-ada saja. Sana makan siang dulu. Nanti jam makan siang kamu terlewat lagi" ucap Dara


"Iya dok, terus Dokter jadi kembaliin tuh perhiasan?" tanya Nia lagi.


"Hmm, nanti pas pulang aku mampir ke kantornya kembaliin langsung" ucap Dara


"Mau di anter Dok?" tawar Nia


"Tidak perlu, aku bisa sendiri" ucap Nia.


Setelahnya Nia keluar menuju ke kantin untuk mengisi energinya, yakni dengan makan siang tentu saja.


Dara meletakkan kotak perhiasan itu di atas meja, ia kemudian mengambil ponselnya. Ia terkejut melihat ada panggilan tidak terjawab dari Kai sejam yang lalu. Langsung saja Dara menelepon balik Kai, ia khawatir ada hal-hal buruk yang terjadi dengan tunangannya itu.


...•••••••...