The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
239. Main Extreme - Menyelidiki Dara



Melihat orang itu tetap terdiam seolah tidak terjadi apa-apa, Dara menyeringai. Ia tahu pasti jika orang di depannya pasti akan menyesal karena sejak tadi diam saja sembari menahan sakit di tangan juga kakinya itu. Tanpa memohon ampun dan menjawab dengan dengan benar.


"Kau pikir ini hanya gertakan? Kau akan segera menyesalinya. Percayalah" ucap dara dengan santainya.


"Kalian tidak bisa berbuat hal-hal aneh, apapun itu pemerintah tidak mengizinkan pihak militer untuk memukul warga sipil. aku pastikan kamu mendekam di penjara karena sudah menyakitiku" ucapnya mencoba tenang.


"Ah, sayang sekali aku tidak takut. bukankah selama kau menghilang, maka tidak ada yang perlu aku takutkan. Dan pula, ucapanmu barusan sudah membuktikan jika kau memang datang untuk memata-matai kami. Kalau tidak, bagaimana kamu tahu kalau kamu berasal dari militer?" ucap Dara terkekeh membuat pria itu gemetar takut dan juga merutuki kebodohannya yang justru keceplosan.


Sedangkan Kai tidak berkomentar sama sekali mendengar ucapan Dara. Baginya baik itu salah atau pun tidak, ia berjanji akan selalu berada di samping gadis-nya bahkan rela menanggung semuanya, jikapun Dara melakukan hal yang melanggar hukum. Ia tidak akan membiarkan gadisnya menanggungnya.


"Sayang sekali, aku tebak jika ini kepala isinya hal-hal yang buruk saja, sungguh sangat menjijikan!" ucap Dara membuat pria itu entah mengapa merinding sekujur tubuhnya, terlebih melihat seringai Dara dan aura nya yang begitu kuat, begitu mendominasi.


"Sayang tolong ambil handuk yang ada di kamar mandi" ucap Dara dengan lembut dan menatap Kai yang terlihat sangat senang di panggil kata-kata manis itu.


Kai pun menurut untuk mengambilkan handuk kecil itu dan segera memberikannya pada Dara. Dara pun membungkus handuk itu pada tangannya.


"Biar nggak tertular Virus DBD" ucap Dara tahu apa arti tatapan heran Kai


"Kok DBD Yang?" tanya Kak yang tidak mengerti.


"Ya DBD, Dungu Bodoh dan Djidjik pake D. Eh salah, maksudnya Dungu Bodoh dan titisan Dajjal. Lagian sayang benar ini tangan aku menyentuh mahluk astral seperti ini, tentu harus aku lindungi dong biar nggak bersentuhan dengan hal menjijikan" ucap Dara


Kai hanya terkekeh melihat Data makasih sempat untuk membuatnya tertawa di saat serius seperti ini.


Kemudian Dara benar-benar enggan bersentuhan fisik dengan pria itu dan meletakan tangannya yang sudah di balut handuk ke kepala pria, yang tidak bisa apa-apa karena kedua tangan dan kakinya di patahkan itu.


"Aaaarrrrrggghhhhh!!!! Ampuuunnn sakiiittttt!!!!" Teriak pria itu dengan sangat kencang.


Untung Dara sudah membuat dinding Chi untuk memblokir suara keluar. Karena ia tahu kedap suara di hotel itu tidak begitu baik dan masih bisa di dengar oleh orang luar atau tetangga kamar.


Kepala pria itu seperti berdengung seperti hampir pecah dengan sakit seperti ribuan jarum menusuk sekaligus.


Dara masih serius dengan mulutnya yang sesekali berkomat-kamit, hanya butuh waktu tiga menit. Kemudian Dara menarik kembali tangannya dari kepala pria itu.


Namun pria itu masih terus saja berteriak kencang, karena rasa sakitnya tak juga kunjung sembuh setelah Dara melepaskan tangannya.


"Ampuuunn, akuuuu mengakuuuu....Maafkaaan akuuuuu aku saalaaaahhhh" ucap pria itu.


"Sudah terlambat tuan Untung, sayang sekali nasibmu tidak seberuntung namamu saat bertemu denganku. Aku sudah mengetahui semuanya, jadi sekarang nikmatilah, karmamu" ucap Dara menyeringai.


"Aaaarrrkkkkkhhh ti-tidakkkk, aku mohon ampuuunn nonaaaaaa" ucap pria bernama untung itu menangis, karena merasakan sakit yang teramat di sekujur tubuhnya. Ia tidak menyangka jika ucapan Dara tentang resiko atau efek samping itu ternyata benar adanya.


Kai terkejut melihat tubuh Untung yang mulai mengelupas dan meleleh seperti lilin. Suara teriakan menyakitkan dan memilukan yang menggema pun terdengar.


Setidaknya teriakan itu bertahan hingga satu jam lamanya sebelum tubuh Untung berubah jadi uap dan menghilang di udara.


Setelah untung menghilang Dara pun menceritakan Apa yang ia dapatkan dari memori Untung. Apa yang di ceritakan Dara sungguh membuat Kai sangat terkejut.


"Kau harus berhati-hati dan menyelidiki semua yang terlibat di balik layar yang menggunakan topeng militer di depan wajahnya. Aku khawatir orang seperti ini akan menjadi parasit jika di biarkan terlalu lama" ucap Dara


"Kamu benar sayang, Aku akan mengurus ini jika masalah tentang organisasi yang menjadi target kami sudah di bereskan" ucap Kai.


"Ya, itu harus" sahut Dara


"Bagaimana dengan ketiga barang itu, apa kamu ada info?" tanya Kai


"Tidak banyak, si Untung tadi hanya tahu sedikit informasi. Tapi sepertinya ini merupakan titik terang untuk mencari tahu lebih dalam lagi. Chip itu! Pemimpin organisasi itu menginginkan ketiga benda itu, tapi sangat terfokus untuk menyelamatkan Chipnya lebih dulu. Aku pikir Chip itu merupakan kunci atau benda paling berharga. Untuk cairan itu biar aku yang menelitinya, aku akan mengatakannya jika sudah tahu hasilnya dengan jelas" ucap Dara


"Berarti kita harus tahu Chip apa ini. Tapi siapa yang bisa membuka isi chip ini? Keluarga Narendra sebenarnya punya Ahli IT yang sangat hebat, hanya saja aku tidak bisa melibatkannya di urusan ini" ucap Kai.


"Aku tahu siapa yang bisa bantu" ucap Dara


"Siapa?" tanya Kai


"Theo!" ucap Dara menyeringai.


....


Di Kota S, di sebuah kamar mewah. Dua memandangi langit kamarnya. Entah mengapa wajah cantik manis dan menggemaskan Dara selalu berada di pelupuk matanya dan tidak ingin menghilang dari pandangannya.


Tok! Tok! Tok!


Saat asik melamun, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Saat tahu itu adalah Nandar, Dean menyuruh sekretarisnya itu masuk dan menutup pintu itu kembali.


"Bagaimana? Sudah dapat?" tanya Dean langsung pada Nandar tidak sabar.


"Jujur saja, sangat sulit mencari informasi tentang Dokter Dara tuan muda, terutama latar belakang keluarganya. Saya hanya mendapat sedikit informasi dari media tentang dokter Dara" ucap Nandar


"Media?" beo Dean mengeryitkan keningnya. Dia bingung apa hubungannya gadisnya itu dengan media?


"Ya, awalnya saya hampir menyerah karena sama sekali tidak menemukan titik cerah sedikitpun. Hanya saja tidak sengaja Ruri melihat photo Dokter Dara dan mengenalnya" ucap Nandar.


Nandar punya photo Dara karena ia kebetulan memotret photo di id Card Dara yang ada di papan Dokter di ruangan Alden tanpa sepengetahuan Om dari Dara itu.


"Ruri kenal?" tanya Dean. Ia bingung kenapa Ruri yang notabene sekretaris kedua dirinya di kantor bisa mengenalnya.


"Bukan kenal, tapi mengidolakannya. Anda bisa lihat ini" ucap Nandar memberikan tabletnya pada Dean.


"Saya hanya tahu kalau Dokter Dara bernama Addara Azalea A dari ID Card dokternya. Ia juga merupakan Owner dan ketua dari perusahaan A.A Entertainment yang sedang naik daun. Ia juga seorang kakak dari seorang Selebgram dan YouTubers muda dengan nama akun Dimas A.R. Dokter Dara sama sekali tidak punya akun media sosial dan belakangan ada berita jika ia di gosipkan sedang dekat dengan seorang laki-laki yang belum di ketahui identitasnya" jelas Nandar


Dean melihat semua berita yang ada di tablet Nandar, ia tidak berkedip saat melihat betapa cantik dan terkenalnya Dara di dunia Maya. Dean sama sekali tidak menggubris ucapan Nandar jika Dara di gosipkan dekat dengan laki-laki. Ia bertekad untuk membuat Dara menjadi miliknya.


...•••••••...