
Baik Kai ataupun Doso terkejut mendengar suara tembakan dan berhasil melubangi sebuah batu di dekat mereka.
Tembakan itu tentu saja meleset dan tidak berhasil mengenai kepala Doso atau Kai, yang bisa di tebak jika kepala Doso atau Kai yang menjadi incaran dari sniper.
Meskipun terkejut, Kai justru sepersekian detik lebih awal menyadari tembakan itu. Jikapun tembakan itu mengarah padanya, sudah pasti ia bisa menghindar tepat waktu sebelum peluru itu mengarah padanya.
Kultivator memang bisa menghindar atau menghalangi peluru, hanya saja ada beberapa jenis peluru yang masih bisa melukainya. Terutama kultivator dengan kekuatan yang masih rendah.
"Sepertinya kau salah mencari sekutu tuan Doso!" ucap Kai dengan senyum mengejek.
Doso hanya diam saja, ia masih terkejut dengan tembakan barusan. Kalau kepalanya terkena, meskipun dia masih hidup. Tapi kemungkinan besar ia akan terluka parah. Terlebih karena ketakutannya pada Kai, membuatnya tidak menyadari jika ada peluru yang mengarah padanya.
"Si*l, ternyata mereka lebih memilih mengorbankan aku, di bandingkan identitas mereka terbongkar" Gumam pelan Doso dengan mengepalkan tangannya marah.
Tentu saja ia marah, siapa yang tidak marah saat ia di khianati oleh orang yang membayarnya. Ya meskipun ia juga ada keinginan untuk mengkhianati dan memberi tahu siapa dalang sebenarnya pada Kai.
"Sekarang katakan, Siapa orang yang membayarmu untuk menyerang markasku? Apa yang mereka inginkan?" ucap Kai tetap dengan nada dinginnya, ia yakin Doso dengan senang hati akan mengungkap semuanya, karena ia merasa di khianati.
"Aku akan mengatakannya, namanya adalah Sanim" ucap Doso
"Sanim?" beo Kai mengangkat sebelah alisnya.
"Pengusaha ritel dan G.Techno dari negara R. Ia membayarku dengan tinggi, kepalamu di hargai 10 juta USD. Mereka juga menginginkan barang yang kau rampas bisa mereka ambil kembali" ucap Sanim
Kai yang mendengarnya mengeryitkan keningnya, apa hubungannya pengusaha itu dengan kelompok buronan negara mereka? Dan juga apa hubungan benda ini dengan musuh dan juga pengusaha kelas satu di negara tetangga itu.
"Maafkan aku, aku melakukan ini karena aku membutuhkan uang untuk cucuku yang sebentar lagi akan menikah dan butuh biaya yang banyak. Sedangkan aku hanya kultivator amatir yang tidak memiliki kekayaan apapun dan terbiasa di desa, baru kali ini aku keluar untuk melakukan misi dengan bayaran tinggi ini" ucap Doso cukup meyakinkan.
Sayangnya di telinga Kai alasan itu sungguh di buat-buat. Kalau saja Kai tidak memiliki insting dan kemampuan membaca raut wajah lawannya. Juga tidak menyelidiki terlebih dulu bersama calon istrinya semalam tentang Doso, Ia bisa saja terkecoh karena begitu baiknya akting seorang Doso.
Lihat saja mimik wajahnya benar-benar di buat sangat alami, bahkan matanya tidak nampak kebohongan sama sekali. Seakan ucapannya itu adalah benar adanya.
Jelas Kai bisa merasakan aura kultivator Doso sudah bercampur dengan aura gelap, itu tandanya bukan kali ini saja Doso membunuh orang. Mengingat betapa tebalnya aura gelap itu, itu cukup menjelaskan jika Doso sudah membunuh banyak orang.
....
Meanwhile di saat yang bersamaan sebelum kekadian penembakan itu. Di sebuah bangunan tak jauh dari markas, tempat sniper itu berada. Sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk menembak targetnya.
Ia mengikuti instruksi dari atasannya yang memerintahkan, jika terjadi hal yang melenceng dari rencana awal. Maka ia akan mengambil tindakan, yakni membunuh target A atau B yang mana itu adalah Doso ataupun Kai.
BRAK!!!
DOR!!!
Bertepatan dengan ia yang hampir menarik pelatuk senjatanya, senjata itu di tendang ke atas. Meskipun ia berhasil menarik pelatuk di saat terakhir, namun tembakan itu jadinya meleset.
"Si*l!!! Siapa kau!!" teriak pria tadi yang yang tak lain adalah sniper itu marah.
"Kau tidak layak untuk tahu!" ucap seorang perempuan yang memakai penutup wajah. Meskipun begitu sniper tahu jika di depannya adalah seorang perempuan dari postur badan dan suaranya.
"Dasar ja**Ng sialan!!! Jangan pikir kau perempuan aku tidak berani melukaimu. Kau sudah mengacaukan pekerjaanku, bangsat!!!" Teriak pria itu.
Perempuan yang tak lain adalah Dara itu menyeringai di balik penutup wajahnya, saat si sniper tadi mencoba menyerangnya dengan tangan kosong.
"Bodoh!" ejek Dara
BUAK!!!!
Saat pukulan itu mengarah ke arah Dara, justru tendangan Dara mendahuluinya dengan sangat cepat, keras dan akurat.
"Huuuueekk!!!" Sniper tadi memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
"Haaahhh haaaahh,,, ssshhh" rintih sniper itu merasakan sakit di bagian perutnya yang teramat sangat, belum lagi perutnya merasa bergejolak hingga ingin muntah lagi.
Ia tidak menyangka, seorang wanita dengan perawakan kurus bisa membuat tendangan yang sangat keras, bahkan ia sama sekali tidak melihat tendangan itu barusan.
"Siapa?" tanya Dara dengan nada dingin.
"F-Fra-ns" ucapnya dengan terbata-bata menahan sakitnya, Dara mengerutkan keningnya. Melihat Dara diam sniper itu mengucapkan kalimat lagi.
"K-kau mena-nyakan- nama ku bu-kan?" ucap sniper bernama Frans itu.
"Ternyata kau benar-benar bodoh!" ucap Dara menghela nafas. Membuat Frans ikut bingung.
"Maksudku siapa yang menyuruhmu, bodoh! Masa seperti itu saja kau tidak mengerti" ucap Dara.
"Astaga, kenapa ini cewe malah nyalahin aku? Salah dia nanyanya irit banget, mana ngeri aku bahasa perempuan" umpat Frans dalam hati. Meskipun ia masih merasakan sakit di perutnya.
"Jangan membicarakan aku di otak bodohmu itu!!!" ucap Dara
"Dia bisa tahu? Dia dukun?" ucap Frans lagi dalam hatinya.
"Cih, Aku bukan dukun, enyahkan pikiran tidak berbobot itu dari otak sempitmu itu!!" ucap Dara lagi membuat Frans membolakan matanya terkejut lagi dan lagi.
"Fix dia dukun!" gumam Frans lagi
"Aku bilang enyahkan pikiran bodoh itu, atau aku keluarkan otakmu dari tempatnya!!" ucap Dara geram
Frans langsung diam tidak berani memikirkan apa-apa lagi. Ia benar-benar takut Dara melakukan apa yang ia katakan barusan.
"Apa kau bisu? Aku menanyakan siapa yang menyuruhmu menembak mereka?" ucap Dara lagi, sungguh ia emosi jiwa menghadapi kebodohan sniper bodoh di depannya.
Ia bingung, kenapa bisa orang bodoh sepertinya bisa menjadi sniper. Haaahhh, dunia ternyata selucu itu.
"A-aku ti-dak bi-sa mengata-kan-nya" ucap Frans terbata, rasa sakit di perut dan rasa panas yang menjalar hingga tenggorokannya membuat nya sulit bicara.
"Apa Kau sebodoh itu? Katakan, maka aku akan membebaskan kamu kau mengatakannya!" ucap Dara lagi.
"Bu-nuh sa-ja aku!" ucap Frans
"Oh, kau tidak mau buka mulut, jadi kau memilih mati?" ucap Dara terkekeh mendengar ucapan Frans
"Aku ti-dak akan men-jilat lu-dahku sen-diri, aku tid-dak akan per-nah membo-corkan iden-titas klien ku pada sia-pa pun" ucap Frans lagi
"Haaahh, kau sungguh definisi kebodohan yang hakiki. Kalau saja yang akan kau tembak bukanlah orang yang berharga untukku, aku masih bisa mengampunimu. Tapi Sayangnya, kau memilih target yang salah, dan hampir membuat orang yang ku cintai terluka bahkan bisa saja meregang nyawa. Aku tidak akan mengampuninya" ucap Dara yang berjalan maju mendekati Frans.
"Terima karmamu sekarang!" ucap Dara
"Aaarrrgggghh...... Saakiiiiittttt.... Ammmm-puuuuuunnnn" ucap Frans, saat Dara menyerap memori milik Frans dengan paksa.
Selesai mentransfer memori milik Frans padanya dan mendapat informasi yang memang Dara inginkan. Dara melangkah menjauhi Rooftop dengan terbang dari sana menggunakan Qing gong atau ilmu meringankan tubuh, hingga Dara bisa terbang dengan mudahnya
Dara tidak membunuh Frans, bagaimanapun ia sudah membunuh Untung kemarin malam. Jadi ia hanya membuat Frans menjadi orang idiot, yang tidak akan pernah bisa sembuh.
...••••••...