
Braja mengerutkan keningnya saat melihat tiga orang di depannya terlihat biasa saja dengan aura kekuatan yang sudah ia keluarkan.
Meskipun saat ini Kai dan Flo berada di tingkat lebih bawah dari Braja, tapi kekuatan mental keduanya tidak bisa di bandingkan. Jadi tentu saja keduanya tidak akan terpengaruh oleh aura kekuatan yang di keluarkan oleh Braja.
Mungkin jika Braja adalah kultivator baik dan juga mengolah kekuatan seperti mereka bertiga, sangat mungkin Kai dan Flo akan terpengaruh oleh kekuatan yang di keluarkan oleh Braja.
Sedangkan Anak buah Braja yang tidak sadarkan diri, kini terbangun saat merasakan tekanan dari junjungannya itu dan merasa tubuhnya tercekik karena kekuatan mereka jauh di bawah Braja.
"Kenapa kalian terlihat biasa-biasa saja?" ucap Braja heran melihat Dara, Flo dan Kai biasa saja tak terpengaruh.
"Karena kau terlihat sangat lemah di mataku" ucap Kai menyeringai.
Tanpa ba-bi-bu, Kai langsung melancarkan serangan. Braja yang melihat itu sangat geram, ia juga mengeluarkan kekuatan nya dan ikut menyerang ke arah Kai.
Karena fokus menyerang Kai, aura kekuatan miliknya yang menekan semua orang pun hilang. Semua anak buah Braja kini menghela nafas lega, karena aura milik Braja di tarik kembali.
DUAR!!!!!
Suara ledakan sangat keras membahana di seluruh penjuru ruangan, atau mungkin bisa terdengar sampai di luar.
BRAK!!!!
"Aaarrggghhh....!!!" teriak Braja saat tubuhnya terdorong dengan kencang dan menghantam tembok. Bahkan tembok itu pun kini hancur.
Semua orang kecuali Dara, Flo dan Kai terkejut melihat seorang Braja yang agung kini terbaring di lantai mengerang kesakitan hanya karena orang biasa.
"Tuan!!!" teriak bawahan Braja menghampirinya
"Apa tuan tidak apa-apa?" tanya yang lain.
"Aku tidak apa-apa, kalian semua serang mereka jangan biarkan mereka bertiga lolos dari tempatku!!!" ucap Braja geram
Semua bawahan Braja kini menyerang Kai dan yang lainnya dengan kekuatan penuh mereka. Namun itu hanya hal kecil bagi ketiganya.
Cukup Flo yang bergerak, lebih dari setengahnya terkapar di lantai. Selebihnya hadapi Kai dan dengan mudahnya mengalahkan semuanya.
Dara hanya diam saja, bukan karena ia tidak ingin membantu. Tapi baginya Flo dan Kai sudah cukup untuk melawan semuanya. Bahkan pertarungan yang tidak seimbang ini setidaknya bisa menjadi pengalaman pertarungan untuk keduanya, meskipun masih dalam level rendah.
Braja yang marah karena semua bawahannya kalah, ia langsung menyerang Dara yang sejak tadi diam dan menjadikannya sandera. Ia mengira jika di antara ketiganya hanya Dara yang lemah, karena sejak tadi ia diam saja tidak membantu.
"Berhenti!!!! Atau aku habisi wanita ini!" teriak Braja.
Kai dan Flo pun berhenti memukuli bawahan Braja dan menoleh ke arah Braja dan Dara. Keduanya menoleh dan mengerutkan kening kemudian tertawa lepas melihat apa yang di lakukan Braja.
"Kenapa kalian tertawa? Kalian tidak peduli dan khawatir dengan teman kalian dan juga apa kamu tidak khawatir pada calon istrimu bocah tengik?" ucap Braja marah dan masih mengarahkan pedang pendek ke arah leher Dara.
"Harusnya kau yang mengkhawatirkan nyawamu sendiri, bodoh!!!" ucap Flo dengan senyum mengejek
"Apa maks..." belum selesai Braja berbicara, pedang yang mengarah ke leher Dara tiba-tiba saja hancur berkeping-keping.
"Beraninya kau mengarahkan pedangmu kepadaku!" ucap Dara dengan dingin.
BUAK!!!
Dara langsung memukul keras dada Braja hingga pria tua berpenampilan muda itu terlempar dan lagi-lagi menabrak tembok untuk kedua kalinya.
Braja membolakan matanya dan merasakan teramat sakit di dadanya. Ia tidak menyangka jika gadis yang ia kira paling lemah, justru kekuatan ledakannya lebih besar di bandingkan dengan rekannya yang lain.
"Karena kau dan bawahanmu adalah kultivator jahat, yang menjadikan anak-anak sebagai tumbal untuk meningkatkan kekuatan kalian. Jadi tentu saja kami harus membinasakan kamu dari muka bumi, agar tidak menjadi sampah yang merusak generasi kami" ucap Flo dengan sengit.
"Ba-bagimana kalian tahu?" tanya Braja yang terkejut bahwa tiga orang di depannya tahu bahwa ia dan bawahannya adalah seorang kultivator jahat.
"Kau tidak layak tahu, lebih baik pikirkan sapaan yang bagus saat berhadapan dengan dewa kematian di alam baka!" ucap Flo menyeringai
BLAR!!!
Flo tanpa ba-bi-bu mengeluarkan Chi miliknya dan menyerang Braja tepat di pusat energinya hingga meledak dan membuatnya mati seketika itu juga.
Di akhir hidupnya, Braja baru mengetahui jika Ketiga orang yang menyerang mereka adalah seorang kultivator. Namun ia heran karena ia tidak bisa merasakan aura kultivator dari mereka bertiga. Meskipun ia tahu saat ini, tapi ia terlambat untuk menyesalinya dan berakhir tak bernyawa.
Setelah membunuh Braja, Flo lanjut membunuh semua bawahan Braja tanpa tersisa. Lalu Dara menyuruh Flo untuk mengumpulkan jasad mereka dan membakarnya beserta Rumah itu.
Jika saja itu rumah kontrakan atau milik orang lain, Dara tidak akan menyuruh membakar rumah. Tapi setelah ia tahu dari data yang di berikan oleh Theo, yang mengatakan rumah itu adalah milik Braja dan biasa di jadikan transaksi dunia hitam.
Selain kultivator hitam, Braja dan bawahannya juga menjadi pembunuh bayaran dengan bayaran sangat tinggi.
....
"Nona, apa kita pulang sekarang?" tanya Flo
"Kai apa boleh Flo ikut ke penthouse milikmu?" tanya Dara
Kai mengerutkan keningnya kurang paham maksud dari calon istrinya itu.
"Aku ikut denganmu pulang ke penthouse, tapi aku tidak bisa membiarkan Flo kembali ke mansion dalam keadaan berantakan dan auranya penuh dengan aura hitam. Ya meskipun aura miliknya bisa di tutupi,vtapi ia tidak bisa masuk" ucap Flo
"Nona, biarkan aku kembali ke markas saja" ucap Flo
"Tidak! Di markas dan mansion sudah ku pasang formasi penangkal aura jahat, kau tidak akan bisa masuk ke sana meskipun auramu bisa di tutup. Karena formasi yang aku buat masih bisa mendeteksi aura kekuatan yang ada di dalam tubuhmu" ucap Dara
"Kapan anda buat formasi itu?" tanya Flo
"Seminggu yang lalu, aku membuatnya untuk berjaga-jaga agar tidak ada penyusup yang masuk ke markas dan keamanan semua orang di markas dan mansion terjamin" jelas Dara
Flo mengangguk paham, jadi ia hanya bisa diam saja menunggu keputusan dari nonanya itu.
"Bagaimana Kai?" tanya Daraenolej ke arah Kai.
"Kita pergi ke apartemen ku di lantai 7, aku juga punya apartemen kosong dan Flo bisa tinggal sementara di sana. Apa Flo akan melakukan retret sekarang juga?" ucap Kai
Dara hanya mengangguk setuju, ia paham bahwa Kai tidak pernah mau mengajak orang lain datang ke penthouse miliknya kecuali Dara tentunya.
Begitupun keluarga nya yang tidak di berikan akses ke sana, meskipun waktu itu Flo pernah datang bersama dengan Dara. Namun Kai tidak membiarkannya masuk dan mengajak mereka keluar.
"Ya, Flo akan melakukan Retret, apa tidak apa-apa meminjam apartemen mu?" tanya Dara.
"Tidak apa-apa sayang" ucap Kai tersenyum dan mengelus kepala Dada dengan sayang.
Meskipun yang di ucapkan Dara benar adanya, tentang Flo yang akan melakukan retret. Namun Dara tidak memberi tahu keduanya bahwa Flo akan melakukan retret di dalam ruang dimensi miliknya.
Yang keduanya tahu bahwa ruang dimensi itu adalah milik guru dari Dara yang berada di dalam alat atau benda sihir.
...•••••••...