
Dara menikmati hatinya bersama dengan Kai, mereka mengunjungi banyak tempat dan mengabadikan momen berdua.
Sampai akhirnya malam tiba, keduanya pun tidur dengan nyenyak dengan saling berpelukan.
Kai memaksa Dara untuk tidur malam ini bersamanya di apartemen, karena ia masih enggan berpisah dengan Dara sebelum bertugas lama di perbatasan esok.
Pagi harinya dengan wajah di tekuk Kai bersiap untuk pergi ke bandara. Dara hanya terkekeh melihat raut wajah calon suaminya itu yang sangat menggemaskan.
"Kenapa hmm?" tanya Dara
"Aku enggan meninggalkan kamu, rasanya aku malas kembali ke pangkalan" ucap Kai
"Hei, itu tugasmu dan itu tanggung jawabmu sayang. Kamu adalah pria hebat dan kebanggaan negara, banyak orang di sana yang membutuhkanmu. Jadi jangan kehilangan semangatku" ucap Dara kemudian mengecup bibir Kai singkat.
"Aku tahu, tapi aku masih merindukanmu. Rasanya aku gila tidak melihatmu sebentar saja" ucap Kai menghela nafas
"Kau ini, seperti baru pacaran saja he-he, yang sabar karena ini sudah kewajiban kamu sebagai abdi negara. Aku juga akan fokus untuk Koas dan skripsiku agar cepat lulus. Jadi Tuan Kaisar Raka Narendra yang terhormat, tercinta dan tersayang. Semangat terus, semoga urusan di sana cepat selesai dan kembali dengan selamat. Bersabarlah hanya menunggu beberapa bulan kita bisa nikah dan kita bisa menghabiskan waktu lebih lama" ucap Dara tersenyum
"Kau benar sayang, ah aku tidak sabar menunggu saat kita sudah sah menjadi suami istri" ucap Kai
Kai langsung memeluk Dara dan mencium bibirnya dengan lembut namun menuntut. Ciuman panjang itu terus berjalan sampai di antara keduanya kehabisan nafas.
Setelah puas menghabiskan waktu berpacaran sebelum waktu menunjukan waktu penerbangan Kak. Keduanya pun keluar dari apartemen mewah di kota S itu lalu pergi menuju ke Bandara.
....
"Sayaaaaanggg" teriakan Ellena membahana di mansion Adi Raharjo saat melihat putrinya duduk santai bersama mertuanya di ruang tamu.
"Astaga Ellena jangan teriak-teriak" ucap Gusti
"Maaf Yah, Ellena kaget plus senang melihat Dara sudah sampai he-he" ucap Ellena nyengir kuda.
Sedangkan Gusti di sana hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah somplak menantunya itu.
"Apa kabar sayang? Kamu kapan sampai di kota S?" tanya Ellena memeluk dan mencium kedua pipi putrinya itu.
"Sampai kemarin mah, kabar aku baik. Kalau mama, kakek, papa, dan kakak gimana kabarnya?" tanya Dara
"Kita semua baik, tapi sayang kenapa kamu sampai kemarin tapi baru ke sini sekarang? Kamu tidur di mana semalam?" tanya Ellena
"Dara tidur di hotel mah, Dara kemaren kecapean terus milih tidur di hotel sementara deh" ucap Dara berbohong
Namun mimik wajahnya tidak ada perubahan sama sekali, hingga psikolog pun akan terkecoh oleh kepiawaian Dara mengatur mimik wajahnya itu
"Astaga, kenapa nggak minta mama atau kakak kamu jemput sih sayang kalau kamu capek" ucap Ellena.
"Aku nggak mau repotin Mah" ucap Dara
"Sudah-sudah, Lena biarkan putrimu istirahat dulu" ucap Gusti.
"Iya Yah, sayang kamu istirahat dulu. Nanti mama bangunin kalau makan siang sudah siap" ucap Ellena dengan lembut.
Dara mengangguk, Ellena mengajak Dara ke lantai tiga, di mana kamar Dara sudah di persiapkan sejak lama sesaat setelah hasil test DNA keluar.
....
Keesokan harinya, Dara sudah siap dengan pakaian rapihnya membuat kecantikan Dara berkali lipat. Ia terlihat cantik, anggun saat memakai pakaian itu.
Setelah siap Dara langsung turun menemui keluarganya, yang memang sudah menunggunya di meja makan.
"Pagi kek, mah, pah, Kak Revan, kak Jeff, kak Bara" sapa Dara dengan mencium pipi semuanya yang ada di meja makan.
"Pagi sayang" balas Adnan mencium kening putrinya di ikuti oleh yang lain termasuk Gusti.
"Kamu jadi koas di Prayoga Hospital dek?" tanya Revan saat sebelum mulai makan.
"Waaaahh, siap-siap palang merah stok darah yang banyak" ucap Bara terkekeh.
"Maksudnya?" Tanya Ellena mengeryitkan keningnya tidak mengerti ucapan putranya itu
"Ya, mamah pasti tahu kalau orang-orang melihat putri mamah yang cantiknya di luar nalar ini, pasti akan mimisan masal mah" ucap Bara terkekeh
"Ya Tuhan, mama lupa soal itu" ucap Ellena menepuk keningnya panik.
"Nggak usah khawatir mah, jangan dengerin Kak Bara. Nanti Dara bisa pakai masker kalau memang di perlukan" ucap Dara santai
"Ya-ya, kamu harus pakai masker sayang. Jangan sampai terjadi pertumpahan darah di rumah sakit" ucap Adnan yang di selingi tawa oleh semuanya.
....
Dara kini sudah berada di dalam mobil milik Jefrey, kakak sulungnya itu yang akan mengantar Dara ke Prayoga Hospital setelah perdebatan alot di tempat makan setelah semuanya selesai sarapan. Padahal Dara awalnya ingin naik taksi, tapi tidak di izinkan oleh anggota keluarganya yang lain.
"Kak makasih ya udah anterin Dara" ucap Dara tersenyum ke arah kakaknya itu.
"Sama-sama dek, nanti kalau sudah pulang kabarin kakak, nanti kakak jemput" ucap Jefrey.
"Emang kak Jeff nggak kerja?" tanya Dara
"Kerja, tapi bisa kakak alihin dulu ke yang lain" ucap Jefrey.
Dara hanya mengangguk, percuma ia menolak karena pasti kakaknya itu tetap memaksa untuk menjemput.
"Aku turun dulu ya kak, do'ain Dara biar koasnya lancar" ucap Dara
"Itu sudah pasti, jangan lupa pakai Masker kamu dek. Jangan sampai pertumpahan darah benar-benar terjadi" ucap Jefrey terkekeh.
"Ih apaan sih kak Jeff, mana ada pertumpahan darah" ucap Dara manyun namun tangannya tetap memakaikan masker di wajahnya.
"Ha-ha, ya sudah kamu hati-hati ya adek ku yang paling cantik" ucap Jefrey.
"Ya iyalah paling cantik, orang adik perempuan kakak cuma aku doang" ucap Dara
"Bisa saja kamu" ucap Jefrey terkekeh.
Setelahnya Dara keluar dari mobil dan melambaikan tangannya ke arah mobil Jefrey. Sampai mobil itu tidak terlihat, barulah Dara masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke ruang Resepsionis.
"Selamat pagi mba" ucap Dara sopan pada resepsionis rumah sakit.
"Selamat pagi kak, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu sopan.
"Saya sudah ada janji dengan Dokter kepala, ruangannya di mana ya?" tanya Dara
"Maaf, atas nama siapa kak? tanya resepsionis itu lagi.
"Addara Azalea" ucap Dara
Resepsionis yang tengah menatap keyboard untuk mengetik nama Dara itu kemudian mendongak saat Dara mengatakan namanya.
"Ma-maafkan saya Dokter Addara, saya tidak tahu jika ini adalah anda" ucap Resepsionis yang memang sudah di beri tahu tentang kedatangan Dara hari ini.
"Tidak perlu minta maaf, kamu sudah menjalankan tugas dengan baik dan benar" ucap Dara tersenyum di balik masker yang ia kenakan.
"Terimakasih Dokter, Ruangan Dokter kepala ada di lantai 20. Anda bisa naik lift di sebelah sana, setelah sampai anda tinggal jalan ke arah kanan. Ruangan Dokter kepala ada di paling ujung" jelas Resepsionis
"Ah, baik terimakasih banyak" ucap Dara mengangguk sopan dan langsung berjalan menuju ke lift yang di tunjukkan padanya.
...•••••••...