The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
116. Bangkrut!



Keluarga Ephraim pamit pulang tak lama setelah Dara keluar. Sekarang tinggal Keluarga Adi Raharjo yang masih di sana selama beberapa jam kedepan. Mereka sengaja mengundur waktu ulang karena jalanan pasti masih macet.


Saat masih asik berselancar di akun media sosialnya, Bara tidak sengaja melihat postingan orang yang tengah merayakan liburan tahun baru mereka.


Bara mengeryitkan dahinya, ia berbikir dalam dua detik. Lalu ia baru menyadari jika ada sesuatu yang ia lupa beritahu pada papa nya itu.


Bara langsung mendekati Adnan yang tengah duduk di ruang tamu Villa dengan Ellena, Gusti dan Revan di sana. Sedangkan yang lain tengah berjalan-jalan di sekitar Villa menikmati udara segar di sana.


"Ada apa Bar, kok kamu kelihatannya kesal gitu?" tanya Ellena mwnagap putranya itu.


Melihat mamanya juga di sana ia langsung duduk di samping Revan dan menatap kedua orang tuanya terutama Ellena.


"Mah, apa mamah belum bilang ke papah? kok keluarga si kampret ini masih enak-enakan liburan?" tanya Bara.


"Bilang apa emang Bar? Keluarga kampret yang mana?" tanya Adnan yang tidak mengerti, ia menoleh ke istrinya dan di balas dengan gelengan kepala.


"Mama juga nggak ngerti Pah" ucap Ellena dengan tampang polosnya karena memang tidak mengerti yang di ucapkan putranya itu.


"Astaga mama.... Bukannya mama bilang sama Dara waktu kita menjemputnya di bandara, kalau mama akan bilang ke papa kalau mau memberikan Keluarga itu pelajaran. Nih mama lihat! Orang itu masih senang-senang, bahkan saat ini tengah liburan bersama keluarga besarnya" ucap Bara menunjukan foto update sosial medianya.


"Ya Tuhan, kamu benar Bar!!! Mama lupa katakan itu sama papa, Astaga!!" ucap Ellena heboh


"Kenapa sih?" tanya Adnan penasaran, sedangkan Gusti dan Revan hanya menyimak karena mereka juga penasaran.


"Itu loh pah, waktu mama jemput Dara dan yang lain. Mereka di ancam oleh seseorang saat di bandara" ucap Ellena.


"Apa??? KOK BISA" ucap yang lain kompak.


"Siapa yang berani mengancam Keluarga kita di kota S?" tanya Gusti dengan wajah marahnya, terlebih cucu kesayangannya yang di ancam orang di wilayahnya.


"Bar, kamu jelasin!" ucap Ellena, Bara menghela nafas.


Kenapa harus dia yang menjelaskannya, bukannya mamanya yang ingin mengatakan itu pada papanya? Kenapa sekarang jadi dia?


"Jadi gini Kek, Pah, Kak. Dara dan yang lain di ancam oleh orang waktu turun dari pesawat, dengan ancaman akan memblacklist Dara dan yang lainnya dari kota S. Orang itu adalah putra satu-satu nya dan juga menantu dari keluarga Kurniawan. Ia adalah salah satu mitra proyek baru dan pemasok bahan konstruksi di blok 4" jelas Bara.


"Mengancam memblacklist Dara dan yang lain dari Kota S?? Keterlaluan!!! Hanya keluarga kelas dua saja sudah berani menyinggung keluarga ku!!!" teriak Revan marah.


"Adnan! batalkan kontrak kerja sama itu! Buat keluarga itu bangkrut dan blacklist dari kota S. Siapapun yang membantu mereka, blacklist juga!!!!" ucap Gusti dengan amarah yang berkobar.


"Tentu!" geram Adnan.


Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jimmy, meskipun hari ini masih libur. Jimmy selalu setia setiap saat seperti slogan iklan suatu produk.


Jadi semua yang di inginkan Adnan akan segera terealisasi, hanya dengan satu panggil telepon.


Jimmy di minta untuk mengurus semua yang di bilang Adnan hari ini juga. Dengan kemampuan Jimmy yang luar biasa, perihal membatalkan kontak kemitraan tidaklah sulit, kurang dari sejam saham Perusahaan Keluarga Kurniawan di tekan sampai di ambang batas terendah dan bangkrut.


.....


Kai dan Dara mampir di Eko wisata di kota M, keduanya berjalan beriringan dengan bergandengan tangan. Keduanya mendapatkan perhatian dari para pengunjung, itu di karenakan paras tampan Kai.


Di sana ada beberapa orang yang menjual jasa foto, Kai mengajak Dara untuk mengambil foto kebersamaan keduanya.


Dara melepaskan maskernya membuat sang fotografer dan beberapa pengunjung terpesona bahkan mimisan. Kai langsung menarik Dara dan memeluk pinggang kekasihnya itu posesif dan berdeham untuk menyadarkan semua orang.


Namun hal itu tidak menutupi betapa luar biasanya mereka berdua.


Kedatangan Dara dan Kai, membuat pemilik galeri senang. Karena bisnis galeri itu tiba-tiba melejit, hingga banyak orang yang menyewa jasa fotonya.


Pengunjung mengira jika keduanya adalah selebriti, terlebih ada beberapa orang yang mengetahui jika Dara adalah gadis yang terkenal sebagai wanita karir muda dan cantik.


Itu karena mereka melihat siaran langsung Dimas. Mereka tidak mengira jika mereka akan bertemu dengan Dewi nasional. Ternyata Dara di dunia nyata jauh lebih cantik di bandingkan dengan yang di live streaming.


"Mmm, permisi kak. Boleh kami minta foto bersama, aku fans kakak dan Dimas" ucap Salah seorang gadis bersama dua orang temannya di sana.


"Tentu!" ucap Dara tidak keberatan, ini hanya foto Dan itu tidak memberatkan sama sekali.


Para gadis itu senang dan mulai melakukan foto bersama dan segera menguploadnya ke media sosial miliknya.


Bukan hanya para gadis itu, setidaknya ada delapan orang lainnya yang menghampirinya dan meminta foto juga bersama.


"Kamu sangat populer, bahkan para gadis pun menyukaimu, aku cemburu" ucap Kai dengan cemberut.


"Ha-ha, kenapa harus cemburu pada seorang gadis. Tenang saja aku masih menyukai pria" ucap Dara


"Pria itu aku kan?" ucap Kai menatap Dara dan menaik turunkan kedua alisnya.


"Ihh, dasar narsis!" ucap Dara kemudian mereka tertawa bersama.


Dara menikmati kebersamaannya dengan Kai, ia tahu jika keduanya jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Namun ia yakin mereka berdua bisa melewati itu semua.


Saat mereka makan siang di restoran, lagi-lagi Kai menekannya dan tidak mau melepaskan pagutannya dari Dara. Ia merasa waktu cepat sekali berlalu, ingin rasanya ia menikmati kebersamaan dengan kekasihnya itu.


"Kenapa waktu cepat sekali berlalu, aku masih ingin bersamamu" ucap Kai


"Bukankah kita masih ada waktu sampai malam nanti? Kita bisa menghabiskan waktu selama beberapa jam bukan" ucap Dara


Kai memeluk Dara dan memangku gadis itu di pangkuannya, wajahnya ia letakan di leher kekasihnya itu dan menghirup aroma tubuh Dara yang memabukkan itu, ia sangat menyukainya.


"Kamu sangat wangi, aku menyukainya" ucap Kai membuat Dara terkekeh


"Aku akan mengunjungi keluargamu saat aku kembali ke ibukota. Apakah saat itu kamu libur?" tanya Dara


"Benarkah? Kapan kamu ke ibukota?" tanya Kai dengan wajah berbinar


"Mungkin tiga atau 4 hari lagi" ucap Dara


"Aku akan mengabarimu kalau aku sedang tidak ada tugas" ucap Kai.


Kai mengelus wajah kekasihnya dan bibir mereka mulai saling menyentuh dan mel*mat. Keduanya berciuman sangat lama sampai ucapan seorang pelayan membuat keduanya kaget karena memergoki keduanya tengah berciuman.


"Ma-maaf, saya tidak tahu" ucap pelayan itu yang tidak mengetuk pintu karena kedua tangannya memegang nampan berisi makanan dan minuman.


"Hmm..." Kai mengangguk dengan ekspresi datar. Sedangkan Dara merasa malu dan menyusupkan kepalanya ke dada Kai.


"Aku malu..." cicit Dara saat pelayan itu sudah pergi, Kai terkekeh melihat kekasihnya masih malu itu.


...•••••••...