The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
197. Salah sasaran



Semua orang menoleh pada perempuan yang mendekat ke arah mereka, yang tak lain adalah Joya. Perempuan yang sedang di bicarakan dan menjadi pusat Drama yang membuat tim Falcon terhambat untuk kembali ke ibukota.


"Joya" ucap Kepala distrik terkejut melihat kedatangan sang putri.


"Pah, aku tetap ingin pergi ke ibukota dengan bang Nathan" ucap Joya kekeh dengan keinginannya.


"Tapi nak, Nathan sibuk dengan kemiliteran. Jika kamu ikut, siapa yang menemani kamu di sana?" ucap kepala distrik memberi pengertian pada Putrinya itu.


"Aku tidak peduli pah, aku tetap ingin ikut. Kalau perlu aku masuk militer sekalian!" ucap Joya keras kepala.


"Kamu pikir masuk kemiliteran itu mudah? Kalau pun kamu bisa masuk, kamu tidak akan bisa bertemu kami di pangkalan karena kamu masih orang baru dan tidak bisa di ketahui di tempatkan di mana. Kalaupun kamu naik jabatan pun, tidak mungkin kamu masuk ke divisi yang sama bersama kami" ucap Rafael lama-lama kesal melihat tingkat perempuan yang ada di depannya itu.


"Kan ada kalian dan komandan, kalian bisa merekomendasikan aku untuk masuk ke tim kalian" ucap Joya dengan gamblangnya


"Ha-ha...." Rafael tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Si bego ini, dia pikir Falcon itu tim apa? Tim memasak? Bahkan orang yang sudah puluhan tahun di militer belum tentu memenuhi syarat untuk masuk ke Falcon. Dia pikir, dia siapa? Bahkan aku harus bekerja lebih keras untuk masuk" ucap Rafael dalam hati.


"Sudah waktunya, ayo pergi!" ucap Kai


"Tunggu, komandan izinkan aku ikut. Tunggu aku sebentar untuk bersiap. Hanya setengah jam, ah tidak 10 menit cukup" ucap Joya mendekat ke arah Kai dan ingin memegang tangan Kai.


Namun Kai menghindar terlebih dulu, ia tidak suka tubuhnya di sentuh wanita lain selain Dara dan keluarganya.


"Tidak bisa!" ucap Kai lalu beranjak pergi di ikuti yang lain.


"Kalau aku tidak di izinkan, aku akan bunuh diri!" ancam Joya dengan berteriak saat melihat Kai dan yang lain pergi.


Kai menghentikan langkahnya membuat Joya tersenyum melihat Kai dan lainnya berhenti. Namun senyumnya luntur saat mendrngar ucapan Kai.


"Lakukan saja! Kau pikir kau siapa? Kau salah sasaran" ucap Kai tidak peduli kemudian melanjutkan langkahnya beserta yang lain termasuk Nathan yang menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


Ia sekarang yakin perempuan yang awalnya ia kasihani itu ternyata memiliki obsesi yang kuat. Untung ia cepat menyadarinya, kalau tidak, ia bergidik sendiri saat membayakan jika ia bersikeras membawa Joya.


"Aku tidak bicara omong kosong, komandan! Aku akan bunuh diri jika aku tidak boleh ikut" teriak Joya terus mengancam, namun Kai dan yang lain tidak menghentikan langkahnya.


"Sialan" Gumam Joya pelan.


Ia tidak memiliki cara yang lain, ia nekad segera mengambil pisau dan menyayat nadinya saat itu juga.


"Joya!!!!" teriak kepala distrik terkejut dan berlari ke arah putrinya yang sudah bersimbah darah atas aksinya yang tiba-tiba itu.


Sedangkan Kai dan yang lain tidak gentar dan terus berjalan. Mereka tidak peduli lagi.


"Halangi mereka pergi!" teriak Kepala Distrik pada pengawal khusus yang ada di sana.


Semua pengawal khusus pun langsung mengepung Kai dan tim Falcon. Kai yang melihatnya hanya mengangkat sebelah alisnya.


Setelah memastikan putrinya di bawa orangnya ke rumah sakit, Kepala Distrik menghampiri Kai dan yang lain dengan raut wajah marah.


"Kalian tidak boleh pergi! kalian harus tanggung jawab!" teriak kepala Distrik dengan marah.


"Kau mau menghalangi orang militer yang sedang bertugas? Kau tau konsekuensinya melakukan ini? Kau bisa di copot dari jabatanmu atas ke cerobohanmu!" ucap Rafael


"Aku yang paling berwenang di kota T, tidak ada yang bisa mencopot jabatan ku. Apalagi kalian! Kalian harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada putriku" ucapnya marah.


"Cih, Putrimu sendiri yang bodoh dan impulsif! Kau tidak tahu siapa kami, kami...." ucap Rafael marah, namun di tahan oleh Kai.


Kai langsung mengeluarkan ponselnya, namun di halangi oleh pengawal di sana. Tentu saja Kai tidak tinggal diam, dia mengeluarkan aura miliknya hingga membuat semua orang tertekan, termasuk tim Falcon hingga tidak bisa bergerak.


Dengan santai Kai menelepon orang di pangkalan militer pusat. Hal itu membuat yang lain terkejut karena Kai terlihat tidak tertekan oleh kekuatan aneh yang semuanya rasakan.


Kai melaporkan jika timnya di tahan dengan paksa. Kai pun menceritakan semuanya sejak awal Drama terjadi.


Yang di ceritakan Kai membuat petinggi militer marah besar, pasalnya bukan hanya kepala distrik kota T sangat berani bermasalah dengan militer. Apalagi yang mereka singgung adalah tim khusus Falcon. Yang bahkan semua orang di militer harus hormat pada anggotanya, karena tidak semua orang bisa masuk ke sana.


Dan juga, komandan pasukan khusus itu tidak lain adalah jendral muda terkuat dari keluarga paling berpengaruh di negara ini. Bahkan ayah dari Kai, Galuh. Tidak berani bersinggungan dengan putranya itu meskipun ia merupakan seorang jendral besar..


Setelah telepon di tutup, tidak lama ponsel kepala distrik berbunyi. Kai sengaja melonggarkan Auranya hingga mereka bisa bergerak meskipun berat, hingga Kepala Distrik bisa menjawab teleponnya.


"Halo Pak..." ucap Kepala Distrik


"........"


"A-apa???" ucapnya terkejut.


"........."


"Pak saya bisa jelaskan hal itu..." ucapnya lagi


"........."


"Pak, tolong jangan seperti ini... Hallo? Hallo?? Pak!" ucap Kepala distrik dengan gelisah dan keringat dingin di dahinya.


Ia kemudian menoleh dan melihat Kai, ia langsung beringsut dan berlutut di depannya.


"Komandan, ah tidak, Jendral! tolong ampuni saya.... Tolong jangan copot jabatan saya" ucap Kepala distrik dengan memelas, bahkan melakukan kowtow hingga dahinya memar.


"Ayo pulang!" ucap Kai mengabaikannya dan langsung pergi setelah menarik kembali aura miliknya.


Semua tim Falcon langsung mengikuti Kai, sejujurnya mereka sangat penasaran tentang tekanan tiba-tiba tadi menekan mereka lalu sekarang menghilang. Namun mereka urungkan pertanyaan itu dan segera mengikuti Kai terlebih dulu.


Setelah Tim Falcon keluar, pasukan militer lain datang dan menangkap kepala distrik beserta pengawalnya itu.


....


Di ibukota


Dara tengah duduk bersantai sembari mencicipi hidangan di restoran miliknya. Ia, Flo, Ferdi, Manda dan yang lain sedang mencicipi makanan yang akan menjadi menu di restoran nanti.


Rencananya, awal pekan depan Restaurant akan segera launching.


"Ini, ini dan ini enak! Rasanya sudah pas. Tambahkan itu di menu utama!" ucap Dara yang di angguki setuju oleh yang lain.


"Yang ini kurang rempah, yang ini terlalu banyak kandungan air, yang ini terlalu berlemak, yang ini over cook, yang ini terlalu manis, dan ini terlalu hambar. Yang aku bilang tadi, coba buat lagi dengan memperbaiki kekurangan yang aku sebutkan tadi" ucap Dara


Bu Entin dan koki yang lain mengangguk paham dan mencoba membuatnya lagi sesuai dengan arahan yang Dara katakan.


"Wah, bos, lidah anda sangat peka dengan rasa" ucap Manda mengangkat jempolnya.


"Aku pecinta makanan, jadi aku sangat selektif dengan rasa" ucap Dara


Manda mengangguk mengerti, ia sungguh bertambah kagum dengan bosnya itu.


"Bos, aku ingin mengatakan soal pribadi, boleh?" tanya Manda menoleh ke arah Ferdi dan Flo yang masih ada di sana.


"Tentu, Jangan khawatir Ferdi adalah salah satu orang kepercayaanku selain Flo" ucap Dara yang di angguki oleh Manda.


"Bos..." ucap Manda di potong oleh Dara.


"Kalau bicara tentang pribadi, jangan panggil bos" ucap Dara menghela nafasnya.


"Hehe, oke..." ucap Manda terkekeh


"Apa lu tahu apa yang terjadi sama Riki dan keluarganya?" tanya Manda


"Hmm..." Dara hanya berdeham saja.


"Atau jangan-jangan ini semua.... Lu yang buat mereka bangkrut?" tebak Manda


"Menurut kamu?" tanya balik Dara dengan tersenyum tipis membuat Manda melongo.


"Waaaaahhh Daebak!!!" seru Manda saat ia yakin tebakannya itu benar.


...•••••••...