
Pagi-pagi sekali Dara, Dimas dan Ferdi sudah siap berangkat ke kota S. Sandi sudah siap mengantar mereka menuju bandara.
Terlihat Dimas sangat antusias saat dirinya akan naik pesawat. Ini merupakan pengalaman pertamanya menaiki transportasi udara itu.
Meskipun Dara juga sama antusiasnya, ia pintar menyembunyikan perasaannya, ia terlihat sangat tenang. Terlebih ia juga memakai masker hingga ekspresinya tidak terlihat.
Theo sudah memesankan tiket sebelumnya. Jadi ketiganya langsung masuk ke kabin kelas satu setelah cek in beberapa saat lalu. Pesawatnya akan take off sekitar 5 menit lagi.
Terdengar pengumuman jika pesawat akan segera take off, juga terlihat pramugari tengah memperagakan tentang tata cara keselamatan penumpang dalam pesawat.
"Kak, aku deg-deg an" ucap Dimas yang duduk di samping Dara setengah berbisik. Ia sedikit gugup.
"Jangan takut dan jangan lupa berdoa" ucap Dara menepuk kepala adiknya pelan dan tidak lupa ia memasangkan sabuk pengaman untuk adiknya yang di balas anggukan dan sebuah senyuman.
Saat kini pesawat sudah take off, Dimas merasa jantungnya seperti mencelos, setelah beberapa saat ia merasa nyaman setelah pesawat sudah terbang dengan stabil di atas ketinggian.
Setelah 1 setengah jam, pesawat akhirnya mendarat sempurna di bandara kota S. Ketiganya kemudian keluar menuju A.R Hotel di kota S, yang merupakan Hotel bintang lima terbesar di kota S yang di miliki oleh keluarga Adi Raharjo.
.....
Dara tidak terburu-buru untuk datang ke kediaman Adi Raharjo, ia bersantai terlebih dulu dengan Dimas dan Ferdi. Ketiganya menikmati suasana di kota S, di mulai dari menjelajah di tempat wisata kuliner di sana.
Ferdi menyewa mobil di sana agar nyaman untuk mereka berpergian. Mereka menyewa mobil jenis sedan, Lexus LS500 dengan harga sewa 11 juta perharinya.
Baru setelah makan siang mereka bertiga menuju ke kediaman keluarga Adi Raharjo.
....
Melihat ada mobil yang datang, seorang security menghampirinya dan menanyakan keperluan mereka datang.
"Maaf tuan, boleh saya tahu Anda siapa dan ada keperluan apa datang ke sini?" tanya security yang cukup berumur dengan sopan pada Ferdi. Mungkin dia pekerja senior di sana karena jika di lihat mungkin usianya 50 tahun.
"Saya membawa kedua majikan saja untuk bertemu dengan tuan Gusti. Bisakah anda menyampaikannya, kedua majikan saya adalah putra dan putri nyonya Nayla" ucap Ferdi.
Security yang mendengar nama Nayla terkejut, ia bekerja sudah sangat lama di keluarga Adi Raharjo. Jadi ia tahu siapa Nayla, itu adalah putri bungsu keluarga ini.
"Boleh saya tahu nama nona dan tuan muda?" tanya Security lagi.
Ferdi menoleh ke belakang ke arah Dara. Dara menganggukkan kepalanya. Jadi Ferdi mengatakannya pada security.
"Nama majikan saya adalah nona Addara dan tuan muda Adimas" ucap Ferdi.
"Baik, mohon tunggu sebentar, saya akan menyampaikannya untuk mendapatkan izin" ucap Security itu, Ferdi hanya mengangguk dan menunggu dengan santai di sana.
Security kemudian mengambil walkie talkie dan berbicara dengan seorang kepala Asisten rumah tangga di sana.
"Monitor Pak Wira" ucap Security
"Ya, Pak Sardi, ada apa?" ucap di ujung sana yang bernama Wira
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan besar" ucap Security yang bernama Sardi itu.
"Siapa?" tanya Wira
"Dia mengatakan jika dia putra dan putri nyonya Nayla. Nama mereka nona Addara dan tuan muda Adimas" ucap Sardi
"Si-siapa bapak bilang tadi?" tanya Wira terkejut dan memastikan tidak salah dengar.
"Tunggu sebentar, aku akan mengatakan pada tuan besar dulu" ucap Wira langsung bergegas menuju ruang keluarga di mana semua orang tengah berkumpul di sana.
"Ada apa Wira kenapa kamu terlihat tergesa-gesa?" tanya Gusti, ketiga orang lainnya di sana juga menatap heran Wira.
"Jangan-jangan Pak Wira abis menang undian berhadiah di TV, dapet dua juta ya Pak?" ucap Bara anak bungsu Adnan terkekeh.
"Bara, jangan jahil!" ucap Ellena istri Adnan ibu dari Bara. Ia menegur dan melotot ke arah anaknya yang di balas cengengesan dari Bara.
"Ada apa apa Pak Wira?" tanya Adnan
"Tu-tuan besar di-di luar ada orang yang ingin menemui anda" ucap Wira, pria berusia hampir 40 tahun an itu, yang sebaya dengan Adnan.
"Siapa?" tanya Gusti mengernyitkan dahinya. Ia tidak merasa memiliki janji temu dengan seseorang hari ini.
"Pak Sardi bilang kalau itu anak dari nyonya Nayla, tuan besar" ucap Wira
"Apa??" ucap semuanya terkejut.
"Apa kamu tidak salah dengar Wira?" tanya Gusti tidak percaya, namun dalam hati ia penuh harap.
"Saya tidak salah dengar tuan besar" ucap Wira
"Siapa namanya?" tanya Adnan, ia dan ayahnya tahu nama kedua anak Nayla saat melakukan pencarian. Hanya saja ia tidak tahu keberadaan keduanya.
"Namanya tuan muda Adimas dan nona Addara, tuan" ucap Wira.
"Apa??? Itu dia?? Suruh mereka masuk, cepat!" ucap Adnan sambil berdiri saat mendengar nama itu.
"Baik tuan!" ucap Wira.
Wira langsung bergegas keluar sambil berbicara dengan walkie talkie miliknya, menyuruh Sardi untuk membukakan gerbang dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Ferdi mengendaraikan mobil itu masuk ke halaman sebuah mansion besar itu.
Dimas tercengang melihat mansion yang besarnya mengalahkan mansion milik kakaknya itu. Mansion keluarga Adi Raharjo seperempat lebih besar dari pada mansion milik Dara.
Mansion itu bergaya klasik dan kediamannya di jaga oleh beberapa orang yang tinggi besar. Terlihat jelas jika keluarga Adi Raharjo adalah keluarga sangat kuat dan berkuasa di kota S.
Ferdi keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Dara dan Dimas.
Wira bergegas menghampiri ketiganya, ia tertegun saat merasakan betapa anggun dan mempesonanya Aura yang keluar dari tubuh Dara. Wira adalah seorang pensiunan militer jadi ia bisa merasakan kekuatan intimidasi dari sosok Dara.
"Selamat siang nona dan tuan muda. Perkenalkan saya Wira, kepala asisten rumah tangga di kediaman Adi Raharjo. Silahkan masuk! Tuan dan nyonya sudah menunggu di dalam" ucap Wira dengan sangat sopan.
"Terimakasih paman" ucap Dimas tersenyum lembut
"Terimakasih, tolong tunjukan jalannya!" ucap Dara
"Baik, silahkan lewat sini!" ucap Wira.
Dara, Dimas dan Ferdi mengikuti langkah Wira yang masuk ke dalam mansion menuju ruang tamu.
Terlihat di sana semua orang berdiri melihat ke arah mereka. Adnan tidak bisa mengenali Dara karena ia menggunakan masker, namun ia langsung mengenali Dimas yang sama persis dengan foto yang di dapat orang suruhannya. Jadi ia yakin jika itu benar-benar keponakannya yang ia cari.
...•••••...