
Melihat Dara dan yang lain terlihat, Ellena dengan semangat melambaikan tangannya dan berteriak memanggil nama putrinya itu. Bara yang di sampingnya hanya menggelengkan kepalanya melihat mamanya yang sangat berisik itu..
Bara heran, kenapa jika sama dirinya, sang mamah udah kaya Tom and Jerry. Tapi giliran sama adik-adiknya udah heboh sendiri dan memanjakan mereka.
"Daraaa!!! Anak mama yang paling cantik, mama kangen!!!" ucap Elena memeluk Dara dengan erat dan mengecup kening putrinya itu.
"Anak-anak ganteng mama" ucap Ellena memeluk mereka bergantian satu persatu.
Semuanya membalas pelukan Ellena dengan sentum yang mengembang, termasuk Ryan. Hanya Alan yang terlihat masih canggung karena ini kali pertama mereka bertemu.
"Eh si cantik ini asisten kamu sayang?" tanya Ellena menunjuk ke arah Flo lalu menatap ke arah putrinya.
"Iya mah, namanya Flo. Flo ini mama Ellena" ucap Dara memperkenalkan keduanya
"Hallo salam kenal Flo, saya mamanya Dara dan enam tuyul yang meresahkan he-he. Tolong jaga dan bantu Anak mama yang paling cantik ini ya. Kalau ada apa-apa kabari mama, berikan nomer telepon mu cantik" ucap Ellena memberikan ponselnya untuk di ketikkan nomor telepon Flo.
Enam tuyul yang di maksud Ellena tentu saja adalah Jefrey, Revan, Bara, Alan, Dimas dan Ryan.
"Tentu, itu sudah tugas saya Nyonya, ini telepon anda" ucap Flo menunduk sopan dan memberikan kembali ponsel itu ke Ellena setelah menulis nomor teleponnya.
Saat mereka ingin beranjak, kedua orang yang membuat masalah tadi lewat di depan mereka. Melihat Flo dan lainnya, pasangan suami istri itu kesal dan menatap tajam ke arah mereka.
Tentu saja mereka tidak menyadari keberadaan Ellena dan bara di tengah-tengah Dara dan lainnya. Kalau tidak, mereka tidak akan berani menoleh sekalipun.
"Kenapa itu orang menatap Flo seperti itu?" tanya Ellena yang melihat tatapan tajam keduanya.
"Bukannya itu anak dan menantu keluarga Kurniawan ya?" ucap Bara saat mengenali keduanya
"Kakak kenal mereka?" tanya Dara
"Nggak! Tapi kakak pernah lihat pria itu datang ke perusahaan saat ada Tender" ucap Bara
"Mereka rekan bisnis papa?" tanya Dara
"Ya, Perusahaan mereka salah satu yang terpilih dari tiga perusahaan yang menjadi pemasok bahan konstruksi di blok 4" ucap Bara menjelaskan.
Mendengar itu hal itu Dara tersenyum tipis dan akan membuat merinding jika ada yang melihatnya. Tapi tidak ada yang menyadari senyumnya itu, karena Dara sedikit menunduk.
Mereka bertujuh kemudian keluar menuju area parkir. Sepanjang jalan itu tidak biasanya Dara terdiam saja, membuat Ellena dan Bara sangat heran.
Terlebih mereka mendengar helaan nafas Dara yang panjang dan berulang. Karena penasaran mereka pun akhirnya bertanya.
"Dek kamu kenapa kok dari tadi diam aja?" tanya Bara
"Kenapa sayang, apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Ellena dengan lembut.
"Nggak ada kok mah, cuma kepikiran sedikit kejadian tadi aja" ucap Dara
Bara dan Ellena saling berpandangan, bertanya-tanya tentang masalah apa itu yang bisa menganggu pikiran Dara.
"Kejadian apa emangnya?" tanya keduanya kompak.
"Tadi ada pasangan gila mah, kak. Yang tadi kak Bara omongin itu, yang natap kak Flo tajem kaya silet" ucap Dimas.
"Mereka? Memangnya apa yang mereka lakuin?" tanya Bara.
"Gini kak ceritanya tadi tuh......." Dara pun menceritakan tentang pertengkaran mereka tadi.
"Masalah kecil sih sebenernya, tapi yang bikin Dara kepikiran. Pria tadi ngancem kita jika tidak ngomong yang nggak-nggak, dia bilang dia bisa dengan mudah mengusir kami dari kota S. Bagaimana kalau kami beneran di usir? Kan Dara mau ngumpul bareng kakak, mama, papa dan kakek. Dara jadi kepikiran" ucap Dara dengan raut wajah sedih.
"Apa??? Mereka pikir siapa? berani sekali ingin mengusir keluarga Adi Raharjo! Kamu tenang aja sayang, nggak akan ada yang berani mengusir kalian dari kota S. Nanti mama bilang ke papa Adnan, buat kasih pelajaran mereka. Siapa suruh berani ngancam anak mama" ucap Ellena marah mendengar anaknya ingin di usir dari kotanya
Dara tersenyum dalam diam, ia memang sengaja mengatakan hal itu dan sedikit berdrama. Ia ingin membalikkan ucapan kedua pasangan yang ingin mengusir ia dan orang-orang nya.
Karena keluarga Adi Raharjo sangat di segani di kota S, jadi ia tidak ingin repot-repot turun sendiri dan membiarkan papanya yang turun tangan. Jika ia sendiri yang turun tangan, bukan hanya pasangan itu di usir keluar dari kota S, tapi juga di usir keluar dari hidupnya dan di paksa menuju ke alam baka.
....
Kedua mobil mewah itu berhenti di mansion mewah nan klasik di pusat kota S. Dara dan yang lain turun dari mobil, kedatangan mereka di sambut dengan baik oleh para pelayan di sana.
Saat masuk ke dalam Mansion, keadaan di sana sangat sepi. Ellena menoleh ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak menemukan keberadaan suami ataupun kedua anaknya yang lain.
"Bar, papa dan kakak kamu kemana? Kok sepi?" tanya Ellena menoleh ke Bara.
"Kalau mama nanya ke Bara, terus Bara tanya ke siapa? Ya mana Bara tahu lah mah, kan Bara ikut mama jemput ke bandara. Mereka kan nggak bilang" ucap Bara
"He-he mama lupa" ucap Ellena cengengesan
"Kalian sudah datang?" ucap Gusti yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Kekeeeekkk!!!" seru Dimas yang melihat kakeknya itu dan berlari menghampiri kakeknya itu lalu memeluknya.
"Uuuuhhh, cucu ganteng kakek udah datang. Bagaimana kabarmu" seru Gusti membalas pelukan cucunya dengan sangat tersenyum lebar.
Ia senang cucu-cucu nya berkumpul bersama. Itu adalah kebahagiaan untuknya.
"Baik dong kek, kakek sehat kan?" tanya Dimas.
"Tentu, lihat kakek mu ini sangat segar bugar" ucap Gustri terkekeh.
"Kakek" sapa Dara
"Cucu kakek yang paling cantik, kemari nak" ucap Gusti kemudian gantian memeluk cucu perempuan nya.
"Mana cucu kakek yang lain? Kata Adnan dan Ellena, kamu punya dua adik angkat di ibukota" ucap Gusti. Yang di angguki oleh Dara.
Dara kemudian memperkenalkan Alan dan Ryan ke kakeknya. Gusti tersenyum dan menerima keduanya sebagai cucunya juga secara terbuka.
"Selamat datang Alan, Ryan. Jangan sungkan, anggap rumah sendiri karena kalian juga cucu-cucu ku" ucap Gusti mengelus kepala Alan dan Ryan dengan sayang
Kedua kakak beradik itu mengangguk dan tersenyum, mereka senang karena keluarga ini menerima mereka tanpa menanyakan status mereka sebelumnya dan menyambutnya dengan sangat hangat sebagai anggota keluarga mereka juga.
"Kakak kulkas kemana kek? Aduh... mama sakit" ucap Bara yang kena timpuk mamanya.
"Kamu kalau panggil kakakmu tuh yang bener, Nanti kalau adik-adik kamu ngikutin gimana" ucap Ellena melotot ke arah Bara.
"Apa yang salah? kan emang merdka kulkas dua pintu" gumam Bara pelan tak ingin kena Omelan Ellena.
"Kakak kamu ikut Adnan bertemu klien dari luar negeri untuk membahas proyek, baru aja berangkat" ucap Gusti.
"Oooo...." ucap Bara dengan mulut berbentuk O.
"Kalian istirahat dulu ya, kamar kalian udah di siapin kok. Nanti mama panggil kalau sudah waktunya makan malam" ucap Ellena
"Iya mah" ucap yang lain mengangguk.
Ellena kemudian memanggil pelayan untuk mengantarkan mereka berlima ke kamar mereka masing-masing yang sudah di siapkan.
...••••••...