
Di kota S, di siang hari Dara dan Flo berjalan-jalan berkeliling ke setiap penjuru kota. Setelah pagi hari keduanya berlatih tanding di sebuah ruangan sanggar yang Dara sewa khusus untuk beladiri.
Level kultivasi Flo saat ini sudah meningkat menjadi level menenengah. Jika di gabung dengan kekuatan fisik Flo yang memang sudah cukup bagus, ia bisa mengalahkan dua orang sekaligus di tingkat yang sama.
Bahkan bisa di bilang kekuatan Flo sangat kuat di banding dengan pembunuh nomor satu di organisasinya dulu, dan ia di pastikan menang jika bertarung. Jadi ia sudah tidak memiliki ketakutan tentang merepotkan nonanya, seandainya beberapa orang dari organisasi itu menemukan nya. Justru ia saat ini ingin melindungi nonanya itu dengan kekuatan yang ia miliki.
"Kita akan kemana nona? Apa ke tempat yang kemarin?" tanya Flo.
"Ya, ke sana dulu. Aku ingin melihat keadaannya" ucap Dara ringan
"Baik" ucap Flo yang melajukan kendaraan milik nyonya besar Keluarga Adi Raharjo itu.
Tak sampai lima belas menit, mereka sampai di sebuah gang di dusun yang terdapat kontrakan tiga petak itu.
Dara memperhatikan seorang wanita paruh baya yang sedang di marahi bahkan di tampar dengan keras oleh seorang wanita paruh baya lain. Hingga membuat kerumunan orang di sana.
Dengan pendengarannya yang sangat baik, Dara dan Flo bisa mendengar semua percakapan yang ada di sana, Tampa harus mendekat. Tontonan itu membuat keduanya menyeringai.
"Dasar tidak tahu diri! Sudah baik aku kasih pekerjaan, malah berani-beraninya kau menggoda suamiku! Dasar La*ur! ja*ang sia*an!!!" teriak wanita itu dengan keras.
"Aku tidak menggodanya Bu, sungguh, percaya padaku. Suamimu yang terus mendekatiku, aku sebisa mungkin menghindar tapi kejadian itu tidak di sengaja karena aku jatuh!" ucap wanita yang tidak lain adalah Maria. Ibu tiri Dara dengan menangis tersedu-sedu dan terduduk di tanah.
"Apa kamu pikir aku percaya padamu ja*ang? Suamiku laki-laki baik-baik, ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Emang dasar kamu nya saja yang gatel, dasar pelakor!" teriak wanita itu lagi.
"Bu Mirna, yang sabar bu. Mungkin ini hanya kesalahpahaman saja. Adikku tidak mungkin berbuat hal seperti itu" ucap Mario membela sang adik.
"Salah paham gimana, dasarnya saja adikmu ini janda gatel tidak tahu diri. Sudah baik aku kasih dia pekerjaan, bukannya terimakasih malah jadi pelakor bahkan berani mencium suamiku. Mulai sekarang kamu tidak perlu datang mengambil cucian di rumahku lagi! Dan kembalikan uang yang sudah kamu pinjam sebelumnya!!" ucap wanita yang bernama Mirna itu.
"Tapi bu, saya belum ada uang hiks, itu tidak sengaja Bu aku jatuh dan ibu salah paham" ucap Maria sambil menangis.
Ia memang pernah bon atau pinjam uang dari Bu Mirna, untuk makan sehari-hari. Dengan baik hati Bu Mirna pun meminjamkannya dan akan di bayar dengan memotong dari bayaran buruh cuci. Namun ternyata itu tidak semulus yang ia duga, suami Bu Mirna yang bernama Gani itu selalu mengganggu dan menggodanya saat ia sedang mengambil cucian atau tengah menyetrika.
Dan apesnya, saat Maria mencoba menghindar ia terpeleset dan jatuh. Gani yang hendak menolong dengan menarik tangan Mirna malah ikut terjatuh, dengan posisi mereka saling tindih dengan Maria yang berada di atas dan bibir mereka bersentuhan.
Dan secara kebetulan Mirna datang dan menyaksikan itu. Tentu saja ia sangat marah besar. Awalnya Gani meminta Maria untuk pulang dulu dan ia akan mencoba menenangkan istrinya dan menjelaskannya. Namun ternyata istrinya tidak bisa di kendalikan dan menyusul Maria sampai ke kontrakannya.
"Saya tidak mau tahu! Bayar sekarang!" ucap Mirna dengan galaknya, terlihat dari dadanya yang naik turun karena emosi yang meluap.
"Berapa hutang adik saya bu? Biar saya yang bayar" ucap Mario tidak mungkin hanya berdiam diri.
"Delapan ratus ribu" ucap Mirna apa adanya, tanpa menambahkan bunga sedikitpun karena dia bukan seorang rentenir.
Tapi Mario terhenyak saat mendengar nominal itu, itu nominal yang sangat besar bagi dirinya yang hanya sebagai buruh serabutan itu.
Ia hanya menghasilkan uang paling banyak tiga juta dalam sebulan kadang bisa kurang dari itu. Padahal baru saja ia mendapatkan uang untuk biaya sekolah sang anak, namun ia tidak bisa membiarkan adiknya dalam kesusahan.
"Ini, Bu..." ucap Mario memberikan uang itu pada Mirna meskipun berat dan akan bingung mencari uang kemana lagi untuk sekolah anaknya.
"Bagus, kamu sudah tidak punya hutang lagi. Dan kamu ja*ang! Jangan biarkan aku melihatmu lagi atau dekat-dekat dengan suamiku! Atau aku akan memberikan pelajaran!" teriak Mirna lalu pergi meninggalkan tempat itu. Kerumunan juga sudah bubar meninggalkan Maria yang menangis dengan bekas luka tamparan di pipinya.
Dara dan Flo yang melihat itu hanya tersenyum lalu mobil mereka beranjak pergi. Ia tidak ingin berlama-lama di sana dan melihat kejadian setelahnya.
"Apa anda sudah puas nona?" tanya Flo yang tahu jika nonanya itu memiliki dendam dengan wanita yang di labrak tadi.
"Apa anda butuh bantuan nona? Aku bisa melakukan sesuatu yang lebih lagi" ucap Flo
"Tidak perlu, aku hanya akan menikmati dan menonton penderitaan dari karma buruknya saja, ya meskipun aku sedikit memberikan bumbu agar lebih sedap nantinya dan tentunya aku ingin penderitaannya di lalui secara perlahan. Bukankah itu menarik Flo?" ucap Dara.
"Anda benar nona" jawab Flo
"Bagaimana dengan Ferdi?" tanya Dara.
"Dia sudah menjalankan rencana yang anda maksud Nona" ucap Flo.
"Bagus, aku akan menantikan apa yang akan di derita pak tua itu selanjutnya" ucap Dara tersenyum tipis.
....
Saat melewati jalur menuju pusat kota. Mobil yang di kendarai Flo melewati hutan bambu yang rimbun. Tak sengaja melihat Arvin tengah berkelahi dan mengalami luka yang cukup serius di perutnya.
Namun Arvin masih terus berkelahi dengan lima orang yang membawa senjata tajam, sedangkan dua orang rekan dari yang menyerang Arvin sudah tewas karena di tembak tepat di kepalanya.
"Nona..." ucap Flo.
Dara mengerti dengan itu, bagaimanapun ia tidak bisa diam saja melihat putra dari sahabat ibunya tengah di keroyok.
"Bantulah!" ucap Dara.
"Baik!" ucap Flo saat sudah di berikan perintah, yang kemudian turun dari mobil dan langsung menyerang orang yang mengeroyok Arvin.
Melihat ada seseorang yang membantunya Arvin terkejut karena tahu itu adalah seorang wanita.
Mengetahui kalau itu adalah Bawahan Dara, Arvin langsung menoleh ke arah jalan dan mendapati Dara tengah berdiri menatapnya.
"****!!! Dara, awaaaasss!!!" teriak Arvin saat ia melihat salah satu musuh yang menyerangnya tadi, mengarahkan pisau ke arah Dara setelah melihat arah mata Arvin memandang.
Dengan cepat Arvin menghampiri Dara, ia tidak ingin wanita yang di cintainya sampai terluka karena dirinya. Ia akan menyalahkan dirinya jika hal itu sampai terjadi.
Dara terkejut saat Arvin menjadikan dirinya tameng saat pisau itu hampir mengenai dirinya. Dia mendengus kesal karena justru Arvin membuatnya sulit.
Namun ia juga menyadari jika Arvin ingin melindungi dirinya, jadi ia tidak marah hanya sedikit kesal. Tapi bukan Dara namanya jika ia hanya berdiam diri saja, melihat orang yang hendak menolongnya mempertaruhkan nyawanya.
BUGH!!!
Wuusshhh!!!
Jlep!!!
Pisau itu menancap indah tepat di kepala musuh Arvin itu. Sebelum Pisau itu mengenai Arvin, Dara lebih dulu berputar dan menendang pisau itu dengan sedikit Chi dan melesat langsung ke musuh Arvin hingga orang itu langsung KOIT alias metong!
Arvin yang melihat itu menganga melihat adegan tepat di depannya. Berapa mengagumkan seorang Dara saat berkelahi.
...•••••••...