The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
353.



Sebelum pulang, Dierja menahan Kai beberapa saat di ruangan kerja setelah Galuh kembali ke markas militer.


"Katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya langsung Dierja


Barusan ia menahan diri untuk tidak bertanya karena anaknya masih ada di antara mereka, namun Galuh sudah keluar jadi Dierja tidak bisa membendung rasa penasaran dalam dirinya. Ia yakin cucunya itu menyembunyikan sesuatu.


"Haaahh...." Kai menghela nafasnya, ia tahu opah-nya itu pasti merasakan hal yang aneh dengan permintaannya dan menyadari sesuatu.


"Kamu bisa menutupinya dari papa-mu, tapi tidak dengan opah. Katakan apa yang terjadi, apa ada sesuatu yang besar terjadi? Ini tidak sesederhana penyergapan oknum perdagangan manusia, yang kamu ceritakan barusan bukan?" tanya Dierja tepat sasaran


"Ya..." ucap Kai mengangguk, ia tidak bisa menyembunyikan hal ini dari opah-nya itu. Kai memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Dierja tentang apa yang terjadi, mengingat opah-nya itu juga seorang kultivator.


"Langit di culik" ucap Kai pelan namun sukses membuat Dierja membolakan matanya karena terkejut mendengar kabar itu


"Apa?? Bagaimana bisa? Siapa yang berani menculik anggota keluarga Narendra di negara ini? Apa orang yang menculiknya memiliki kekuatan yang lebih besar?" tebak Dierja.


Pasalnya Dierja tahu jika cicit-nya itu di jaga oleh Shine, orang kepercayaan Cucu menantu nya yang juga seorang kultivator. Jadi sangat kecil kemungkinan hal seperti penculikan terjadi, kalaupun ia berarti penculik itu memiliki kekuatan yang lebih besar dan itu pasti kultivator.


"Ya, dan dia juga berhasil mengalahkan Shine yang kekuatannya berada di tingkat Saint" ucap Kai, sukses membuat Dierja lebih kaget lagi.


Ia terkejut jika Shine sangat kuat di usianya yang sangat muda, ia tidak pernah membayangkan itu.


Sedangkan ia lebih terkejut lagi saat tahu lawannya bisa mengalahkan Shine, itu berarti setidaknya ia harus lebih kuat dari Shine. Bisa jadi itu di lihat dari level mereka, atau lawannya harus berada di tingkat origin.


Dierja tidak bisa meremehkan masalah ini, ini menyangkut keselamatan pangeran kecil di keluarga mereka


"Jadi kamu ingin menyerang mereka karena ingin menyelamatkan cicit ku? Kenapa mereka menculiknya? Apa kau menyinggung salah satu keluarga kultivator?" tanya Dierja, namun ia ragu dengan yang dia ucapkan.


Pasalnya, selain Dara dan para orang-orang kepercayaannya. Keluarga kultivator di negara ini paling tinggi kekuatan mereka berada di tingkat Immortal Ascension.


"Hmm dan aku akan melakukan penyerangan malam ini. Yang aku tahu, Keluarga Damian dari Barat Ibukota khususnya putra pertamanya menginginkan posisi keluarga kita saat ini" ucap Kai. Ia sengaja tidak memberitahu detail jika pelaku adalah seorang kultivator aliran hitam.


"Keluarga Damian? Beraninya mereka melakukan ini" ucap Dierja geram, namun ia berusaha menekan amarahnya dan kembali berbicara.


"Tapi Kai, orang itu sangat kuat. Bisa jadi mereka memiliki anggota yang juga sama kuatnya" ucap Dierja khawatir saat mengingat orang itu berhasil mengalahkan Shine.


Ia dilema, satu sisi ia tidak ingin cicit-nya kenapa-kenapa, tapi ia juga tidak ingin sesuatu terjadi pada cucu kesayangannya.


"Aku tahu apa yang membuat opah khawatir, tapi aku juga sudah mempersiapkan ini sejak lama" ucap Kai membuka kekuatannya, hingga membuat Dierja terkejut dan tertekan karena aura cucunya itu.


"K-kau.... Ba-bagai-mana bisa? D-di Ting-kat apa kam-mu?" tanya Dierja terbata karena tertekan kekuatan cucu nya yang sangat besar itu.


"Aku berada di tingkat Origin" ucap Kai lalu menarik kembali kekuatan miliknya.


"Astaga.... Kamu sangat luar biasa, kalau begitu cepatlah selamatkan cicit opah" ucap Dierja dengan semangat, ia yakin jika cucu dan cicit-nya akan kembali dengan selamat. Terlebih cucunya memiliki kekuatan yang besar dan juga anggota organisasi GOD ikut dalam misi ini.


Setelah menjelaskan pada opah-nya, Kai keluar dari Manor dan menuju ke pangkalan militer untuk menemui petinggi dan juga memberikan instruksi pada seluruh anggota Falcon.


....


Di lain mansion ibukota milik Yongki Damian yang di tinggali oleh Bisma dan yang lainnya. Mereka yang berada di lantai bawah tidak bisa tidak mengerutkan keningnya mendengar tangisan bayi yang tidak mau berhenti di mansion itu.


"Senior, kenapa anak itu terus menangis?" tanya Radit pada kakak seperguruannya itu


"Aku tidak tahu" ucap Tobby yang memang tidak paham dengan anak-anak. Meskipun usia aslinya sudah lebih dari satu abad, namun ia belum pernah menikah.


"Bayi itu menangis karena ia lapar dan pembantu sedang membuatkan susu untuknya" ucap Yongki, jawaban Yongki membuat mereka semakin mengerutkan kening mereka.


"Sttt..." ucap Tobby mengkode juniornya agar diam saat melihat wajah gurunya memerah.


"Ma-maaf guru, a-aku tidak bermak..." ucap Radit yang tahu kode dari Tobby


"Tidak apa, kalaupun dia bukan anak kultivator itu tidak masalah. Ia bisa menjadi tumbal sama seperti anak lainnya" ucap Bisma menggertakkan giginya.


Dalam hati ia bertanya-tanya, apa ia salah? Tapi jejak tanda kultivator di tubuh Bayi itu membuatnya ragu, apalagi orang yang mereka lawan juga memiliki kekuatan besar. Namun setelah beberapa saat ia tidak lagi ambil pusing dengan ini.


Jika bayi itu bukan anak kultivator, jadi apa? Mereka sama-sama akan di jadikan tumbal, anggap saja anak ini lebih beruntung dari yang lainnya sebelum menjadi tumbal untuk ritual.


....


Di dalam kamar, Langit tidak berhenti menangis. Ia tidak mau meminum susu yang di berikan pembantu, dalam hatinya ia memanggil bunda dan ayahnya.


Ia ingin MPASI, bundanya selalu membuatkan makanan itu untuk dirinya sejak hampir dua Minggu lalu dan ia menyukainya. Ia merindukan bundanya yang selalu memberikan makanan enak padanya.


Langit merasa bosan minum susu terus, namun ia tidak bisa mengatakan itu dengan lantang pada pembantu atau orang lain yang berada di kediaman ini.


Tapi saat ini ia sangat lapar jadi ia memutuskan untuk berhenti menangis dan menyerah lalu meminum susunya hingga tandas.


"Da.... Aban mu Lang, Aban angen da, Yayah, ti Ine, Aban mu mam nak Agi. Aban apan di emput... Aban ga mu di cini, lang cini ahat da. Aban mu malah pi Aban sih ecil, Aban Alus apa da? Alo ada Yayah, lang tu pasi di endang" gumam Langit dalam hati


Ia percaya jika ayah dan bundanya akan segera datang, ia tidak nyaman berpura-pura seperti anak bayi. Meskipun sebenarnya ia juga masih bayi, tapi Langit tahu jika ia tidak boleh mengungkapkan kemampuan yang ia miliki.


Bundanya pernah mengatakan jika dirinya tidak boleh menunjukan kebiasaannya itu pada orang tidak di kenal, karena di luar banyak penjahat dan orang tidak baik. Dan apa yang mereka perbuat pada aunty Shine nya, membuat bayi 6 bulan ini bisa tahu jika orang yang membawanya pergi adalah orang jahat.


....


Malam harinya di markas kuning.


Puluhan orang sudah siap dengan pakaian organisasi kebanggaan mereka. Tidak semua orang bergerak malam ini, Kai sudah memberikan arahan pada ke lima pimpinan Divisi.


Sebagian orang menjaga Markas kuning dan Markas Goddess Hill Villa. Setidaknya masing-masing ada 10 orang yang markas tersebut, sisanya akan ikut ke dalam misi ini.


"Harto apa sudah siap?" tanya Flo


"Siap Coach, Kami akan segera meluncur ke titik A" ucap Harto.


Ia bertugas untuk ke arah Utara ibukota bersama sembilan belas anggota GOD, mereka akan membebaskan para tahanan yang akan di jadikan tumbal ritual.


Harto sudah memeriksa semuanya dan yang menjaga para tawanan itu ada sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang. Dan yang paling kuat berada di tingkat Immortal Ascension.


Sebenarnya dia dan 19 orang anggota GOD, terlalu banyak untuk melakukan misi ini. Tapi ia tidak bisa gegabah dan membuat rencana cadangan, hal buruk bisa saja terjadi jika mereka lengah. Jadi ia persiapkan kekuatan tambahan untuk mencegah hal itu.


"Ambil ini!" Flo melemparkan sebuah batu pada mereka semua.


"Itu adalah batu teleportasi, jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Maka pecahkan batu itu dan kalian akan kembali ke sini dalam sekejap" ucap Flo


"Baik, di mengerti Coach" ucap Mereka menerima batu berharga yang bisa menyelamatkan nyawa mereka itu dan menyimpannya dengan baik.


"Pergilah! Bersiap di sana dan jangan bergerak sampai ada aba-aba. Karena kita akan melakukannya dalam satu waktu" ucap Flo lagi, itu berguna untuk membuat musuh kalang kabut dan tidak bisa memanggil bantuan.


"Baik!" ucap mereka serempak kemudian pergi.


...•••••••...