
Dara mengerjakan pekerjaannya dengan lancar tanpa adanya halangan. Beberapa hari ini juga tidak ada lagi hadiah yang menumpuk di rumah kerjanya. Dunia terasa tenang tanpa ada penganggu, di tambah kabar dari Kai jika ia akan ke kota S besok membuatnya bahagia.
Sore harinya saat Dara menyelesaikan pekerjaannya, ia langsung menuju ke ruangannya untuk berganti pakaian.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan kerja Dara di ketuk.
"Masuk" ucap Dara dari dalam.
Ceklek...
Terlihat Nia dengan wajah yang pucat menghampirinya, nafasnya juga terengah-engah sepertinya ia berlari jauh menuju ke ruangannya.
"Dokter Dara...." ucap Nia ngos-ngosan
"Kenapa sus, ini minum dulu biar tenang" ucap Dara menyodorkan minuman air mineral yang ada di mejanya yang masih di segel.
"Udah tenang? Sekarang bicara dengan pelan-pelan, apa yang terjadi sampai kamu lari-lari begitu?" ucap Dara
"Gawat Dok, Ini gawat! Di sana! Ada keributan di Ruangan VVIP 1" ucap Nia menunjuk ke arah luar.
Dara mengerutkan keningnya, ada keributan di ruang VVIP tapi kenapa Nia justru datang padanya, bukan memanggil security.
"Kalau begitu panggil security untuk menanganinya Sus, kenapa kamu malah datang ke sini mencariku" ucap Dara bingung
"Aduh dokter, itu Dokter Kepala di pukuli. Karena operasi pasien VVIP tidak berjalan dengan lancar. Aku di suruh Dokter Kepala panggil Dokter Dara buat membantu pasien yang sudah semakin kritis dan di ambang kwmatian. Jika tidak, mungkin rumah sakit akan di tutup paksa, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada pasien itu" ucap Nia.
Dara yang mendengarnya terkejut, ia tidak menyangka ada orang yang berani berbuat keributan di rumah sakit Milik keluarga Prayoga. Siapa orang yang berani menggertak itu?
"Ayo kita ke sana!" ucap Dara langsung menyambar jas kebesarannya dan juga masker miliknya dan segera mengenakannya
Di jalan Dara menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Nia pun menjelaskan secara garis besarnya pada Dara.
Pasien yang berada di ruangan rawat inap VVIP 1 adalah seorang diplomat muda luar negeri. Darai cerita Nia, ia di vonis mengalami serangan jantung saat rapat dengan Kedubes dan menteri dalam negeri di sebuah restoran. Kondisinya waktu itu sudah parah jadi harus segera di lakukan operasi.
Namun ternyata tindakan operasiwmbuat kondisi pasien semakin kritis dan di ambang kematian. Hal itu membuat tim keamananan diplomat muda menyalahkan rumah sakit dan akan menuntut rumah sakit jika terjadi sesuatu pada tuannya. Karena memang sebelumnya, tuan mereka tidak memiliki riwayat sakit jantung.
Di ketahui diplomat muda itu juga merupakan cucu dari pengusaha terbesar negara J dan juga merupakan seorang pewaris group terbesar di negara itu.
Ting!
Lift sampai di lantai 15 tempat di mana VVIP satu berada. Di depan sana sudah sangat ramai, selain tiga petugas keamanan yang tinggi besar, ada juga Pak Kedubes, Pak Mentri, Alden dan juga dua dokter lain.
Melihat Dara datang raut wajah Alden yang semula pucat sedikit ada rona kemerahan, seolah ada harapan dalam diri Alden.
"Dokter Dara...." ucap Alden dengan gembira.
"Siapa ini? Kenapa anda membawa orang luar lagi ke sini?" ucap salah seorang tim keamanan yang berpawakan paling tinggi dan berkulit hitam menggunakan bahasa asing, yang bernama Braco
"Dia Dokter ajaib, dia dokter paling hebat di sini bahkan negara ini. Setidaknya biarkan Dokter Dara melihat kondisi pasien, sebelum terlambat" ucap Alden membalas menggunakan bahasa yang sama.
"Apa kau mau membodohi kami. Dia masih bocah dan kau bilang dia dokter paling hebat? Kau ingin menipu? Ingin minta di hajar lagi? Aku pastikan rumah sakit ini akan di tutup dan di ratakan dengan tanah" ucap Braco marah
"Tuan, tolong percaya, biarkan Dok...." ucap Alden terpotong
"Banyak omong kosong kau..." ucap Braco melayang kan tinjunya pada Alden.
Sontak Alden menutup matanya dan menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya. Namun di tunggu demi tunggu tidak terjadi apa-apa. Jangankan pukulan, sentuhan saja tidak ada.
Alden membuka matanya perlahan, ia terkejut saat melihat Dara dengan tenang menahan tangan si Braco itu.
"Si*lan! Lepaskan aku ja**Ng!!!" ucap Braco yang ingin melepaskan tangannya, namun tidak bisa sekeras apa ia berusaha untuk melepaskannya.
"Tangan ini yang sudah berani memukul pamanku?" tanya Dara dengan tatapan tajam.
Dua dokter yang ada di sana terkejut mendengar ucapan Dara yang mengatakan jika Ia adalah keponakan Dokter Kepala.
"Lepas atau aku buat kau, pamanmu dan juga keluargamu runtuh" ucap Braco
BRAK!!!
BRUGH!!!
"Aakkkhhh" rintih Braco merasakan sakit di wajah dan tangannya.
Melihat rekannya di pukul kedua rekannya maju, namun Dara tidak sungkan memukul keduanya juga hingga mereka bertiga kini jatuh tersungkur.
"Oupsss, sorry tanganku kepleset, jika kalian ingin menuntutku silahkan saja. Ah aku kasih tahu alamatnya datang ke kediaman Adi Raharjo. Mungkin pengacara keluargaku akan mengurusnya, ah aku juga lupa jika keluarga ku tidak cukup untuk menanganimu. Silahkan tuntut ke keluarga tunanganku, Keluarga Narendra di ibukota" ucap Dara dingin dan menyeringai di balik masker yang ia pakai.
Ucapan Dara membuat suasana di sana menjadi hening, terutama pak Kedubes, Pak Mentri, dua dokter dan juga Nia yang masih berada di sana.
Kenyataan Dara adalah cucu perempuan yang misterius Keluarga Adi Raharjo yang selama ini tidak di ekspos dan juga sosok tunangan cucu tertua Keluarga Narendra membuat mereka syok.
Ini semua kabar besar yang mereka terima secara tiba-tiba.
"Jangan halangi jalanku, jika tidak ingin tuan kalian mati karena tidak mendapatkan penanganan dengan cepat" ucap Dara menerobos dan selangkah lagi masuk ke dalam ruangan pasien lalu ia berhenti.
"Ah, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Aku akan bertanggung jawab secara penuh!" ucap Dara dengan percaya diri
"Dokter kepala, Suster Nia, ikut aku ke ruangan! Sisanya tunggu di sini. Jika ada yang berani masuk, aku tidak akan sungkan mematahkan lehernya dan membuangnya di jalan" ucap Dara dengan dingin membuat suasana di sana semakin mencekam.
....
Dara kini memeriksa pasien laki-laki yang kira-kira berusia 27 tahun itu. Saat memeriksanya beberapa saat ia menoleh ke arah Alden dengan tatapan heran.
"Dokter kepala, ini bukan serangan jantung, tapi pasien di racuni dengan racun Arsenik. Dan Racun ini sulit di deteksi dan sekarang sudah menyebar hampir ke seluruh organ di tubuhnya" ucap Dara pada Alden
Hal itu membuat Alden terkejut, ia percaya dengan ucapan Dara sepenuhnya, bagaimana pun Dara adalah dokter ajaib. Ia hanya merutuki dirinya sendiri, setelah tahu ia yang salah mendiagnosis hingga membuat nyawa pasien terancam bahkan nyaris mati.
Nia sendiri terkejut dan takut karena ia ikut berada di situasi yang sangat genting di dalam ruangan. Yang salah dikit menjadi kesalahannya. Juga.
"Apa yang harus kita lakukan? Apakah ada cara menyelamatkannya?" tanya Alden panik
"Jangan panik, tentu saja ada, kita harus mengeluarkan racunnya segera. Kita hanya memiliki waktu kurang dari setengah jam untuk mengeluarkan racunnya" ucap Dara
"Akan aku siapkan ruangan operasinya kalau begitu" ucap Alden.
"Tidak perlu, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri" ucap Dara.
Ia merogoh jas miliknya, dan mengambil jarum perak miliknya.
"Rendam ini dengan alkohol!" ucap Dara memberikan jarum perak miliknya ke Nia
Nia mengangguk dan dengan cepat ia menuangkan jarum perak itu dengan alkohol. Setelahnya Dara mengambil jarum itu dan melemparkannya.
Wuusshhh!!!!
Ngiiinggg!!!!!
Sembilan jarum langsung menyebar dan menusuk ke titik apukuntur dan bergetar. Hal itu membuat Nia dan Alden tidak bisa tidak terkejut. Mulut keduanya menganga melihat hal mustahil seperti ini. Ini seperti setiap action yang di lihat secara Live.
Perlahan namun pasti, Seperti bercak Ungu kehitaman berkumpul di tenggorokan pasien.
"Siapkan Baskom!" perintah Dara
Nia langsung mengambil baskom stainless. dan detik berikutnya....
"Hueeekkkk!!!! Hueeekkkk!!!!" Pasien sadar dan memuntahkan seteguk darah ungu kehitaman.
Ngiiiing!!!
Wusshhhh!!!
Dara menarik kembali Jarum-jarum itu.
Wajah pucat pasien yang sudah sadar itu sudah mulai memerah, yang artinya darah sudah mengalir dengan lancar dan pasien melewati masa kritis.
"Oh, terimakasih Tuhan, terimakasih Dara" ucap Alden menghela nafas dan memeluk keponakannya itu dengan gembira.
"A-airr" ucap Pasien.
Dengan sigap Nia memberikan air minum untuk pasien. Ia sendiri lega melihat penanganan Dara yang cepat dan hebat, bisa membuat pasien yang berada di batas maut hidup kembali. Luar biasa.
Di tengah kebingungan Pasien, Dara menjelaskan apa yang terjadi dan membuat pasien paham.
"Dokter kepala, ini pil penyembuhan level sedang. Ini akan membuat kondisi pasien segera sehat dalam beberapa menit. Jangan khawatir dengan luka bekas operasi di dada. Karena itu juga akan hilang setelah mengkonsumsi obat ini" ucap Dara.
"Terimakasih Dokter Dara" ucap Alden dengan tulus berterimakasih.
"Tidak perlu, ini sudah seharusnya aku membantu sesama, sebagai dokter dan juga pada keluarga sendiri" ucap Dara tersenyum.
Setelahnya Dara pun pamit keluar, ia melihat Tiga keamanan yang duduk di lantai masih meringis merasakan sakit.
BLAM!!!
Dara mendaratkan tendangan sangat keras itu pada Braco si tim keamanan yang berkulit hitam itu hingga terjengkang dan pingsan.
"Pasien sudah sadar dan melewati masa kritis, tangkap orang jelek ini. Karena dia yang meracuni tuannya hingga hampir meregang myawa" ucap Dara kemudian pergi.
Hal itu membuat semuanya terkejut, kemudian pak Kedubes yang sadar terlebih dulu dan menelepon polisi untuk datang mengurus Braco yang di maksud Dara.
Saat menoleh untuk berterima kasih, ia tidak melihat keberadaan Dara lagi.
....
Di parkiran Dara menghela nafas, saat mengingat ia membongkar identitasnya jika ia adalah anggota keluarga Adi Raharjo dan tunangan Kai.
"Sepertinya tidak perlu ada yang di tutupi lagi. Haaahh, biar saja berjalan apa adanya. Jika mereka tahu ya sudah biarkan saja" ucap Dara pelan.
Ia kemudian melajukan mobilnya menuju ke sebuah pemukiman kunuh di daerah pinggiran kota S.
Dara melihat seorang wanita yang bersusah payah mengumpulkan barang bekas dengan perut yang sudah terlihat membuncit.
Dara melihat dengan tatapan tidak bisa di artikan, apalagi saat melihat wanita itu memakan makanan bekas yang wanita itu temukan di kotak sampah.
Setelah lama diam memikirkan sesuatu, Dara turun dari mobilnya, ia mendekat ke arah wanita itu.
"Jangan di makan, itu kotor!" ucap Dara sedikit kencang.
Wanita itu menoleh, ia tertegun sejenak melihat rupa sempurna Dara yang seperti bidadari di matanya.
"Tuhan, apa aku ada di surga? Apa kau sudah mati?" ucap wanita itu dengan air mata di wajahnya, membuat hati Dara merasa sakit saat itu juga.
"Kau belum mati. Buang makanan sisa itu, itu sudah kotor. Kasihan dengan bayi yang ada di perutmu" ucap Dara
"Tapi ini satu-satunya makanan yang aku miliki" ucap wanita itu sendu.
"Ikutlah denganku, kau bisa membersihkan dulu badanmu lalu aku akan membelikan mu makanan" ucap Dara lembut.
"Tapi ibuku di rumah sendirian, kasihan dia tidak ada yang menjaga dan ia belum makan" ucap Wanita yang tak lain adalah Meta.
"Aku akan membelikannya juga untuk ibumu. Ayo masuk ke mobil dulu. Percaya padaku, aku tidak akan menyakitimu" ucap Dara tersenyum.
Meta mengangguk dan mengikuti Dara menuju mobil. Meta terus berdiri di depan pintu mobil tanpa bergerak untuk masuk.
"Ada apa?" tanya Dara yang melihat meta diam saja tidak masuk ke dalam.
"Aku takut tubuhku akan membuat mobil mewahmu kotor dan bau" ucap Meta saat melihat mobil mewah di depannya.
Ia dulu adalah orang berada, jadi ia tahu jika mobil di depannya adalah mobil mahal. Bahkan dulu ia tidak bisa membeli mobil semahal ini.
"Tidak apa, Ayo masuk!! Mobil kotor masih bisa di cuci, tidak ada yang perlu di takutkan" Ucap Dara.
Meta pun akhirnya masuk ke dalam mobil. Dara melajukan mobilnya menuju tempat penjualan pakaian dan kamar mandi umum. Setelah Meta mandi dengan bersih dan memakai pakaian baru. Itu terlihat lebih baik.
"Makanlah!" ucap Dara saat mereka sampai di sebuah warung makan.
"Terimakasih, ini makanan enak yang pernah aku makan" ucap Meta tersenyum dan makan dengan lahap.
Hal itu membuat rasa bersalah dalam diri Dara mencuat. Meskipun bukan ia yang membuat mereka menderita, tapi ia juga ikut andil karena hanya diam tidak membantu sedari awal, hanya karena di butakan dengan dendam.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Dara
"Di kawasan Lokan jaya" ucap Meta dengan senyum manisnya.
Dara mengulurkan tangan dan mengelus perut Meta.
"Berapa bulan?" tanya Dara
"Tujuh bulan" ucap Meta
"Sudah periksa ke dokter?" tanya Dara
Yang di balas gelengan.
"Kalau begitu apa kau mau aku periksa. Aku dokter di Prayoga Hospital" ucap Dara menunjukan identitasnya di rumah sakit.
"Sungguh? Tapi... Aku tidak punya uang" ucap Meta.
"Tidak perlu bayar, ini gratis" ucap Dara tersenyum
"Apa kau juga bisa memeriksa ibuku?" tanya Meta
"Hmm" Dara mengangguk membuat senyum Meta mengembang.
"Namaku meta, terimakasih dokter cantik" ucap Meta dengan senyum manis di wajahnya
...•••••••••...