
Sore harinya Dara memutuskan kembali ke kota S karena besok ia harus masuk kerja. Tidak mungkin ia mengajukan perpanjangan libur karena ia masih anak baru dan anak magang.
Meskipun rumah sakit itu adalah milik keluarga mamanya, namun Dara tidak bisa berlaku seenaknya. Rumah sakit mempunyai peraturan, dan Dara tidak ingin melanggarnya jika bukan kondisi darurat.
Dara pikir masalah di Pulau N sudah terpecahkan, ia sudah memberikan sedikit arahan apa yang harus di lakukan Tim Falcon.
Selain memberikan lokasi keempat orang yang menjadi buronan, Dara juga memberikan sebuah jimat pelindung sebanyak 20 lembar. Itu bisa di gunakan untuk anggota tim Falcon, hal itu guna mencegah kemungkinan yang tidak terduga saat Dara tidak berada di sana.
Kenapa hanya empat informasi buronan? Itu karena Harun adalah seorang perwira militer dengan jabatan tinggi dan semua hal tentang Harun, sudah di ketahui oleh Kai. Tentunya di bantu oleh Theo sebagai informan.
Untuk senjata, Chip dan juga cairan berisi virus itu sudah di musnahkan oleh Kai, mereka tidak bisa membiarkan benda laknat itu tetap ada. Kini mereka berdoa semoga tidak ada senjata lain di luar sana dan juga cairan yang sama untuk membuat celaka banyak orang. Entah itu di negaranya atau di negara lain.
Bukan hanya Dara yang pulang, tapi juga Theo yang kembali ke ibukota. Meskipun begitu, Theo masih akan membantu dari jauh dan menginfokan berita terkini pada Kai.
Theo tidak mempermasalahkan jika ia bekerja lebih dari yang seharusnya. Karena ia juga tidak ingin negaranya hancur karena ulah orang-orang berhati keji. Jadi dengan senang hati ia membantu Dara dan Kai.
Terlebih ia juga mendapat bonus yang besar dari Dara dan Kai untuk masalah ini. Tidak tanggung-tanggung, Kai bahkan memberikan hadiah dengan nominal fantastis yang setara dengan harga mansion mewah di ibukota.
....
Di bandara Kota S, Dara keluar dari bandara dengan santai. Ia menggunakan masker agar tidak membuat kehebohan yang tidak perlu di sana.
Dara juga sudah mengabari mansion jika ia sudah pulang dan ia akan di jemput oleh kakak laki-lakinya, Bara. Bara yang merengek untuk menjemput adiknya itu, ia merindukan Dara karena sebelumnya ia memiliki kegiatan kampus selama dua minggu yang tidak bisa ia tinggal.
Saat ia pulang ia mendengar jika Dara tengah mengurus bisnisnya di luar kota. Bara menghela nafas kecewa, karena ia pikir bisa langsung bertemu dan bermain bersama adik perempuannua itu.
"Dokter Dara" panggil seseorang dari belakangnya.
Dara yang merasa namanya di panggil pun menoleh, ia mengerutkan keningnya saat melihat Dean berdiri dengan senyumnya yang semenawan mungkin.
Dara hanya diam tidak menjawab sapaan itu, dalam hatinya berdecih. Kenapa ia bertemu dengan pengganggu menyebalkan macam Dean di sini.
"Anda dari mana Dokter Dara? Nada tidak membawa kendaraan kan? Mau saya antar pulang?" ucap Dean dengan senyum manis yang tidak luntur dari wajahnya memberikan tawaran pada Dara.
Sebenarnya ia sengaja meminta anak buahnya untuk mengawasi bandara dan mencari tahu informasi tentang kedatangannya. Ia meminta agar anak buahnya mengabarinya jika melihat sang pujaan hati pulang atau mendapat kabar ada pesawat jet pribadi yang mendarat di bandara kota S.
Dan benar saja, ia langsung bergegas ke bandara saat anak buahnya mengatakan hari ini ada jadwal pesawat jet pribadi yang akan mendarat di kota S.
Saat melihat Dara wajah Dean berbinar senang, ternyata tebakan nya benar. Meskipun Dara menggunakan masker, tapi ia masih bisa mengenalinya.
"Tidak perlu!" ucap Dara langsung menolak tawaran Dean.
"Ayolah Dokter Dara, tidak baik menolak niat baik seseorang" ucap Dean.
Dara memutar matanya jengah, untung saja saat itu tepat Bara sudah datang dan menghampirinya.
"Dara..." panggil Bara
Dara yang mengenali suara itu langsung menoleh, Dean melihat senyum Dara meskipun tertutup masker. Karena sudut mata Dara terlihat terangkat.
Apalagi saat melihat Dara langsung memeluk kakaknya itu, membuat Dean menggeram dan mengepalkan tangannya.
Namun ia tidak bisa marah, selain tidak memiliki hak karena ia bukan siapa-siapa Dara. Ia juga tahu jika Bara merupakan putra kedua keluarga Adi Raharjo, keluarga paling berkuasa dan berpengaruh di kota S.
Walaupun Bara jarang ikut acara di perusahaan, namun semua lingkaran kelas atas di kota S tahu siapa saja anak-anak dari keluarga Adi Raharjo.
Meskipun Dean tidak takut menyinggung Bara, tapi ia memang berada di posisi tidak bisa ikut campur dalam urusan Dara. Karena di sini ia hanya sebagai orang asing yang kebetulan menjadi salah satu pasien Dara dan jatuh cinta pada dokter cantik itu.
"Uuughhh rupanya kau sangat merindukanku?" ucap Bara dengan lembut dan terkekeh, ia pun membalas pelukan hangat adik kesayangannya itu.
"Hmm, aku merindukan kak Bara. Kemana aja sih kak" ucap Dara lembut.
Panggilan kakak di telinga Dean sungguh di salah artikan. Bukannya berpikir jika mereka adalah adik kakak, tapi ia pikir itu adalah panggilan manis untuk Bara dari Dara.
"Kamu tenang aja, urusan kuliahku sudah selesai. Aku akan meluangkan waktu yang banyak bersama denganmu mulai hari ini. Kakak juga siap jadi tukang ojekmu buat pergi ke rumah sakit." ucap Bara tersenyum bahkan mengecup kening Dara.
Hal itu sontak membuat Dean melotot. Cemburu? Sudah pasti. Siapa yang tidak cemburu melihat gadis yang di sukainya bermesraan dengan pria lain di depan matanya.
"Oh, apa ini temanmu?" tanya Bara menatap ke arah Dean
"Bukan, dia hanya salah satu pasienku di rumah sakit. Tidak sengaja bertemu" ucap Dara
Nyess...
Hati Dean terasa sakit hanya di anggap pasien saja, meskipun kenyataannya memang demikian.
"Hallo tuan muda Adi Raharjo" ucap Dean menyapa dengan sopan. Meskipun dalam hatinya ia merasa panas, namun ia memiliki etika untuk menyapa Bara.
"Eh, kau kenal aku? Tunggu.... Aah aku ingat, kau tuan muda Kusuma, Right?" ucap Bara tersenyum.
"Benar, senang anda mengingat saya yang kecil ini tuan muda" ucap Dean masih mengembangkan Fake smile nya.
"Anda terlalu merendahkan Diri, Keluarga Kusuma juga keluarga yang sangat besar dan kuat" ucap Bara tidak menyadari senyuman Dean yang tidak suka padanya.
"Kak, aku capek mau pulang" rengek manja Dara yang mengejutkan Dean.
Dara yang Dean kenal adalah sosok dingin, anggun dan tidak tersentuh. Ia tidak menyangka jika Dara bisa bertingkah manja di depan Bara. Dean merasa kesal, ia berpikir harusnya ia yang berada di posisi Bara. Pasti akan sangat menyenangkan dan bahagianya jika Dara mau bermanja padanya
"Ah ya sudah ayo pulang. Tuan muda Kusuma, saya pamit dulu" ucap Bara sopan
"Tentu mungkin pacar anda lelah setelah perjalanan jauh" ucap Dean berusaha tenang meskipun hatinya sakit mengatakan itu.
"Pacar, ah Dara bukan pacarku dia..." ucap Bara terpotong karena ucapan Dara.
"Kak, ayo pulang!" Rajuk Dara menarik Bara yang merasa sudah malas berbicara dengan Dean.
"Iya iya, maaf sepertinya saya harus pergi sekarang. Sampai jumpa tuan muda Kusuma" ucap Bara dengan suara semakin keras, karena Dara yang menyeretnya pergi
Melihat keduanya pergi, Dean tertegun sejenak. Ia mengingat ucapan Dean barusan yang menyangkal jika Dara adalah pacarnya.
"Mereka bukan sepasang kekasih?" gumam Dean masih dengan wajah tidak percayanya. Namun setelah itu raut wajahnya kembali cerah dengan seulas senyum lebar di wajahnya.
"Itu berarti aku masih memiliki kesempatan, mungkin mereka hanya berteman" ucap Dean tertawa keras membuat semua orang di sana menatapnya.
Dean bahkan lupa jika ia kesal barusan, ia cukup lega mengetahui bahwa Bara dan Dara bukan sepasang kekasih.
...••••••••...