The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
43. Terkagum-kagum



Kini semua orang sudah berada di mansion Adi Raharjo, mereka duduk melingkar di meja makan. Karena sudah waktunya makan malam, jadi mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya setelah mereka bertemu.


Gusti sangat bahagia bisa bertemu dengan kedua cucunya yang sudah lama ia cari, meskipun putrinya kini sudah menyusul istrinya di alam sana. Ia harap di sisa umurnya, ia bisa membahagiakan kedua cucunya yang sejak lahir belum pernah merasakan kasih sayang darinya itu.


"Ra, kamu nggak mau buka masker kamu apa? Bagaimana kamu makan kalau kamu tidak membukanya" ucap Bara melihat Dara masih setia memakai masker nya.


"Wah ada pertunjukan menarik nih" ucap Dimas tersenyum antusias.


Ferdi hanya menahan senyumnya karena ia tahu apa yang akan terjadi saat Dara membuka masker nya.


"Eh pertunjukan apa Dim..." ucap Bara.


Klontang!!


Klontang!!


Namun saat ia mengucapkan itu ia terkejut, berikut bunyi sendok dan garpu yang terjatuh bersahutan. Semuanya mematung menatap Dara tanpa berkedip, begitu juga Wira yang berdiri di sana. Sedangkan Dimas dan Ferdi hanya terkekeh melihat ekspresi semua orang.


"Ha-ha, kakak hobi banget buat orang syok" ucap Dimas.


"Kamu ini dek" ucap Dara merasa tidak enak.


"Woaaahhh, bidadari...." celetuk Bara dengan mulut terbuka sangat lebar.


"Ha-ha-ha, kakak bara mukanya lucu banget" tawa Dimas dengan keras membuat semuanya tersadar dan merasa malu karena terpesona dengan kecantikan Dara yang luar biasa.


"Dara sayang, kamu sangat cantik sampai membuat mama yang perempuan saja terpesona di buatnya" ucap Ellena berkedip.


"Makasih mah" jawab Dara Tersenyum tipis


"Dara, keputusan yang bagus menutupi wajah cantikmu itu saat di luar, kalau tidak bahaya.... bahaya...." ucap Gusti menggelengkan kepalanya saat mengatakan itu.


"Bahaya apa kek?" tanya Dimas polos, ia tidak mengerti.


"Bahaya lah dek, kalau orang lagi nyetir lihat wajah kakak kamu saat ia lewat. Bisa-bisa kecelakaan karena meleng lihat bidadari turun dari surga yang nyasar di trotoar jalan. Kalau aja bukan sepupu-an, udah aku embat tak jadiin istri. Pasti semua orang iri padaku jika seperti itu" ucap Bara.


Tuk!


"Awwss, mama sakit" ucap Bara mengelus kepalanya yang di jitak pakai sendok.


"Kamu itu kalau ngomong ceplas ceplos. Mana ada di jadiin istri, dia itu adik kamu" ucap Ellena mengomel


"Ya kan kalau mah, kalau bukan beneran... ya kali aku nikahin adek sendiri. Aku pengen lihat reaksi kak Revan saat lihat Dara, apa tuh cowok dingin itu terpesona juga" ucap Bara.


"Astaga, kamu berani ngomongin kakak kamu sendiri, kalau dia tahu habis kamu Bar" ucap Gusti


"Kak Revan itu siapa kek?" tanya Dimas lagi


"Dia kakak kamu juga, kakak paling tua. Dia sedang di luar kota karena ada kerjaan sekarang" ucap Gusti.


"Sudah ngobrolnya ayo makan dulu, Dimas mau makan pake apa makannya sayang?" tanya Ellena pada Dimas terlebih dulu.


Yang lain tidak iri, karena mereka tahu kalau Dara dan Dimas sudah lama tidak mendapatkan perhatian dari sebuah keluarga sebelumnya.


"Ayam sama tumis buncis mah" jawab Dimas.


Ellena mengambilkan makanan untuk Dimas, dan memberikannya pada Dimas.


"Makasih mah" ucap Dimas dengan senyum lebar. Hatinya merasa hangat, Ia merasa punya ibu lagi sekarang.


"Apa saja, aku tidak pilih-pilih makanan" ucap Dara


"Kalau Daging mau?" tanya Ellena lagi yang di angguki oleh Dara.


Setelah Ellena mengambilkan makanan untuk semuanya. Mereka makan dengan lahap, tidak ada yang bersuara saat mereka mulai makan.


....


Keesokan harinya keluarga Adi Raharjo mengantarkan Dara dan Dimas ke bandara. Mereka sedih karena harus berpisah dengan keluarga yang baru mereka temui setelah belasan tahun.


Mereka sudah membujuk keduanya untuk tinggal di kota S, namun Dara dengan tegas menolaknya. Bukan tidak ingin, tapi ia lebih nyaman tinggal di ibukota. Ia ingin mandiri dan melanjutkan kuliahnya di sana.


Sedangkan Dimas, ia mengikuti kemana pun kakaknya pergi. Meskipun ia sangat ingin mempunyai keluarga lengkap, namun ia juga tidak ingin di tinggal oleh kakaknya. Terlebih ia sangat senang tinggal di Star mansion dan memiliki dua sahabat dan White yang menunggunya di sana.


"Apa tidak bisa kalian tinggal di sini? Kakek ingin lebih dekat dengan kalian" ucap Gusti dengan sedih.


"Kakek jangan sedih, saat liburan Dimas janji akan datang ke sini lagi. Atau kakek bisa datang ke ibukota menginap atau tinggal di rumah kakak. Iya kan kak?" tanya Dimas menoleh ke kakaknya yang berdiri sedikit jauh darinya karena Dara berada di ujung samping Ellena.


"Aku akan datang jika ada waktu senggang. Kalian juga bebas datang kapan saja ke rumah saat ke ibukota" ucap Dara menimpali.


"Kamu tinggal di mana? Nanti kalau kakak ke ibukota, kakak main ke sana" ucap Bara


"Luxury mansion nomer 3" ucap Dara


"Luxury mansion??? Bukannya di sana ada beberapa mansion, yang merupakan salah tiga mansion terbesar di ibukota? Nomor 1,2 dan 3. Benarkan? kamu pemilik salah satu mansion itu?" ucap Bara terkejut, yang lain juga sama terkejutnya.


"Ya" jawab Dara


"Waah, aku sangat takjub dan merasa rendah di depanmu" ucap Bara terkejut.


"Makanya jangan hanya suka main saja. Tidak malu sama adikmu? Kamu yang sudah 21 tahun, tapi kerjaannya hanya bisa bikin masalah saja" ucap Ellena mengomel ke putranya.


"Kan mama yang bilang kalau aku harus fokus kuliah dulu, sekarang mama salahin aku" ucap Bara cemberut.


Semuanya tertawa melihat tingkah ibu dan anak yang sama-sama bobroknya. Berbeda dengan Adnan yang lebih pendiam dan berwibawa, sama seperti putra sulung mereka Revan.


Namun tiba-tiba kejadian tidak mengenakan muncul. Entah apa yang terjadi, salah seorang pria tinggi besar menarik Dara dan mengalungkan pisau lipat ke lehernya.


"Aaakkhhhh!"


"Kakak!!!"


"Nona!!!"


"Dara!!!"


Teriakan semua orang yang melihat Dara menjadi tawanan berteriak cemas. Ferdi yang saat itu berada jauh, karena Dara memintanya untuk menjaga Dimas. Kalah cepat mencegah hal itu terjadi, karena posisinya berdiri terhimpit oleh Dimas dan Bara.


Tak lama kemudian beberapa orang lengkap dengan senjatanya dan penutup wajah datang, baru di ketahui jika orang yang menjadikan Dara tawanan adalah kepala gembong ******* yang menjadi buronan yang ingin melarikan diri keluar negeri.


Namun keberadaannya di ketahui oleh pasukan khusus, ia sadar akan hal itu dan berlari mencari orang yang ia jadikan tawanan agar bisa terbebas.


Tapi sayangnya, dia memilih orang yang salah untuk di jadikan tawanan.


...••••••...