The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
372. Welcome Triplet



Di kota S.


Ellena yang baru saja mendapat kabar dari besannya terkejut. Ia langsung berteriak memanggil mertuanya, membuat Gusti, Bara dan seluruh penghuni mansion terkejut.


"Ada apa Lena? Kenapa kamu berteriak seperti di hutan saja?" ucap Gusti mendekati menantunya yang tengah berdiri di ruang keluarga.


"Ada apa sih mah, teriakan mama sampe terdengar ke kampung sebelah tahu nggak" ucap Bara cemberut saat keluar dari kamar.


"Jangan banyak Cang cing cong. Cepetan kalian siap-siap!!! Kita ke ibukota sekarang!!" ucap Ellena, ia melupakan kalau saat ini berbicara dengan ayah mertuanya.


"Loh bukannya lusa kita ke ibukota, kenapa jadi sekarang?" tanya Bara


"Adik kamu mau melahirkan sekarang Bara, jadi cepat siap-siap!!! Mama mau melihat cucu-cucu mama" ucap Ellena


"Nartiiiii..!!!!" panggil Gusti pada salah satu ART di rumahnya. Saat mendengar jika cucu kesayangan nya akan melahirkan.


"Ya tuan besar" sahut Bi Narti terkejut saat mendengar teriakan tuan besarnya itu.


"Siapkan pakaianku dan masukan ke koper, saya dan yang lain akan ke ibukota sekarang" ucap Gusti


"Baik tuan besar" ucap Bi Narti mengangguk dan segera menjalankan tugasnya


"Aku telepon Mas Adnan dulu, Bara kamu telepon kedua kakakmu. Minta mereka pulang sekarang, kalau nggak susul kita ke bandara langsung!" ucap Ellena berteriak, karena Bara sudah jalan menuju kamarnya untuk siap-siap.


"Ya maaaahh..." teriak Bara.


Ellena segera menelepon suaminya, ia juga meminta suaminya itu untuk menyiapkan pesawat pribadi. Setelahnya Ellena bergegas ke kamarnya sendiri dan menyiapkan segala sesuatunya.


Hanya butuh waktu setengah jam mereka semua langsung keluar dari Mansion Keluarga Adi Raharjo menuju bandara kota S. Adnan, Jeffrey dan Revan akan langsung ke bandara dari kantor. Perihal pakaian mereka tidak peduli, mereka masih bisa membelinya di sana nanti.


....


Di dalam pesawat, Kai tidak sabar saat pesawat yang membawanya ke ibukota selama perjalanan dua jam itu masih mengudara. Ia merasa waktu berjalan sangat lambat, membuatnya merasa gelisah karena ingin cepat sampai di ibukota.


Andai saja di kota P ada formasi untuknya ber teleportasi yang menghubungkan dengan langsung dengan Ibukota, Kai lebih memilih menggunakannya karena waktunya yang sangat efisien. Meskipun akan terasa pusing saat melakukan perjalanan dengan itu.


Tak terasa Kai sudah sampai di bandara ibukota, ia melihat jam sudah menunjukan pukul dua siang lebih empat puluh menit.


Ia mencoba menghubungi mamanya, mama Hesti bilang kalau mereka sedang dalam perjalanan menuju Star Hospital. Jadi Kai langsung menyetop taksi bandara menuju rumah sakit milik istrinya itu, tidak peduli argo taksi itu akan selangit. Karena dari bandara ke pusat ibukota itu cukup jauh.


"Pak bisa cepat dikit?" ucap Kai tidak sabar, ia merasa tidak nyaman karena membiarkan istrinya merasakan sakit seorang diri. Karena dirinya tidak ada di sampingnya saat ini, meskipun ada mama Hesti dan juga keluarga sang istri dan juga keluarga Narendra yang kini sudah berada di rumah sakit.


"Iya pak" ucap supir taksi.


Beruntung jalanan Ibukota masih belum macet parah, jika Kai terlambat satu jam saja. Mungkin ia akan terjebak macet berjam-jam di jalan.


"Terimakasih pak" ucap Kai menyerahkan puluhan uang berwarna merah muda itu tanpa menghitung nya terlebih dulu.


"Pak, ini kebanyakan" ucap Supir taksi terkejut melihat segepok uang di tangannya yang kini sudah gemetar.


"Ambil saja pak, anggap saja rezeki bapak dan keluarga bapak" ucap Kai langsung keluar dari taksi dan melangkah masuk ke dalam Star Hospital.


"Semoga tuan baik dan keluarganya selalu di berikan keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup" ucap supir taksi mendoakan penumpangnya itu.


Ia sangat bahagia mendapatkan rezeki, tuhan mengabulkan doanya. Ia tengah membutuhkan uang untuk biaya sekolah anaknya yang akan masuk SMA.


Kai tidak peduli penampilannya yang masih mengenakan seragam militer menjadi pusat perhatian orang. Ia langsung berlari menuju ke resepsionis.


Kai terlihat sangat tampan, jadi wajar saja iawnkadi pusat perhatian, terlebih tubuhnya yang gagah itu tercetak di seragam yang ia kenakan.


"Selamat sore Tuan muda pertama" sapa Resepsionis rumah sakit mengenali suami dari bosnya itu.


"Ketua ada di ruangan intensif di lantai 7, anda bisa menggunakan lift sebelah kanan agar tidak mengantri" ucap Resepsionis itu tahu jika Kai pasti ingin menanyakan di mana istrinya berada.


"Terimakasih" ucap Kai langsung bergegas.


Semua karyawan rumah sakit tahu, kalau bos besar mereka akan melahirkan. Dan beberapa saat lalu semuanya di sibukkan. Dengan mempersiapkan yang terbaik untuk proses melahirkan Dara.


Dokter Vania dan Dokter Daffi pun sudah stand by di sana sejak Shine menghubungi Daffi. Dokter Vania yang tengah praktek pun menyerahkan tugasnya ke dokter spesialis kandungan lainnya.


TING!


Pintu liat terbuka, Kai sedikit syok saat melihat lantai 7 kini penuh dengan orang-orang dari keluarga besar Adi Raharjo dan juga Narendra.


Untungnya Daffi cepat tanggap dan mengosongkan seluruh kamar di lantai 7. Karena ia menebak pasti akan banyak anggota keluarga Bosnya yang datang. Dan benar saja tebakannya tidak meleset!


"Kai, akhirnya kamu sampai juga" ucap mama Hesti menghampiri putranya itu.


"Dara mana mah?" tanya Kai dengan keringat yang mengalir di dahinya, karena berlari.


"Ada di dalam ruangan, kamu mandi dulu sana. Kamu bisa menggunakan kamar mandi di ruangan itu, Pakaian kamu sudah mama siapin di atas ranjang" ucap Mama Hesti.


"Kai mau ke Dara dulu mah" ucap Kai


"Jangan ngaco kamu, kamu mau masuk dengan pakaian seperti ini? Banyak kuman yang menempel Kai, sana bersihin badan dulu! Lagian Dara masih pembukaan tiga, masih cukup banyak waktu" ucap Mama Hesti mendorong putranya agar mandi lebih dulu.


"Iya mah..." ucap Kai menurut dan langsung menjadi.


Kai langsung bergegas mandi dan Menganti pakaiannya, setelah Lima belas menit ia keluar.


"Kamu langsung masuk aja Kai" ucap Mama Ellena yang baru keluar dari ruangan Dara.


"Iya mah, Kai masuk dulu" ucap Kai yang di angguki oleh ibu mertuanya itu.


Kai pun langsung masuk ke ruangan tempat Dara akan melahirkan. Ia melihat istrinya sedang berjalan pelan sembari menarik nafas dan menghembuskannya pelan.


"Sayang..." ucap Kai menghampiri Dara.


Dara tersenyum melihat kedatangan suaminya itu.


"Abang udah datang?" ucap Dara tersenyum manis menyambut suaminya.


"Maaf aku baru datang sayang, apa yang tidak nyaman? Apa sakit?" ucap Kai memeluk singkat sang istri lalu menyeka keringat yang keluar di dahi Dara.


"Nggak terlalu kok" ucap Dara tersenyum, ia menatap malu ke arah Dokter Vania dan dua orang suster di sana yang lihat betapa mesra dan perhatiannya seorang Kaisar.


"Dokter, Istri saya lahiran Normal atau Cesar?" tanya Kai pada Dokter Vania


"Nyonya Muda ingin lahiran Normal Tuan muda" ucap Dokter Vania


"Kalau di lihat dari posisi janin, tidak Tuan muda. Hanya saja memang sedikit beresiko mengingat bayinya ada tiga, yang di takutkan salah satunya ada yang sungsang saat lahir dan membahayakan ibu dan anaknya" jelas Dokter Vania


"Sayang, kenapa nggak Cesar aja? Lahiran normal terlalu beresiko" ucap Kai, ia tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun. Ia ingin yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya.


"Percaya deh abang, tidak akan terjadi apa-apa" ucap Dara meyakinkan suaminya.


"Sayang..." ucap Kai


"Yakin abang... Aku tidak akan kenapa-napa" ucap Dara


Kai menghela nafas dan mengalah, ia akan terus berada di samping sang istri. Ia kan menemaninya berjuang.


....


Setelah menunggu lama, akhirnya Dara melahirkan. Pembukaan sudah masuk ke pembukaan sepuluh, saat waktu menunjukan tengah malam. Kai senantiasa mendampingi sang istri, bahkan ia memberikan semangat pada sang istri yang tengah berjuang melahirkan anak-anaknya.


"Tarik nafas nyonya, sekarang ejan..."


Dara berusaha untuk mengejan, namun ternyata bayinya tidak ingin menyusahkan ibunya. Dara baru sedikit mengejan, bayi itu sudah keluar.


"Oaaaakkk....."


Tangisan bayi mwnggema DJ seluruh ruangan dan terdengar sampai keluar. Semua keluarga bersorak senang.


"Selamat, bayi pertama laki-laki. Sangat sehat dan tampan sekali" ucap Dokter Vania. Menyerahkan Bayi itu pada suster, agar Bayi segera di bersihkan dan di berikan gelang.


Dara dan Kai tersenyum, Kai mencium kening sang istri. Namun tak berselang lama, Dara merasakan akan melahirkan kembali dan bayi kedua pun lahir.


"Oaaaaakkk...."


"Selamat, bayi kedua juga laki-laki. Sama tampannya dengan kakaknya" ucap Dokter Vania.


Selang empat menit kemudian Dara kembali melahirkan seorang bayi yang sangat cantik. Ya bayi terakhir adalah perempuan.


"Oaaaaakkk....."


"Selamat tuan, nyonya... Bayi terakhir Anda perempuan, sangat cantik seperti ibunya" ucap Dokter Vania tersenyum


"Terimakasih sayang, sudah berjuang dengan keras. Aku bangga padamu, kamu wanita hebat. Aku mencintaimu, sangaat...Cup!!" Kai menghadiahi Dara dengan ciuman di seluruh wajahnya.


Ia sangat bahagia saat ini ia sudah menjadi ayah dari tiga putra tampan dan satu putri cantik.


Dara tersenyum lemas saat ia selesai melahirkan, ia merasa senang karena akhirnya triplet lahir ke dunia dalam keadaan sehat.


Tak berselang lama, bayi sudah di mandikan dan harus segera di berikan Kolostrum atau asi pertama. Dara pun menyusul ketiga anaknya bergantian, senyum di wajahnya tidak pernah luntur.


Bahkan Dara melihat suaminya meneteskan air mata bahagia saat ketiga anaknya lahir dengan selamat, begitupun dengan istri tercintanya itu.


....


"Cucu omah....


"Cucu Opah...


"Cucu Eyang...


"Cucu Eyang....


"Cicit ku....


"Ponakan Om....


"Ponakan Aunty...


"Ponakan Uncle....


Seruan terdengar saat bergantian masuk, untuknya ruangan itu sangat luas, hingga bisa menampung 20 orang sekaligus.


Kini semua orang merasa bahagia atas lahirnya putra dan putri kesayangan semua orang.


Semuanya berkumpul, kecuali Shine, Langit dan Bara yang saat ini berada di star mansion. Ketiganya akan datang ke sana saat siang hari, karena Langit sudah tidak sabar melihat adik bayi tripletnya itu.


"Kai, Ra, apa kalian sudah menyiapkan nama?" tanya Mama Ellena.


Dara dan Kai saling berpandangan dan tersenyum.


"Kami sudah memberikan nama. Tapi kami juga akan meminta kalian untuk ikut memberikan nama untuk triplet" ucap Mereka membuat semuanya terkejut sekaligus senang.


"Mamah Hesti, papa Galuh, Opah dan omah. Mungkin bisa memberikan nama untuk anak pertama kami.


Mama Ellena, papa Adnan dan kakek bisa kasih nama buat anak kedua kami.


Dan untuk princess, aku ingin Dimas dan Ryan yang memberikan nama" ucap Dara.


Mendengar itu mereka pun mulai berdiskusi dan sudah menentukan nama untuk Bayi triplet kesayangan kita.


"Sayang bagaimana kalau namanya Galaxy, bukannya kalian menyukai yang berhubungan dengan Langit? Mama, papa, omah dan opah berharap. Galaxy akan menjadi inti kebahagiaan untuk keluarga besar kita, menjadi magnet untuk adik dan kakaknya, dan dengan gagah berani dan kuat" ucap mama Hesti, memberikan usulan yang di setujui oleh suami dan mertuanya.


"Nama yang bagus mah, makasih" ucap Dara dan Kai.


"Sayang, anak kedua kalian, bagaimana kalau Rakesh? Itu memiliki arti Bulan dan Cahaya. Kamu harap ia akan terus memberikan cahaya dan kebahagiaan bagi kita semua" ucap Mama Ellena.


"Nama yang bagus mah, kami menyukainya" ucap Dara dan Kai tersenyum.


"Dimas, Ryan kalian bisa memberikan nama?" tanya Dara


Ryan dan Dimas saling berpandangan dan mengangguk.


"Bagaimana kalau Starlleta kak? Aku dan Dimas ingin ia menjadi bintang yang paling bersinar." tanya Ryan yang di angguki oleh Dimas.


"Nama yang cantik, kalian pintar memberikan nama" ucap Dara tersenyum manis ke kedua adiknya.


Dara menatap Kai, keduanya pun tersenyum, mereka menyukai ketiga nama panggilan untuk bayi Triplet mereka.


...••••••••...