The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
348. Apa yang terjadi?



"Udah bobo Yang?" tanya Kai saat istrinya keluar dari kamar Putranya itu.


"Udah, dia kecapean jadi langsung tidur, apalagi ini udah malem dan waktu tidur dia udah lewat." ucap Dara menunjuk waktu yang menunjukan pukul 10 malam.


Langit sempat tidur di mobil namun setengah jam sebelum sampai di penthouse, ia bangun.


Dari kota H mereka pulang saat senja sore hari, dan karena lalu lintas macet jam sepuluh mereka baru sampai penthouse.


Kai menepuk sofa di sampingnya, Dara pun langsung beranjak ke sana dan duduk. Kai langsung memeluk dan menghirup aroma tubuh sang istri yang menjadi candunya itu.


"Sayang aku kangen sama triplet, mau jenguk. Udah janji loh ya" ucap Kai


Dara hanya mengangguk saja, ia sudah berjanji dan tidak mungkin ia mengingkari itu. Terlebih ia juga merindukan belaian suami tercintanya itu dan juga Jonny nya, setelah beberapa hari berjauhan.


"Jangan keras-keras ya, kasihan triplet" ucap Dara pelan.


"Aku akan melakukannya selembut mungkin" ucap Kai langsung menyerbu bibir manis milik istrinya itu.


Setelahnya ia mengangkat Dara apa koala menuju ke kamar mereka, membuat Dara spontan melingkarkan tangannya ke leher Kai.


Kai melonggarkan pelukannya di bagian perut, ia takut menekan sang bayi saat ia Gending ibunya. Setelah memberikan ruang di perut Dara, Kai kembali menyerbu bibir itu.


Mereka pun berciuman sepanjang jalan menuju kamar, dan setelahnya terdengar suara khas pertempuran antara dua manusia di atas ranjang.


....


Pagi harinya Dara sudah siap dengan pakaian kantor. Ia tidak memakai Rok span, ia memakai celana panjang hitam dan juga Blouse putih berkerah. Simpel, namun jika itu yang memakainya Dara, semuanya terlihat sangat cocok dan elegan.


Semenjak Hamil Dara memakai flat shoes dan tidak pernah menggunakan sepatu berhak tinggi, karena larangan dari suami, ibu, Mertua dan tante-tante nya.


Meskipun itu tidak masalah bagi Dara, tapi ia tetap menurut saja apa yang di larang suami dan keluarganya. Karena ia yakin, mereka mengatakan itu demi kebaikan dirinya dan juga jabang bayi.


"Sudah siap Yang?" tanya Kai yang hanya mengenakan pakaian dengan warna serupa, kemeja putih dan celana hitam.


"Sudah Abang" ucap Dara


"Kamu cantik banget, aku jadi nggak rela biarin kamu pergi" ucap Kai mencium pipi kanan Dara.


"Issh, pagi-pagi udah gombal" ucap Dara tersipu.


"Mau aku anter ke sana?" tanya Kai.


"Nggak perlu Abang, aku cuma butuh tumpangan ke bawah. Shine sudah menunggu di bawah" ucap Dara


"Baiklah, ayo kita berangkat" ucap Kai.


Keduanya beranjak keluar dari kamar, di sana Langit sedang asik dengan menonton TV dengan serial kartun domba yang tidak bisa bicara. Setelah mematikan TV dan mengambil tas keperluan Langit, seperti susu, Pampers, minyak telon, bedak bayi dan baju ganti. Mereka langsung keluar dari Penthouse.


Saat mobil Kai keluar dari area parkir khusus penghuni dan menuju ke arah Lobby gedung apartemen, Dara melihat Shine menunggu di sana.


"Bunda dan Abang berangkat Yah" ucap Dara pamit pada suami.


"Hati-hati bunda, jangan terlalu lama menggendong Abang dan jangan terlalu lelah, cup!" Kai mencium kening sang istri. Dara hanya mengangguk paham.


"Aban pergi Yayah" ucap Langit.


"Kamu juga hati-hati boy, cup!" ucap Kai mencium kedua pipi gembul Langit.


Setelah turun dari mobil Kai, Dara beranjak ke arah Shine. Dengan sigap Shine mengambil alih Langit dari tangan Dara dan menggendongnya. Mobil keduanya pun kini sudah beranjak ke arah yang berbeda.


....


Sesampainya di Lobby Hotel Imperial, Dara melihat Firly menunggu dirinya di sana dan menyambutnya hangat.


"Shine, kamu ajak Abang keliling saja, atau bermain di taman. Aku akan menghubungi mu saat selesai nanti" ucap Dara


"Hmm, baik" Shine mengangguk dan membawa Langit bermain.


Dara mengikuti Firly menuju ke sebuah ruangan pribadi, di mana ruangan pribadi itu adalah ruangan pribadi di restoran hotel.


Dara sudah beberapa kali meeting di sini, kadang di hotel keluarganya, atau di restoran miliknya. Jadi Ia tidak asing lagi dengan tempat ini.


"Sepertinya Tuan Lionel belum datang" ucap Dara saat masuk ke dalam ruangan dan masih kosong.


"Tidak masalah, lagi pula masih ada 15 belas menit lagi sebelum jam 9. Aku juga salut pada tuan Lionel yang langsung bergegas datang setelah turun dari pesawat" ucap Dara.


Firly mengangguk, sembari menunggu Klien mereka datang. Firly membacakan hal apa saja yang akan di bahas dalam meeting kali ini.


Dara mendengarkannya, ia juga sudah mempelajarinya sedikit tentang kliennya ini. Tapi ia dengan jelas mengingat semuanya, termasuk yang di bacakan Firly saat ini.


Tepat jam 9 pintu ruangan itu terbuka, di sana terlihat sosok laki-laki muda dengan wajah bule. Di sampingnya ada seorang wanita muda yang terlihat cantik dan juga terlihat sangat berpengalaman.


Dara berdiri menyambut kedatangan mereka, tapi ia tidak menampilkan senyum sama sekali. Baginya, meskipun itu Klien, mereka hanya orang asing yang tidak ia kenal. Cukup berbicara sopan, itu sudah sangat baik di bandingkan senyum palsu yang harus ia tebarkan pada orang lain.


"Senang bertemu dengan anda tuan Lionel, nona Shiren" ucap Dara menyapa


"Ah, ya... Senang bertemu dengan anda juga nona Dara. Maaf kami terlambat" ucap Lionel


Firly juga menyapa klien beserta sekretarisnya dan berjabat tangan, tentu Dara tidak melakukan itu dan biar di wakilkan oleh sekretarisnya saja.


"Sama sekali tidak terlambat tuan, anda datang tepat pukul 9. Ayo silahkan duduk!" ucap Dara, kemudian mereka berempat pun duduk.


"Melihat nona Dara sungguh jauh lebih dari yang kabar yang beredar" ucap Lionel


Dara mengeryitkan keningnya, dan Lionel tahu jika Dara tidak mengerti apa yang ia maksud, jadi ia melanjutkan ucapannya


"Ada kabar yang mengatakan bahwa ketua dari Star Corporation adalah wanita tercantik yang di juluki Dewi Nasional. Tapi setelah melihatnya sendiri, aku pikir julukan itu salah" ucap Lionel


Semua di sana terkejut mendengar itu, terkecuali Dara yang tenang saja. Karena ia sama sekali tidak mendengar nada sarkasme di dalam ucapan Lionel.


"Karena menurutku, julukan Itu tidak bisa menggambarkan betapa sempurnanya anda. Anda lebih dari sekedar seorang Dewi Nasional" ucap Lionel lagi dengan jujur.


"Terimakasih atas pujiannya tuan Lionel" ucap Dara.


"Tapi sayang... Aku dengar sudah menikah? Sungguh beruntung laki-laki yang bisa memilikimu" ucap Lionel dengan tatapan sendu yang tidak di buat-buat.


Dara menghela nafas, ia tahu pesona dirinya tidak main-main. Bukan sombong... Tapi itu kenyataannya.


Dan Dara beruntung dengan statusnya sekarang, karena tidak ada laki-laki yang berani mengganggunya. Karena pawangnya merupakan jendral muda di negara ini dan juga Keluarganya paling berkuasa, siapa yang berani menyinggung?


"Bukan suamiku yang beruntung, tapi aku yang beruntung memiliki nya sebagai suami" ucap Dara.


"Ah aku jadi merasa sedikit iri" ucap Lionel.


"Maaf bisa kita bicarakan kerja sama kita? Kalau tidak silakan pesan dulu, tuan dan nona pasti lapar dan haus setelah perjalanan jauh" ucap Dara mengalihkan perhatiannya.


Meeting pun berjalan dengan lancar setelah hampir dua jam mereka membahas tentang kerja sama dua perusahaan besar dari dua negara.


Dara dan Firly mengantar Lionel dan sekretarisnya keluar dari hotel. Setelah berpamitan, Dara merasakan sedikit limbung hingga Firly menangkapnya dari belakang.


"Bu Dara, anda tidak apa-apa?" tanya Firly dengan cemas, melihat wajah bosnya itu berubah pucat.


"Langit!" ucap Dara dengan wajah terkejut dan paniknya.


Setelah bisa berdiri dengan tegak, Dara langsung berlari dengan kencang menuju ke arah Utara. Firly yang melihat itu terkejut, ia bergegas menyusul tapi bosnya itu yang lari dengan cepat. Namun ia tidak bisa menyusul ya.


Ia tahu jika bosnya itu tengah hamil, jadi ia panik karena takut terjadi apa-apa dengan bos dan juga bayinya. Jadi ia menghentikan langkahnya, dengan tangan gemetar ia berusaha menelepon kantor. Saat ini ia hanya teringat dengan Ferdi, CEO kantornya.


Tuuuttt....


Setelah beberapa saat telepon di angkat.


"Hallo dengan si...." ucap Ferdi langsung di potong oleh Firly.


"Pak Ferdi, haaahhh haaahhh ini aku, Firly sekre-sekretaris Bu Dara" ucap Firly masih ngos-ngosan.


"Ya ada apa Firly?" tanya Ferdi


"Itu pak, Bu Dara... haaahhh" ucap Firly masih mengatur nafasnya.


Mendengar itu tentu saja Ferdi panik, ia yakin terjadi sesuatu pada nonanya itu. Jadi ia segera bertanya pada Firly.


"Nona kenapa?" tanya Ferdi dengan cemas...


...•••••••...