The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
114. Jendral Muda



Mendengar nama keluarga Narendra, semuanya terkejut tidak terkecuali Gusti dan Adnan. Keduanya sangat terkejut melihat pria tampan yang tengah duduk di depannya, yang tak lain kekasih Dara itu.


Revan seperti terkena hantaman keras di hati dan kepalanya saat mendengar identitas seorang Kaisar. Setelah beberapa saat diam, Revan tersadar dan menatap Kai dengan tatapan tidak percaya.


"Apa kau mencoba membodohi kami?" tanya Revan tidak percaya dengan yang di ucapkan Kai.


"Apa saya tidak menggali kuburan sendiri, jika saya berbohong dengan membawa nama keluarga Narendra?" tanya balik Kai dengan santai, namun sukses membuat Revan tertegun.


"Nak, Kamu siapanya Dierja?" tanya Gusti yang sedari tadi diam dan ikut angkat bicara.


"Saya cucu pertamanya" ucap Kai dengan sopan.


"Siapa nama ayahmu?" tanya Adnan.


"Galuh Raka Narendra" jawab Kai


"Itu berarti kamu anak semata wayang Galuh, kamu juga berarti...." ucap Aaron ayah dari Arvin dan Ara, yang juga terkejut dengan identitas Kai.


"Ya, yang anda pikirkan, itu benar!" ucap Kai tidak menutupi identitasnya sebagai jendral. Hanya saja ia tidak memberitahu jika ia juga sebagai komandan pasukan khusus Falcon. Di mana itu adalah pasukan terkuat yang di miliki militer saat ini.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti pih" ucap Ara yang tidak mengerti. Namun pertanyaan nya tidak di jawab oleh papinya.


"Umur berapa kamu Kai?" tanya Adnan


"Hampir 26 kurang dari sebulan lagi" jawab Kai


Adnan tertegun dan menoleh ke arah Gusti. Gusti pun sama terkejutnya. Baik Aaron, Adnan dan Gusti, ketiganya tahu jika cucu tertua Keluarga Narendra adalah seorang jendral termuda di negara ini


Meskipun Gusti sudah lama pensiun dari militer dan sudah lama tidak berhubungan dengan Dierja semenjak pensiun. Dia masih beberapa kali mendengar prestasi dari cucu sahabatnya itu.


Ya, Dierja Raka Narendra dan Gusti Adi Raharjo adalah teman baik pada jaman keemasan mereka. Gusti saat itu memilih masuk ke militer sampai usia 40 tahun dan saat itu ia bergelar mayor jendral.


Namun karena mendiang ayahnya sudah tua dan tidak ada yang mengurus perusahaan, akhirnya Gusti pensiun dini dari militer dan mengurus perusahaan sampai Adnan siap menggantikannya.


Dan itu sudah hampir 30 tahun berlalu ia tidak bertemu dengan sahabatnya dulu itu. Ia pernah mendengar kalau Galuh sudah di angkat menjadi jendral besar tahun lalu, yakni saat umurnya 58 tahun. Terakhir Gusti mendapat kabar kalau putra Galuh satu-satunya, berhasil menjadi Jendral termuda dalam sejarah.


Tentunya Gusti paham dengan kemiliteran, yang berarti Kai sangat berprestasi di kemiliteran. Dan tahu sebesar apa pengorbanan untuk naik pangkat dalam militer itu tidak mudah bahkan mempertaruhkan nyawa.


"26 tahun? Kamu terlalu tua untuk adikku!" ucap Revan masih belum menerima kalau adik perempuannya punya kekasih. Terlebih usia Kai lebih tua 2 tahun dari dirinya dan dua tahun lebih muda dari Jefrey.


"Revan, diam!" ucap Gusti sedikit meninggi.


Revan ingin membalas, namun ia tidak berani membantah Gusti yang terkenal keras bahkan dengan keluarganya. Saat ia tidak setuju dengan ucapan seseorang.


"Usia tidak masalah, yang penting adalah Dara menerima nya tanpa keterpaksaan. Bagaimana menurutmu Ra?" tanya Gusti pada cucu perempuan nya itu.


"Aku tidak memandang seseorang dari umurnya. Kai adalah laki-laki yang sangat baik" jawab Dara


"Dek..." sahut Revan tidak terima


"Sudah-sudah, biarkan adik kamu sendiri yang menentukan siapa pasangan yang baik untuknya. Menurut papa, Kaisar adalah pilihan terbaik, papa tahu karakter nya seperti apa saat mengetahui identitas nya" ucap Adnan.


Adnan mendengar jika Jendral termuda yang tak lain cucu tertua purnawirawan Jendral besar Dierja Raka Narendra dan anak satu-satunya dari jendral besar Galuh Raka Narendra. Kai terkenal dengan kekuatannya yang sangat besar dan hebat.


Sifatnya yang dingin dan datar tidak lepas dari karakter Kai. Kai juga tidak pernah dekat dengan perempuan. Jadi sudah di pastikan Kai adalah laki-laki setia dan perempuan istimewa yang bisa menggerakkan hati jendral muda itu tidak lain adalah putrinya.


"Tapi Pah..." ucap Revan


"Revan, sudah kamu jangan mencampuri urusan adikmu! Lebih baik kamu cari calon menantu untuk mama, kamu sudah hampir 24 tahun tapi belum juga kenalin mama pasangan" sahut Ellena.


Mendengar ucapan mamanya, Revan terdiam dan tidak bisa menjawabnya. Kalau tidak Ellena akan mengomel oanjang dan menceramahi dirinya.


Arvin memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya erat saat melihat keluarga Adi Raharjo yang lain justru mendukung hubungan Dara dengan Kai.


"Sialan!! Meskipun kamu sudah punya pacar, selama kamu belum menikah, aku masih bisa merebutmu Dara. Aku pastikan kamu hanya akan menjadi milikku!" ucap Arvin dalam hati.


....


Sejak dua jam lalu, ujung jalanan sudah di tutup karena tidak bisa di lalui kendaraan.


Ketiga pria tengah memandangi Dara dan Kai yang tengah asik membakar daging sembari bercanda.


Jefrey sebenarnya tidak rela jika adiknya itu punya pacar, namun ia sadar di keluarga Adi Raharjo ia hanya seorang anak angkat.


Awalnya ia akan berjuang mendapatkan hati Dara, namun sekarang Dara membawa pacarnya datang. Ia tidak mungkin menghalangi cinta seseorang, terlebih Dara adalah adiknya sekarang.


"Cobalah, hati-hati panas!" ucap Dara sedikit meniup makanannya dan menyodorkan ke mulut Kai.


"Enak! Makasih babe" ucap Kai dengan senyum manisnya.


"Sialan!!!!" pekik Arvin dalam hati.


Ia memilih menjauh agar tidak melihat kedua pasangan yang sedang mengumbar kemesraan yang membuat hatinya panas itu. Ia menyalakan rokok di tangannya, agar sedikit tenang. Namun ia masih di kuasai amarah.


"Hei, ini sudah siap semua, ayo kemari dan makan!" teriak Ellena memanggil semuanya.


Barbeque yang sudah matang itu di tata di meja panjang di halaman.


Dan ada juga tempat duduk lesehan yang luas di sana untuk mereka duduk dan menikmati makanan itu. Mereka semua menyantap dengan senang hati makanan di atas meja. Terlebih Ryan dan Dimas yang sangat antusias dengan makanan lezat di depannya.


Meskipun dalam kondisi hati yang memburuk setelah mengetahui Dara memiliki kekasih, yang mereka tahu adalah keturunan dari keluarga besar di ibukota.


"Kakak ipar, ayo makan ini. Ini enak!" ucap Dimas memberikan makanan pada Kai.


"Terimakasih" ucap Dara mengambil makanan dari adiknya itu lalu memakannya.


Ia tahu jika Kai tidak pernah menerima makanan selain dari dirinya. Kai pernah menceritakan jika ia masih belum terbiasa dengan orang lain selain keluarga dan juga Sahabatnya.


"Ih, kakak itu buat kakak ipar!" ucap Dimas cemberut.


"Biarin, Kai juga nggak keberatan. Ia kan sayang" ucap Dara mengedipkan sebelah matanya.


Jangan tanya bagaimana reaksi Kai saat Dara memanggil nya dengan kata sayang di depan keluarganya. Wajahnya sekarang memerah malu dan juga bahagia.


Sedangkan Revan dan Arvin menggeram marah, namun ia tidak bisa mengucapkan satu kata pun karena takut di tegur oleh Gusti ataupun Adnan.


"Waaahhh Kak Dara, bikin Kakak ipar salting. Lihat wajah kakak ipar merah" ucap Dimas terkekeh.


"Iya kakak ipar memerah kaya kepiting rebus ha-ha" sahut Ryan


"Eh, kalian jangan begitu..." tegur Alan


"Maaf Kak, habis wajah kakak ipar lucu. Seorang jendral muda bisa salting gara-gara Kak Dara, kak Dara emang paling hebat!" ucap Dimas.


"Uhuuukkkk... uhuuuukkk...." Revan, Bara dan Arra tersedak bersama an saat mendengar ucapan Dimas.


"Dim, yang benar aja" ucap Bara sesaat setelah minum air di sampingnya.


"Kenapa kak? Ada yang salah?" tanya Dimas polos


"Kamu tadi bilang apa?" tanya Bara


"Yang mana?" tanya Dimas.


"Yang kata kamu Kaisar jendral" ucap Bara


"Emang kakak ipar seorang jendral di militer, ya kan kak?" tanya Dimas menoleh ke arah Dara dan Kai.


"Ucapan Dimas benar, Kaisar memang jendral muda di negara ini" ucap Adnan membuat suasana di sana mendadak hening.


...•••••••...