
Dara dan Kai kini tengah berada di rumah sakit, Dokter Vania sudah standby sejak jam 9 pagi karena memang mulai dari jam 9 ia mulai jam kerjanya di poli kandungan.
Seperti pasien lainnya, Dara ikut mengantri dan ia mendapat giliran ke tiga karena mendaftar lebih dulu.
Mulai hari ini memang Kai sudah mulai mengambil alih pekerjaan Dara di kantor. Namun ia memilih berangkat setelah jam makan siang, karena akan mengantar sang istri tercinta periksa kandungan ke rumah sakit.
Langit mereka titipkan pada Ellena di mansion, jadi mereka bisa pergi berdua saja kali ini.
Banyak ibu-ibu di sana yang melirik ke arah Dara, bahkan tidak sedikit iri saat melihat Dara yang cantik di antar oleh suaminya yang sangat tampan dan juga setia mendampingi sang istri cek up rutin.
Satu dua ibu-ibu bertanya tentang kandungan Dara, semisalkan sudah berapa Minggu dan hal lainnya. Saat mengetahui kalau kandungan Dara baru masuk Minggu ke 17, mereka tidak bisa tidak terkejut. Pasalnya perut Dara kini terlihat seperti ibu hamil enam atau tujuh bulan.
Saat Dara mengatakan jika ia hamil kembar, semuanya mengangguk paham. Mereka juga memberikan selamat padanya karena mendapatkan bonus double, Dara membalasnya dengan terimakasih dan tersenyum. Meskipun sebenarnya ia buka. mendapat bonus double tapi triple.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, kini giliran ia di periksa. Dokter Vania pun tersenyum ramah dan mulai memeriksa kandungan Dara.
"Tuan, nyonya, lihat di sini. Tumbuh kembang Baby Triplet sangat sehat" ucap Dokter Vania.
"Apa jenis kelaminnya sudah bisa terlihat dok?" tanya Dara
"Sudah bisa, tapi sepertinya sulit melihat kali ini. Karena dua baby terlihat menghadap ke belakang, jadi tidak bisa terlihat jenis kelaminnya. Baru satu yang terlihat, yaitu laki-laki. Tuan dan Nyonya bisa datang untuk periksa lagi bulan depan jika ingin melihat jenis kelamin baby yang lainnya" ucap Dokter Vania.
Dara dan Kai mengangguk paham, mereka tidak buru-buru mengetahui jenis kelamin anak mereka sebenarnya.
Awalnya Dara ingin periksa dua Minggu lagi, tapi karena desakan mama Ellena jadi ia menurut dan melakukan cek up.
Bagaimana pun ia melihat mama-nya yang sebagai omah sangat bersemangat, membuat Dara tidak ingin membuat Ellena kepikiran dan juga kecewa karena ia tolak.
Kadang orang lupa jika perut Dara besar karena isi di dalamnya lebih dari satu. Termasuk Ellena, karena saat melihat perut Dara ia pikir Dara sudah memasuki bulan ke enam atau tujuh.
"Kamu mau langsung pulang atau mau kemana Yang?" tanya Kai setelah menebus vitamin untuk ibu hamil, dan menuntun sang istri menuju mobil mereka.
"Mau banget makan es cendol di depan kantor bang. Boleh?" ucap Dara
"Ya udah, kita ke sana sekarang, tapi jangan makan terlalu banyak, oke" ucap Kai mengecup kening sang istri sembari memasang kan Seat belt sang istri.
....
Dara terlihat sangat semangat menikmati es cendol tepat di depan kantor pusat Star Group. Dara pun menyuapi sang suami, Kai sebenarnya tidak terlalu suka makanan manis. Namun demi sang istri tercinta ia rela makan meskipun itu sangat manis dan mungkin akan membuat tenggorokan nya kurang nyaman..
"Udah makannya Yang?" tanya Kai, Dara mengangguk dan meletakkan mangkuk kosong itu.
Kai membayar es cendol yang baru saja ia dan istrinya makan.
"Yuk aku antar ke Star Mansion" ucap Kai
"Nggak mau Abang, aku mau temenin Abang di kantor" ucap Dara
"Tapi nanti kamu kecapean dan bosen sayang" ucap Kai
"Nggak Abang, kan aku nggak ikutan kerja. Aku cuma mau nemenin kamu. Lagian di ruanganku ada ruangan khusus dan ada tempat tidurnya, aku bisa istirahat di sana" ucap Dara.
"Baiklah, tapi janji nggak akan ikut kerja, memeriksa dokumen pun nggak boleh" ucap Kai
"Janji..." Dara tersenyum lebar saat suaminya mengizinkannya ikut.
Kai tentu tidak akan menolak, karena ia bisa terus berduaan dengan sang istri seharian.
Di kantor Kai berubah 180 derajat, ia terlihat sangat fokus mengerjakan tumpukan berkas yang menggunung di atas meja sang istri.
Pesonanya semakin awur-awuran, ia sangat pantas mendapat gelar CEO tampan. Lihat! Bahkan pesona Kai bisa membuat Dara betah memperhatikan sang suami yang tingkat ketampanannya menjadi berkali-kali lipat di matanya itu.
Sampai akhirnya, mata Dara tidak sanggup membuka dan akhirnya ia tertidur. Kai yang mengetahui istrinya tidur langsung mengangkatnya dan merebahkannya ke kamar yang ada di dalam ruangan pribadi Dara.
"Selamat tidur sayang kamu pasti lelah, selamat tidur juga baby triplet anak ayah. Jangan buat bunda kelelahan ya para kesayangan ayah. Ayah sayang kalian, bunda dan juga abang" ucap Kai mencium kening Dara dan juga perut buncit sang istri.
.....
Ryan, Dimas dan Ezio, langsung pulang, mereka kembali izin tidak ikut less karena ingin bermain dengan Langit.
Beruntung Dimas tidak lagi mendapati ayah ya datang, Dimas menghela nafas lega.
Sesampainya diansion, mereka bertiga mengajak Langit bermain di halaman belakang, tepatnya di kandang White.
Dimas yang kebelet pergi ke toilet sebentar, Kedua remaja itu sangat gemas melihat Langit tidak henti berjalan memutari kandang, ia bahkan mendekat ke arah White dan mendusel ke peliharaan bundanya itu.
"Yo aum Agi Wat.." ucap Langit, yang tengah meringkuk di perut White yang tengah asik berjemur ria.
"Namanya White Bigem, bukan Wat" ucap Ezio merapat ucapan Langit.
"Bidem tapa omom yoyo? Kan Aban bilan ni wat, kan benel namanya Wat..." ucap Langit.
"Bigem! Bukan Bidem... itu artinya Baby Gemoy dan itu panggilan dari om. Tapi kenapa jadi om yoyo, Langit? Nama om Ezio, bukan Yoyo" ucap Ezio kembali meralat
"Ya elah Yo, namanya juga anak kecil. Kan susah ngomong bener, lagian nih anak ajaib enam bulan udah bisa ngomong. Wajar kalau cara bicaranya belum lancar dan kurang mengerti" ucap Ryan.
"Panggil Zio woy, jangan ikut Langit panggil aku Yoyo. Emang aku mainan apa di panggil Yoyo" ucap Ezio cemberut, Ryan hanya tertawa saja mendengarnya.
"Tapi bener juga ya, ini anak kelewat ajaib. Mana udah bisa jalan lagi, nggak takut pula sama White. Aku aja butuh waktu biar nggak takut lagi sama nih kesayangan kalian dan kak Dara" ucap Ezio.
"Maka dari itu, pesonanya sangat berbeda bukan?" ucap Ryan.
"Wat, Yo aum agi, Aban mu dengel!!!" rengek Langit, tidak menggubris para om nya yang tengah berdebat itu.
"Aauumm..." White mengaum kecil.
"Napa tetil tekali, Yan betal wat... Yooo" ucap Langit dengan polosnya.
"AAAAUUUMMM!!!!.... ROOAARRR!!!!" White menurut saja, ia sejujurnya sangat gemas dengan little prince itu. Namun ia tidak bisa berkomunikasi, selain Dara tentunya.
"Ooohh astaga...!!!" teriak Ryan dan Ezio tersentak kaget saat mendengar Auman White yang sangat kencang itu, membuatnya terkejut.
"Ha-ha-ha,,, Wat amu ebat..." Prok! Prok!.... Langit terlihat sangat senang mendengar White dan tangan mungilnya bertepuk tangan riang.
White mengaum kecil lagi lalu menggesekkan kepalanya ke tubuh kecil Langit. Langit tertawa dengan karenanya, ia juga sangat senang bermanjaan dengan White. Terlebih bulu lebat White dan juga suhu tubuh White yang hangat membuatnya nyaman.
"Kalian kenapa? Kok tadi aku denger White mengaum keras banget?" tanya Dimas yang baru kembali dari toilet.
"Lagi kaget nih, aduh si Bigem malah ketawa denger White ngaum kenceng gitu" ucap Ezio mengelus dadanya.
"Abang..." panggil Dimas
"Ya omom didim" jawab Langit.
"Ha-ha-ha, ternyata bukan cuman aku di panggil yoyo, kamu juga di panggil didim ha-ha..." Ezio terlihat senang memiliki teman yang memiliki panggilan khusus dari Langit.
"Bigem, kalau Om Ryan kamu panggil apa?" tanya Ezio penasaran.
"Omom Yanyan... Omom Yoyo, pandil Aban no bidem" ucap Langit protes di panggil Bigem.
"Kenapa? Kan kamu panggil Om Zio, omom yoyo, nggak apa-apa dong om panggil kamu Bigem" ucap Ezio.
"Nggak mau, pandil Aban aja" ucap Langit
"Nggak mau, enak panggil Bigem" ucap Ezio
"Selah omom Yoyo ja... Aban pucin" ucap Langit menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
"Ha-ha... " yang lain tertawa melihat tingkah menggemaskan bayi ajaib itu. Bagaimana bisa ada bayi semenggemaskan gini, ingin sekali mereka karungin saat ini juga.
...•••••••...