
"Hallo tuan muda pertama, saya Fandi dari kepulauan ibukota. Saya ingin melaporkan tentang satu hal, tadi saya sudah mencoba telepon tuan Rafael, hanya saja nomornya tidak aktif sejak siang tadi" ucap orang di seberang yang bernama Fandi itu
Kai langsung ingat dengan orang yang ia minta untuk mengawasi dan melaporkan apa saja yang terjadi di kepulauan ibukota, terutama siapa saja yang akan datang ke beberapa pulau di kepulauan ibukota dari tanggal 6 sampai 8.
Biasanya Fandi akan melapor semuanya ke Rafael, dan laporan itu akan di teruskan ke Kai. Hanya saja karena hari ini Rafael ada tugas ke luar kota selama beberapa hari, jadi Fandi memutuskan untuk melapor langsung ke Kai mengenai hal ini.
"Ya bagaimana, apa ada kabar baru tentang yang terjadi di kepulauan?" tanya Kai
"Ya tuan muda, seperti yang anda katakan untuk mengawasi kepulauan, terutama pengunjung pa tanggal 6 sampai 8. Kebetulan di tanggal 7 dan 8 bulan depan ada yang membooking satu pulau penuh, itu ada di pulau Sb yang sudah di booking" ucap Fandi
Kai dan Dara yang berada di sana saling tatap.
"Siapa yang membooking? Dan apa alasan mereka ingin membooking satu pulau selama dua hari itu?" tanya Kai
"Yang membooking adalah keluarga Damian di ibukota. Alasannya mereka akan mengadakan family gathering pada tanggal itu tuan muda" ucap Fandi menjawab pertanyaan Kai.
"Baik, kerja bagus. Terus awasi apa yang ada di kepulauan ibukota dan siapa saja yang memesan di kepulauan Kepulauan itu saat tanggal 6,7 dan 8" ucap Kai
"Baik tuan muda" ucap Ferdi.
Setelah sambungan terputus, Dara dan Kai tidak bisa diam setelahnya. Keduanya berpikir apa yang harus mereka lakukan, setelah mendengar kabar ini.
"Apa Abang tahu tentang keluarga Damian?" tanya Dara menatap sang suami.
"Ya, itu adalah Keluarga kelas satu di ibukota bagian barat" jawab Kai memeluk sang istri, karena angin sudah mulai kencang di luar.
"Apa Keluarga itu ada hubungannya dengan Ki Rawa?" tanya Dara lagi.
"Aku tidak tahu, aku akan menyelidikinya besok" ucap Kai mengecup puncak kepala sang istri.
"Bukannya Abang besok ada tugas? Sebaiknya aku minta Flo saja untuk menyelidiki Keluarga itu besok. Kita tidak bisa meminta orang lain menyelidikinya, jika mereka seperti yang kita duga, itu akan sangat berbahaya. Orang suruhan kita akan dalam bahaya karena resiko ketahuan sangat tinggi jika tidak hati-hati" Ucap Dara.
"Apa Flo tidak masalah menyelidiki Keluarga Damian? Bukannya ia sedang sibuk mengurus pernikahannya yang hanya tiga Minggu lagi itu?" tanya Kai
"Tidak apa-apa, lagian Flo masih aktif bekerja di perusahaan sampai Minggu depan. Aku akan memintanya untuk menyelidiki Keluarga Damian sampai beberapa hari kedepan, karena sekarang hanya dia yang bisa kita mintai tolong. Atau aku saja yang menyelidikinya, aku akan melakukannya dengan cepat dan efisien" ucap Dara
"Jangan macam-macam Yang, kamu sedang hamil. Kalau ada apa-apa gimana? Siapa juga yang nanti menjaga baby Langit. Ingat kamu bukan cuma menjaga diri kamu sendiri, ada calon bayi kita, aku dan Baby Langit yang mencemaskan kamu" ucap Kai tidak setuju.
"Kalau begitu satu-satunya cara kita harus minta Flo untuk menyelidikinya" ucap Dara
"Baiklah, tapi kamu harus tanya dulu padanya. Pakah ia mau atau tidak" ucap Kai
"Tentu" ucap Dara mengangguk.
"Sayang..." ucap Kai mengeratkan pelukannya
"Ada apa Abang" ucap Dara merasa hangat dan nyaman berada di pelukan sang suami.
"Sebaiknya saat penyerangan nanti kamu tidak ikut" ucap Kai mengejutkan Dara.
"Kenapa?" tanya Dara melepaskan pelukan Kai dan menatap suaminya itu.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa Yang, apalagi kamu sedang hamil sekarang. Setidaknya demi calon anak kita, biarkan aku yang memimpin penyerangan nanti" ucap Kai
"Aku tidak janji" ucap Dara
"Sayang" ucap Kai merajuk.
"Abang, aku tahu kamu khawatir padaku dan calon anak-anak kita, tapi aku juga tahu batasan kapan aku harus menyerah dan berjuang. Karena aku tahu di mana batas kemampuanku, aku tidak mungkin diam saja saat semua orang berjuang untuk kedamaian dunia ini. Aku tahu ini beresiko besar, tapi aku dan anak-anak janji akan selamat apapun yang terjadi" ucap Dara mencoba meyakinkan sang suami.
"Tapi Yang..." ucap Kai
"Abang.... aku merasa Ki Rawa tidak sesederhana itu. Aku janji ini terakhir kali aku melakukan pertarungan, setelahnya aku akan menurut dan membiarkan kamu mengambil alih. Aku mohon izinkan aku kali ini saja. Aku janji tidak akan ikut pertarungan jika tidak ada hal yang darurat yang membuat ku harus turun tangan" ucap Dara
"Haah... Baiklah, tapi berjanjilah akan selamat dan baik-baik saja. Nyawamu dan anak-anak kita lebih berharga dari pada apapun, aku harap kamu mengerti. Dan jika tidak di butuhkan, jangan turun tangan dan biarkan aku yang menanganinya" ucap Kai.
"Aku berjanji" ucap Dara tersenyum dan masuk ke dalam pelukan sang suami lagi.
Kai memeluk istri tercintanya itu, dalam hatinya berjanji akan melindungi sang istri apapun yang terjadi.
.....
Keesokan harinya, Dara sudah berada di kantornya di Star Corporation. Dia dan Flo duduk berdiskusi di sofa tamu di dalam ruangan kerja Dara. Sedangkan Baby langit tengah asik bermain dengan mainannya di sudut ruangan.
Yang memang di sudut ruangan kerja Dara sudah di sulap menjadi area bermain anak, semenjak Dara memutuskan untuk mengadopsi Baby Langit, beberapa bulan yang lalu.
"Ada yang ingin di bicarakan Nona?" tanya Flo
"Ya, aku memiliki tugas untuk mu Flo. Tapi kamu bisa memilih untuk menerima tugas ini atau menolaknya" ucap Dara.
"Tugas apa itu?" tanya Flo.
"Aku ingin kamu menyelidiki tentang keluarga Damian" ucap Dara langsung tanpa basa-basi.
"Keluarga Damian di barat ibukota? Apa Keluarga itu menyinggung mu atau membuat masalah" tanya Flo, karena setahu dirinya. Keluarga Damian tidak pernah bersinggungan apapun dengan Perusahaan milik Dara itu.
"Ya itu adalah Keluarga kelas satu di barat ibukota. Dia tidak menyinggung, tapi semalam ada kabar jika Keluarga itu menyewa seluruh pulau untuk tanggal 7 dan 8 bulan depan. Kamu tahu artinya kan?" ucap Dara dan Flo mengangguk
"Artinya keluarga itu ada di sana tepat saat gerhana bulan itu terjadi, aku curiga kalau mereka ada hubungannya dengan Ki Rawa" ucap Dara
"Aku mengerti maksudmu nona, aku akan menerimanya" ucap Flo.
"Pastikan keamanan mu lebih di utamakan Flo, apapun yang terjadi nyawamu lebih penting. Jadi bawa ini, jika dalam keadaan darurat pecahkan batu ini. Ini akan secara otomatis akan membawamu ke markas kuning. Ini seperti halnya alat teleportasi yang sudah di upgrade dan hanya bisa di gunakan sekali" ucap Dara menjelaskan apa fungsi dari batu yang di berikan pada Flo.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan? Siapa yang mengurus pekerjaan ku saat aku melakukan tugas ini" tanya Flo, ia mengingat pekerjaannya masih banyak.
"Tak usah khawatir, aku yang akan mengerjakannya dan sebagian akan di kerjakan oleh Ferdi. Terlebih besok calon asisten pribadi yang baru akan datang dan melakukan interview" ucap Dara
"Baik, kalau begitu aku akan berangkat sekarang" ucap Flo
"Hati-hati Flo, jangan lupa kasih kabar pada calon suami bucinmu itu agar dia tidak panik, kamu tiba-tiba menghilang karena tugas ini" ucap Dara terkekeh mengingat betapa hebohnya Lingga saat mengetahui calon istrinya tiba-tiba hilang.
Setelah Flo pergi, Dara berkutat dengan berkas yang tidak ada habisnya itu. Karenanya ia kemungkinan akan pulang sore hari ini, jadi ia menelepon mama Hesti untuk menjemput baby Langit.
Setidaknya Dara akan berusaha menyelamatkan pekerjaan nya dan segera menjemput sang putra.
....
Di kantor Theo, pria tampan namun masih jomblo sejak lahir itu terkejut melihat kedatangan salah satu sahabat itu secara tiba-tiba. Karena Flo datang dengan cara tidak biasa dan langsung muncul di hadapannya tapa ia ketahui dan ia sadari sebelumnya.
Flo memutar matanya melihat Theo terkejut melihatnya datang, ia sengaja datang ke Theo untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang Keluarga Damian, jadi ia tahu harus kemana dulu dan melakukan apa dulu. Untuk menyelidiki benar atau tidaknya keluarga itu terlibat dengan aliran hitam yang satu kelompok dengan Ki Rawa.
"Bisa tidak kau datang dengan cara normal Flo? Kaget tahu!" ucap Theo mengelus dadanya dan menghela nafasnya.
"Nggak bisa tuh" ucap Flo cuek mengangkat kedua bahunya dan duduk di kursi depan meja kerja Theo.
"Dasar calon nganten sarap!" ucap Theo kesal.
"Eeiuttss... Woles sist, becanda doang gue" ucap Theo kalang kabut saat Flo menatap tajam kepadanya. Theo merasa merinding karenanya.
"Cari tahu tentang keluarga Damian di barat ibukota!" ucap Flo langsung.
"Wani Piro" ucap Theo
"Ini perintah Dara, minta padanya kalau kamu berani" ucap Flo
"Ashiaaaap... Apa yang harus aku cari tahu?" ucap Theo langsung serius saat mendengar nama bosnya itu. Ia langsung sigap, bersiap di posisinya.
"Semuanya" ucap Flo
"Oke siap" ucap Theo dengan segera.
Langsung saja ke sepuluh jarinya itu bergerak dengan lincah di atas keyboard, ia langsung mengambil semua data tentang salah satu keluarga papan atas di ibukota tersebut.
Hanya butuh beberapa menit saja, semua data tentang keluarga Damian sudah berhasil di dapatkan oleh Theo.
"Done" ucap Theo sembari menggosok hidungnya merasa bangga.
"Sudah dapat?" tanya Flo.
"Oh jangan di tanya, ini hanya masalah kecil untukku. Ini lihat!" ucap Theo memperlihatkan layar laptopnya pada Flo yang berisi semua data keluarga itu.
Flo segera membaca semua data yang ada terpampang di layar laptop mahal milik sahabatnya itu. Ia membaca dengan rinci, tidak membiarkan untuk terlewat sedikitpun.
Keluarga Damian, nama keluarga itu terlihat jelas di sana. Baik sejarah, silsilah, alamat rumah, alamat usaha dan lain sebagainya.
Bahkan bisnis legal maupun bisnis ilegal Keluarga itu juga tertera di sana, namun tidak ada data yang menunjukan jika keluarga itu memiliki hubungan dengan Birawa Datu Sena atau yang biasa di kenal sebagai Ki Rawa.
Namun hal itu tidak membuat Flo berhenti di sana untuk mencari tahu, ia memutuskan akan menyelidikinya dari kediaman keluarga itu terlebih dulu.
"Apa ini sudah semuanya?" tanya Flo menatap ke arah Theo.
"Itu sudah semua data yang bisa aku dapatkan, apa ada yang kurang atau hal lainnya yang harus aku cari?" tanya balik Theo.
"Tentang hubungan keluarga Damian dengan orang yang berdomisili di luar negeri. Kamu cari tahu itu!" ucap Flo
"Aku akan mencarinya lagi" ucap Theo sigap.
Ia mengambil alih kembali laptop miliknya, lalu jemarinya dengan lincah menari di sana. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit Theo menyelesaikan pencariannya.
"Bagaimana?" tanya Flo
"Aku hanya mendapatkan ini" ucap Theo kembali memperlihatkan data di layar laptopnya.
"Ini....." Flo terkejut melihat data itu.
Keluarga Damian, terutama putra pertamanya memiliki hubungan dengan seseorang yang berada di negara T, yang dalam kurun waktu lima tahun ini berhubungan baik sampai saat ini.
Tidak ada nama ki Rawa di sana, namun satu data yang membuat Flo yakin jika itu ada hubungannya dengan Ki Rawa.
Di data tersebut mengatakan jika Putra pertama Keluarga Damian, yang juga merupakan salah satu pemegang saham utama di Damian Group. Yang bernama Yongki Damian, memiliki hubungan dengan seseorang yang bernama Bisma Andrigo dari negara T.
Dan ada sebuah tanggal yang tidak luput dari penglihatan Flo. Tanggal 4 bulan depan, orang bernama Bisma Andrigo itu akan datang ke ibukota. Bukankah itu hampir mendekati hari gerhana bulan itu terjadi?
Jika di hubungkan, ini kemungkinan besar tebakan Dara dan dirinya benar. Jika kemungkinan keluarga itu berhubungan dengan Ki Rawa.
"Cari tahu tentang Orang yang bernama Bisma Andrigo!" ucap Flo
Tanpa banyak tanya, Theo langsung mencari orang yang di maksud Flo. Dan ternyata cukup lama Theo mencari identitas orang itu.
"Aku sudah berusaha mencarinya, ini sangat aneh dan ganjil. Seperti nya identitas ini baru di buat dalam kurun waktu kurang dari lima tahun. Dan aku hanya menemukan data ini saja" ucap Theo menunjukan data yang ia temukan pada Flo.
"Nama Bisma Andrigo, usia 48 tahun, kewarganegaraan negara T, alamat jalan hhh nomor 9 kota baru negara T, status belum menikah" ucap Flo membaca data tersebut.
Keningnya mengerut, ia kemudian menyunggingkan senyum karena mencoba menebak sesuatu.
"Aku tahu ini dia" ucap Flo pelan, namun masih dapat di dengar oleh Theo yang ada di sana.
"Maksudnya?" tanya Theo tidak mengerti apa yang di katakan Flo.
"Tidak apa, kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih Theo untuk semuanya" ucap Flo dan bergegas beranjak dari tempat duduknya barusan.
"Hei, tunggu! Kau mau kemana Flo. Jelaskan dulu apa maksudmu barusan, jangan buat aku mati penasaran" ucap Theo.
"Aku harus melakukan tugasku Theo, jangan mencoba mencari tahu apa yang akan aku maksud tadi. Karena kamu tidak akan pernah bisa menebaknya. Sekarang, kau memiliki tugas lain, awasi gerak-gerik Keluarga Damian dan laporkan semuanya padaku" ucap Flo.
Ia lalu pergi meninggalkan Theo yang masih tidak mengerti ucapan sahabatnya itu. Lalu Theo menghela nafas dan mendudukkan kembali tubuhnya ke kursi kebesarannya itu.
"Nambah lagi deh tugasku, mana peluncuran Games terbaru akan di luncurkan Minggu depan. Aduh emak anakmu pusing" ucap Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
...•••••••...