
Dara dan Kai langsung masuk menyusuri jalanan sempit itu. Keduanya berjalan dengan hati-hati dan hanya menemukan sebuah pekarangan rumah yang cukup luas juga cukup gelap. Bahkan di jalanan itu tidak ada rumah lain selain rumah di ujung jalan.
Keduanya kemudian saling berpandangan saat merasakan keberadaan kultivator dalam radius kurang dari 100 meter, tidak hanya satu melainkan ada sekitar belasan kultivator di depan mereka.
Mereka juga bukan sekedar kultivator, karena Dara dan Kai merasakan aura kultivator itu berbeda. Ada aura dingin menyelimuti aura kultivator mereka, jadi keduanya tahu jika mereka adalah para kultivator hitam atau kultivator jahat.
Hanya dengan pandangan mata keduanya tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka berjalan sehalus mungkin hingga tidak menimbulkan bunyi dan menyelusup ke rumah itu dengan cepat
Terlihat ada tiga orang yang tengah berpatroli, mereka baru saja akan berpencar untuk menjaga keamanan rumah itu.
Wuuusshhh...!!!
Dara dengan segera menembakan tiga jarum dengan arah yang berbeda dan tepat mengenai leher ketiga kultivator jahat yang tengah berpatroli itu.
BRUGH!!!
BRUGH!!!
BRUGH!!!
Hanya dalam waktu sedetik, tiga orang itu langsung ambruk di tanah tidak sadarkan diri.
"Apa mereka mati?" tanya Kai dengan berbisik
"Tidak, mereka hanya tidak sadarkan diri dalam beberapa jam. Nanti kita urus mereka belakangan, aku juga sudah menandai mereka jika mereka sampai kabur. Lagian tidak akan menantang karena mereka hanya kultivator tingkat pertama, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kita harus fokus untuk cari anak-anak yang mereka culik lebih dulu" ucap Dara
"Hmm" Kai mengangguk setuju.
Kai pun langsung menyeret tiga orang itu ke semak-semak yang rimbun kemudian keduanya kembali melangkah masuk.
....
Keduanya mengendap masuk dan dengan mulus menyelusup ke dalam rumah itu. Tidak mudah bagi keduanya, karena mereka selalu menghindar dari orang-orang yang berlalu lalang di sana.
"Sepertinya kekuatan kita akan naik lagi, kebetulan besok malam adalah malam ritual yang kita nantikan. Anak-anak yang kita culik juga sudah cukup untuk ritual itu. Terlebih besok malam adalah bulan purnama, sungguh suatu berkah bukan?" ucap si A, seseorang yang tengah berjalan bersama temannya.
"Itu benar, yang artinya kita bisa meningkatkan kekuatan kita sepuluh kali lipat dari ritual di malam biasanya. Aku akan menerobos ke level puncak besok" ucap si B rekannya dengan bersemangat.
"Aku juga, aku tidak sabar untuk menikmati gadis-gadis muda itu, pasti lubang mereka masih sempit dan memuaskan. Aahhh aku semakin tidak sabar" ucap A dengan raut wajah penuh kemesuman yang hakiki membayangkan ritual besok malam.
"Dasar otak ************!" ucap B
"Alah kaya kamu nggak doyan aja, Bahkan saat ritual sebulan lalu kau membuat gadis-gadis itu hampir sekarat karena terlalu keras kamu terobos" ucap si A mencibir
"Ha-ha-ha benar juga, kan jarang-jarang juga kita dapet bagian. Karena tiap ritual anak-anak yang bagus selalu di berikan pada tuan Braja terlebih dulu" ucap Si B sedikit mengeluh.
"Udah jangan ngeluh, kalau tuan Braja atau antek-antek setianya dengar bisa habis kita" ucap Si A
"Kau benar aku tidak berani menanggung resiko menyinggung tuan Braja. Sudah ayo kita ke perjamuan, aku tidak sabar berpesta dan menikmati arak segar" ucap Si B
Keduanya pun bergegas menuju ke sebuah ruangan luas yang ada di bagian paling ujung rumah itu. Di sana ternyata semua kultivator hitam tengah berpesta untuk menyambut ritual besok malam yang mereka tunggu-tunggu.
Dara dan Kai keluar dari persembunyiannya dengan raut wajah yang tidak mengenakan setelah mendengar ucapan dua orang itu.
Terlebih keduanya tahu jika otak semuanya adalah Braja yang tak lain adalah kakak seperguruan King Lintang.
Awalnya Kai ingin membunuh dua orang yang baru saja bercakap, namun Dara menghentikannya. Karena itu akan membuat rekan lain yang tengah berkumpul curiga jika anggota mereka berkurang.
Kecuali penjaga yang tengah berpatroli, karena Dara yakin ketiga orang itu tidak akan ikut berkumpul dan bertugas menjaga area markas mereka.
....
Sudah hampir tiap ruangan mereka masuki, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan korban. Dara terus mengedarkan pandangannya ke berbagai arah, lalu matanya menyipit saat melihat ada yang aneh dengan tembok di salah satu ruangan yang mereka periksa.
Dara kemudian menyentuh tembok itu terkejut dan menoleh ke arah Kai.
"Aku yakin ada ruangan lain di sini" ucap Dara dengan berbisik sangat pelan nyaris tidak terdengar meskipun kenyataannya Kai mendengarnya dengan jelas.
Kai pun langsung menyentuh tembok itu dan sama terkejutnya.
"Kau benar sayang, sepertinya ini ruangan rahasia" ucap Kai saat merasakan ada yang berbeda dengan tembok itu.
Dara melihat ada guci di sana entah mengapa feeling nya mengatakan ada petunjuk di sana. Saat Dara memutar guci itu....
Kreaaakkk!!!
Tembok itu membuka seperti pintu lift yang terbuka. Dara dan Kai berpandangan dan tersenyum seolah mengatakan 'Ketemu'.
Tak menunggu lama mereka langsung masuk dan secara otomatis pintu itu tertutup. Ruangan itu sangat gelap dan juga tidak ada apa-apa di sana.
"Kenapa tidak ada apa-apa di sini" Ucap Dara tidak percaya karena ruangan itu hanya ruangan kosong, bahkan tidak ada satu barang pun di sana.
Hanya ada tombol di dekat pintu masuk mereka, Dara sudah mencoba menekannya dan ternyata itu tombol untuk membuka pintu itu dari dalam ruangan.
"Pasti ada yang mereka sembunyikan. Tidak mungkin ruangan ini di buat jika tidak ada sesuatu yang penting yang mereka sembunyikan di sini" ucap Kai, Dara mengangguk setuju dengan ucapan tunangannya itu.
Keduanya kemudian mencari apa yang tersembunyi di ruangan itu.
Tok! Tok! Tok!
Kai mengetuk lantai di bawahnya, ia merasa lantai itu tidak seperti lantai lainnya saat ia injak dan ternyata saat ia ketuk berbunyi seperti mengetuk kayu.
"Huaahhh...." Ucap Kai terkejut dan melompat ke samping saat lantai yang ia injak bergerak.
"Itu pintu rahasia lain!!" ucap Dara dan Kai bersamaan.
Setelah lantai terbuka terlihat ada ruangan lain di bawah tanah dan juga sebuah tangga. Ada lampu di dinding dindingnya, hingga ruangan di sana cukup terang.
Keduanya di buat terkejut saat mendengar suara tangisan. Keduanya kemudian bergegas masuk dan melihat ada belasan anak-anak dan juga gadis remaja berusia belasan tahun, semuanya ada di dalam jeruji besi seperti di dalam penjara.
.....
Rafael dan Flo ada di dalam mobil, sedangkan Markus dan Damian melihat situasi di luar. Damian beberapa kali terlihat menepuk pipinya yang di gigit nyamuk.
"Gile, nyamuk di sini berkembang biak dengan baik ye. Gede-gede plus pedes banget gigitnya, mana gatel lagi" ucap Damian mendengus kesal.
"Makanya mandi bro!" ucap Marcus tertawa
"Sekate-kate lu Marimas rasa anggur. Gue bahkan udah mandi dua kali" celetuk Damian memutar matanya
Markus hanya merespon dengan terkekeh pelan.
"Emang lu nggak ke gigit nyamuk apa Kus?" tanya Damian
"Kagak, kan gue udah pake lotion anti nyamuk. Tuh ada di mobil" ucap Markus ringan.
"Kenapa lu nggak bilang bege. Bisa-bisa darah gue abis di ambil nyamuk-nyamuk di sini" ucap Damian kesal lalu masuk ke dalam mobil dan mengambil lotion anti nyamuk.
Sedangkan di mobil, Flo terlihat mengawasi lokasi meskipun dirinya berada di dalam satu mobil dengan Rafael.
Tidak ada rasa canggung sama sekali, ia tahu Rafael adalah tunangan sepupu dari Kai. Juga hati Flo masih tertutup untuk yang namanya laki-laki dan ia menganggap Rafael adalah partner sekarang dan tidak memiliki rasa apapun. Jadi ia sangat santai saja.
Begitu pula dengan Rafael, baginya sekarang ia tengah bertugas. Ia tidak canggung karena ia tahu Flo adalah tangan kanan dan orang kepercayaan Dara.
Meskipun Rafael baru bertemu beberapa kali dengan Flo. Ia sudah bisa menilai kepribadian Flo yang dingin itu. Flo adalah orang yang bisa di andalkan dan dapat di pegang ucapannya.
Terlebih ia sangat mencintai Alice dan hanya dia wanita satu-satunya yang ingin ia miliki dalam hidup ini.
"Di mana rekan lu?" tanya Flo dengan pandangan masih siaga melihat keadaan sekitar.
Bukan tanpa alasan Kai menanyakan itu, karena yang Flo tahu. Sahabatnya yakni Manda mulai menyukai Nathan, sahabat dari Rafael dan Kai.
"Itu kan di depan, masa nggak tahu" ucap Rafael
"Maksud gue rekan yang biasa dengan lu" ucap Flo berdecih.
"Maksud lu Nathan?" tanya Rafael, Flo hanya mengangguk.
"Lagi galau dia" ucap Rafael lagi
Flo menaikan alisnya dan menatap sekilas Rafael bingung, karena orang di sampingnya itu berbicara setengah-setengah membuatnya tidak mengerti.
"Lu pasti tahu kemarin Nathan ajak jalan sahabat lu kan, si Manda kalau nggak salah namanya?" tanya Rafael yang lagi-lagi hanya di jawab anggukan kepala oleh Flo.
"Dia menyatakan niatnya yang ingin lebih dekat dengan Manda kemarin, mungkin menyatakan cinta juga. Entah apa yang buat Nathan jadi uring-uringan setelah balik dari kencan mereka.
Gue pikir dia di tolak, tapi Nathan malah marah dan geplak kepala gue. Dia bilang kalau gue malah doain dia yang jelek tentang mereka.
Kan gue bingung ya? Pas gue bilang berarti dia di terima dia malah makin merajuk kesal dan mengacak rambutnya, teriak-teriak kaya orang gila dan frustasi gitu" ucap Rafael
"Terus dia bilang gini 'Gue harus apa El, gue beneran cinta dan sayang sama dia. Gue tulus nerima dia apapun kondisinya, kekurangan dan kelebihan dia gue terima dengan lapang dada. karena gue juga bukan manusia sempurna. Tapi dia malah nyuruh gue buat pikirin masak-masak tentang perasaan gue. Apa yang harus di pikirin coba, lagian gue yakin dengan keputusan gue buat saat ini jadiin di satu-satunya wanita yang gue cintai dan gue miliki. Gue harus gimana El' Gitu kata nya, kan makin bingung gue karena Nathan nggak bilang dengan jelas apa yang di maksud Manda suruh dia pikirin baik-baik. Gue mana bisa kasih saran buat dia karena gue nggak tahu permasalahannya di mana" ucap Rafael lagi ikut-ikutan frustasi memikirkan sahabatnya itu.
Flo yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya. Tentu saja ia tahu apa yang tengah di rasakan sahabatnya Manda. Pasti sahabatnya itu merasa terbebani karena ia jatuh cinta di saat kondisinya yang tengah hamil di luar nikah oleh laki-laki lain.
tapi Flo bisa menangkap sesuatu dari yang di ceritakan Rafael, ia tahu bahwa Manda sudah menceritakan kondisi sebenarnya pada Nathan dan Nathan menerima semuanya. Namun justru Manda sendirilah yang masih ragu dan meminta Nathan untuk memikirkan baik-baik keputusan agar tidak menyesal di kemudian hari.
"Katakan pada Nathan, jika dia benar-benar mencintai sahabat gue. Tunjukan keseriusan dan kesungguhannya, jangan hanya karena perkataan seperti itu ia galau bukannya membuktikan perasaan yang ia punya sangat tulus pada Manda.
Katakan juga, kalau Manda hanya ingin jujur dan tidak ingin menyakiti Nathan apalagi membuatnya menyesal di kemudian hari. Makanya ia ingin Nathan memikirkannya, kalau Nathan sudah yakin dengan keputusannya itu, ya tinggal buktiin dan perjuangin" ucap Flo bijak,
Rafael pun mengangguk meskipun ia tidak mengerti, namun ia tidak masalah menyampaikan pesan Flo pada Nathan nanti. Dan ia juga tidak mendesak Flo untuk menjelaskan padanya, karena ia percaya semua orang butuh privasi.
Deg!
Jantung Flo tiba-tiba berdetak kencang, bukan karena jatuh cinta. Melainkan karena ia merasakan sebuah aura cukup kuat berjalan ke arah mereka dengan cepat.
"Gawat!!! Suruh rekanmu masuk ke mobil sekarang!!!" teriak Flo tiba-tiba.
Rafael yang terkejut mendengar teriakan Flo pun Langsung membuka jendela dan memanggil kedua rekan nya tanpa bertanya lebih dulu.
Wuuusshhh!!!
BRAK!!!!
BRAK!!!!
Namun terlambat, sebuah bayangan hitam dengan keras memukul Marco dan Damian hingga keduanya terdorong hingga terpelanting di atas kap mobil.
"Aaarrrgggghh!!!!" teriak Marco dan Damian yang terlihat kesakitan dan memegangi perutnya dan mengeluarkan seteguk darah.
Rafael terkejut melihat hal yang tiba-tiba itu, ia segera keluar dan melihat seorang pria muda berdiri di depan mobilnya. Pria muda itu adalah orang yang memukul Marco dan Damian.
"Si*lan..!!!! Kenapa kau menyerang rekanku???" teriak Rafael hendak menyerang pria itu
"Kalian penyusup!!!" ucap pria itu dingin dengan santai menunggu Rafael menyerangnya.
"Hentikan!!" teriak Flo, namun Rafael tidak menghentikan serangannya.
Sedangkan pria itu hanya tersenyum miring seperti menunggu Rafael menyerangnya, kemudian ia akan Serang balik di saat yang tepat.
BLAM!!!
Srrrttttt!!!!
Sebuah suara gesekan sandal dengan Aspal terdengar, pria itu terdorong ke belakang dengan tatapan tidak percaya. Saat ia melihat seorang gadis yang memblokir serangan Rafael dan juga serangan miliknya, bahkan berhasil membuat dirinya terdorong hingga empat meter ke belakang.
"Mundurlah Rafael, kamu bukan lawannya!" ucap Flo tegas yang berdiri di antara keduanya dan menatap tajam pada pria yang menatapnya dengan tajam pula.
...••••••••...