The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
69. Jadilah pacarku!



Dara dan Kai memesan makanan, kini semua pesanan sudah di sediakan di atas meja. Para pelayan tertegun melihat wajah tampan Kai, mereka memuji dan saat iri pada bosnya. Karena telah mendapatkan pacar yang sangat tampan dan gagah, mereka semua salah paham tentang hubungan keduanya.


Saat hendak makan, Dara tidak ragu melepas maskernya. Kai tertegun sejenak melihat kecantikan Dara, entah mengapa ia melihat Dara lebih cantik di bandingkan saat ia melihat wajahnya di mall saat itu.


Keduanya makan dengan lahap tanpa ada suara sedikitpun. Namun saat Kai melihat Dara terlihat suka memakan daging, Kai mengambil daging di piring miliknya.


"Apa kau mau coba? Ini sangat enak" ucap Kai mengulurkan daging di garpu miliknya.


Dengan ragu Dara menerima suapan dari Kai, entah mengapa Kai merasa sangat senang. Sama dengan Dara yang merasa pipinya hangat karenanya.


"Enak" ucap Dara menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu mau lagi?" ucap Kai lembut.


"Tidak terimakasih, makananku masih banyak. Aku takut punyaku tidak habis kalau aku juga memakan makananmu" ucap Dara terkekeh.


Jantung Kai berdebar melihat betapa cantiknya Dara saat ia melihat nya tertawa. Kai lalu memakan makanannya, ia tidak mengganti alat makannya, ia menggunakan garpu yang ia gunakan untuk menyuapi Dara.


Padahal Kai adalah orang yang sangat bersih dan tidak suka barang yang ia gunakan di pakai orang lain, terutama alat makan.


Keduanya menyelesaikan makan mereka, Kai bingung membuat percakapan apa. Dia tidak pernah pernah berbicara banyak dengan perempuan termasuk mamanya.


Tiba-tiba telepon Dara berbunyi, itu dari Carmila.Dara melihat ke arah Kai


"Angkat saja tidak apa-apa" ucap Kai tidak masalah.


Dara mengangkat telepon itu di depan Kai.


"Ra, kamu di mana?" tanya Carmila di ujung telepon. Kai bisa mendengar suaranya mensioun tidak di loudspeaker.


"Di hotel, ada apa Mil?" tanya Dara


"Ah begini, tadi tuan muda Rukmana meneleponku. Dia ingin mengajakmu makan malam" ucap Carmila terdengar semangat.


"Dia tidak mengatakan apapun padaku" ucap Dara


"Ya, dia terlalu malu mengatakannya padamu jadi ia memintaku untuk menyampaikannya padamu. Oh Ra, sepertinya dia menyukaimu, atau jangan-jangan.... Dia mau menyatakan perasaannya padamu Cieeee....." ucap Carmila.


"Oh" hanya itu yang di jawab oleh Dara.


"Apa kau mau makan malam dengannya? Nanti aku akan katakan padanya kalau kamu mau datang" ucap Carmila


"Aku tidak tahu, nanti aku akan menghubungimu nanti. Aku sedang ada tamu sekarang" ucap Dara


"Oh, oke, kabari aku kalau kamu mau datang ya" ucap Carmila.


Sambungan telepon itu terputus, Dara melihat raut wajah Kai seperti tidak nyaman. Ya, Kai memang tidak nyaman setelah mendengar percakapan tadi.


Sepertinya, jika ia tidak bergerak cepat dia akan keduluan orang lain. Dan ia akan kehilangan Dara sepenuhnya.


"Jangan pergi!" ucap Kai kemudian


"Hmm?" Dara bingung maksud Kai bicara seperti itu.


"Apa kau akan pergi makan malam dengan tuan muda Rukmana itu?" tanya Kai


"Kau mendengarnya?" tanya Dara, Kai mengangguk.


"Aku nggak tahu, tapi tidak masalah juga aku pergi, hanya makan malam" ucap Dara


"Jangan!" ucap Kai spontan


"Kenapa?" tanya Dara bingung.


"Dari percakapan kamu tadi, sepertinya tuan muda Rukmana itu menyukaimu" ucap Kai.


"Lalu? Bukannya seorang pria menyukai seorang wanita itu adalah hal yang wajar?" tanya Dara merasa tidak ada yang salah dengan itu.


Kai tidak tahu harus berkata apa, dia tidak rela Dara pergi. Apalagi sampai di miliki orang lain, dia bingung harus bagaimana.


"Apa kamu menyukai tuan muda Rukmana itu?" tanya Kai dengan harap-harap cemas.


"Hmm, dia pria yang baik, semua orang pasti menyukainya" ucap Dara.


Namun Kai ketar-ketir sendiri mendengar Dara mengiyakan pertanyaannya.


"Apa kamu ada keinginan untuk berpacaran?" tanya Kai lagi.


"Pacaran? Aku nggak tahu, Tapi bukannya wajar seseorang ingin memiliki pacar?" tanya Dara


"Kalau begitu, jadilah pacarku!" ucap Kai to the poin.


"Uhuuuukkkk uhuuukkkk..." Dara terbatuk mendengar itu. Bagaimana dia tidak terkejut, jika ia di tembak oleh seseorang tanpa aba-aba.


"Ini minumlah!" ucap Kai menyodorkan minum dan menepuk punggung pelan. Dara langsung meminumnya.


"Aku tidak menyangka, kamu yang terlihat datar bisa juga bercanda" ucap Dara setelah batuknya reda.


"Aku tidak bercanda, aku serius. Aku ingin kamu jadi pacarku" ucap Kai


"Kenapa?" tanya Dara jelas terkejut mendengar ucapan Kai yang tiba-tiba.


"Karena aku mencintaimu" ucap Kai


"Sejak kapan?" tanya Dara lagi


"Sejak di kota S, aku tidak sedikitpun bisa mengalihkan bayangan kamu di pikiranku setelah itu. Jantungku berdetak dengan kencang, aku selalu ingin melihatmu. Kata orang, itu tanda orang sedang jatuh cinta" ucap Kai polos


"Kata orang? Kamu belum pernah jatuh cinta sebelumnya?" tanya Dara, Kai mengangguk.


"Aku tidak pernah dekat dengan wanita selain mama sebelumnya. Aku baru pertama kali merasakan hal ini dan itu hanya aku rasakan saat dengan mu. Bahkan sebelumnya aku tidak pernah berbicara sepanjang ini, termasuk dengan mamaku" ucap Kai sungguh-sungguh.


"Kenapa kamu tiba-tiba menyatakan perasaanmu padaku? Kita belum lama saling kenal, apakah secepat itu?" ucap Dara, dia sendiri bingung apa yang ia rasakan.


"Karena kamu terlalu luar biasa, aku yakin banyak di luar sana yang menginginkan kamu. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan di depan mata, terlebih tahu sainganku mulai bergerak" ucap Kai jujur.


"Aku nggak tahu harus bicara apa" ucap Dara yang bingung menjawab apa. Baru kali ini dia mengalami seperti ini.


"Apa kau tidak menyukaiku? Apa aku terlalu tua untukmu? Atau kau menyukai tuan muda Rukmana itu?" tanya Kai dengan wajah memelas dan sedih.


Ia memang tidak percaya diri karena merasa dirinya terlalu tua untuk Dara, selisih usia mereka 6 tahun.


"Bukan begitu, aku tidak.... Haaahh" Dara menghela nafas panjang. Ia tidak tahu berkata apa lagi, ia menenggak minuman di depannya hingga tandas.


"Apa kau serius menyukaiku?" tanya Dara


"Ya" ucap Kai menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak bisa menjawab sekarang, aku akan menjawabnya saat aku yakin. Aku juga ingin melihat kesungguhan yang kamu katakan" ucap Dara


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Kai, ia tidak mengerti harus apa, dia sangat minim tentang cinta.


"Aku tidak tahu, itu terserah kamu. Tunjukan saja seberapa besar kamu mencintaiku, aku juga belum mengenalmu dengan baik begitu pun sebaliknya. Jadi kita bisa saling mengenal lebih dulu." ucap Dara mengendikkan bahunya.


Kai memutar otak, dia akan menanyakan itu pada rekannya yang lain, atau mencari tahu di internet.


"Baiklah aku akan menunjukan kalau aku serius denganmu. Aku juga ingin mengenalmu lebih dalam" ucap Kai yakin, Dara mengangguk.


"Tapi jangan terima undangan makan malam itu" ucap Kai.


"Kenapa?" tanya Dara


"Aku cemburu, aku takut kamu malah tergoda dan menerima yang lain" ucap Kai polos.


"Pppfffttt...." Dara tidak dapat menahan tawanya, entah mengapa di balik dinginnya seorang Kai. ia terlihat begitu menggemaskan sekarang.


...•••••••...



Nama : Adimas Airlangga Adi Raharjo (Dimas)


Usia : 15 tahun


pekerjaan : Pelajar senior high school