The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
161. Menarik setan yang tidak terlihat



Kai menatap kotak hadiah dari sang kekasih dengan mata yang berbinar penuh haru.


"Apa aku boleh membukanya sekarang?" tanya Kai.


"Tentu" ucap Dara mengangguk


Kai pun langsung mengambil kotak itu dan membukanya, ia tertegun melihat jam tangan mewah yang ada di depannya itu. Jam tangan itu yang sangat indah, jelas Kai tahu jika jam tangan itu tidak sederhana. Ia yakin Jam tangan itu sangat mahal.


"Apa kau menyukainya?" tanya Dara, ia takut Kai tidak menyukai hadiah darinya.


"Ya, aku sangat menyukainya. Terimakasih banyak sayang, aku akan menjaga barang berharga yang kamu berikan" ucap Kai dengan tersenyum.


Dara terkekeh mendengarnya, ia lalu memakaikan jam tangan itu ke tangan Kai. itu terlihat sangat cocok, seperti jam tangan itu di buat khusus untuk Kai.


"Wah sangat pas" ucap Dara berbinar.


"Ya, sangat pas. Terimakasih sayang" ucap Kai


"Berapa kali lagi coba kamu bilang terimakasih, kamu pacar aku atau kasir minimarket?" ucap Dara yang di sambut gelak tawa oleh Kai.


Kai membawa Dara duduk di atas pangkuannya, ia menduselkan wajahnya ke leher kekasihnya itu. Rasanya sangat nyaman.


Jantung keduanya berdegup dengan kencang, Kai mengusap wajah sang kekasih dengan lembut.


"Sangat cantik, harummu membuatku mabuk kepayang, aku sangat mencintaimu Dara. Aku rasa aku tidak bisa hidup tanpamu, Addara Azalea...." ucap Kai membisik di telinga Dara hingga membuat gadis itu meremang.


"Aku berjanji akan terus mencintaimu selama aku masih bernyawa, mencintaimu sehidup semati" ucap Kai yang kemudian mengecup bibir manis Dara.


Kecupan itu berubah menjadi lum*tan, keduanya larut dalam ciuman yang dalam itu. Kai menggendongnya ala koala, sedangkan Dara melingkarkan kaki dan tangannya di pinggang dan di leher kekasihnya itu agar tidak terjatuh.


Ciuman itu berlanjut sampai keduanya masuk ke dalam kamar. Suasana di kamar terasa panas, bunyi decakan dan des*han terdengar. Itu karena tangan Kai yang nakal tidak bisa di diam dan meremas benda kenyal nan padat di genggamannya, hingga sekian menit ciuman itu pun terlepas. Nafas keduanya naik turun segera menghirup oksigen.


Kai membawa Dara ke dalam pelukannya, dapat Dara rasakan debaran jantung Kai yang sangat kencang, sama kencangnya dengan debaran jantungnya.


"Maaf...." ucap Kai, ia merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol hasratnya, bahkan berani meraba tubuh kekasihnya..


Meskipun mereka tidak melakukan hal lebih dari ciuman dan meremas. Bahkan pakaian keduanya masih bertengger di badan mereka tidak ada yang terbuka, namun sekarang baju mereka menjadi kusut.


Dara hanya diam, ia tidak marah sama sekali. Karena ia yakin Kai tidak akan melakukan hal lebih dari ini, kekasihnya itu sangat menjaganya. Terbukti, alarm di kepala Kai langsung berbunyi saat ia sudah hampir lepas kontrol.


"Aku percaya kamu tidak akan melakukan hal lebih dari ini. Haaahhh Benar yang di katakan mama Hesti dan mama Ellena, jangan menarik setan yang tidak terlihat . Jika kedua orang berbeda lawan jenis dalam satu ruangan, yang ketiganya adalah setan. Untung setannya kalah, ya meskipun lepas kontrol dikit" ucap Dara


Suasana canggung itu pun kembali mereda karena ucapan Dara, Kai tidak bisa menahan tawanya mendengar celotehan Dara.


"Ya, kamu benar. Itu lah kenapa aku ingin cepat-cepat menikahimu. Kau tahu? Sangat tersiksa menahan gairah yang bergejolak saat berada di dekat mu. Seakan ada Medan magnet yang terus menarikku untuk jauh lebih dekat lagi" ucap Kai.


"Aku akan menyelesaikan kuliahku dengan cepat, kita akan menikah setelahnya. Aku harap kamu sabar" ucap Dara membenamkan wajahnya ke dada bidang Kai dan memeluknya erat yang di balas oleh Kai tak kalah erat mendekap nya.


"Tidurlah, ini sudah sangat larut" ucap Kai yang melihat waktu sudah jam dua dini hari.


Keduanya pun tidur dengan berpelukan tanpa melakukan kegiatan yang tidak seharusnya mereka lakukan.


.....


Keluarga Narendra menyambut hangat kedua adik Dara itu, bahkan Hesti begitu heboh melihat kedua adik Dara dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri.


Dimas dan Ryan yang awalnya canggung jadi sedikit rileks karena perlakuan Hesti. Melihat mama nya asik dengan kedua adik kekasihnya, Kai memanfaatkan kesempatan untuk menggandeng tangan Dara posesif.


Sarah hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keponakannya itu. Namun ia tidak mengatakan apa-apa dan tidak ingin mengganggu pasangan yang tengah di mabuk asmara itu.


Pesawat jet itu pun akhirnya take off dari bandara Ibukota menuju ke kota S.


....


Di kota S, keluarga Adi Raharjo menunggu kedatangan tamu agung mereka. Ellena di bantu oleh Rose dan Ara, menyiapkan berbagai makanan dan cukup sibuk hari ini.


Meskipun dalam hati Rose ingin Dara menjadi menantunya, tapi ia tidak bisa memaksakan perasaan seseorang. Ia hanya merasa kasihan dengan putranya yang semenjak kemarin sore mengunci diri di kamar.


Sebagai seorang ibu, ia tahu jika putranya jatuh hati pada putri sahabatnya itu, namun ia tidak menyalahkan Dara. Gadis itu berhak memilih jalannya sendiri, begitupun putranya.


Jadi ia hanya bisa menghibur semampu yang ia bisa dan mendo'akan putranya mendapatkan jodoh yang lebih baik di masa depan.


Adnan juga sudah mengatur orang untuk menjemput keluarga Narendra dan anak-anaknya di Bandara. Bahkan Revan dan Jefrey kekeh ingin menjemput Dara di bandara, namun di larang oleh Adnan. Jadi mereka dengan kesal diam di kamar mereka.


"Jeng, jam berapa mereka datang?" tanya Rose.


"Pesawat nya landing setengah jam lagi jeng, paling sampai sini sejam dari sekarang" jawab Ellena, Rose pun mengangguk.


"Padahal aku niatnya jodohin Dara dengan Arvin, eeehhh ternyata orang lain gerak cepat" ucap Rose terkekeh.


"Belum jodoh jeng, aku Do'akan semoga Arvin bertemu jodoh yang tepat dan juga mencintainya dengan tulus" ucap Ellena


"Ya, aku harap juga demikian Jeng. Kan aku juga pengen punya mantu" ucap Rose


"Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendukung kemauan anak-anak. Hanya saja sebagai orang tua juga harus selektif melihat pasangan yang di pilih anak kita seperti apa. Bukan hanya karena perkara kasta atau kekayaan, tapi sebesar apa rasa cintanya dan juga kepeduliannya pada anak kita. Kalau harta, Keluarga Adi Raharjo lebih dari mampu memberi makan banyak orang, kami hanya takut mereka salah pilih" ucap Ellena


"Kau benar dan Dara sangat beruntung mendapatkan semua bibit, bebet dan bobot. Yang aku dengar cucu tertua tuan besar Narendra sangat dingin dan juga pria luar biasa hebat dalam kemiliteran dan seorang jendral paling muda dalam sejarah di usianya yang masih 20 tahun-an. Tapi yang aku lihat Kaisar sangat mencintai dan tulus pada Dara, waktu tahun baru aku lihat pria dingin itu justru sangat hangat pada Dara" ucap Rose


"Hmm aku setuju, Kaisar memang sangat sempurna dari berbagai aspek. Dia tampan, kaya, sangat mencintai dan menyayangi Putriku. Aku harap keduanya bahagia" ucap Ellena berdoa demi kebahagiaan sang putri.


"Lalu itu kedua putramu kenapa?" tanya Rose yang melihat Jefrey dan Revan uring-uringan.


"Ya, keduanya saat mendengar Dara ingin di lamar, menentang nya. Bukan karena tidak setuju dengan pilihan sang adik. Tapi mereka takut kehilangan adik perempuan nya yang baru kurang dari sebulan bertemu." ucap Ellena.


"Mereka terlihat sangat rukun dan saling menyayangi" ucap Rose.


"Ya, aku bersyukur anak-anak ku saling menyayangi dan saling melindungi. Meskipun begitu mereka sekarang tidak masalah setelah di berikan wejangan oleh mas Adnan. Dan mereka mengerti dan lebih memilih mengalah, karena kebahagiaan adiknya yang paling utama" ucap Ellena


"Kedua anakmu sudah cukup umur untuk menikah, apa mereka masih jomblo?" tanya Rose


"Kau tahu sendiri lah jeng, kedua putraku sangat syuuliiiit sekali melirik perempuan. Kriteria mereka terlalu tinggi. Kalau di jodohin nolak terus, bahkan nekad kabur keluar negeri nggak pulang-pulang demi aksi mogok menolak perjodohan" ucap Ellena tiba-tiba kesal saat mengingat kelakuan kedua putranya itu.


"Ha-ha, kedua anakmu unik sekali jeng, tidak jauh beda dengan putraku" ucap Rose. Keduanya kemudian tertawa renyah hingga suasana menjadi hangat.


...•••••••...