
Beberapa hari setelah Dara dan Dimas kembali dari kota S, mereka menjalani kehidupan seperti biasanya.
Alan kini tengah menyiapkan keperluannya untuk masuk ke akademi kepolisian. Ia sudah lulus semua test yang di perlukan. Dan awal pekan mendatang ia sudah memulai pendidikannya.
Sama seperti Dara yang akan mulai kuliah awal pekan mendatang. Jadi hari ini Dara mengajak Alan ke mall, ia ingin membelikan semua keperluan yang ingin di bawa Alan, karena Alan akan tinggal di asrama nanti selama pendidikan.
"Kak, banyak sekali yang di beli, semuanya mahal-mahal kak. Bagaimana caranya aku membawa ini semua ke Asrama?" ucap Alan merasa tidak enak.
Ia menatap belanjaan yang ada di troli, yang Dara belikan untuknya di departement store terkemuka di ibukota. Di mulai dari pakaian, sepatu, tas, perlengkapan mandi, selimut, obat-obatan dan lain-lain.
Dara menghabiskan sekitar 50 juta untuk itu, Alan bagaimana pun merasa tidak enak hati. Padahal ia hanya seorang adik angkat yang ayahnya hanya menjadi kepala Asisten rumah tangga di mansion Dara. Namun Dara sangat baik padanya.
"Ini tidak banyak, kalau ada yang kurang bilang aja. Kalau masalah bawanya gimana, kan pake mobil Alan, bukan jalan kaki" ucap Dara.
"Udah cukup kak, kakak udah banyak beliin buat Alan" ucap Alan.
"Kamu adik kakak juga, lagian kamu akan tinggal di asrama. Jadi semuanya yang di perlukan harus ada, ah bukannya rambut kamu terlalu panjang? Ayo kita ke salon untuk rambut" ucap Dara berjalan ke arah salon yang ada di mall untuk memotong rambut Alan.
"Kak, tapi salon di sini pasti mahal" ucap pelan Alan setengah berbisik.
"Nggak apa-apa ayo, yang penting hasilnya bagus, uang tidak masalah" ucap Dara
Alan hanya pasrah mengikuti kakak angkat nya itu. Yang Alan tahu, kakaknya itu sangat menyayangi semua orang yang ada di Star mansion, bukan hanya dirinya dan Ryan saja.
Dara pernah mengatakan padanya, jika semua orang yang ada di Star Mansion adalah keluarganya dan ia akan melindungi semua orang yang bekerja dengannya.
"Hallo nona, ada yang bisa saya bantu?" ucap sopan salah satu karyawan salon itu.
"Tolong potong rambut adik saya" ucap Dara
"Silahkan sebelah sini, mau model seperti apa?" tanya karyawan itu lagi.
"Potongan khas polisi atau militer, tapi harus tetap kelihatan maskulin ya mbak, jangan cepak biasa" ucap Dara
"Siap kak, mari mas duduk di sini" ucap karyawan itu mulai memangkas rambut Alan yang memang sedikit panjang itu.
Jahitan bekas operasi Alan di kepalanya sudah hilang saat ia mengkonsumsi pil Penyembuhan Dara. Jadi tidak ada bekas jahitan di kepalanya.
"Sudah selesai Kak" ucap karyawan itu setelah selesai memotongnya.
Kini terlihat Alan yang sangat maskulin dengan rambut cepak tapi terlihat sangat cocok dengannya.
"Wah, kamu sangat tampan" puji Dara
"Terimakasih kak" ucap Alan memerah malu di puji oleh Dara.
"Kakak bayar dulu Baru kita pulang" ucap Dara membayarnya di kasir. Ia menghabiskan 150 ribu untuk itu.
Di sepanjang jalan setelah keluar dari salon, Alan mengomel seperti perempuan.
"Kak aku bilang apa, mahal banget kan. Coba kalau ke asgar paling cuma 15 ribu" ucap Alan.
"Apa itu Asgar? merek salon?" tanya Dara bingung
"Asgar itu singkatan Asal garuk kak, biasanya ada di pinggir jalan. Kaya barbershop gitu, tapi murah dan hasilnya sama aja gini juga" ucap Alan
"Sudah nggak apa-apa, yang penting hasil nya sekarang bagus kok" ucap Dara terkekeh mendengar istilah baru dari Alan.
Alan hanya menghela nafas ia mengalah pada akhirnya. Keduanya kemudian pulang dan membuat Agam terkejut karena majikannya membelikan banyak barang untuk putra sulungnya.
"Nona ini..." ucap Agam merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa pak Agam, kalian semua keluargaku. Lagian ini hanya sekali-sekali, Alan akan tinggal di asrama dan jauh dari kita. Jadi akan nyaman jika ia sudah memiliki semua yang ia butuhkan di asrama nanti" ucap Dara
"Terimakasih nona" ucap Agam terharu dan hampir menangis
"Sama-sama" jawab Dara
Dara kemudian masuk ke kamarnya, ia langsung berendam air hangat, lalu beristirahat sebelum makan malam nanti.
....
Melihat Dimas dan Ryan sudah berangkat sekolah, Alan juga sedang berolahraga di mini Gym. Dara memutuskan untuk jalan-jalan sendiri dengan motor barunya.
Ia mengelilingi ibu kota dan mengingat jalan yang sudah ia lewati. Hobi nya saat ini adalah berkeliling dengan motornya, ia merasakan perasaan menyenangkan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
Saat ia melewati jalan dua arah yang sepi ia melihat ada ramai-ramai di depannya. Ternyata itu ada tawuran, Dara hanya menggelengkan kepalanya miris melihat generasi muda yang sangat bodoh melakukan hal tidak berguna seperti itu.
Namun matanya melihat Celine yang tengah terjebak di tengah-tengah tawuran. Celine berjongkok dengan raut wajah ketakutan. Mau tak mau Dara menepikan motornya dan menerobos ke anak-anak sekolah menengah itu.
Anak-anak yang menghalangi jalannya langsung di tampar olehnya dan terbang dua meter dengan pipi memar. Tidak sulit untuk Dara membelah kerumunan, lalu langsung menarik Celine.
"Ayo pergi!" ucap Dara.
Celine mendongak saat mendengar suara yang familiar, dengan mata berkaca ia melompat ke dalam pelukan Dara dan menangis. setelah dua detik kemudian ia mengikuti Dara keluar dari kerumunan.
Namun langkah Dara di halangi oleh seorang pemuda yang mungkin salah satu pemimpin salah satu kelompok itu.
Orang-orang di sisinya kecuali yang menjadi korban tamparan Dara, tiba-tiba membentuk lingkaran mengerubungi Dara dan Celine. Celine terlihat takut dan bersembunyi di belakang Dara.
"Kamu diam di sini, tenang mereka tidak akan bisa menyentuhmu" ucap Dara pelan pada Celine.
Celine mengangguk dengan ragu. Sedangkan Dara ia maju empat langkah mendekati pemimpin yang masih bocah SMA itu.
"Mau menahanku? Coba saja kalau bisa" ucap Dara.
PLAK!!!
Dara menampar pipi kanan pemuda itu dengan cukup keras hingga memar dan tertoleh ke arah tamparan.
"Sial!!! Kau berani menam..." ucap pemuda itu terpotong
PLAK!!!
Dara menamparnya lagi kali ini pipi sebelah kiri.
"Kau..."
PLAK!!!
PLAK!!!
PLAK!!!
Belum selesai pemuda itu berbicara Dara menamparnya lagi, begitu seterusnya hingga pemuda itu tidak sanggup untuk bicara karena sakit.
"Se...rang!" ucapnya dengan terengah di tengah kesakitan di wajahnya.
Semua siswa berseragam sekolah yang kurang lebih 40 orang termasuk kelompok lainnya, yang awalnya terkejut melihat aksi Dara tersadar.
Kemudian mereka bersama-sama menyerang ke arah Dara dan Celine. Namun langkah mereka terhenti setelah Dara melempar Jarum secara bersamaan dan menyebar.
Tap!!!
Tap!!!
"Ke-kenapa tubuhku tidak bisa bergerak!" ucap salah satunya
"Ak-aku juga!" ucap yang lain ketakutan.
Tap!!
Tap!!
"Akkkkhhh perutku!!!" teriak pemimpin yang di tampar oleh Dara.
Semua orang melirik dengan ekor matanya, karena tidak bisa menggerakkan badannya.
"Itu pelajaran untuk kamu bocah nakal! Masih sekolah sudah berlagak seperti geng preman atau mafia. Masih berlindung di bawah ketek orang tua saja sudah sok-sok an" ucap Dara kesal dengan tingkah laku pemuda-pemuda itu.
Ia tidak memberikan pelajaran Fatal, tapi ia hanya membuat perutnya sakit selama sehari semalam, dan selama sejam sekali berefek yaitu kentut dan itu sangat bau.
Dara kemudian melangkah mendekati Celine dan berteriak pada pemuda lainnya.
"Aku yang melakukannya juga pada kalian! Apa kalian marah?" ucap Dara membuat semuanya terkejut.
"Ti-tidak.... Maafkan kami, kami tidak akan tawuran lagi" ucap Yang lain.
"Kalian tidak akan kapok kalau tidak di berikan pelajaran. Karena keluarga dan sekolah kalian tidak ada yang bertindak, biar aku yang melakukannya untuk mendisiplinkan kalian" ucap Dara
Tap!!!
Tap!!!
Dara melempar puluhan jarum lagi yang membuat semuanya berteriak sama seperti pemimpin geng pelajar itu.
"Aaakkhhh perutku...." ucap semuanya.
"Ingat pesanku, kalau lain kali aku mendapati kalian tawuran lagi, aku potong burung kalian. Kalian paham?" teriak Dara.
"Pa-pahaammm...." ucap semuanya sambil menahan sakit.
"Bagus, tenang saja. Sakit kalian akan sembuh dengan sendirinya saat besok pagi, ah lupa, kalian juga akan kentut dengan kentut spesial sejam sekali selama sehari semalam" ucap Dara terkekeh.
Ia kemudian menarik kembali jarum itu dengan cepat dan memasukannya ke ruang dimensi tanpa bisa di lihat oleh orang lain karena yang ia lakukan itu sangat cepat dan tidak bisa di lihat oleh mata telanjang orang biasa.
"Ayo ikut aku pulang!" ucap Dara menarik Celine pergi.
"Ahh, i-iya...." ucap Celine yang masih terpaku karena kejadian barusan.
...•••••••...