
Setelah meminum Pil Roh Suci level tujuh, Kai merasakan sakit yang sangat luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya tubuhnya seperti di kuliti sedikit demi sedikit, dagingnya di hancurkan dan tulang-tulang nya di remukkan.
"Aaaarrrrrrrrggghhhh!!!!" Teriakan memilukan Kai terdengar sangat keras.
Dara yang mendengarnya ikut merasakan sakitnya, namun ia harus bisa menahan diri melihat orang yang ia cintai sangat kesakitan di hadapannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo'a dan yakin, kalau Kai mampu melewati itu semua.
KREK!!!
KREK!!!
KREK!!!
"Aaaaaaaaaaarrrggghhh...!!!!" Teriakan Kai terus menggema di setiap penjuru hutan.
Yang membuat siapapun yang mendengarnya akan lari ketakutan. Karena teriakan itu menggema begitu keras terbawa angin.
Dara melihat sendiri bagaimana prosesnya, ia mengigit bibirnya khawatir dengan Kai. Meskipun sepengetahuan Dara, yang di rasakan Kai masih belum seberapa di bandingkan yang ia rasakan dulu. Mungkin sekitar tiga puluh persen dari yang ia rasakan.
Bagaimana pun Kai memiliki tubuh kultivator, meskipun belum membuka titik meridiannya. Jadi Rasa sakit yang Kai rasakan sekarang masih terhitung ringan. Namun tetap saja Dara merasa khawatir, karena tiga puluh persen itu tidak main-main sakitnya.
Setelah berapa lama, tubuh Kai yang sudah melakukan regenerasi dan terbentuk kembali. Otot-otot badannya tercetak begitu indah di sana, Dara yang tidak begitu memperhatikan nya karena rasa khawatirnya, melewatkan pemandangan indah itu.
Wuuusshhh!!!!
Wuuusshhh!!!!
Wuuusshhh!!!!
Tiba-tiba Sinar memancar keluar dari tubuh Kai, sinar itu mulai keluar dari warna kuning, hijau hingga warna biru secara bergantian.
Dara yang melihat itu tentu saja sangat terkejut melihatnya. Karena apa yang ia saksikan sekarang adalah peristiwa kelahiran jenius kultivasi. Dan orang itu tak lain adalah orang yang ia cintai dan calon masa depannya.
Siapa yang mengira kalau Kai langsung menerobos ke tingkat tiga level menengah sekaligus?
Itu adalah sebuah terobosan dari orang paling jenius yang Dara lihat. Bahkan Liu Annchi, sang jenius di kekaisaran Bintang tidak langsung sampai ke tingkat itu. Liu Annchi saat pertama kali menerobos hanya sampai di tingkat Dua level menengah.
Tapi meskipun begitu, bakat Kai hanya menjadi seorang kultivator Tunggak bukan ganda. Yang berarti Kai hanya memiliki bakat kultifasi, tidak seperti Dara yang memiliki empat bakat sekaligus.
...p
Setelah sepersekian detik, Dara menyadari perubahan cuaca di sekelilingnya. Ia merutuki kebodohannya dan segera menarik Kai untuk keluar dari tempat yang berhubungan dengan air. sejauh hampir 200 meter.
Karena panik Dara bahkan tidak sadar jika Kai saat ini sudah toples. Dan hanya tersisa celananya saja.
"Kai, petir kesengsaraan surgawi akan segera datang, Ayo cepat pakai kalung ini! setidaknya itu bisa sedikit menghalau efek dari sambaran petir kesengsaraan surgawi. Dan segera minum pil ini jika kau terluka" ucap Dara memberikan Kalung dan sebotol pil Penyembuhan yang berisi tiga butir.
Dara jelas sangat senang sekaligus khawatir dengan bakat Kai. Ia senang karena Kai berhasil dan menjadi seorang jenius berbakat. Sedangkan ia khawatir karena Kai belum bisa, bahkan belum tahu mengelola kekuatan yang baru ia dapatkan. Malah saat ini ia harus menjalani petir kesengsaraan surgawi tanpa tahu bahaya dari melakukan itu.
"Kalau begitu kamu menyingkirlah, jangan sampai kamu terkena dampaknya" ucap Kai pada sang kekasih menakup wajah Dara.
"Tapi..." ucap Dara
"Sayang, percaya padaku, aku akan pastikan untuk selamat aku tidak akan mati semudah itu" ucap Kai
Dara mengangguk dan menyingkir cukup jauh, karena dampak dari petir itu sangat luas. Ia harap Kai bisa melewati semuanya.
Dara merutuki kesalahannya yang harusnya memberikan pengetahuan dulu pada Kai. Sebenarnya itu bukan kesalahan Dara, karena ia tidak tahu jika sang kekasih langsung menerobos ke tingkat tiga sekaligus. Sungguh monster kultivasi yang sesungguhnya.
Kalaupun Dara memberikan pengetahuan sekarang, wakrunya tidak akan cukup.
.....
Langit yang awalanya berbintang kini tertutup awan gelap, suhu udara juga turun dengan drastis. Tak lama kemudian terdengar gemuruh suara petir yang menggelar memekakkan telinga, seperti tengah bersiap-siap akan mengeluarkan cambuk nya ke dasar bumi.
CTAS!!!!!
DUUMM!!!
Dara dari kejauhan mendengar bunyi dentuman dan teriakan Kai menggigit jarinya karena khawatir. Ia terus berdo'a untuk keselamatan Kai.
Untung saja hutan itu sangat jauh dari pemukiman penduduk, setidaknya tiga sampai empat kilometer dari ia berdiri baru di temukan rumah warga di sekitaran sana.
Teriakan Kai menggema sampai Sambaran petir untuk yang ketiga kalinya.
Setelah petir dan awan itu lenyap, Dara segera bergegas lari ke arah Kai. Ia berharap kedaaan laki-laki yang ia cintai itu baik-baik saja.
Dara kini berlari mendekat ke arah Kai, yang sudah berlari ke arah air untuk membersihkan diri dan menutupi tubuh tel*njang nya. Dara langsung berbalik badan begitu melihat tubuh polos sang kekasih, meskipun hanya melihat sekilas bagian belakang tubuh Kai. Wajahnya langsung memerah malu.
"Kenapa kamu berbalik?" tanya Kai ingin menjahili sang kekasih.
"K-kau tidak apa-apa kan? Tidak terluka?" tanya Dara dengan gugup dan khawatir. Tentunya mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak membawa pakaian ganti ke sini" ucap Kai
"Ah sebentar aku keluarkan mobilku dulu" ucap Dara
Dara segera mengeluarkan mobilnya, karena koper Kai ada di dalam mobil. Untungnya lahan kosong di sana sangat luas karena efek Sambaran petir, jadi Dara bisa menaruh mobilnya di lahan yang aman dan tak ada api bekas sambaran petir.
"K-kau bisa ganti pakaian kamu" ucap Dara dengan badan yang menghadap ke arah lain.
"Kenapa kau menghadap ke sana?" tanya Kai masih menggoda kekasihnya. Ia segera mengambil pakaiannya dan memakainya segera.
"Aku tidak ingin mata suciku ternoda melihat belalai yang bukan belalai gajah. Kata ibu dan mama El pamali belum nikah" ucap Dara
"Ha-ha-ha... Memang belalai apa yang membuat matamu tidak suci?" tanya Kai yang tidak berhenti terkekeh.
"Itu..." Dara tidak tahu harus berkata apa lagi jadi dia memilih diam.
GREP...
Tangan Kai kini sudah melingkar di pinggang Dara dari belakang membuat Dara seketika tegang.
"Sayang hadap sini dong" ucap Kai.
"Nggak!" ucap Dara
Kai memutar badan Dara, Dara reflek menutup matanya dengan kedua tangannya tidak berhenti tertawa. Kai membuka kedua tangan Dara, namun kekasihnya itu masih menutup matanya.
"Sayang, hei buka mata kamu" ucap Kai mengulum senyumnya.
"Nggak!" ucap Dara
"Tidak ada apa-apa, apa yang harus di takutkan hmm? Tenang, belalaiku tidak akan gigit" ucap Kai terkekeh.
Setelah di bujuk Dara akhirnya membuka matanya, ia melihat Kai sudah menggunakan pakaian lengkap. Celana pendek dan juga kaos yang pas badan mencetak tubuh berotot dan bahu lebar milik Kai yang sandarable.
"Iishhh kamu ngerjain aku!!!" ucap Dara memukul dada Kai pelan.
"Ha-ha siapa yang ngerjain sih sayang? Kamu aja yang nutup mata kamu sendiri, kamu yang udah mikir jauh" ucap Kai terkekeh.
"Au ah...." ucap Dara kesal
"He-he maaf, jangan marah dong neng Dara cantik. Abang Kai kan jadi gemas" ucap Kai sambil menciumi wajah sang kekasih.
"Issshhh, nyosor mulu" ucap Dara
"Biarin, aku seneng karena berhasil, yang artinya kamu mau kan tunangan sama aku segera?" ucap Kai
Mendengar itu Dara tersipu, ia memang sudah berjanji akan mengabulkan permintaan Kai jika ia berhasil. Jadi ia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Kai.
Kai tentu saja senang, ia akan segera pulang ke Manor dan meminta keluarganya segera datang ke kota S untuk menyampaikan keinginannya untuk segera bertunangan dengan Dara pada keluarga Adi Raharjo.
...••••••...