The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
32. Tugas pertama Theo



Setelah pertemuan dengan Theo dan juga Ferdi, Dara pulang ke mansionnya. Sebelum pulang, Dara mengatakan jika penyakit Theo sudah di sembuhkan. Jika Theo ragu, ia bisa memeriksakan kesehatannya di rumah sakit secara menyeluruh. Namun Theo menggelengkan kepalanya, ia percaya dan yakin jika ia sudah sehat sekarang.


Dara kemudian memberikan alamat mansionnya pada Theo, agar besok ia dan Ferdi datang untuk membahas kasus Fani. Juga membahas kontrak pekerjaan Theo di masa depan.


Melihat alamat yang di berikan Dara, keduanya sangat terkejut. Karena mansion milik Dara adalah salah satu mansion terbesar dan termewah di ibukota saat ini.


"Di mana mereka Pak Agam?" tanya Dara saat masuk ke dalam mansion. Agam langsung tahu jika yang di maksud mereka adalah Dimas dan Ryan.


"Tuan muda dan Ryan sudah tidur Nona" ucap Agam


"Hmm baiklah, aku juga akan ke atas kalau begitu" ucap Dara yang menyadari kalau hari sudah larut malam.


"Nona maaf, boleh saya izin keluar hari ini? Saya mendapatkan kabar dari rumah sakit, kalau putra sulung ku Alan sudah siuman" ucap Agam


"Tentu, bapak bisa mengambil libur kalau perlu. Biarkan urusan rumah di handle yang lain sementara" ucap Dara


"Terimakasih nona" ucap Agam mengangguk senang.


"Tidak perlu berterima kasih, ini justru kabar baik jika Alan sudah siuman. Apa Ryan juga akan ikut ke sana" tanya Dara


"Ryan sedang tidur jadi saya berangkat ke rumah sakit sendiri. Saya akan mengirim pesan, agar Ryan menyusul ke rumah sakit besok" ucap Agam.


"Baiklah kalau begitu, biar nanti Ryan di antar Sandi. Pak Agam minta sekalian ke Sandi untuk mengantar ke rumah sakit. Aku akan menengok ke sana jika urusan ku besok sudah selesai" ucap Dara


"Baik nona, terimakasih banyak" ucap Agam


Agam langsung menghampiri Sandi dan meminta agar mengantarkan nya ke rumah sakit, sesuai dengan yang di katakan Dara. Sedangkan Dara juga beranjak ke kamarnya.


....


Ia duduk bersila dan mengambil pil pondasi dari ruang dimensi, lalu ia memulai kultivasinya. Meskipun di ruang dimensi terdapat Chi yang pekat. Namun ia tidak bisa berkultivasi di sana sebelum ia naik ke tingkat tiga.


Karena Chi di sana begitu besar, yang justru akan merusak meridiannya jika di paksa berkultivasi di sana tanpa pondasi yang kuat.


Wuuushhh!!!


Semua Chi di sekitar mansion berkumpul di sana. Dara memusatkan kultivasinya, menyerap semua Chi dan mengedarkannya ke seluruh tubuh.


Sudah tiga jam Dara berkultivasi, tiba-tiba pusat energinya sudah penuh. Itu tanda ia akan segera menerobos ke level selanjutnya.


Booommm!!!!


Wushhhh!!!


Wushhhh!!!


Dia Cahaya hijau keluar dari tubuh Dara. White yang merasakan lonjakan energi dari dalam kamar Dara mendongak ke arah lantai tiga.


"Selamat yang mulia, anda berhasil menerobos lagi" gumam White.


Cahaya yang berpendar hijau itu tidak ada yang menyadarinya. Kalaupun ada yang melihat mereka akan menganggapnya cahaya biasa yang keluar dari lampu.


Dan malam ini Dara berhasil naik dua level, dan sekarang sudah berada di tingkat 2 atas.


.....


Keesokan harinya, Ryan pergi ke rumah sakit menyusul ayahnya. Dimas juga ikut bersama Ryan, karena ia ingin melihat keadaan Alan yang baru saja sadar dari komanya pasca operasi.


Sedangkan Dara menerima tamu yakni Ferdi dan Theo yang menatapnya tanpa berkedip. Keduanya sangat terpesona dengan paras cantik Dara, yang membius siapapun yang melihatnya


"Apa kalian hanya ingin menatapku?" ucap Dara membuat keduanya sadar dan menunduk malu.


"Maaf Nona" ucap keduanya bersamaan.


"Sudahlah, ikut aku ke ruangan kerja!" ucap Dara


Theo tidak masalah dengan itu, ia justru berterima kasih pada Dara yang sudah menyelamatkan hidupnya dan membuatnya bisa melihat indahnya dunia lagi.


Kesehatannya lebih mahal dari gaji besar yang di tawarkan Dara.


"Aku tidak akan mengekang kebebasan kamu, aku hanya akan menghubungimu jika aku memerlukanmu, selebihnya kamu bisa menikmati kehidupan mu" ucap Dara


"Tentu, nona bisa menghubungiku kapan saja dan saya siap melakukan apapun yang di perintahkan" ucap Theo tulus dan serius.


"Untuk tugas yang pertama, selidiki asal usul Mia dan semua yang berkaitan dengan keluarganya tanpa kurang satu informasi pun! Gunakan laptopku untuk sementara waktu ini, sebelum kamu membeli laptop yang baru" ucap Dara.


"Baik" ucap Theo.


Sebenarnya Theo tidak kekurangan uang, namun ia tetap menghargai apa yang ada di depannya.


Ia meregangkan tanya terlebih dulu untuk melemaskannya. Sudah 6 bulan ini dia tidak berkutat di komputer atau laptop, jadi ia menghela nafas panjang dan mulai mengetik dengan cepat setelahnya.


Setelah 5 menit Theo berhasil mendapatkan apa yang di minta oleh Dara. Yaitu informasi lengkap Mia dan keluarganya.


"Kerja bagus!" ucap Dara saat melihat banyaknya informasi penting yang ia tahu dari sana, yang berguna untuk kasus Fani.


Dara lalu mengambil ponselnya dan menelepon Tyson untuk meminta bantuannya, ia yakin Tyson tidak akan menolak permintaannya.


Selain dirinya merupakan pelanggan VIP Bank Central, namun Dara akan memberikan bukti penggelapan dana dan juga penyalahgunaan kekuasaan Gino, ayah dari Mia. Yang merugikan Bank Central.


"Hallo selamat siang Pak Tyson, ini saya Addara Azalea. Maaf menganggu waktu sibuk anda" ucap Dara


"Hallo selamat siang Nona Addara, Tidak sama sekali. Justru saya senang mendapat telepon dari anda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tyson dengan sopan.


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, tapi tidak enak bicara di telepon. Bagaimana kalau kita bertemu di kantor anda atau tempat lain" ucap Dara.


"Tidak masalah nona, bagaimana kalau di Ruby Resto? Sekalian saya mengajak anda makan siang" ucap Tyson.


"Tentu, kita akan bertemu di sana satu jam lagi" ucap Dara


Setelah mematikan telepon, Dara mengajak Theo dan Ferdi bertemu dengan Tyson. Dia mengatakan jika Tyson adalah Direktur Utama Bank Central pusat.


....


Ruby Resto,


Dara masuk ke ruangan yang sudah di pesan Tyson bersama dengan Ferdi dan Theo. Meskipun bingung Dara membawa orang lain kesana, namun Tyson tidak mempersalahkannya.


Setelah memesan makanan, Dara langsung membuka suara tentang hal yang ingin ia bicarakan.


"Pak Tyson, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa saya ingin meminta bantuan pada anda"ucap Dara


"Bantuan apa itu? Tolong katakan saja nona!" tanya Tyson.


Dara tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menyodorkan laptopnya. Tyson mengeryitkan dahinya, namun ia diam dan melihat apa yang ingin di tunjukkan oleh Dara.


Dia terkejut melihat bukti bahwa Mia, putri dari wakil direkturnya telah melecehkan dan membunuh seorang gadis lain. Tapi ia bingung mengapa Dara memberi tahunya tentang itu, bukan langsung melaporkannya pada polisi.


Dara paham dengan kebingungan Tyson jadi ia menjelaskan padanya.


"Gadis yang meninggal adalah adik dari temanku, ia sudah melaporkannya pada polisi setempat. Namun tidak ada tanggapan karena latar belakang tersangka cukup kuat. Aku bisa saja melaporkannya dan menggunakan kekuasaanku untuk menekannya. Tapi aku memilih untuk memberitahu anda, bukan hanya bukti ini yang ingin saya perlihatkan. Tapi juga bukti lain, anda bisa lihat di File sebelahnya" ucap Dara.


Tyson mengikuti ucapan Dara, sedetik kemudian ia terkejut dan marah dengan yang ia lihat.


"Ini... Bajingan si*lan!!!!" teriak Tyson setelah melihatnya.


...•••••...