The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
204. Masalah Dimas



"Ngapain lu?" tanya Revan memicingkan matanya melihat Arsen mengikuti mereka ke arah mobil Revan yang terparkir di depan.


"Stttt bro, kenalin napa?" ucap Arsen berbisik


"Kagak!" ucap tegas Revan


"Van, ayolah... Sahabat Deket lu ini, kali aja bisa ipar-an kan?" ucap Arsen tersenyum ke arah Dara dengan tatapan penuh kekaguman, sedangkan Dara hanya datar saja.


Meskipun Arsen belum tahu, hubungan kakak ade macam apa Dara dengan Revan. Karena setahu dia Revan hanya punya adik satu dan itupun laki-laki. Arsen sama sekali belum melihat berita yang tengah booming akhir-akhir ini di internet tentang pengumuman dari AR Corporation


"Jangan ngarep, adek gue udah ada yang punya?" ucap Revan apa adanya.


"Siapa? Bohong lu" ucap Arsen


"Serah lu! Yang gue omongin bener bego!" ucap Revan


"Jangan mau Van, mending sama gue aja yang udah jelas bibit, bebet, bobot. Gue Jelas ganteng, tajir, mempesona, baik hati dan tidak sombong. Kurang apa lagi gue. Keluarga kita berdua juga udah saling kenal kan, nggak bakal rugi deh milih gue. Gue janji bakal jadiin adek lu ratu di hidup gue, gue bahagia in dia seumur hidup" ucap Arsen mempromosikan dirinya masih menatap penuh pemujaan pada Dara.


"Pacar adek gue orang hebat! Emang Lu berani lawan dia?" ucap Revan, mau tidak mau ia mengakui jika Kai adalah orang hebat. Karena tidak ada kandidat yang melebihi Kai baginya saat ini dan lagi keduanya saling mencintai.


"Beranilah! Gue nggak takut sama siapapun ya! Gue juga hebat, lu tahu keluarga Smith adalah salah satu konglomerat di negara A, gue juga CEO perusahaan gede" ucap Arsen.


"Kalau gitu, silahkan berhadapan dengan jendral muda dari keluarga Narendra di ibukota" ucap Revan menyeringai.


"Bercandaan lu nggak lucu bro!" ucap Arsen terkekeh mendengar ucapan Revan


"Gue serius, Kaisar Raka Narendra tuan muda pertama Keluarga Narendra dan juga jendral muda di negara ini adalah calon tunangan adek gue. Akhir pekan depan mereka tunangan, makanya dia dateng" ucap Revan.


Bengong!


Ya, Arsen bengong mendengar itu, ia susah payah meneguk salivanya.


"Astaga, belum juga berkembang nih cinta di hati. Udah di potek aja" ucap Arsen merasa patah hati sejak dini.


"Jadi gimana, masih berminat bro?" tanya Revan memainkan kedua alisnya.


"Si*l! Gue mending berurusan sama anak presiden dari pada keluarga Narendra di ibukota. Apalagi Tuan muda pertama mereka, gue masih sayang nyawa gue bro! Sayang banget, bidadari surga gue, cinta pertama gue udah di hak paten sama orang lain, lebih si*lnya lagi tuh orang nggak bisa gue lawan" ucap Arsen dengan keringat dingin dan sendu saat mengetahui kenyataan itu.


Dara yang mendengar ini hanya menahan senyumnya. Ia merasa jika teman kakaknya ini adalah pribadi yang sangat menyenangkan, ia jadi teringat dengan Manda yang memiliki perangai yang sama.


Setelah sedikit mengobrol, Revan, Ara dan Dara pun pergi menuju mansion Adi Raharjo. Sedangkan Arsen berjalan lunglai menuju mobil keluarga dari pihak ibu yang sudah menjemputnya.


....


Kedatangan Dara tentu saja mewarnai suasana di mansion Adi Raharjo semakin ramai. Setiap hari selalu ada canda dan keributan antara kakak dan adik itu.


Dara di temani Ellena mengecek langsung tempat yang akan mereka gelar pesta pertunangan Dara dan Kai.


Tempat acara pertunangannya itu di gelar Ballroom AR Hotel secara private. Hanya Keluarga, kerabat dan juga relasi bisnis yang di undang dan undangan baru saja di sebar.


Setelah tiga hari, Flo pun menyusul ke kota S untuk membantu persiapan junjungannya yang akan segera mengikat hubungan dalam pertunangan.


"Semuanya sudah berhasil menjadi kultivator nona. Ada 15 orang yang belum masuk ke tingkat pertama. Tapi yang lain sudah berhasil menerobos ke tingkat pertama level awal. Dan sesuai prediksi anda, tiga orang yang anda tunjuk memiliki bakat yang lebih baik. Mereka sudah di level menengah sekarang" ucap Flo.


"Sangat baik, lalu apa ada berita lainnya lagi?" tanya Dara


"Itu tentang wanita itu" ucap Flo


"Ada apa?" tanya Dara


"Dia terkena struk nona, dia dan putrinya Luntang lantung di jalan dan tidur di pinggir jalan atau di emperan toko. Mereka juga kelaparan" ucap Flo.


"Haaahhh" Dara menghela nafas mendengar itu.


Jujur saja meskipun Wanita itu telah membuat kedua orang tuanya bercerai dan membuat kehidupan mereka bertiga menderita selama belasan tahun. Namun Dara tidak memiliki dendam yang kuat padanya, ia hanya membenci sekedarnya, baik itu pada ibu tirinya ataupun Ayah kandungnya..


Namun saat ia melihat Maria, jiwa Liu Annchi selalu bereaksi, itu mengingatkan Liu Annchi tentang pengkhianat di masa lalunya mantan Sahabatnya.


Namun bagaimanapun Ada anak tidak bersalah yang terkena dampaknya, yang bahkan tidak tahu apa-apa yang ikut menjadi korban di sini.


"Bantu putrinya dengan kasih ia susu ibu hamil dan juga pakaian hangat. Untuk wanita itu, biarkan alam yang menentukan takdirnya" ucap Dara lagi.


"Baik nona" ucap Flo


"Apa ada lagi?" tanya Dara


"Pagi tadi saya mendapat telepon dari wali kelas tuan muda. Katanya tuan muda berkelahi dengan seseorang di sekolah" ucap Flo.


"Dimas atau Ryan?" tanya Dara terkejut mendengarnya


"Tuan muda Dimas" jawab Flo


"Apa yang terjadi? Dan bagaimana keadaan adikku?" tanya Dara


"Tuan muda tidak apa-apa, tidak ada luka sedikitpun. Justru yang jadi lawannya sekarang terbaring di rumah sakit, dua giginya patah, tangannya patah dan kepalanya bocor. Itu semua awalnya karena pemuda itu melecehkan seorang gadis muda di sekolahnya" ucap Flo


"Haaahh syukurlah kalau Dimas tidak apa-apa, lalu bagaimana kelanjutan nya..." ucap Dara menunggu Flo menjelaskan semuanya.


"Keluarga pemuda itu tidak terima dan datang ke sekolah dan menuntut tuan muda. Saya dan Theo datanh ke sekolah sebelum datang ke sini Nona. Theo memberikan bukti bahwa pemuda itu duluan yang melecehkan secara verbal dan fisik yang membuat tuan muda naik pitam dan memukulinya karena menolong gadis itu.


Keadaan berbalik, keluarga mereka memohon agar putranya tidak di bawa ke penjara. Kami tidak menggubris dan tetap mempidanakan pemuda itu. Keluarganya mengancam karena mereka dari keluarga kelas satu" ucap Flo


"Kau urus, beri pelajaran pada pemuda itu sesuai hukum tidak peduli apa ancaman mereka" ucap Dara


"Sudah di urus oleh Ferdi dan Theo nona" ucap Flo membuat Dara mengangguk.


Dara kembali fokus untuk mengurus persiapan pertunangannya. Bukannya ia tidak peduli dengan Dimas, tapi karena ia percaya dengan orang kepercayaannya bisa mengatasi itu semua.


...••••••••...