
Dara sudah pulang dari penthouse Kai, ia kini berada di kamarnya dengan wajahnya memerah. Ia teringat betapa ganasnya Kai mencium bibirnya hingga bibirnya terasa tebal dan kebas.
Tidak di pungkiri, ia juga menyukai ciuman itu, tapi ia juga merasa malu sendiri saat mengingatnya.
Keduanya kemudian berbagi pesan, Kai terus mengiriminya pesan. Ia mengatakan kalau ia sudah merindukan dirinya meskipun baru beberapa puluh menit berlalu.
Dara hanya terkekeh ringan saat membaca pesan itu, ia baru tahu semenyenangkan ini saat ia memiliki pacar. Perutnya selalu di penuhi jutaan kupu-kupu yang berterbangan menggelitiknya.
"Aku sampai melupakan kultivasi ku saat memikirkan Kai, astaga wajahku terasa panas hanya dengan mengingatnya saja" ucap Dara pelan sembari menangkup kedua tangannya di pipinya itu.
Dara kemudian mengirimi pesan selamat malam dan selamat tidur saat waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Kai mengirim pesan jika besok ia akan datang dan mengantarnya ke dealer motor.
Setelahnya Dara masuk ke ruang dimensi, ia melanjutkan kultivasinya. Dara tidak mengantuk sama sekali, jadi ia fokus meningkatkan kekuatannya.
....
Di sisi lain Kai tidak bisa tidur karena bayangan dirinya berciuman dengan sang kekasih, selalu terbayang di pelupuk matanya.
"Manis... Saat manis" gumam Kai terkekeh.
Tidak pernah sebelumnya ia merasakan bahagia seperti sekarang ini. Baginya Dara adalah sumber kebahagiaannya, ia akan mencintai, menjaga dan melindungi kekasihnya itu dengan segenap jiwa raganya.
Karena tidak bisa tidur dan mengira Dara sudah tidur. Kai bergegas turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar lain di samping. Di sana ada peralatan melukis milik Kai.
Tanpa menunggu lama, Kai mulai melukis. Sepanjang ia melukis, ia terus tersenyum membayangkan apa yang saat ini sedang ia lukis.
Hampir dua jam Kai berkutat dengan kuas di tangannya. Lukisan itu terlihat sangat nyata, ia melukis adegan di mana ia tengah berciuman dengan Dara di Rooftop penthouse miliknya dengan background Sunset di tengah kota.
Kai sangat puas dengan itu, ia tersenyum lebar. Ini adalah mahakarya yang paling berharga miliknya, di mana kisah mereka pertama kali di mulai.
"Melihat lukisanku sendiri, aku jadi semakin merindukan dia. Bibirnya sangat lembut dan manis, membuatku ingin menyesapnya lagi" gumam Kai terkekeh.
Ia menoleh ke jam tangan yang melingkar di tangannya, itu jam tangan Couple nya bersama dengan Dara. Sudah hampir jam tiga pagi, jadi Kai memutuskan untuk berhenti dan tidur.
.....
Pagi harinya, Dara, Flo dan kedua adiknya tengah berada di halaman belakang. Mereka berempat berolahraga mengitari halaman yang luas itu.
Itu rutinitas yang biasa Dara dan kedua adiknya lakukan saat mereka libur.
"Kak, apa kakak akan menjemput Kak Alan nanti sore?" tanya Ryan.
"Kalau sore nanti nggak sibuk, kakak ikut jemput Alan" ucap Dara.
Ya, Alan sore ini pulang dari akademi kepolisian, ia akan ikut ke kota S bersama dengan Dara dan duo bocil yang meresahkan itu.
Meskipun Alan mengatakan bisa pulang sendiri, namun kedua adiknya itu memaksa menjemputnya nanti.
"Maaf menganggu nona" ucap Agam yang datang menghampiri nonanya itu.
"Iya, ada apa Pak Agam?" tanya Dara
"itu non, ada Den Kai datang" ucap Agam, ia membiasakan diri memanggil Kai dengan sebutan Den dari pada tuan muda.
"Biarkan dia tunggu sebentar, katakan padanya aku mandi dan ganti baju dulu" ucap Dara menyelesaikan olahraganya itu.
"Baik" Agam langsung beranjak pergi lagi untuk menyampaikan pesan Dara.
"Kakak ipar datang lagi kak?" tanya Dimas
"Hmm, kita mau keluar, kalian baik-baik di rumah hmm" ucap Dara
"Sudah mulai jail ya sekarang kamu dek. Lagian kakak mau ke dealer motor buat pak Agam nanti " ucap Dara sopan.
"Kakak jadi beliin ayah motor?" ucap Ryan berbinar.
"Iya, kalau gitu kakak mandi dulu ya. Kasihan kalau kak Kaisar menunggu kakak lama" ucap Dara yang di angguki kedua adiknya itu.
"Flo, lanjutkan latihan kamu! Tapi jangan terlalu berat. Kamu juga siap-siap ikut ke kota S nanti" ucap Dara.
"Baik nona!" ucap Flo.
Dara langsung beranjak ke lift dan naik ke lantai tiga di mana Kamarnya berada. Ia mandi dan bersiap hanya 20 menit, lalu turun mengampirinya kekasihnya.
"Maaf lama" ucap Dara yang hanya di balas dengan senyuman manis Kai.
"Kita berangkat sekarang? Nggak bilang dulu ke Dimas dan yang lain?" tanya Kai.
"Hmm, ayok! Aku sudah bilang pas kamu baru dateng, mereka masih di halaman belakang" ucap Dara
"Ya sudah yuk" ucap Kai langsung menggamit tangan Dara.
"Silahkan my princess" ucap Kai membuka pintu mobilnya dan sedikit membungkuk.
"Thanks my Prince" jawab Dara hingga keduanya terkekeh sendiri.
.....
Keduanya sampai di dealer motor, Dara tidak sungkan membeli cukup banyak kendaraan membuat pramuniaga di sana terkejut, bahkan Manager turun tangan sendiri untuk melayani keduanya.
Karena tidak semua yang Dara mau ready. Jadi pesanan lainnya inden dan akan datang sekitar dua bulan lagi. Yang sudah ready di dealer hanya motor tipe matic PCX, Vario, ADV dan motor berCC kecil lainnya.
Dara sengaja membeli PCX untuk Agam, ADV untuk dirinya sendiri. Ia bisa menggunakannya jalan saat ia malas menggunakan moge-nya. Dara juga membeli sekitar 4 Vario untuk motor inventaris dan CBR 600 CC untuk Alan.
motor itu bisa di gunakan untuk transportasi gojag-gajig pekerja di rumah saat sedang di butuhkan. Dara juga sudah membelikan mobil khusus untuk keperluan mendadak di mansionnya.
Karena hanya tersedia dua Vario di dealer, jadi dua Vario lain dan juga CBR akan menyusul karena inden yang di janjikan manager dalam waktu sebulan.
"Banyak sekali belinya" ucap Kai.
"Untuk inventaris" ucap Dara.
"Kamu memang selalu memperhatikan hal kecil, kamu memang yang terbaik" ucap Kai, mengelus Surai panjang Dara yang lembut itu
"Itu harus" ucap Dara tersenyum.
"Kenapa tidak aku saja yang membayarnya?" ucap Kai
"No! Ini sudah kewajiban aku untuk mensejahterakan semua orang yang bekerja denganku, agar mereka nyaman juga saat bekerja. Aku juga punya uang, jadi tidak perlu pakai uang kamu" ucap Dara
"Baiklah, tapi lain kali kamu tidak boleh menolak saat aku memberikan sesuatu" ucap Kai mengalah
"Baiklah. Lalu mau kemana kita sekarang?" ucap Dara
"Bagaimana kalau ke penthouse, aku ingin menunjukan sesuatu" ucap Kai
Mendengar kata penthouse, wajah Dara tidak bisa tidak memerah. Sekilas bayangan kemarin memenuhi kepalanya.
Betapa lembut dan memikatnya bibir Kai, Astaga... Dara merasa c*bul sekarang.
...••••••...