
Pagi-pagi sekali Dara sudah mengajak Flo untuk pergi ke daerah barat daya kota S. Mereka sengaja ke daerah barat daya menuju ke sebuah hutan yang ada di sana, untuk berlatih tanding.
Karena tidak mungkin mereka berlatih tanding di mansion, karena Dara tidak ingin orang lain tahu.
Sebenarnya masih ada seminggu lagi Dara menguji Flo, namun Flo yang memintanya sendiri agar Dara mengetes kekuatannya. Setidaknya ia yakin dengan dirinya sendiri. Jika pun ada yang kurang, ia bisa memperbaikinya. Begitu fikir Flo.
"Kamu sudah siap?" tanya Dara.
"Siap nona!" ucap Flo.
BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!!
Wushhhh!!! BAM!!!
Tanpa ba-bi-bu lagi Dara menyerang Flo dengan tiba-tiba tanpa kuda-kuda lagi. Karena dalam pertarungan yang sebenarnya tidak akan menunggu lawan siap dulu baru menyerang.
Dara menyerang dengan kekuatan fisiknya tanpa menggunakan Chi. Meskipun begitu masih ada jarak kekuatan antara keduanya, namun Flo masih bisa bertahan dengan serangan yang Dara berikan.
"Huugghhh!!!" Flo terkena pukulan di dadanya dengan telak, membuatnya terasa sakit hingga susah mengambil nafas.
"Sudah cukup! Ambil ini!" ucap Dara
Dara melemparkan botol yang berisi pil penyembuh yang sudah ia remake dengan dosis yang lebih rendah. Setidaknya itu bisa mengobati kasus penyakit dengan level menengah.
Flo mengambil botol itu dan segera mengeluarkan pil itu kemudian meminumnya setelah mengucapkan terimakasih. Ia merasakan sensasi dingin lalu berubah hangat di sekujur tubuhnya, sama seperti efek pil penyembuh. Hanya saja efeknya lebih ringan namun tetap menyembuhkan rasa sakit di tubuh terutama dadanya yang terkena serangan.
"Apa kamu sudah lebih baik?" tanya Dara
"Sudah nona, terimakasih banyak" ucap Flo.
"Kekuatan kamu sudah meningkat pesat hanya dalam waktu satu minggu. Saya memuji kerja keras kamu dalam beberapa hari ini" ucap Dara.
"Terimakasih nona" ucap Flo, tapi ia tidak melambung tinggi karena pujian itu.
"Saya akan mengajari kamu tentang meningkatkan kekuatan. Tapi sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat rahasia. Aku harap kamu bisa menutup mulut dan tidak membocorkannya pada siapapun! Ingat sumpahmu padaku!" ucap Dara
"Saya mengingatnya nona" ucap Flo.
"Kamu tahu kenapa aku lebih kuat dari kebanyakan orang karena apa?" tanya Dara yang di jawab gelengan kepala.
"Itu karena aku adalah seorang kultivator" ucap Dara
"Kultivator? Seperti yang ada di novel atau film?" tanya Flo mengingat beberapa cerita yang pernah ia baca dan ia tonton di sebuah film.
"Ya, kurang lebihnya seperti itu. Jadi aku akan membuatmu menjadi seorang kultivator, itu pun kalau kamu bersedia dan siap dengan segala resiko saat proses itu berlangsung" ucap Dara
"Saya bersedia nona" ucap Flo
"Meskipun pertaruhannya adalah nyawa kamu sendiri?" tanya Dara
"Tidak masalah, saya akan sekuat tenaga untuk berhasil. Saya tidak akan mengecewakan anda nona" ucap Flo.
"Bagus, aku suka semangatmu! Istirahat lah sejam lagi akan kita mulai" ucap Dara
Flo dan Dara istirahat sekitar satu jam, lalu mereka masuk ke hutan lebih dalam lagi mencari sumber mata air, baik itu sungai ataupun air terjun.
Setelah berjalan 10 menit dan menggunakan pendengaran Dara yang tajam, mereka menemukan air terjun kecil di sana.
Dara menyerahkan botol dengan Garis warna yang berbeda dengan botol pil penyembuh yang baru saja Flo terima. Yang membuat Flo terkejut adalah botol itu muncul tiba-tiba di tangan Dara.
"Jangan bingung, karena aku memiliki Cincin ruang dimensi. Ya kegunaannya sama dengan yang kau tahu dari novel. Sekarang duduk bersila di bawah air terjun dan minum pilnya. Ingat efek pilnya sangat kuat. itu adalah Pil Roh Suci level 4, aku membuat pil itu dengan satu tingkat lebih kuat dari versi rendahnya.
Meskipun begitu pil ini memiliki efek yang sangat kuat, Jadi kamu harus berusaha sendiri untuk melawan rasa sakitnya, kamu harus dalam keadaan sadar saat proses itu berlangsung kalau tidak nyawamu akan menjadi taruhannya. Apa kamu mengerti?" ucap Dara.
Flo mengangguk mengerti, ia mempercayai 100 persen nonanya itu dan ia akan berusaha untuk berhasil.
Dara sebenarnya memiliki oil roh suci dengan level tujuh buatan Liu Annchi, namun ia menilai kekuatan Flo. Dengan kekuatan dan pengetahuan Flo tentang kultivasi, dia tidak akan sanggup menahan efek pil roh suci level tujuh. Jadi Dara memberikan pil roh suci level empat sebagai gantinya.
Flo langsung meminum pil roh suci yang ada di dalam botol, setelah duduk bersila. Setelah beberapa saat efek pil itu mulai bereaksi.
KRAK!!!
KRAK!!!
KRAK!!!
"Aaaarrrgghhhhhhh!!!!" teriak Flo dengan keras saat merasakan sakit yang luar biasa.
Kulit dan dagingnya terasa di kuliti sedikit demi sedikit, organ Vital di hancurkan, semua tulang-tulangnya di patahkan. Lalu setelah penderitaan itu, semuanya di pulihkan kembali seperti semula.
Itu berlangsung cukup lama, sekitar satu atau dua jam. Setelah proses itu selesai, Flo terlahir kembali sebagai dirinya yang baru yakni seorang kultivator.
Wuuushhh!!!!!
Satu sinar berwarna kuning menembakkan ke langit. Dara yang memperhatikannya dengan tersenyum di wajahnya, karena Flo sudah menjadi kultivator dan sudah berada di tingkat satu level awal.
Dara akui bakat Flo lebih baik dari para kultivator yang ada di dunianya dulu. Yang bahkan belum bisa masuk ke tingkat pengumpulan Chi, yakni tingkat 1 level awal.
Perlahan namun pasti Flo membuka Matanya, Ia merasa tubuhnya lebih ringan. Rasa segar ia rasakan mengalir di sekujur tubuhnya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Flo melihat kulit tangannya yang begitu putih dan halus. Ia melihat bayangan dirinya di genangan air, ia terkejut saat mendapati wajahnya terlihat sangat cantik.
Sebenarnya tidak ada yang berubah dengan penampilan Flo, hanya saja kulitnya lebih mulus tanpa ada jerawat dan noda di sana dan kulitnya lebih putih.
Jika di bandingkan dengan Dara, jelas lebih cantik nonanya itu yang bagaikan Dewi. Dari namanya saja Addara / Liu Annchi yang berarti kecantikan yang abadi.
"Selamat Flo, kamu berhasil menjadi kultivator sekarang" ucap Dara dengan senyum tipis.
"Terimakasih Guru!" ucap Flo yang menganggap Dara sebagai gurunya.
Dara terdiam sesaat, dia tidak berniat memiliki murid. Tapi ia tidak keberatan berbagi ilmu pada Flo yang merupakan tangan kanannya.
"Jangan panggil guru, panggil saja seperti biasanya. Jujur saja aku tidak berniat memiliki murid, tapi aku tidak keberatan mengajarkanmu beberapa teknik kultivasi. Kemarilah!" ucap Dara meminta Flo untuk mendekat.
Flo tidak masalah jika Dara tidak berniat mengangkatnya sebagai murid. Ia sudah merasa sangat bersyukur mendapat bimbingan dari nonanya itu, ia berjanji akan setia dan menjaga Dara sampai akhir hayatnya.
Flo melangkah ke arah Dara berada, ia tidak menggubris tubuhnya yang basah kuyup.
"Tahan sebentar, ini akan terasa sakit!" ucap Dara yang di angguki oleh Flo.
Dara kemudian menempelkan Jarinya ke kening Flo.
"Aaaaarrrggghhhh!!!!" teriak Flo saat jari dara menyentuh keningnya.
Teriakannya tidak sekeras saat seluruh tubuhnya di lolosi dan di hancurkan lalu di satukan setelah meminum pil roh suci. Namun kali ini ia merasakan kepalanya hampir pecah, dengan banyaknya memori yang masuk secara bersamaan di dalam otaknya. Rasanya sakit sekali!
"Haaahhh!!! Haaaaahh!!!" Nafas Flo naik turun setelah Dara selesai membagikan teknik ke pada Flo untuk ia pelajari.
"Pelajari itu, itu semua pengetahuan tentang kultivator! Kamu harus tetap berlatih untuk meningkatkan kekuatanmu, aku akan memberikan kamu pil setiap sebulan tiga kali untuk menunjang kultivasimu agar tidak terhambat. Jika ada yang ingin di tanyakan, jangan ragu untuk tanyakan padaku" ucap Dara
"Terimakasih Nona, saya akan berusaha menjadi lebih baik lagi" ucap Flo dengan tulus
"Bagus, pakai ini. Teteskan darahmu ke cincinnya agar dia mengakuimu sebagai tuan. Ada beberapa pakaian di dalam sana, kamu bisa Menganti pakaianmu" ucap Dara.
Itu adalah cincin ruang yang memiliki luas 20x10 meter, Dara tidak memberitahu cara penggunaan dan kegunaannya. Karena segala sesuatu tentang Kultivasi dan pengetahuan lainnya sudah Flo ketahui dari kilasan yang Dara berikan.
"Baik, sekali lagi terima kasih nona" ucap Flo menerima pemberian Dara.
Setelah mengikuti instruksi dari Dara, Flo Menganti pakaiannya lalu keduanya kembali ke pusat kota S, karena hari sudah siang hari jelang sore.
...••••••...