The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
206.



"Ya ini aku! Memang siapa lagi" ucap Ellena terkekeh


"Ba-bagimana bisa, mak-maksudku.... emmm" ucap Putri bingung ingin mengatakan sesuatu.


"Aku kembali muda? Begitu?" tanya Ellena yang di angguki oleh kedua orang di depannya.


"Itu karena aku di berikan obat ajaib dari putriku yang hebat ini. Terserah sih kalian percaya atau nggak, nggak ada ruginya buatku kan? Tapi apa putri kalian tidak bisa menunggu lebih lama? Ia harus segera di tangani bukan? Kamu tinggal pilih Dara putriku mencoba menyembuhkannya, atau oleh dokter lain dan kaki putrimu segera di amputasi untuk menyelamatkan nyawanya" ucap Ellena


Erwin dan Putri terdiam memikirkan sesuatu, benar yang di katakan Ellena, putrinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Terlebih sekarang putrinya masih koma, jika putrinya sadar dan ia tahu kehilangan kedua kakinya karena di amputasi. Pasti ia tidak akan terima dengan keadaannya, orang tua mana yang menginginkan anaknya bersedih.


"Baiklah, tolong sembuhkan putri saya dan maafkan ucapan saya yang meragukan anda Dokter Addara, saya harap anda tidak mengambil hati ucapan saya yang kasar barusan" ucap Erwin dengan lembut memohon pada Dara dan juga meminta maaf dengan tulus.


Dara hanya diam tidak bicara, ia hanya mengangguk kemudian ia menghampiri brankar Lisha, putri dari sahabat Om Alden.


"Flo, peralatan ku" ucap Dara


Flo yang ada di sana segera membuka ransel yang ia bawa dan memberikan pada Dara alat medis untuk nonanya itu.


Dara terlihat fokus memeriksa keadaan Lisha, ia terkejut melihat kondisi Kaki dan kepala Lisha. Seberapa besar kecelakaan yang di alami gadis yang terbaring lemah tak sadarkan diri di depannya.


"Selain kakinya yang sudah parah apalagi syarafnya banyak yang sudah putus dan darah tidak bisa mengalir karena rusaknya jaringan, kepalanya juga mengalami benturan keras. Om Alden, apa gadis ini sudah tidak sadarkan diri lebih dari 24 jam? Om juga sudah mengoperasi kepalanya kan?" tanya Dara


"Benar, om sudah melakukan operasi di kepalanya, sedangkan kaki. Om belum mengambil tindakan operasi, kalaupun operasi kakinya akan di amputasi karena kondisi kaki nya yang parah. Karena pihak keluarga meminta alternatif lain, jadi operasi itu di tunda" ucap Alden.


"Apa masih ada kemungkinan kakinya sembuh dan tidak harus amputasi Dok? Hiks, aku tidak ingin putriku menjadi cacat, ia masih muda dan memiliki masa depan panjang. Lisha pasti tidak akan menerima kenyataan itu jika sampai terjadi" tanya Putri menangis.


"Hmm, tentu saja aku masih bisa menyembuhkan kakinya. Tapi Om Alden melewatkan satu hal. Masih ada sisa gumpalan darah di kepala nya." ucap Dara membuat harapan tumbuh di hati semua orang di sana. Namun mendengar kata-kata terakhir Dara, semuanya terkejut termasuk Alden.


"Bagaimana bisa?" tanya Alden.


"Om bisa lakukan CT Scan dan Om akan tahu. Untuk kaki Putri, aku bisa melakukan operasi dan menyembuhkannya tanpa harus di amputasi" ucap Dara yakin


"Erwin aku izin melakukan CT Scan pada putrimu, untuk biaya ini biar aku yang tanggung jika memang aku melakukan kelalaian. Untuk operasi kali Lisha akan aku siapkan sekalian" ucap Alden yang di angguki Erwin


"Tentu, tolong lakukan yang terbaik, masalah biaya, aku tidak masalah. Berapapun aku pasti membayarnya" ucap Erwin.


Mereka kemudian menunggu hasil CT Scan, dan semuanya terkejut saat tahu yang di katakan Dara benar. Masih ada gumpalan darah yang tersisa di kepala Lisha meskipun itu hanya sekitar 0,7 Senti..


Alden langsung meminta maaf karena ia melakukan hal fatal saat operasi. Saat ia akan melakukan operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah yang tersisa Dara melarangnya. Selain karena resikonya tinggi Dara memiliki alternatif lain yang lebih aman.


"Flo kemarikan Jarum perak milikku" ucap Dara


Flo dengan sigap memberikan jarum itu, Dara kemudian mengeluarkan jarum itu dan melakukan pengobatan akupuntur untuk mengeluarkan gumpalan darah di kepala Lisha, tentunya di bantu oleh Chi miliknya agar mendorong gumpalan sisa itu keluar dengan sendirinya melalui pori-pori kulit kepala.


Semuanya terkejut saat melihat gumpalan darah kecil keluar dari kepala Lisha dengan sendirinya. Mereka menatap kagum pada Dara, termasuk Alden dan Ellena.


"Om aku akan melakukan operasi sekarang, Om bisa memeriksa keadaan Lisha secara menyeluruh saat operasi kaki Lisha selesai.


Dara bukannya pelit tidak mengeluarkan pil penyembuh, ia hanya malas menjelaskan lebih dan ia juga ingin mengaplikasikan ilmu kedokteran miliknya tanpa harus mengandalkan pil-pil yang sudah ia suling.


Alden langsung bergegas mengikuti arahan Dara, keduanya beserta dua perawat ikut masuk ke ruang operasi. Setelah 45 menit operasi pun selesai.


"Bagaimana?" tanya Putri


"Operasinya berhasil, Lisha kemungkinan akan sadar beberapa jam lagi setelah obat biusnya habis. Dan ini... setelah luka bekas operasinya sudah kering, oleskan obat ini. Ini akan menghilangkan bekas operasi dalam pemakaian pertama" ucap Dara


"Te-Terimakasih, hiks...." ucap Putri menangis haru dan menerima obat dari Dara


"Dokter Addara, terimakasih banyak sudah berkenan mengobati Lisha" ucap Erwin menundukkan kepalanya.


"Sama-sama" ucap Dara


Setelahnya Dara, Flo dan Ellena pulang setelah beberapa saat berbicara tentang kondisi Lisha dan perawatan nya pada Alden. Dara mengatakan jika besok sebelum menjemput Kai dan mengecek persiapan terakhir pertunangannya ia akan datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Lisha lebih dulu.


Dara juga mengundang Alden dan Erwin sekeluarga ke acara pertunangannya, meskipun Dara tahu jika kemungkinan Erwin dan keluarganya tidak datang. Karena bagaimana pun Lisha dalam pemulihan.


Tapi untuk kesopanan jadi Dara mengundangnya secara pribadi, meskipun sebenarnya Ellena sudah memberikan undangan pada Erwin beberapa hari lalu.


....


Keesokan harinya, Dara menepati janjinya untuk mengecek langsung kondisi Lisha. Lisha yang sudah sadar pun mengucapkan terimakasih atas perawatan Dara dan sudah menyelamatkan kaki dan juga kemungkinan buruk yang akan terjadi di kepalanya jika gumpalan darah di biarkan terlalu lama.


Lisha juga mengagumi sosok Dara yang sangat cantik dan hebat. Ia menjadikan Dara idolanya mulai saat ini.


Anak pertama Erwin yang baru di hubungi tentang keadaan adik satu-satunya itu sangat terkejut dan lega saat adiknya sudah baik-baik saja. Ia yang berada di luar negeri langsung mengambil penerbangan hari itu juga untuk pulang ke tanah air.


Setelah mengecek kondisi Lisha, Dara segera ke bandara bersama dengan Flo yang senantiasa menemaninya.


Kedatangan Dara dan Flo membuat semua orang terkejut dan terpesona.


"****! Aku harus lari! Jangan sampai tertangkap" ucap salah seorang pria yang tengah berlari memeluk jaket yang di kenakannya.


Dara mengernyitkan dahinya, ia tahu ada yang salah dengan orang itu.


"Tolong! Copet! Tas ku, hiks...." sayup-sayup Dara dan Flo juga mendengar suara perempuan yang menangis dari jauh.


Dara menatap Flo, yang di tatap pun mengerti dan langsung pergi menuju pria yang tengah berlari.


GREP!


BUGH!!!!


"Aaaarrrrkkkhhhh" teriak pria itu kesakitan saat Flo dengan sigap membanting tubuh pria itu dengan keras ke lantai.


Orang-orang yang melihat tentu saja terkejut bahkan berbisik-bisik, apa yang terjadi.


...•••••••••...