
Gusti melihat ke arah Dara dan Dimas, mata tuanya mulai berembun. Ia tahu jelas jika Dimas adalah cucunya, karena ia sudah melihat foto kedua anak Nayla, sama seperti Adnan.
Meskipun Dara memakai masker, ia juga tahu kalau Dara adalah cucu perempuan satu-satunya.
Dimas sedikit canggung melihat orang asing di depannya, ia menoleh ke arah kakaknya yang tenang bagaikan air, jadi ia juga mencoba untuk tenang dengan menggenggam tangan Dara.
Wira yang melihat ketenangan Dara, memuji mental gadis itu. Bagaimana pun saat ini ia bertemu dengan sosok kuat dan berkuasa di kota S, tapi tetap tenang dan memancarkan aura keanggunan seperti bangsawan tingkat tinggi.
"Kalian anak-anak Nayla? Kalian keponakanku?" ucap Adnan tersenyum hangat
Adnan senang melihat Dara dan Dimas, namun hatinya merasa sakit saat mengingat adiknya sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Sedangkan Dara dan Dimas hanya diam tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu ini gimana mas, bukannya di suruh duduk dulu. Malah ngajak ngobrol sambil berdiri" ucap Ellena menegur suaminya
"Ah ya maaf, ayo duduk dulu nak" ucap Adnan menyadari kesalahannya dan mempersilahkan duduk dengan lembut. Semuanya kemudian duduk, tidak dengan Ferdi yang tetap berdiri di samping Dara.
"Saya tidak tahu, apakah saya dan adik saya adalah keponakan yang anda maksud tuan. Tapi kedatangan kami kesini hanya ingin menjalankan amanat ibu kami sebelum ibu meninggal" ucap Dara
"Amanat, amanat dari Nayla? Apa itu?" tanya Adnan
"Beliau meminta kami, khususnya pada saya untuk mengucapkan kata maaf. Ibu bilang ia sangat menyesal dan ia merasa sudah sangat terlambat untuk meminta maaf pada kalian. Ibu belum sempat mengatakan alamat dan identitas kalian, karena beliau sudah meninggal saat itu. Beliau hanya memberikanku foto yang sudah usang sebagai petunjuk untuk mencari keberadaan kalian" lanjut Dara sambil mengambil dan menyodorkan sebuah foto lama dari dalam tas miliknya.
"Ini..." ucap Gusti mengambil foto itu.
Mata tuanya tak sanggup menahan air matanya untuk tidak jatuh. Itu adalah foto keluarga mereka sebelum Nayla memutuskan untuk pergi dari rumah.
Gusti menangis dan menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, nafasnya tersengal. Seketika semua orang panik karena Gusti mengalami serangan jantung secara tiba-tiba.
"Ayah..."
"Kakek..."
"Tuan besar..."
Teriakan secara bersamaan menggema di ruang tamu, karena terkejut melihat Gusti pingsan karena serangan jantung. Hanya Dimas dan Ferdi yang terkejut, namun Dara kini melangkah ke sana dengan tenang.
"Bisa kasih jarak untuk tuan besar agar bisa mengambil nafas. Akan sangat berbahaya jika kalian berkerumun seperti itu" ucap Dara tegas.
Semuanya yang ada di sana seperti terkena hipnotis dan mundur dua langkah. Setelahnya mereka bingung dan melihat ke arah Dara yang justru maju mendekati Gusti.
"Ap-apa yang kamu lakukan?" tanya Bara terkejut saat melihat Dara duduk di samping Gusti.
"Apa lagi? Tentu memeriksa keadaannya" ucap Dara
"Tapi kamu bukan dok..." ucap Bara di potong oleh Ferdi.
"Maaf tuan muda, tapi nona saya adalah seorang ahli dalam dunia medis. Akan sangat bahaya jika tuan besar di biarkan begitu saja tanpa langsung di tangani. Jika memanggil dokter pun butuh waktu untuk datang, akan bahaya jika dalam beberapa waktu kedepan kondisi tuan besar memburuk" ucap Ferdi berani.
"Apa Addara benar-benar mengerti tentang kedokteran?" tanya Adnan terkejut, dalam hati ia ragu tentang keahlian dara, ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya.
Tapi ia juga tidak bisa menyangkal ucapan Ferdi, karena jika mereka menunggu dokter datang atau membawa Gusti ke rumah sakit. Itu memerlukan waktu dan mungkin akan membahayakan nyawa Gusti saat itu.
"Sejauh yang saya tahu, tidak ada dokter yang kemampuannya melebihi nona Dara. Jadi anda tidak perlu khawatir tuan" ucap Ferdi dengan yakin.
Meskipun semua orang terkejut mendengarnya, namun mereka berharap ucapan Ferdi benar adanya.
Dara memeriksa denyut nadi Gusti, kemudian ia mengeluarkan jarum perak apukuntur dari dalam tasnya.
"Tolong ambilkan air panas atau cairan alkohol" ucap Dara
"Ah baik!" sahut Wira, hanya butuh satu menit ia kembali membawa botol alkohol medis dan memberikannya pada dara.
Wuuusshhh!!!!
Wuuusshhh!!!!
Wuuusshhh!!!!
Lima jarum melayang di udara lalu menancab di titik tertentu dengan tepat. Dara mengerahkan seluruh Chi miliknya. Meskipun ia belum masuk ke tingkat 3, itu sudah cukup untuk menangani serangan jantung yang di alami Gusti.
Semua orang di sana terkejut saat melihat lima jarum melayang, menancap dan bergetar dengan lembut. Bahkan Bara sampai mengucek matanya takut ia salah melihat adegan live di depannya.
Terlihat nafas Gusti sudah mulai teratur saat jarum-jarum itu menancap di tubuhnya. Selang berapa lama Dara mengambil kelima jarum itu lalu menyimpan kembali ke tempat semula.
Perlahan Gusti membuka matanya, dadanya sudah tidak terasa sesak dan sakit lagi. Nafasnya juga terasa plong, justru ia merasa lebih energik dan sehat.
Pandangannya menyapi melihat sekeliling. Ia mengerutkan kening karena semua orang menatap takjub ke arah Dara, tak terkecuali Dimas.
Ia baru tahu kalau kakaknya sehebat ini, ia pikir kakaknya hanya bisa meracik obat seperti obat yang ia berikan untuk menyembuhkan Alan, tapi ternyata kakaknya juga pintar mengobati dengan apukuntur.
"Hiks.... Cucuku...." ucap Gusti memeluk Dara. Dara terkejut mendapati Gusti memeluknya, namun ia tidak memberontak sama sekali. Ia merasa nyaman meskipun dia sedikit canggung karenanya.
"Addara terimakasih sudah menyelamatkan kakek mu" ucap Adnan dengan tulus setelah sadar mendengar ayahnya menangis.
"Terimakasih sudah menyelamatkan mertuaku Addara" ucap Ellena dengan lembut dan tulus.
Dara mencoba melepaskan Gusti dengan pelan.
"Jangan berkata seperti itu tuan, nyonya, saya hanya menolong sebagai sesama manusia. Jangan terlalu dini mengatakan jika saya adalah keluarga kalian, karena tidak ada bukti yang jelas tentang hal itu" ucap Dara.
"Bukti sudah jelas, kamu dan Adimas adalah anak dari adikku Nayla" ucap Adnan.
"Meskipun begitu, bukan tidak mungkin jika Nayla yang di maksud adalah benar ibu kami" ucap Dara
"Kenapa tidak lakukan test DNA aja kalau kau ragu" celetuk Bara.
Semua atensi mengarah ke Bara, Bara hanya tersenyum canggung melihat semua orang menatapnya
"Bara benar mas, kenapa kita nggak lakukan test DNA agar Addara dan Adimas juga tidak ragu lagi dengan identitasnya" ucap Ellena.
"Benar kata pakde dan bude kamu, jika kamu ragu kita bisa melakukan test DNA untuk membuktikannya" ucap Gusti.
"Saya tidak memiliki waktu, besok saya dan Dimas harus kembali ke ibukota" ucap Dara lagi
"Secepat itu? Kenapa kamu tinggal di ibukota? Kenapa tidak tinggal di sini saja?" tanya Gusti dengan raut wajah kecewa.
"Dimas sekolah di sana, saya juga akan masuk kuliah dua Minggu lagi" ucap Dara
"Tapi..." ucap Gusti
"Ayah, lebih baik test DNA saja dulu, masalah tempat tinggal bisa di bicarakan nanti" sahut Ellena menengahi
"Addara, kamu tidak keberatan melakukan test DNA? Tenang saja, kita bisa melakukannya Prayoga Hospital dan kita bisa meminta hasilnya di percepat" ucap Ellena dengan lembut.
Terlihat Dara memikirkannya, dia juga melihat ke arah Dimas. Namun Dimas hanya diam saja, dia tidak tahu harus berbuat apa. Jadi ia akan mengikuti apapun ucapan kakaknya.
"Baiklah" ucap Dara mengangguk dan mengambil keputusan.
Akhirnya mereka semua berangkat menuju Prayoga Hospital.
...•••••...