
Dara dan Kai saling berpandangan, Dara sepenuhnya menyerahkan pada Kai soal nama. Ia setuju semua anaknya ikut nama keluarga Narendra.
"Kalau begitu kami berdua sudah sepakat untuk memberikan nama lengkap. Anak kedua kami kami beri nama Galaxy Orion Narendra. Aku harap ia akan menjadi pribadi yang kuat dan tegas, melindungi adik-adiknya, menghormati kakaknya dan juga keluarga nya.
Nama anak ketiga kami Rakesh Satya Narendra. Aku harap ia tumbuh menjadi pribadi yang baik, memberikan cahaya pada orang banyak dan bermanfaat bagi semua orang.
Dan si bungsu Starletta Dhiren Narendra. Kau harap putriku bisa menjadi gadis yang kuat seperti ibunya dan menjadi bintang di hati semua orang" ucap Kai.
"Wah nama yang sangat bagus, Kai, Dara. Opah menyukai nama cicit-cicit pah" ucap opah Dierja. Yang sebenentar lagi akan di panggil opah uyut itu.
"Hai Gala... Welcome to the world, cucu Eyang putri" ucap Mama Hesti yang sedang menggendong Galaxy, yang di panggil Gala itu.
"Cucu omah yang tampan, Selamat datang mas Rakesh" ucap Mama Ellena yang sudah memiliki panggilan khusus Buat putra ketiga Dara dan Kai itu.
"Selamat datang princess nya ayah, tumbuhlah menjadi gadis cantik, lembut dan hebat seperti bunda kamu" ucap Kai mencium pipi putri kesayangannya itu.
"Kak, Ade bayinya cantik banget" ucap Dimas menyentuh pipi lembut Starletta dengan jari telunjuknya.
"Makasih Om Dimas" ucap Dara tersenyum
"Kak, boleh Ryan panggil Starla saja? Kepanjangan kalau panggilnya Starletta" ucap Ryan nyengir.
"Ha-ha, boleh... Kalian ini aneh, kan kalian sendiri yang kasih nama, malah kalian juga yang complain" ucap Dara terkekeh
"Langit di mana? Aku belum melihatnya" tanya Kai, merasa ada yang kurang. Ia sampai melupakan putra sulungnya, karena terlalu panik dengan kelahiran triplet.
"Ada di mansion sama Shine dan Bara, kasihan kalau dia di sini. Nanti siang mereka ke sini kok" ucap mama Ellena. Kai mengangguk mendengarnya, ia membayangkan betapa senangnya putra sulungnya itu saat melihat adik-adiknya sudah lahir.
"Ra, bagaimana menurut kamu kalau kakak kamu menikah?" tanya Mama Ellena tiba-tiba, membuat yang lain terkejut mendengarnya.
"Ya kalau Dara terserah kakak aja mah, emang siapa yang mau nikah mah?" tanya Dara penasaran
"Bara! Akhir bulan ini dia sidang. Dan dia minta mama buat lamar Shine buat jadi istri nya, kakak kamu itu udah ngebet pengen kawin" ucap Mama Ellena terkekeh.
"Nggak boleh mah!" pekik Revan sama Jeffrey kompak.
Plak!
"Jangan teriak-teriak! Ini rumah sakit" ucap Mama Ellena sembari menggeplak bahu kedua putranya itu
"Mama juga teriak barusan! Pokoknya nggak boleh. Enak aja aku di langkahi lagi, tunggu aku dulu lah yang nikah baru Bara" ucap Revan cemberut, tidak terima di langkahi.
"Benar kata Revan mah, aku aja belum nikah masa Bara udah mau duluan. Nggak mau lah!" ucap Jeffrey ikut-ikutan protes dan cemberut.
"Kalian ini.... Makanya kalau nggak mau keduluan, ya lamar dulu Arra-nya Revan! Kamu lagi, pacar aja sampe sekarang masih nyangkut entah di mana. Malah sok-sok an nggak mau di langkahi, bawa calon kamu ke mama dulu baru ngomong gitu" ucap gemas mama Ellena pada kedua putranya itu.
"Kan Arra masih kuliah mah, dia mau lulus kuliah dulu baru nikah. Masa iya Revan paksa dia buat nikah sekarang, kalau dia kabur gimana. Revan nggak mau ya, kan hati Revan udah nyangkut di dia. Nggak bisa di ambil lagi" ucap Revan
"Ih mama... Emang cari calon yang cocok tuh gampang apa mah, kan harus pilih dulu ada yang sreg di hati Jeff apa nggak. Kalau Jeff salah pilih cowo gimana?" ucap Jefrey merajuk
"Ya Takdir... Jadi terima resiko kalian di langkahi lagi sama adik kamu! Pokoknya kalau nggak mau di langkahi ya cepet-cepet cari pacar dan nikahin duluan" ucap Mama Ellena
Semua orang tidak tahan lagi menahan tawa, suara tawa itu pun terdengar di dalam ruangan. Mereka merasa sangat terhibur, melihat drama ibu dan kedua anaknya itu.
.....
"Da... Yayah... Mana de Ayi Aban?" celetuk Langit saat pintu kamar rawat baru saja di buka.
Semua mata kini tertuju pada bayi gembul nan menggemaskan, berusia 10 bulan hampir 11 bulan yang tengah melangkah masuk itu. Hanya ada Kai, papa Adnan dan juga Revan di sana. Dara sedang menyusui baby triplet, di temani mama Ellena dan suster di ruangan sebelah.
Sedangkan keluarga yang lain sudah pulang untuk beristirahat, sore nanti mereka akan kembali lagi ke rumah sakit untuk bergantian berjaga.
Shine yang mengantar Langit hanya terkekeh melihatnya, sedangkan Bara masih memarkirkan mobilnya di luar.
"Cucu opah jangan lari-lari nanti jatuh" ucap papa Adnan, sembari menggendong dan mencium pipi cucu pertamanya itu.
"Opah Nanan, pan datan?" tanya Langit mengedip lucu saat berada di gendongan papa Adnan.
"Kemarin sayang" ucap Papa Adnan tersenyum.
"De Ayi Aban ma Da mana opah?" tanya Langit mengedarkan pandangannya, tapi ia tidak melihat adik bayi dan juga bundanya.
"Yes, opah" ucap Langit menurut dan duduk tenang di pangkuan opah-nya itu.
"Anak ganteng, anak pinter. Gemes banget" ucap Papa Adnan mencium pipi Langit.
"Opah Nanan Ngan tium ih, Aban dah Ede ga Leh di tium-tium" ucap Langit protes membuat Kai dan Revan tidak bisa menahan tawanya, sedangkan Papa Adnan hanya melongo di buatnya karena di tolak oleh cucunya.
"Kenapa kamu menggemaskan sekali Abang" ucap Revan mengunyel pipi keponakan nya itu.
"Kel Papan ih, angan nyel Pi aban..." ucap Langit cemberut
"Papan nggak tuh, ha-ha-ha" Papa Adnan tertawa puas saat mendengar panggilan buat putranya itu.
"Puas banget ih ketawanya" ucap Revan mencibir, Kai hanya terkekeh melihat kelakuan putra, papa mertua dan kakak iparnya itu.
"Abang sayang, anak pinter, anak ganteng, nama uncle itu Revan bukan papan. Yuk belajar ngeja nya, ikutin Uncle ya, Re... Ayo coba ikutin, Reeee..." ucap Revan
"Le..." Langit mengikuti
"Van..." ucap Revan lagi
"Pan..." ucap Langit
"Re-van" ucap Revan
"Papan..." ucap Langit mengedipkan matanya gemusss
Mendengar itu Revan menepuk keningnya frustasi, sedangkan Kai dan papa Adnan tidak kuasa menahan tawanya.
"Kelihatannya seneng banget, sampe kedengeran ketawanya kenceng banget gitu" ucap mama Ellena yang masuk ke ruangan bersama Dara dan suster yang menggendong triplet. Dara memberikan Gala ke Kai dan mengambil Starla dari gendongan Suster, sebelum Suster keluar dari ruangan itu.
"Daaa..... Aban mu liat de ayi" ucap Langit langsung merangsek turun dari pangkuan papa Adnan.
Dara tersenyum dan duduk di sofa di dalam ruangan itu.
"Sini kenalan sayang, yang di gendong sama ayah itu namanya Galaxy. Dia adik pertama abang, dede Galaxy cowo sama kaya abang" ucap Dara
"Ola de Asi... Agil aku Aban, Oce" ucap Langit menyentuh pipi adik pertamanya itu dengan senyum yang terlihat gigi empatnya itu.
"Nah, yang sama omah Ellena namanya Rakesh, dia adik Abang yang kedua, dede Rakesh juga cowo" ucap Dara
"Ola de Akes, Agil aku Aban uda, Oce" ucap Langit menyentuh pipi Rakesh juga dan mengedipkan Kedua matanya.
"Nah kalau yang ini adik Abang yang cewe, namanya Starletta, Abang bisa panggil Dede Starla, cantik kan?" ucap Dara memperlihatkan Starla
"Woaaahhh, Atik Da, muach.... Waahh De atik alum, Aban cuta de Atik Da" ucap Langit sembari mencium pipi Starla dan tersenyum.
Hal itu membuat semua orang terkejut dan cemberut kecuali Dara, Shine dan Ellena, sudah bisa terlihat betapa posesif para pria pada princess Starla itu.
Tentu sudah di pastikan yang akan memegang tahta tinggi adalah Starletta, karena saat ia masih bayi saja ia sudah mengambil perhatian semua orang.
"De Atik, Agil aku Aban Ateng Oce. Dede Atik anti Ita ain yuk, Aban unya banak mainan di luma. Aban cuta de Atik..." ucap Langit ingin mencium Starla lagi, namun tiba-tiba tubuhnya melayang di gendong sang ayah dengan satu tangan. Karena tangannya yang lain menggendong Gala.
"Yayah ih, tulunin Aban. Aban ga mu telbang" ucap Langit
"Abang sama ayah aja di sini ya" ucap Kai
"Ga mu, Aban mau Dede Atik, Aban mau tium De Atik" ucap Langit.
"Nggak boleh Cium princess Starla" ucap Kai menggelengkan kepalanya
"Nggak boleh cium Abang ganteng, kan kata Abang tadi Abang udah gede. Jadi nggak boleh cium" ucap papa Adnan ikut angkat bicara.
"Abang nggak boleh cium cewe ya, masih kecil udah nyosor, aduuhhh" ucap Revan kena tabok mulutnya sama mama Ellena.
"Leh tium, kan de Atik sih ecil. Adi Leh Aban tium, de Atik uga Leh tium Aban ko" ucap Langit.
Perdebatan antara Anak, ayah dan opahnya pun masih berlanjut sampai Langit lelah dan tertidur. Namun tangannya masih terus memegangi jemari mungil Starla.
...•••••••...