The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
275.



Sanjaya kini berada di dalam ruangan Alden, ia meminta izin untuk bertemu dengan Dara sebelum dirinya dan ayahnya pulang.


Alden mengatakan jika Dara saat ini masih berada di ruangan operasi dan meminta Sanjaya untuk kembali ke ruang rawat inap dulu. Ia akan mengabari Dara untuk ke sana nanti setelah operasinya selesai.


Sanjaya mengangguk mengerti, ia mengucapkan terima kasih dan kembali ke ruang rawat inap ayahnya. Ia menceritakan pada ayahnya dan memutuskan untuk menunggu Dara datang sebelum mereka keluar dari rumah sakit.


Setelah dua jam, Dara yang sudah menyelesaikan operasi di panggil Alden dan di minta untuk ke tempat tuan Dharma Suprapto di rawat. Jadi ia menuruti om nya itu untuk menemui sebentar keluarga yang sudah di tolongnya kemarin.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Sanjaya yang mendengar ketukan pintu langsung membuka pintu, wajahnya berseri melihat Dara yang datang. Ia pun segera meminta Dara masuk.


"Silahkan masuk Dokter Dara" ucap Sanjaya dengan sopan dan hormat.


Daniel yang melihat Dara, langsung berdiri dan sumringah. Jangan di tanya bagaimana kondisi jantungnya yang berdetak cepat saat ini. Ingin rasanya ia mendekati Dara dan mengajaknya menikah sekarang juga.


Wajah cantik Dara sejak kemarin memenuhi pelupuk matanya. Selama 22 tahun hidup, baru kali ini Daniel mengalami yang namanya jatuh cinta dan sayang nya harus pupus terhalang restu ayahnya dan juga restu Author. Hingga membuat dirinya kalah, bahkan sebelum ia berjuang.


"Selamat siang Tuan Darma, Tuan Sanjaya, tuan Daniel. Ada yang bisa saya bantu? Apa ada keluhan?" ucap Dara dengan nada biasa saja.


"Siang Dokter Dara, keadaan saya baik-baik saja. Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih sudah menyelamatkan saya" ucap Dharma yang masih terlihat seperti berusia kurang dari 50 tahun meskipun aslinya ia sudah berusia di atas 70 tahun.


"Itu sudah kewajiban saya sebagai Dokter, tuan. Tidak perlu sungkan" ucap Dara


"Tetap saja saya ingin mengucapkan terimakasih, karena saya tahu. Tidak ada cara lain menyelamatkan saya yang terkena Dark Fire, tapi dengan kemampuan yang anda miliki saya bisa kembali sehat" ucap Dharma tersenyum.


"Sama-sama" ucap Dara mengangguk


"Dokter, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Sanjaya.


"Tentang misteri kekuatan kalian? Apa kalian membawa buku atau kitab berisi teknik kultivasi Keluarga? Boleh saya melihatnya?" ucap Dara seperti tahu apa yang hendak di tanyakan Sanjaya


"Ah, kebetulan saya bawa. Daniel, tolong ambilkan di tas milik ayah!" ucap Sanjaya.


Sanjaya sudah merundingkan hal ini dengan ayahnya dan mereka sepakat untuk meminta bantuan pada Dara. Mereka hanya tidak menyangka Dara begitu peka, bahkan memintanya terlebih dulu.


"Ini Dokter Dara" ucap Daniel lembut dan senyum manis menghiasi wajahnya, menyerahkan Kitab keluarga yang berisi teknik turun-temurun.


Dara menerimanya itu tanpa melihat wajah Daniel yang berseri-seri menatapnya. Dara saat ini terlihat membolak-balikkan buku itu kemudian mengangguk paham.


"Ada kertas dan pena?" tanya Dara


"Aku memilikinya, pakailah" ucap Daniel masih dengan senyum di wajah tampan nya itu.


"Terimakasih" ucap Dara, kemudian ia menulis sesuatu di sana dengan cepat.


"Ini! Aku sudah menulis di mana saja teknik yang harus di hilangkan, di ganti atau di tambah" ucap Dara


"Terimakasih banyak Dokter Dara, berapa banyak kami harus membayarnya?" tanya Sanjaya


"Tidak perlu, batu kemarin sudah cukup" ucap Dara


"Apa anda tahu batu apa itu?" tanya Sanjaya penasaran.


"Hmm, aku tahu dan batu hanya akan berguna jika aku yang mengolahnya. Jika itu orang lain, itu hanya akan menjadi baru biasa atau hiasan semata tanpa manfaat" ucap Dara


Sanjaya mengangguk mengerti, ia percaya apa yang di katakan oleh Dara, bagaimana pun sekarang Dara menjadi penyelamat Keluarganya dan akan menjadi tamu terhormat di keluarga lnya nanti.


"Boleh aku tahu dari mana anda tahu tentang kami, Dok. Apa anda juga seorang kultivator?" tanya Sanjaya


"Anda menanyakan yang sudah pasti tuan. Bukankah anda sempat merasakan kekuatan saya kemarin?" ucap Dara


"Ah, anda benar" ucap Sanjaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa ada hal lain?" tanya Dara


"Bisakah kita makan malam?" tanya Daniel tiba-tiba dengan berbinar.


"Maksud Daniel, sebagai tanda terimakasih bolehkah kami mengundang anda makan malam?" ucap Sanjaya menyela, ia merutuki Daniel yang berani mengajak Dara makan malam. Sanjaya takut Daniel salah bicara atau menyinggung Dara dan membuat Dara tidak nyaman.


"Maaf, saya tidak bisa. Saya masih memiliki pekerjaan yang cukup banyak dan tidak bisa di tinggal. Saya ikhlas membantu anda, karena melihat keluarga anda adalah keluarga yang baik, aura kalian bersih tidak tercemar oleh hal buruk. Teruslah berbuat baik pada sesama" ucap Dara sembari memberikan nasehat.


"Ah, begitu... Baiklah" ucap Sanjaya.


"Kalau begitu saya pamit, semoga kita bertemu di lain waktu" ucap Dara lagi.


"Ah ya, semoga kita bisa bertemu lagi Dokter, sekali lagi Terimakasih banyak" ucap Sanjaya dan Dharma bersamaan. Sedangkan Daniel mendadak lesu karena Dara menolak ajakan makan malamnya.


....


Beberapa hari kemudian Dara menjalani pekerjaannya dengan lancar, operasi yang di lakukannya pun sudah tidak lagi banyak. Karena tidak semua jadwal operasi dia wajib ikut.


Dan sekarang Dara tengah bersantai, ia berenang di kolam belakang mansion Adi Raharjo.


BYUR!!!


BYUR!!!


Tak lama ada terdengar bunyi di kolam, ternyata itu adalah Bara yang ikut melompat di kolam renang.


"Kakak ngagetin aja!!" ucap Dara


"He-he, abis kamu renang nggak ngajak-ngajak" ucap Bara


"Lah salah sendiri kakak Bara, kak Revan sama kak Jefrey tidur kata orang mati" ucap Dara terkekeh


"Dasar adik nakal, masa tidur ganteng di bilang kaya orang mati" ucap Bara mencubit pipi Dara


"Nakal juga sayang kan?" ucap Dara terkekeh


"Sayang banget malah. Nih terima hadiah dari kakak" ucap Bara mengapit kepala adiknya di ketiaknya.


"Iiihhh, kak bara bau! Lepasin ih..." ucap Dara berontak kecil. Sedangkan Bara hanya tertawa melihat adiknya memberontak.


"Mana ada bau Dek, wangi gini. Harusnya bangga, banyak loh cewe- cewe yang deketin kakak yang tampan dan wangi" ucap Bara


"Banyak yang deketin tapi tetep aja jomblo tuh" ucap Dara


"Yeee kakak ini Jotas ya...." ucap Bara


"Apaan Jotas?" tanya Dara dengan kening mengerut


"Jomblo berkualitas!!!" ucap Bara bangga


"Elah jomblo berkualitas, tetep aja jomblo namanya kak. Lepas ih... Dara aduin ke mamah nih" ucap Dara


"Dih Cepu lu dek" ucap Bara melepaskan Dara dengan muka manyunnya


"Ha-ha-ha...." Dara hanya tertawa saja melihat wajah lucu kakaknya.


"Nggak masuk kerja dek?" tanya Bara


"Masuk, tapi masih ada waktu santai bentar kok. Aku masuk kerja jam sepuluh nanti" ucap Dara, Bara hanya mengangguk.


Obrolan mereka berlanjut sampai Dara sudah selesai berenang dan akan bersiap pergi ke rumah sakit untuk bekerja kembali.


....


Begitu masuk ke rumah sakit, Dara menuju ke ruang operasi. Terlebih Dara melihat ada pasien baru datang yang di bawa ke ruangan ICU. Benar saja, Dara langsung di panggil untuk melakukan operasi dadakan.


Namun saat operasi berlangsung Dara merasakan sesuatu yang membuatnya terdiam sejenak.


"Ada apa Dokter Dara?" tanya Nia yang mengikuti Dara sebagai perawat yang membantu jalannya operasi.


"Tidak ada apa-apa" ucap Dara dengan tenang.


Ia kembali fokus untuk melakukan operasi dan selesai satu jam kemudian. Setelah keluar dari ruang operasi, Dara langsung naik ke lantai atas untuk bertemu Alden dan meminta izin.


Ceklek!


"Om, aku boleh izin libur, aku harus kembali ke ibukota, ada urusan mende..." tanya Dara langsung membuka pintu ruangan kerja Alden.


"Dara...." ucap Alden terkejut.


"Eh...." Dara juga terkejut saat di dalam ruangan ternyata bukan Alden sendiri, tapi ada tiga orang lain di sana yang sedang menatap Dara terpesona.


"Kenapa setiap aku ke ruangan Om Alden selalu ada tamu sih" gumam Dara dalam hati.


"Maaf saya tidak tahu kalau ada tamu, pak kepala" ucap Dara merasa tidak enak


"Tidak apa-apa, kamu mau minta izin libur, apa ada hal mendesak?" tanya Alden, karena semenjak Dara mengambil libur tiga Minggu yang lalu, Dara belum mengambil liburnya lagi karena jadwal Dara begitu padat.


"Ya, aku harus ke ibu kota karena Urgent" ucap Dara


"Berapa hari?" tanya Alden


"Mungkin tiga hari" ucap Dara


"Hmm, nanti aku kasih tahu Dokter lain untuk mengantikan posisimu sementara. Apa pergi sekarang? Hati-hati" ucap Alden, Dara mengangguk.


"Terimakasih, kalau begitu saya pamit" ucap Dara kemudian mengangguk sopan pada ketiga tamu yang ada di dalam ruangan Alden.


Dara pun langsung keluar dan bergegas ke ruangan kerjanya untuk mengganti pakaian. Lalu ia dengan cepat pergi mengendarai mobilnya menuju apartement milik Kai.


...•••••••...