
Keesokan harinya di ibukota, tepatnya di perkampungan kumuh di daerah Utara.m ibukota. Sepasang suami istri tengah bertengkar, bahkan suami sampai memukul istrinya karena tidak memberikannya uang.
"Kamu tega Agung! kenapa kamu memukulku?!" teriak wanita yang tak lain adalah Maria.
"Kalau nggak mau di pukul, makanya cepat berikan uang mu! Kau dapat uang dari jualan kue kan?" ucap Agung tidak tahu malu.
"Si*l, harusnya aku menceraikan kamu brengsek! Laki-laki tidak berguna seperti kamu hanya jadi benalu!" ucap Maria marah
PLAK!!!
Tamparan keras itu mengenai pipi kiri Maria, hingga sudut bibirnya sobek dan berdarah.
"Dasar istri tidak tahu diri, kamu itu harus berbakti dengan suami kamu! Kamu berani ceraikan aku hah? Kamu bebas ceraikan aku, asal kamu memberikanku uang 1 milyar, baru aku melepaskan kamu!" ucap Agung.
"Gila! kamu gila Agung!!!" teriak Maria sambil menangis
"Sekarang serahkan uang simpanan kamu!" teriak agung lagi.
"Aku sudah tidak punya uang, semua uangku sudah kau ambil si*lan! Kalau kau uang, ya kerja!!! Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!" teriak Maria.
Bugh!
"Dasar istri tidak berguna!" ujar Agung sembari menendang perut istrinya itu hingga Maria jatuh tersungkur, lalu pergi dari kontrakan kecil itu.
Meta sang anak keluar dari dalam kamar, ia bergegas mendekati Maria, ia menangis dan memeluk ibunya yang kondisinya sangat berantakan itu.
"Ke-kenapa papa jadi seperti ini mah hiks?" ucap Meta menangis, ia tidak mentaka, sosok papa yang ia kenal sangat baik pada istri dan anaknya dulu, kenapa papanya berubah sejarang?" ucap Meta
"Mamah juga nggak tahu nak, mungkin ini adalah karma untuk mama. Karena dulu mama merebutnya dari sang istri, bahkan papamu mengusir istri dan kedua anaknya tanpa uang sedikitpun" ucap Maria mengingat hal itu.
Apa lagi ia teringat tatapan mata tajam Dan bahaya itu, jadi otomatis
"Mah, ayo kita pergi dari sini, papa sudah tidak waras. Aku nggak mau mati secara perlahan" ucap Meta, Maria tengah memikirkan ucapan sang anak.
"Hmm, kamu benar! Ayo bereskan barang-barang. Kita akan pergi dari sini. Kita susul pamanmu saja di kota S. Papamu tidak tahu kalau paman sekarang tinggal di kota S" ucap Maria menyetujui usulan anaknya.
Ia juga akan mengirim surat gugatan perceraian itu pada suaminya. Ia sudah tidak sanggup setiap jari di siksa dan di jadikan sapi perah oleh sang suami.
Keduanya pun langsung membereskan barang-barang mereka lalu pergi secara diam-diam dari kontrakan kecil nan kumuh itu, menuju ke stasiun kereta.
Jarak antara ibukota dan kota S menggunakan jalur darat kurang lebih menghabiskan 14 jam perjalanan, Maria membeli tiket dengan harga termurah. Diam-diam ia menjual kalung yang ia simpan tanpa di ketahui Agung itu, meskipun tidak banyak, itu cukup untuk ongkos dan makan mereka berdua bulan ini.
.....
Dara sudah siap dengan pakaian casual-nya, begitupun dengan Revan dan Flo. Hanya Ellena yang sedikit berdandan, ia menyukai penampilannya yang sekarang.
Semalam Dara memberikan pil kecantikan untuk Ellena. Begitu mengetahui bahwa itu pil kecantikan, Ellena begitu antusias dan mengucapkan terimakasih untuk putri satu-satunya itu.
Ellena jelas mengetahui efek pil kecantikan itu, di komunitas sosialita Ellena sangat heboh dengan obat itu. Obat itu sangat Viral, mereka tahu obat itu di dapat di pelelangan yang ada di ibukota dan di dapatkan oleh sosialita dari kota B.
Efek obat itu tidak main-main, bahkan sekarang banyak yang iri padanya karena kini berpenampilan seperti waktu muda lagi.
Sekarang Ellena terlihat seperti wanita akhir 20 an. Dia menjadi muda lagi dan sangat cantik, bahkan Adnan mengucek matanya berkali-kali karena terpesona dengan penampilan baru istrinya yang kembali muda. Ia bahkan memacu di atas tubuh sang istri selama 1 ronde sebelum mengizinkan istrinya itu keluar.
"Woooaahhh" seru yang lain saat melihat Ellena keluar dari kamar.
"Mama?" ucap Revan dengan kening mengerut.
"Iya ini mama bagaimana penampilan mama?" tanya Ellena
"Bagus kok mah, sangat cantik!" ucap Dara.
"Syukurlah mama, aku senang mendengarnya" ucap Dara tersenyum.
"Tunggu, kamu buat pil? Pil apa?" tanya Revan ke arah Dara.
"Obat kencantikan, lihat ini mama mu jadi muda lagi kan?" ucap Ellena
"Dan lagi adik kamu satu ini sangat jenius, bahkan ia di juluki dokter ajaib, meskipun dia belum lulus kuliah" ucap Ellena membuat Revan terkejut.
"Kamu hebat!" ucap Revan dengan tulus memuji.
"Kenapa kamu sangat sempurna Ra, aku ingin tahu siapa laki-laki yang berhasil mendapatkan kamu. Ia akan menjadi orang paling beruntung di dunia karena bisa memiliki mu" ucap Revan dalam hati.
Meskipun ia sulit menghapus perasaan untuk adiknya itu, tapi ia masih sadar jika ia tidak boleh menyukai adiknya. Tapi ia akan tetap menyayangi Dara sebagai adiknya.
Setelah berbincang sebentar, mereka berempat kemudian langsung menuju Mall terbesar dan termewah di kota S. Mall itu adakah milik keluarga Adi Raharjo.
"Kamu nggak mau beli sesuatu Ra, biar kakak yang beliin. Bilang aja" ucap Revan dengan bangga.
"Nggak tahu kak, belum ada yang sreg. Tapi janji ya kalau Dara suka beliin" ucap Dara tersenyum.
Selain dengan Bara, Dara juga nyaman dengan Revan. Karena memang Dara bahagia merasakan kasih sayang dari seseorang kakak padanya. Karena selama ini ia yang menjadi sosok kakak, jadi sesekali ia ingin manja-manjaan dengan kakaknya.
"Aduh, meleyot hati kakak Dara. Punya adik kok, cantik, imut dan menggemaskan seperti ini, siapa yang nggak dag Dig duh ser lihatnya coba. Sadar Van dia adik Lo! Jadi kakak juga nggak apa-apa deh, yang jelas siapapun yang nyakitin Dara, bakal aku musnahkan!" ucap Revan dalam hatinya.
"Janji dong, apa perlu bikin surat perjanjian?" ucap Revan.
"Ha-ha-ha kakak bisa aja" Dara terkekeh.
"Ujuuhhh adik cantik kakak, kenapa menggemaskan sekali" ucap Revan gemas dan mengacak rambut Dara.
"Ayo, ke sana kak! Lihat itu mama dan Flo udah jauh!" ucap Dara menggandeng tangan Revan.
"Sabar, ini ujian.... Tapi lumayan juga sih, bisa di gandeng! Dari pada para fans Dara, iso ne mung nyawang. Anggap aja aku fans yang beruntung itu ha-ha, kak Jefrey pasti iri pada ku wkwk" ucap Revan dalam hati mengingat Jefrey tengah bersama para adik laki-laki nya.
....
Keesokan harinya, Dara tengah menikmati pemandangan di sebuah danau di tengah taman kota. Dara tidak datang sendiri, tapi bersama Bara yang sedang membeli makanan ringan di pedagang kaki lima di sudut taman kota.
Ting!
Sebuah pesan masuk.
Dara segera melihat ponselnya, senyumnya terbit saat melihat pesan dai sang kekasih yang menghilang karena gangguan sinyal di daerah tempat ia bertugas.
Kai sudah mengatakannya sebelumnya jika sinyal di sana jelek.
Dara asik saling berbalas pesan sampai di mana Kai meminta Dara mengirimkan fotonya.
💬Aku sangat rindu, kirimin Foto kamu, Babe. Biar bisa aku lihat tiap hari, sebagai imun booster untukku -Kaisar
Melihat permintaan Kai, ia tidak mungkin menolak. Tanpa menoleh kanan kiri, Dara membuka maskernya lalu mengambil foto selfi dan mengirimkannya ke Kai.
Tanpa ia duga, dari kejauhan ada orang di dalam mobil melihatnya dengan tatapan yang sama dengan orang-orang yang baru pertama kali melihat wajah Dara.
"Sangat cantik!" ucap orang itu.
...••••••...