
Prayoga Hospital, adalah rumah sakit milik keluarga Prayoga. Keluarga nomor satu di kota S. Ellena istri Adrian adalah putri sulung kepala keluarga Prayoga sebelumnya, dan kakak perempuan dari kepala keluarga Prayoga saat ini.
Kini dua mobil mewah itu sampai di area parkir khusus rumah sakit. Mereka di sambut oleh kepala rumah sakit secara langsung. Yang tidak lain adalah sepupu Ellena.
Mereka langsung beranjak menuju lantai 3 di mana ruang lab berada. Dimas, Dara dan Gusti langsung di ambil darahnya untuk di periksa.
Karena kekuasaan keluarga Adi Raharjo dan Ellena, pihak rumah sakit mempercepat pemeriksaan itu menjadi 3 jam, yang seharusnya paling cepat adalah 24 jam.
Sambil menunggu hasil test keluar, mereka menunggu di ruang kerja kepala rumah sakit. Di sana ada sofa yang cukup untuk mereka semua duduk.
Drrrrttttt....
Telepon Dara berbunyi, itu dari Theo. Setelah permisi untuk mengangkat telepon Dara keluar sebentar.
Dimas yang berada di dalam merasa canggung meskipun ada Ferdi di sana yang menemaninya.
"Adimas..." panggil Gusti.
"Ah i-iya tuan besar" jawab Dimas gugup.
"Jangan panggil tuan besar, bisakah memanggilku kakek. Meskipun hasil test belum keluar, tapi kakek yakin kamu adalah cucu kakek" ucap Gusti dengan senyum lembut.
Dimas tidak tahu harus berkata apa, ia bingung karena tidak ada Dara di sana jadi ia tidak bertanya.
"Ba-baik Tu... maksud-ku ka-kakek" ucap Dimas terbata-bata gugup.
"Boleh kakek tahu bagaimana kehidupan kamu bersama ibu dan kakakmu, nak?" tanya Gusti ingin tahu dari Dimas bagaimana kehidupan mereka.
Dimas menghela nafas dan mulai menceritakan semuanya.
"Aku, kak Dara dan ibu tinggal di sebuah pondokan. Kata ibu itu pondok milik nenek Tini, aku pikir nenek Tini itu nenekku. Aku nggak ingat wajah nenek Tini, karena dia sudah meninggal saat aku masih kecil" ucap Dimas polos.
"Nenek Tini itu bukan nenek kamu nak, nenek Tini itu dulunya bekerja di sini dan menjadi pengasuh ibu dan pakde kamu" ucap Gusti menjelaskan siapa Wastini atau yang di panggil nenek Tini oleh Dara dan Dimas.
"Ah aku nggak tahu" ucap Dimas menunduk
"Tidak apa-apa. Lalu, ceritakan lagi kehidupan kalian" ucap Gusti lagi dengan nada lembutnya.
"Aku dan kakak sekolah jauh dari pondokan, biasanya kita jalan kaki satu jam untuk sampai sana. Ibu dan kakak sangat hebat, mereka bisa bekerja apa saja, berkebun, berternak ayam, menjala ikan, cari kayu bakar di hutan. Tapi ibu sakit-sakitan saat aku mulai masuk sekolah dasar dan Ibu meninggal saat aku SMP. Setelahnya kakak yang mengambil alih untuk bekerja apa saja dan tidak melanjutkan kuliah demi aku yang masih sekolah" ucap Dimas bangga dengan perjuangan ibu dan kakaknya.
Mendengar itu, Gusti, Adnan, Bara dan Ellena merasa sedih, mereka tidak bisa membayangkan betapa beratnya kehidupan mereka saat itu. Mereka merasa bersalah karenanya.
"Tapi suatu hari kakak membawaku ke ibukota, kita menginap di hotel dan tinggal di rumah yang besar. Aku juga mempunyai sahabat di sana. Aku senang tinggal di sana karena semua orang baik dan menyayangiku" ucap Dimas tersenyum saat menceritakannya.
"Rumah besar? Apa kamu dan kakakmu di adopsi?" tanya Adnan berpikir jika keduanya di adopsi keluarga kaya.
Dimas menggeleng pelan.
"Tidak, aku tinggal bersama kakak. Kakak sekarang sudah menjadi orang yang sukses. Sudah punya rumah besar, punya mobil bagus, motor keren dan juga punya White yang luar biasa" ucap Dimas.
Mendengar itu semua orang di sana terkejut saat tahu Dara sudah menjadi wanita sukses.
"Apa kakak kerja? Bukannya kak Addara bilang kalau dia kuliah?" tanya Adnan bingung.
"Kakak punya perusahaan, kakak bilang dia sudah belajar tentang saham sejak sekolah dan baru mendapat keuntungan setelah dua bulan terakhir, lalu membangun perusahaan. Sekarang kakak kuliah di University Of Rukmana Capital, dan dua Minggu lagi sudah mulai kuliah. Kakak akan menjadi dokter yang hebat sebentar lagi" ucap Dimas sangat antusias menceritakan kakaknya, ia sangat bangga dengan kakaknya itu.
"Apa...." ucap Ellena terpotong karena pintu terbuka dan Dara masuk.
Melihat semua orang tegang, Dara mengerutkan keningnya heran.
"Apa yang sedang kamu bicarakan dek?" tanya Dara lembut pada adiknya.
"Tidak kak, kakek cuma bertanya bagaimana kehidupan kita" ucap Dimas polos.
Dara hanya menanggapi dengan menepuk kepala adiknya dengan sayang. Suasananya terasa hening, itu karena aura Dara begitu mendominasi di sana. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara karenanya.
Setelah 3 jam, seorang petugas medis yang juga seorang dokter forensik datang dan memberikan amplop hasil test DNA. Gusti membukanya dengan gugup, ia berdoa semoga tebakannya benar.
Saat melihat hasil itu Gusti segera menyerahkannya ke Adnan dan menghamburkan diri ke Dimas dan Dara.
"Cucuku, kalian benar-benar cucuku, akhirnya aku menemukan kalian. Wulan dari sayang, lihatlah! Aku berhasil bertemu dengan cucu kita" ucap Gusti dengan menangis bahagia dan memeluk Dimas dan Dara.
Adnan melihat kedua hasil test itu, hasilnya positif ketiganya berhubungan darah. Yang berarti mereka benar-benar keponakannya, anak dari adiknya, Nayla.
"Jadi aku beneran cucu kakek? Aku punya keluarga banyak sekarang?" ucap Dimas terkejut.
"Ya, kami keluargamu. Panggil aku papa Adnan Oke, anggap papa ayahmu mulai sekarang Oke" ucap Adnan yang beranjak memeluk kedua keponakannya bergantian.
"Papa, akhirnya Dimas bisa punya papa" gumam Dimas, tapi masih terdengar jelas oleh Dara dan Adnan.
Adnan merasa sedih untuk kedua keponakannya, ia tahu jika sejak kecil keduanya tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
Dia mengepalkan tangannya dan ingin membalas pria bajingan yang sudah menyakiti afik dan juga kedua ponakannya itu.
"Panggil aku juga mama Lena, anggap aku mamah kalian hmm" ucap Ellena dengan sayang memeluk keduanya bergantian.
"Aku sekarang punya adik? Dua, sekaligus?" ucap Bara terkejut. "Yeeeeyyy, akhirnya setelah sekian purnama akhirnya aku punya adik juga" lanjut bata tiba-tiba bersorak senang.
Ia memang menginginkan adik, namun kedua orang tuanya tidak ingin menambah anak. Jadi ia harus puas sebagai anak bontot, padahal ia ingin sekali di panggil kakak oleh adiknya dan sekarang kesampaian.
Dara hanya diam, ia sudah menebak jika mereka adalah keluarganya meskipun ia juga ragu karena tidak memiliki bukti. Namun sekarang bukti Sudah di depan matanya, jadi ia hanya bisa menerimanya, ia juga senang melihat Dimas yang sudah mulai nyaman dengan keluarga barunya. Baginya kebahagiaan Dimas lebih penting.
"Panggil aku kakak, oke. Kak Bara!" ucap Bara antusias menegaskan statusnya sebagai kakak pada Dimas dan Dara.
"Kak Bara, panggil aku Dimas" ucap Dimas senang.
"Bagus adikku Dimas, kamu sangat menggemaskan" ucap Bara.
"Hei, kenapa kamu diam saja, adik perempuanku" ucap Bara pada Dara.
Dara menghela nafas, ia bisa kenebak jika kakak sepupunya satu itu sangatlah berisik.
"Salam kenal kak Bara, panggil aku Dara" ucap Dara sopan.
"Ya-ya, adikku. kamu terlalu sopan Ha-ha-ha" ucap Bara senang.
Semuanya bahagia saat keluarga mereka berkumpul kembali.
...••••••...