
WARNING!!!
18+ BAB ini mengandung kata-kata kasar dan juga kekerasan. Jika tidak berkenan membaca silahkan di skip🙏
...••••••...
"Uugghhh...." Lengguh Doso mengerjapkan matanya setelah tidak sadarkan diri. Ia mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk ke retina matanya.
Setelah sadar sepenuhnya, ia mencoba bergerak. Namun ternyata tubuhnya di ikat di sebuah kursi kursi dan ia kesulitan untuk melepaskannya.
Padahal dengan kekuatan yang ia miliki, ia bisa dengan mudah melepaskan diri dari ikatan seperti itu. Namun entah mengapa ia merasa tubuhnya sangat lemas dan tidak bertenaga.
Ia membolakan matanya saat memikirkan sesuatu, namun setelahnya ia merasa lega saat mengetahui kekhawatirannya tidak terjadi.
Inti kekuatannya masih ada, itu tidak hancur atau hilang. Jadi ia masih menjadi seorang kultivator, hanya saja ia heran mengapa ia merasa lemas dan tidak bertenaga saat ini, seolah kekuatannya di segel.
Doso kemudian tidak sengaja menatap Dara yang berada di depannya. Mereka kini berada di ruangan yang tak lain adalah kamar hotel dimana Dara menginap. Melihat betapa cantiknya gadis di depannya itu membuat jiwa pria brengseknya yang tidak sadar umur itu bangkit.
"Nona cantik, apa kau menungguku sadar?tolong buka ikatanku ya" ucap Doso dengan suara selembut mungkin dan dengan nada yang menggoda.
"Cih..." Dara merespon hanya berdecih saja saat mendengar ucapan Doso.
Lalu Dara menatap ke arah Kai yang berada tepat di belakang Doso, Kai terlihat sangat marah mendengar suara menjijikan pria tua di depannya yang mencoba menggoda calon istrinya.
Namun di mata Doso, Dara tengah menatap dirinya, membuatnya jantung Doso yang sangat murahan hingga dengan gampangnya berdegub dengan kencangnya.
"Apa kau suka bermain dengan cara seperti ini nona cantik? Ayolah, bukankah lebih nikmat jika kita melakukannya dengan bebas dan penuh gai*ah? Aku janji akan membuatmu puas dan meminta lebih" ucap Doso menjijikan dan menjilat bibir bawahnya.
"Sayang, bolehkah aku menarik dan memotong lidah cab*lnya ini. Mata mesum yang menatapmu dengan lapar dan menjijikan itu ingin sekali aku mencongkelnya" ucap Kai dengan dingin dan datar yang sedari tadi diam.
DEG!!!
Tiba-tiba saja bulu kuduk Doso meremang, ia benar-benar tidak menyadari jika ada orang lain di belakangnya. Baru kali ini ia tidak menyadari kehadiran seseorang yang bahkan berada tidak jauh darinya.
Terlebih ia mengingat suara itu adalah suara dari pria yang sudah mengalahkannya dan dia tidak ingat apa yang terjadi padanya setelah itu.
Apalagi saat mendengar Kai akan memotong lidah dan juga mencongkel matanya. Meskipun ia seorang kultivator, tetap saja ia akan cacat dan tidak bisa meregenerasi tubuhnya.
Sebenarnya ia bisa saja membentengi diri dengan Qi/Chi miliknya agar tidak terluka, hanya saja saat ini kondisi tubuhnya tidak dalam kondisi terbaiknya, bahkan untuk sekedar bergerak pun sulit.
"K-kau, kenapa kau ada di si-ni?" ucap Doso terkejut.
"Kenapa tidak bisa? Ini kamar calon istriku, tentu saja aku bisa di sini" ucap Kai berjalan menghampiri Dara dan memeluk pinggang gadisnya dengan posesif.
"Sayang, kamu tidak keberatan kan jika aku menghukum laki-laki brengsek ini? Aku tidak menakutimu kan?" tanya Kai dengan lembut dan megelus pipi Dara.
"Lakukan saja, tapi jangan sampai dia amati. Tenang saja kau lebih tahu aku tidak akan takut menyaksikan hal seperti itu" ucap Dara dengan ringannya.
Tentu saja ucapan Dara membuat Doso terkejut. Bagaimana mungkin gadis cantik yang terlihat lembut itu mengatakan hal demikian.
"Ti-tidak, tolong jangan! Bu-bukankah aku sudah bilang siapa pelakunya dan alasanku melakukannya" ucap Doso
"Kau pikir kami bodoh? Harusnya kau pikir dengan otak kecilmu itu, namamu saja kami tahu tanpa harus bertanya padamu. Tentu saja segala hal tentang kamu aku sudah mencari tahunya terlebih dulu" ucap Kai sembari melangkah kembali dengan pelan ke arah Doso.
Doso terkesiap mendengar itu, ia benar-benar bodoh tidak memikirkan hal itu. Ia pikir berakting saja sudah cukup, tapi ia mengatakan hal yang justru membuatnya semakin berada di dalam kondisi krisis.
"Doso, kau tidak pernah menikah meskipun usiamu sebenarnya lebih dari 90 tahun. Kau punya anak dua belas dengan ibu yang berbeda-beda. Punya lebih dari dua puluh cucu dan delapan cicit, dan semuanya sudah menikah. Bahkan yang tersisa kini hanya ada cucu dan cicitmu yang berjumlah tidak lebih dari lima orang. Tapi point nya adalah, cucu dan cicitmu bahkan tidak mengetahui kau adalah kakek dan buyut mereka, karena kau memang tidak pernah peduli bahkan untuk bertemu dengan mereka pun kau enggan" Jelas Kai.
Lagi-lagi Doso terkejut, bagaimana mungkin pria di depannya tahu semua tentang dirinya.
Kai menggunakan sarung tangan miliknya dengan bibir menyeringai.
"A-ampun, maafkan aku! Jangan lakukan itu, aku mohon! Aku salah, tapi aku mengatakan yang sebenarnya tentang dalangnya" ucap Doso sudah mulai putus asa.
"Tidak ada maaf bagimu, salahkan saja orang yang mengirimmu padaku" ucap Kai
"Bukankah aku sudah mengatakan dalang sebenarnya, aku bersumpah jika si bajingan Sanim yang mengatur semuanya. Kenapa kau tidak melepaskan aku?" ucap Doso.
"Aku tidak mengatakan akan melepaskan kamu, aku hanya mengatakan tidak menghancurkan kultivasimu. Tapi aku tidak bilang tidak membunuh atau melukaimu dengan cara lain bukan?" ucap Kai.
"Tidak, aaarrrgggghh,,, akkkmmmkhoooofff...." teriak Doso saat dengan begitu menyakitkan Kai menarik paksa dan memotong lidah nya, air matanya langsung jatuh.
"khhhoooooo...." Doso meronta dengan tubuh terikatnya.
"Ini lidah mu yang menjijikan itu" ucap Kai menunjukkan lidah yang berhasil ia potong.
"Dan ini akibatnya kau menatap calon istriku, dengan tatapan mesummu itu!" ucap Kai
JLEB!!!
"Khooookkkhhh" teriak Doso, tubuhnya bergetar saat Kai dengan ganasnya mencongkel mata Doso.
Kai tidak menggubris cipratan darah dan juga teriakan yang teredam karena lidah Doso sudah di potong. Tidak akan ada yang tahu dan mendengar apa yang terjadi di kamar itu, karena semua CCTV di hotel sudah di retas dan juga suara di dalam kamar Dara sudah di redam dengan Chi miliknya.
"Sayang, apa kamu juga akan mengambil memori ingatannya?" tanya Kai yang mengabaikan Doso yang tengah kesakitan lalu pingsan karena terlalu banyak darah yang keluar.
"Hmm, aku akan mencocokan ingatannya dengan ingatan sniper tadi. Apakah dalangnya itu sama" ucap Dara
Dara sudah menceritakan perihal sniper yang hampir menembak Doso dan Kai.
Setelahnya Dara pun mengambil mengambil memori Doso, membuat Doso yang tidak sadarkan diri terbangun, hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa pasrah.
Dara juga tidak membunuh Doso, ia membiarkan Doso yang sudah menjadi idiot itu. Kemudian ia menghancurkan kultivasinya agar tidak melukai orang yang bersalah.
"Kamu menghancurkan kultivasinya Yang?" tanya Kai
"Ya, tidak masalah bukan? Kan yang janji tidak menghancurkan kultivasinya adalah kamu bukan aku" ucap Dara ringan mengangkat kedua bahunya
"Ha-ha, tidak masalah sayang. Lalu mau di apakan orang ini?" tanya Kai.
"Buang saja di jalan" ucap Dara.
"Baiklah, sesuai yang kamu mau" ucap Kai ingin mencium Dara namun Dara menolaknya.
"Bersihkan dulu, baunya menyengat" ucap Dara.
"Ah maaf, istirahatlah! Aku sudah memesan kamar sebelah untuk kamarmu. Kamar ini biar aku yang urus dan bersihkan. Sebentar lagi Theo datang bukan? Kita masih memiliki pekerjaan lainnya" ucap Kai, Dara hanya mengangguk dan keluar dari kamar itu.
Kai pun langsung memasukan Doso ke cincin ruang miliknya, lalu membersihkan kamar dan badannya yang terkena noda darah Doso itu.
Ia tidak bisa menyuruh orang lain untuk membersihkannya, ia tidak ingin membuat celah bagi orang yang hendak menjatuhkannya.
Dan Cincin ruang milik nya yang tak lain pemberian Dara, adalah cincin yang sudah di upgrade. Jadi tidak hanya benda tidak bernyawa saja yang bisa masuk ke sana, namun mahkluk hidup pun bisa. Hanya saja waktu di sana terhenti saat mahluk hidup di masukkan ke sana.
...•••••••...