The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
215. Tentang Megan



Kai kemudian memperlihatkan cincin di jari tangannya dan jari tangan Dara.


"Lihat ini! aku sudah bertunangan dengan gadis yang sangat aku cintai. Jadi jangan pernah masuk ke hubungan kami, karena itu tidak akan mungkin bisa. Sebab hatiku hanya di miliki satu orang dan juga aku tidak akan membiarkan kamu merusak reputasi kekasihku. Karena di sini yang pantas di sebut Ja*ang, pelakor dan murahan adalah diri kamu. KAMU Megan!!!" ucap tegas Kai.


Mendengar ucapan Kai. Orang-orang yang ada di sana pun mulai menyimpulkannya dan berbisik-bisik. Mereka menghina Megan yang tidak tahu malu, terlalu banyak menghayal dan bermimpi menjadi pacar halunya pria tampan itu.


"Aku akan mengadukan ini ke Tante Hesti" ucap Megan masih tidak tahu malunya merajuk di depan Kai.


Tapi Kai tidak menggubrisnya, ia justru asik memainkan rambut Dara yang tengah di peluknya. Saat mendengar suara dari perut Dara, Kai terkekeh dan melepaskan pelukannya.


"Maaf buat kamu kelaparan Yang, Ayo kita makan" ucap Kai, Dara hanya mengangguk dengan wajah datarnya dan tidak mengatakan apapun.


"Hei kau!!" teriak Megan


Dara pun akhirnya menoleh kesal juga lama-lama dan menatap tajam Wanita yang mengaku sebagai pacar dari tunangannya itu. Ia melihat dari atas sampai bawah penampilan dari Megan.


"Lumayan cantik sih, tapi sayang otaknya bermasalah, nggak ada cantik-cantiknya" ujar pelan Dara, namun masih di dengar oleh semua orang.


Megan tertegun saat melihat penampilan Dara yang sangat cantik. Sejenak ia merasa rendah diri membandingkan dirinya dengan Dara, namun pikiran egoisnya mengenyahkan itu semua.


"K-kau!!!! Jangan mengira karena kamu cantik bisa sembarangan mengataiku!!!" teriak Megan


"Ah, terimakasih pujiannya. Aku tahu aku memang cantik" ucap Dara dengan pedenya, membuat Megan kesal.


"Hmmpphh..." Kai menahan tawanya saat mendengar tunangannya mengatakan itu untuk membuat Megan kesal.


"Kamu mengetawai ku?" tanya Dara pada Kai, membuat Kai gelagapan di berikan pertanyaan itu.


"Eh, Ng-nggak say..." ucap Kai terpotong oleh Megan


"Ya iyalah, dia ketawain kamu. Muka oplas aja bangga, Cih" sindir Megan


"Ngatain diri sendiri mbak? Sorry to say ya... Wajah sahabat gue udah cantik dari lahir tuh, soalnya lahir dari bibit unggulan dan anggota keluarganya nggak ada yang jelek. Nggak kaya situ yang lumayan cantik sih, tapi kayanya operasi lu kurang sempurna deh. Lihat tuh lipatan mata kirinya kelihatan jelas ada kerutan, eh astagaa.... Hi-hidung lu kok bengkok ya? Apa karena efek di tampar Tunangan sohib gue tuh?" ucap Manda yang sedari tadi diam.


Mendengar ucapan Manda, Megan panik. Ia kemudian berbalik pergi dan menutupi wajahnya.


"Ehh mbak, jangan lupa bayar dulu makanannya kalau balik!!!" teriak Manda.


"Ha-ha-ha...." semua orang tergelak mendengar ucapan Manda dan tingkah Megan yang langsung bergegas pergi sembari menutupi wajahnya.


Sudah jelas mereka paham, jika yang di ucapkan Manda benar adanya. Mereka juga menghujat Megan yang memutar balikan fakta. Bahwasannya dia menuduh Dara oplas, namun ternyata dirinya sendiri yang melakukannya.


....


Dara kembali ke meja makan, makanan lezat sudah di hidangkan di atas meja. Mereka berlima pun makan dengan tenang, namun tidak dengan Kai.


Kai menatap Dara yang sejak tadi seperti tidak ingin bicara dengannya, bahkan saat Kai menawarkan makanan Dara mengabaikannya.


Rafael dan Nathan saling senggol dan beradu pandangan satu sama lain. Seakan telepati mengenai Kai yang sedang misuh-misuh karena di cueki oleh Dara.


Selesai makan, Dara pamit pulang pada Manda. Tentu saja Kai mengikuti Dara ke parkiran, ia mengambil alih kunci motor Dara dan menarik tunangannya itu pergi.


Dara menolaknya namun Kai memaksa untuk mengendarai Motor Dara dan mengangkat gadisnya itu duduk di jok belakang.


Sepanjang jalan Dara hanya diam, sebenarnya ia tidak marah pada Kai. Hanya saja ia sedikit merasa kesal, karena Kai belum menceritakan tentang si Megalodon itu.


Seseorang tidak mungkin mengklaim Kai sebagai pacarnya, bahkan terlihat begitu tidak tahu malu mengaku di depan umum. Jika tidak ada sebabnya. Entah sebab itu datang karena tingkat kehaluan seseorang ataupun faktor lain yang datangnya dari pihak Kai.


Dara juga harus memberikan pelajaran pada Kai, agar dia bisa bersikap tegas pada bibit-bibit pelakor di sekitarnya dan tidak memberikan harapan pada seseorang.


....


Kai mengendarai motor milik Dara membelah jalanan ibukota dan berhenti di area parkir sebuah kawasan apartemen mewah di jantung pusat ibukota.


Kai menarik lembut Dara masuk ke dalam lift dan meletakan kartu akses miliknya yang secara otomatis langsung naik ke lantai tertinggi di mana penthouse miliknya berada.


Setelah sampai di penthouse, Kai langsung menarik Dara untuk duduk di sofa. Sedangkan dirinya berlutut sembari memegang tangan Dara.


"Sayang, jangan diamkan aku seperti ini. Aku minta maaf atas kejadian tadi. Sungguh aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Megan" ucap Kai


"Sayang, tolong katakan sesuatu. Maki aku atau pukul aku, tapi jangan diamkan aku. Kamu tahukan aku sangat mencintai kamu, hanya kamu satu-satunya perempuan di hati dan hidupku" ucap Kai lagi saat melihat Dara tetap diam


"Jelaskan!" ucap Dara


Kai yang mendengar itu pun mengangguk, ia pun mulai menjelaskan semuanya pada Dara tentang siapa Megan.


"Namanya Megan Ditya Joice, dulunya dia adalah teman kecilku sama seperti Rafael dan Nathan, karena rumahnya saat itu dekat dengan rumah lama orang tuaku. Dulu masa kecil aku sama seperti anak-anak lain yang suka bermain dengan teman-teman seusianya.


Aku belum mengatakan jika aku berubah dingin sejak aku berusia 10 tahun, sejak tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa mama. Sejak saat itu aku menghindar dari yang namanya perempuan.


Megan menjadi terobsesi padaku mungkin karena salahku juga, ia mengingat ucapanku saat masih masa TK dulu saat kita bermain. Di mana saat itu aku mengucapkan akan menikahinya di masa depan, tapi aku mengatakan itu karena bermain pasang-pasangan bukan karena benar-benar menginginkan hal itu. Di sana juga ada Rafael, Nathan dan dua teman di TK lainnya yang melakukan permainan yang sama denganku. Aku nggak menyangka ia akan mengingat ucapanku saat itu.


Lima tahun lalu ia pernah menyelamatkan aku saat hampir tertabrak. Sejak saat itu aku yang tidak pernah dekat dengan wanita, membiarkan dia berada di dekatku selain Alice dan saudara perempuan ku yang lain. Meskipun aku tidak pernah menggubris keberadaannya apalagi menyentuhnya, aku tidak pernah. Dari sana dia semakin terobsesi dan berpikir aku menerimanya dan memperlakukan nya secara berbeda.


Sampai akhirnya dua tahun lalu, ia berani menjebakku dengan menaruh obat di minumanku saat aku dan yang lain selesai bertugas dan berkumpul. Untungnya Nathan mengetahui siasat liciknya itu dan mengagalkannya bersama Rafael dan Alice. Aku yang saat itu tahu tentu saja marah dan Megan ke luar negeri sehari setelahnya dan tidak pernah ada kabar. Aku baru melihat dia lagi hari ini" ucap Kai.


Dara menghela nafasnya mendengar cerita itu.


"Sayang, maafkan aku. Dulu aku yang membuatnya berpikir jika dia di perlakukan secara beda olehku saat aku menghindar dari semua wanita" ucap Kai


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?Aku lihat dia tidak akan berhenti untuk miliki kamu, aku tidak tahu hal gila apa yang akan dia lakukan untuk mewujudkan obsesinya terhadap kamu" ucap Dara


Kai menggeram tangan Dara lebih erat, ia benar-benar takut. Kesalahan sikapnya dulu berimbas pada hubungannya dengan Dara. Dia juga tahu Megan adalah orang yang sangat nekat.


"Aku akan mengurusnya, aku tidak akan membiarkan dia menyakiti kamu atau melakukan hal buruk padamu. Jika dia berani menyentuhmu sedikit saja, bahkan sehelai rambut kamu atau melakukan serangan secara verbal. Aku pastikan akan menghukumnya dan mengirimnya kembali Keluar negeri dan tidak akan bisa menginjakkan kakinya ke negara ini lagi" ucap Kai


"Hmm, kalau dia berani macam-macam denganku apa tidak apa aku membalasnya dengan caraku sendiri?" tanya Dara


"Tentu, aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Kecuali kau memintaku pergi aku akan tidak masalah" ucap Kai


"Meskipun aku melenyapkan nyawanya?" tanya Dara


"Lakukan semaumu, kalau perlu biar aku yang membunuhnya jika itu membuat kamu lega. Aku tidak peduli dengan wanita lain, yang aku pedulikan adalah kamu. Jadi kau mau kan maafkan aku?" ucap Kai.


"Hmm, tapi tepati ucapanmu yang barusan" ucap Dara mengangguk


"Tentu sayang" ucap Kai tersenyum mendengar Gadisnya tidak lagi marah padanya.


...•••••••...