
Ibukota.
Samuel menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sendunya. Tangan kanannya memegang dadanya yang terasa sakit.
Pagi tadi ia tidak bersemangat saat tidak menemukan Dara di kampus, ia bertanya pada Cindy yang kebetulan lewat di lorong. Ia mengetahui jika Dara cuti selama seminggu karena ada urusan keluarga dan sudah empat hari tidak masuk.
Bayangan Dara di peluk dan cium keningnya oleh laki-laki tampan di gerbang sekolah menyakitinya. Namun hatinya lebih sakit dan patah kala ayahnya mengatakan jika lusa ia dan keluarganya akan ke kota S.
Awalnya ia cuek mendengar itu, karena sudah biasa dirinya dan keluarganya datang ke acara-acara tertentu. Tapi Tuan Emir, ayah dari Samuel mengatakan jika mereka akan menghadiri pertunangan penyelamat Keluarga mereka yang tak lain Dara.
Bak di sambar petir kala mendengar berita itu. Rasa sesak mulai menyelimuti hatinya, seketika pasokan udara menipis hingga nyaris sulit untuk bernafas. Samuel berusaha untuk tidak menunjukan emosinya dan sakit hatinya di depan kedua orang tuanya.
"Aku terlambat, bodoh kau Sam.... Padahal kau memiliki kesempatan yang sangat banyak, namun kau terlalu pengecut untuk mengutarakannya. Lihat sekarang! Gadis yang kamu cintai akan bertunangan dengan orang lain" ucap Samuel bergetar dan tertawa miris..
Ia kemudian menatap undangan berwarna putih dan silver yang tak lain undangan pertunangan Dara dan Kai.
Tertera di sana nama lengkap Dara dan Kai membuat Samuel menghela nafasnya kembali.
"Aku bahkan tidak tahu kalau kamu adalah anak dan cucu perempuan satu-satunya di keluarga Adi Raharjo. Ayah tidak pernah mengatakan kalau kamu adalah bagian dari keluarga besar itu, haaaahhh. Belum cukup hatiku patah dan terkejut karena tahu kau akan di miliki oleh tuan muda Keluarga Narendra itu. Sekarang aku merasa sangat bodoh dan juga terlalu berani menyukai seseorang yang bahkan derajatnya lebih tinggi dariku" gumam Samuel lagi.
"Apa sekarang aku harus mundur? Apa aku sudah tidak memiliki kesempatan? Dara, kau adalah cinta pertamaku juga orang pertama yang membuat patah hatiku, bahkan sebelum sempat aku mengungkapkan perasaanku padamu. Aku menyesal tidak berani mengatakannya lebih awal" ucap Samuel, penyesalan memenuhi hatinya.
.....
Dara kini tengah makan siang bersama bersama dengan Flo, Ellena dan Alden, Adik dari Ellena yang menjadi Direktur atau pemimpin Prayoga Hospital yang tiba-tiba menelepon Ellena dan mendesaknya untuk segera bertemu Dara.
"Bagaimana sayang, apa kamu mau menolong Om kamu?" tanya Ellena
"Dara, maafkan Om kerena di pertemuan pertama kita justru dengan tidak tahu malunya Om meminta bantuan kamu. Tapi Om tidak punya pilihan lain, karena Om sendiri sudah hampir menyerah dan tidak memiliki pilihan lain. Om sedih karena pasien ini adalah anak dari sahabat Om, tapi Om ingat ucapan Kak El kalau putrinya adalah jenius kedokteran yang bahkan bisa menyembuhkan Tuan besar Gusti. Jadi Om memiliki harapan yang besar padamu" ucap Alden.
"Baiklah, antar setelah makan aku akan ke sana" ucap Dara
Hal itu membuat binar harapan di mata Alden.
"Terimakasih" ucap Alden tulus
"Aku bahkan belum mulai mengobatinya om, berhasil atau tidaknya tidak tahu. Eh Om udah terimakasih aja" ucap Dara tersenyum
"Tetap saja om berterimakasih terlepas nanti bagaimana hasilnya" ucap Alden
"Om, apa Koas Dara di Prayoga Hospital ada hubungannya dengan kalian berdua?" tanya Dara.
Mendengar pertanyaan itu Ellena tampak gelisah dan tersenyum kikuk ke arah Dara. Sedangkan Alden hanya terkekeh melihat kakaknya sudah gelisah duluan karena niatnya sudah terbaca oleh Dara.
"Ya, itu permintaan dari mama kamu, tapi Om pribadi juga tidak ingin kehilangan dokter berbakat. Jadi om setuju untuk permintaan kak El" ucap Alden jujur
"Om percaya dengan kak Ellena, meskipun Kakakku ini tidak mau jadi dokter dan tidak mau ikut campur mengurus perusahaan keluarga. Tapi Kakak adalah orang yang paling peka, pintar dan instingnya jarang meleset. Apalagi om dengar kamu yang menyelamatkan tuan besar Rukmana di ibukota, menyembuhkan tuan besar Gusti dan melihat perubahan kakak setelah meminum pil darimu yang mengubahnya menjadi muda lagi. Om percaya jika ucapan kakak El tentang kamu adalah benar adanya" Ucap Alden panjang kali lebar, Dara hanya mengangguk paham.
"Mama nggak mau jelasin apa-apa gitu?" tanya Dara menoleh ke arah mama-nya itu.
"He-He, maaf sayang. Mama ambil keputusan sepihak tanpa memberitahu kamu sebelumnya. Mama hanya ingin dekat dengan kamu, dan merawat kamu dari dekat. Apalagi kamu sebentar lagi mau menikah, yang artinya tanggung jawabnya sudah berbeda. Karena setelah menikah, kamu akan jadi tanggung jawab Kai. Jadi sebelum kamu nikah mau puas-puasin sama kamu. Mama juga pengennya Dimas di sini, tapi dia masih sekolah dan tidak mau pindah ke sini" ucap Ellena.
"Dara ngerti, makasih atas perhatian mama dan semuanya. Setelah nikah, Dara masih tetep anak mama dan papa. Dara janji nanti luangkan waktu untuk bertemu kalian" ucap Dara sembari tersenyum.
Dara memahami jika Keluarga nya masih menyimpan sedikit penyesalan karena terlambat menemukan Dara dan Dimas. Jadi saat ini mereka ingin melimpahkan banyak kasih sayang pada dia dan adiknya itu.
....
Selesai makan siang, mereka berempat langsung bergegas ke rumah sakit. Dan hanya butuh 10 menit untuk sampai dari restoran.
Ini kali kedua Dara ke Prayoga Hospital, sebelumnya ia datang untuk melakukan test DNA. Dan sebentar lagi ia akan koas di rumah sakit ini selama tiga bulan.
Alden menjadi petunjuk dan berjalan di depan, mereka masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai 7 tempat di mana ruangan VVIP berada.
Di depan sebuah ruangan VVIP 2 ada dua orang berbadan tinggi besar berjaga dan mempersilahkan Mereka untuk masuk karena mengenali Alden.
"Alden..." ucap seorang pria paruh baya menyapa Alden yang tengah duduk dengan seorang wanita paruh baya. Keduanya menjaga seorang gadis cantik yang tertidur dengan peralatan medis menempel di tubuhnya.
"Erwin, Putri... Aku punya kabar baik, aku bawa dokter yang kemungkinan besar bisa mengobati kaki putri mu tanpa harus di amputasi" ucap Alden tersenyum
"Benarkah? Mana dokter itu Al?" tanya Putri dengan berbinar bahagia dan juga bersemangat.
"Ini, perkenalkan namanya Dokter Addara" ucap Alden.
Kedua pasangan paruh baya itu terkejut melihat Dara yang sangat cantik dan juga masih sangat muda itu. Mereka terbengong sejenak sebelum kesadaran keduanya kembali.
"Ka-kamu yakin? Dokter ini terlalu muda bukan?" ucap Erwin ragu.
"Ya aku yakin, jadi biarkan Dokter Addara mencoba mengobati Lisha" ucap Alden.
"Al, putriku bukan bahan uji coba" ucap Erwin marah karena merasa di bodohi. Bagaimana mungkin Dokter muda lebih hebat di bandingkan Alden yang notabene dokter terkemuka di rumah sakit dan juga negara ini.
"Win, Dengarkan aku...." ucap Alden terpotong.
"Biarkan Putriku mengobati putrimu Erwin, aku yang akan jadi jaminannya. Itu pun kalau kamu bersedia, aku juga tidak akan memaksa kamu mengizinkannya dan saat itu pula, kamu harus mengikhlaskan kedua kaki putri mu harus di amputasi, karena dokter terbaik di sini semuanya angkat tangan dengan kondisinya yang perlu secepatnya di tangani. Karena kondisinya saat ini sangat membahayakan nyawa putrimu" ucap Ellena yang ada di belakang Dara.
"Kak El-Ellena??" ucap Erwin membelakan matanya menatap Ellena, bukan hanya Erwin tapi juga Putri. Mereka mengucek kedua matanya tidak percaya jika di depan keduanya adalah kakak dari sahabat mereka.
...•••••••••...