
Sesampainya di apartemen milik Kai, Dara langsung menggunakan formasi teleportasi menuju ke penthouse milik Kai di ibukota pusat.
Tak menunggu lama, hanya dalam waktu satu menit Dara sudah sampai di sana. Setibanya di sana Dara langsung membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan pada Flo. Setelahnya ia langsung memesan taxi online menuju ke selatan ibukota.
Meskipun raut wajahnya tenang, namun dalam hati ia masih gelisah sebelum ia melihatnya sendiri keadaan di sana.
Sejam menempuh perjalanan karena terjebak macet, Dara akhirnya sampai di sebuah apartemen di selatan ibukota dan langsung masuk.
Ting! Nong! Dara menekan bell di sama
Tak lama, keluar seorang laki-laki yang tak lain adalah Nathan.
"Di mana Manda?" tanya Dara langsung
"Ad..." ucap Nathan terpotong
"Gue di sini Ra, ayo masuk" ucap Manda dengan senyum sumringah.
Dara langsung masuk, ia langsung menarik Manda untuk duduk di sampingnya dan memeriksa denyut nadinya.
Nathan hanya diam saja melihat keduanya, ia sendiri bingung kenapa tiba-tiba Kai menyuruhnya untuk pulang dan menemani Manda sampai Dara datang.
Beruntung pagi tadi mereka sudah sampai di ibukota setelah tugas mereka di pulau NK selesai. Hanya ada dua anggota Falcon yang berjaga di sana, untuk memastikan Harun lenyap nantinya.
"Ada apa Ra? Kenapa tiba-tiba kamu datang dan memeriksa Manda? Bukankah Manda baik-baik saja" tanya Nathan heran.
"Manda akan segera melahirkan, mungkin sebentar lagi efek obat yang aku berikan padanya akan menghilang dan perut Manda akan kembali terlihat seperti orang hamil pada umumnya" ucap Dara menghela nafas.
Untung saja dirinya tepat waktu untuk datang, setidaknya efek obat itu akan menghilang dalam satu jam ke depan, jadi ia masih sempat untuk membuat Barier di sekeliling apartement untuk mencegah yang tidak di inginkan terjadi. Setidaknya keberadaan bayi langit tidak akan terdeteksi oleh orang luar.
"Gue akan melahirkan sekarang Ra?" tanya Manda terkejut. Sama dengan Nathan yang juga terkejut mendengarnya.
"Hmm, lebih baik kamu pakai pakaian ibu hamil atau daster sekarang, kemungkinan sejam lagi perutmu akan terlihat. Jangan panik, aku ada di sini dan aku akan membantu sampai bayinya lahir" ucap Dara
"Kalau gitu gue ganti baju sekarang!" ucap Manda kemudian berdiri dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
"Ak-aku harus apa Ra? Apa yang harus aku siapin? Katakan aja apa yang di butuhkan, aku akan segera menyiapkannya" ucap Nathan sedikit panik dan sudah siap siaga saat mendengar calon istrinya itu akan melahirkan.
"Tidak perlu Nath, aku sudah siapin semuanya. Aku hanya minta kamu temani Manda saat proses melahirkan, apa kau keberatan?" ucap Dara
"Tentu saja aku tidak keberatan, Ini momen di mana anakku akan lahir ke dunia dan ibu dari anak-anakku sedang berjuang untuk hidup anak kami. Tentu saja aku harus berada di sampingnya" ucap Nathan dengan sungguh-sungguh.
Dara yang mendengarnya tersenyum, ia bersyukur Manda mendapatkan orang yang tepat dan menerima keadaan Manda apa adanya.
"Kai kemana?" tanya Dara yang tidak melihat adanya Kai.
"Masih di markas, tadi ada kunjungan presiden dan semua pejabat tinggi di kemiliteran sedang ada rapat untuk membahas sesuatu. Kata Kai ia akan menyusul kesini setelah rapatnya selesai" ucap Nathan.
Dara mengangguk dan tersenyum.
"Aku harus melakukan sesuatu, kamu tunggu Manda di sini dan jangan biarkan ia keluar dari apartemen karena di luar rawan" ucap Dara
"Apa tidak sebaiknya Manda di bawa ke rumah sakit?" tanya Nathan.
"Itu terlalu riskan, kandungan Manda hanya aku yang mengetahuinya. Tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kau percaya padaku bukan?" tanya Dara
Nathan hanya mengangguk, ia tentu saja percaya dengan kemampuan medis Dara. Ia pun kini duduk di sofa menunggu Manda keluar kamar. Sedangkan Dara, ia langsung menuju ke setiap sudut apartement untuk membuat Barier pelindung.
....
Satu jam setelahnya, kandungan Manda benar-benar terlihat, hal itu membuat Nathan terkejut dan menatap tidak percaya. Bagaimana pun itu kejadian di luar nalar, namun ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Tepat pukul delapan malam, Manda sudah mulai merasakan kontraksi di perutnya. Setidaknya itu terjadi selama empat jam penuh, dan tepat saat tengah malam pukul nol-nol dini hari, Manda pun melahirkan.
Cuaca yang tadinya terang bulan karena sedang bulan purnama. Tiba-tiba saja menjadi gelap, angin bertiup dengan sangat kencang.
Bahkan beberapa kali kilat terlihat dan gemuruh besar terdengar namun tidak ada hujan, seperti langit sendiri yang tengah merasakan sakit seperti orang melahirkan dan berjuang.
Dara di bantu Kai dan Flo yang memang sudah datang sejak pukul tujuh malam, membantunya untuk menangkal setiap kekuatan jahat yang mencoba mendekat.
Untung saja Barier yang di buat oleh Dara adalah formasi yang sangat kuat tingkat tujuh. Yang mana, di dunia ini sendiri belum ada ahli formasi, setidaknya itu yang Dara tahu.
Meskipun memang keberadaan Bayi yang akan lahir tidak bisa terdeteksi, namun semua kultivator baik ataupun jahat bisa merasakan hal aneh yang terjadi secara tiba-tiba.
Pastinya mereka akan mencoba menyelidiki tentang sebab fenomena alam yang terjadi itu. Bisa juga ada yang mengetahui tentang apa itu bayi langit.
"Aaaaakkhhhh,,, sakiiittt... Nathh sakiiit banget..." ucap lirih Manda menahan rasa sakitnya kontraksi.
"Aku tahu sayang, kamu pasti bisa, kamu pasti kuat! Aku mencintaimu dan anak kita, terus berjuang sayang" ucap Nathan terus memberikan semangat dengan menggenggam dan menyeka keringat di wajah Manda dan sesekali mencium kening calon istrinya itu.
Dara dengan tenang mengecek pembukaan jalan lahir, saat melihat sudah waktunya ia pun mendongak menatap kedua pasangan itu.
"Sudah waktunya, Manda, ikuti kata-kata ku. Coba untuk tenang dan tarik nafas perlahan. Setelah hitungan ketiga coba untuk mengejan" ucap Dara yang di angguki oleh Manda.
"Sekarang tarik nafas.... Satu... dua... tiga..." ucap Dara
"Heeeegggggghhh....!!!!" Manda mengejan sekuat tenaga. Sedangkan Nathan terus menyemangatinya di sampingnya, ia terlihat kuat meskipun sebenarnya kakinya tidak berhenti gemetar.
"Ooooaaaaaaaaaa....!!!!!" Tepat pukul 00.00 WIB, Bayi merah dengan sinar putih kebiruan lahir.
Dara tersenyum sembari menggendongnya dan mengusap kepalanya dengan Batu yang ia dapatkan dari Sanjaya dengan lembut, sembari mengucapkan beberapa kata yang tidak di mengerti.
Cahaya berwarna putih kebiruan itu lenyap masuk ke dahi sang bayi merah itu.
Manda yang baru saja melahirkan tidak menyadari adanya cahaya yang nampak, sedangkan Nathan hanya sekilas saja melihatnya.
"Maaf tadi batu milikku menyala, apa sangat menyilaukan?" ucap Dara menunjukkan Batu miliknya.
Tentu saja Dara berbohong, batu itu tidak menyala tapi yang bercahaya tadi adalah bayinya. Hanya saja batu itu ikut menyala sejenak setelah cahaya di bayi menghilang.
Sebenarnya batu itu memiliki fungsi sebagai segel, Dara tidak menyangka saat ini masih ada batu hijau kebiruan itu di dunia ini. Yang dia tidak sengaja melihatnya saat menyelamatkan Dharma dan menjadi miliknya saat ini.
Dara juga memilikinya di ruang dimensi miliknya, hanya saja yang ia miliki memiliki reaksi yang cukup kuat karena terlalu lama berada di tempat yang memiliki energi besar.
Rencananya Dara ingin menempa terlebih dulu batu miliknya dan menyesuaikan energi di dalamnya, namun ia justru beruntung mendapatkan batu lain dari Sanjaya. Dari segi ukuran dan energi yang terkandung di dalamnya sudah pas dan sesuai seperti yang di butuhkan.
"Batu apa itu Ra?" tanya Nathan percaya ucapan Dara, karena ia sempat melihat sendiri batu itu menyala.
"Batu Alam, ini akan bercahaya saat terkena air. Tadi tidak sengaja terpercih dari baskom" ucap Dara berbohong sembari menunjuk ke arah baskom stainless di sana.
Nathan mengangguk, setelahnya Dara meminta izin membersihkan Bayi setelah lebih dulu membersihkan milik Manda hingga bersih.
Setelah selesai memandikan bayi itu, Dara memberikannya pada Manda untuk di berikan Kolostrum.
Kolostrum merupakan cairan yang pertama dikeluarkan oleh kelenjar payudara pada hari pertama hingga hari ke 3-5 setelah persalinan.
"Apa sudah terpikirkan nama untuk bayi kalian?" tanya Kai yang sudah berada di sana setelah proses lahiran selesai, terlihat Manda masih lelah dan berbaring di ranjang.
Manda dan Nathan yang mendengar itu pun saling pandang.
"Kami sudah sepakat memberikan kalian hak sepenuhnya. Termasuk memberikan nama, merawat dan juga mendidiknya" ucap Manda tersenyum.
"Jadi aku yang memberikan nama?" ucap Dara terkejut dan di jawab anggukan kepala Manda dan Nathan.
Dara pun memikirkan sesuatu, nama apa yang kira-kira cocok untuk bayi itu, kemudian ia tersenyum.
"Bagaimana kalau... Dana Langit, Dana di ambil dari penggalan nama ManDA dan NAthan yang juga memiliki arti Mutiara yang indah dan juga memiliki arti bijaksana" ucap Dara
"Nama yang bagus" ucap Manda dan Nathan mengangguk
"Karena dia akan menjadi anakku kelak, bolehkah menggunakan margaku di namanya?" tanya Kai
"Apa tidak masalah Kai, bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka setuju?" tanya Nathan.
"Mereka tidak keberatan, aku sudah membicarakan dengan papa dan Opah, jika aku dan Dara akan mengadopsi seorang anak setelah menikah dan mereka tidak keberatan" ucap Kai
Semuanya pun sepakat jika nama bayi itu adalah Dana Langit Narendra.
...•••••••...