
Keesokan harinya, Dara sudah siap berangkat ke hotel. Peresmiannya akan di mulai pukul 9 pagi, sedangkan sekarang masih jam setengah 8.
Theo dan Ferdi sudah berada di bawah menunggu Dara turun, keduanya sudah sangat rapih dengan pakaian formal mereka. Paras Theo ataupun Ferdi sangat tampan, dua-duanya masih sangat muda. Theo berusia 24 tahun dan Ferdi 26 tahun dan keudanya masih single.
Mereka berencana berangkat bersama-sama ke Hotel. Dara turun beberapa menit kemudian, lalu mereka langsung berangkat setelah bertegur sapa sebentar.
Dara menggunakan Lamborghini Veneno miliknya sedangkan Ferdi menaiki Maserati milik Theo. Sebenarnya Ferdi sudah membeli BMW X7, itu merupakan fasilitas yang di berikan oleh Dara untuk asistennya itu.
Tapi Ferdi memilih untuk berangkat bersama Theo, karena mengantisipasi Dara yang memintanya menjadi supir.
Kedua mobil itu langsung masuk ke parkiran bawah tanah dan berhenti di area parkir khusus pemilik Hotel. Di sana ada lift yang langsung naik ke lantai teratas gedung, di mana itu adalah kantor management hotel. Jadi mereka tidak melalui pintu masuk utama atau lobby.
"Nona, apa anda ingin turun sekarang, sebentar lagi acaranya akan di mulai?" tanya Ferdi saat melihat waktu sudah menunjukan setengah 9.
"Ya, nanti di bawah kamu fokus sebagai wakilku untuk peresmian, biar aku bersama Theo memantau saja dari kejauhan" ucap Dara
"Baik nona" ucap Ferdi.
"Oh iya Theo, kamu pantau setiap orang yang datang, jika menemukan sesuatu yang mencurigakan beritahu padaku. Ah, pantau juga pergerakan dari orang-orang Hotel Jolie. Aku tidak mau mereka membuat ulah karena aku merekrut Lukman sekarang" ucap Dara
"Baik bos, serahkan semuanya padaku" ucap Theo.
"Ya sudah, aku dan Theo turun menggunakan lift karyawan. Kamu bisa menggunakan lift satunya lagi Ferdi" ucap Dara lagi
"Siap" jawab Ferdi.
Mereka bertiga kemudian berpisah untuk turun dengan menggunakan lift yang berbeda.
Ferdi sampai sana lebih dulu karena ia menggunakan lift khusus, semua tamu datang pada nya untuk memberikan selamat atas peresmian hotel.
Sedangkan Dara keluar dengan lift karyawan ia tidak menarik perhatian karena langsung duduk di bangku yang sedikit jauh. Namun perhatian itu tidak bisa ia hindari sampai Emir datang menemuinya.
"Hai nona Dara" ucap Emir menyapa Dara dengan sopan.
Kedatangan Emir saja sudah membuat heboh, yang membuat mereka menebak-nebak jika Star Hotel mempunyai koneksi dengan keluarga Rukmana.
Apalagi sekarang mereka melihat seorang Emir datang menyapa seorang gadis dengan sangat sopan. Hal itu membuat semua tamu yang ada di sana terkejut, dan menebak-nebak siapa sebenarnya identitas Dara.
"Hai tuan Emir" balas Dara dengan sopan.
"Nona sel..." ucap Emir terpotong.
"Maaf tuan, jangan buka identitasku sebagai pemilik Hotel. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian di sini" bisik Dara pelan dan hanya terdengar oleh keduanya.
"Ah baik, maaf saya tidak tahu" ucap Emir canggung.
Beberapa saat kemudian, pihak perwakilan dari Keluarga Rudianto yakni Yogi, Carmila sebagai pemilik Red Jewelry dan juga Lucas yang datang bersama dengan Feli untuk mengucapkan selamat pada Ferdi. Setelahnya mereka menyapa Dara.
Satu hal yang membuat orang heboh, yakni kedatangan Adnan dan juga Ellena dari kota S. Tentu saja semua orang tahu jika keluarga Adi Raharjo sama artinya seperti ketiga keluarga besar di ibukota.
"Dara..." sapa Ellena memeluk keponakan yang sudah ia anggap putrinya itu.
Meskipun semua tamu tidak mendengarnya karena jarak mereka jauh. Tapi Emir dan Carmila beserta suaminya mendengarnya dengan jelas karena jarak mereka dekat
Mereka bertiga terkejut saat Dara memanggil orang nomor satu di kota S itu mama dan papa. Yang artinya Dara merupakan putri keluarga Adi Raharjo yang terhormat.
"Tentu saja untuk mengucapkan selamat pada putri kami, tadinya kakekmu ingin ikut. Tapi karena ada sesuatu yang harus di urus di kota S, mama dan papa yang mewakili datang ke sini. Sedangkan kedua kakakmu sedang sibuk dan tidak bisa ikut juga" ucap Adnan.
"Hmm makasih mah, pah, tapi jangan bongkar identitasku sebagai bagian keluarga kalian dan pemilik hotel ya. Dara nggak mau membuat perhatian dan kehebohan" ucap Dara
"Baiklah" ucap Adnan mengusap kepala putrinya itu.
Semua orang tertegun melihat begitu perhatiannya orang terkaya di kota S itu pada seorang gadis di sana. Meskipun mereka tidak mendengar apa yang di bicarakan, tapi mereka menebak jika kemungkinan Dara bukan hanya memiliki hubungan dengan keluarga Rukmana. Tapi juga merupakan kerabat dari keluarga terbesar dan terkaya di kota S itu.
....
Setelah peresmian Star Hotel yang Dara mengajak orang yang di kenalnya untuk makan di ruangan VIP pribadi hotel. Total sembilan orang duduk melingkar di sana.
Selain dirinya, ada Ferdi, Theo, Adnan, Ellena, Lukman, Emir, Lucas dan Feli. Semuanya selain Ferdi merasa canggung karena duduk bersama dengan keluarga Adi Raharjo yang setara dengan tiga keluarga besar di Ibukota.
"Ah ia mmm tuan Adi Raharjo dan nyonya Adi Raharjo kenalin ini Theo, dia tangan kanan ku selain Ferdi. Yang ini tuan Emir kepala keluarga Rukmana, Yang ini Carmila sahabatku dan sebelahnya suaminya Tuan Yogi, Yang itu Lucas CEO A.A Entertainment, itu Feli adalah artis di A.A Entertainment yang juga temanku, dan ini Lukman General manager di Star Hotel" ucap Dara memperkenalkan semuanya.
"Hallo semuanya salam kenal, terimakasih sudah menjaga putriku selama ia jauh dari keluarga" ucap Ellena. Mengakui Dara sebagai putrinya di depan orang yang sudah dekat dengan Dara.
"Salam kenal semua, saya Adnan papa-nya Dara" ucap Adnan.
Dara menggaruk pipinya, ia bingung menjelaskan kalau dia hanya ponakan dari Adnan. Tapi ia juga tidak mungkin bisa menceritakan itu di depan orang lain yang akan menyakiti hati keduanya.
Semua orang tahu kalau keluarga Adi Raharjo hanya memiliki dua laki-laki sebagai generasi penerusnya. Tapi mereka tidak berani menanyakan hal itu.
"Salam kenal tuan dan nyonya Adi Raharjo, maaf ketidaktahuan saja jika Nona Dara adalah anggota keluarga Adi Raharjo. Tapi kami keluarga Rukmana sudah menganggap Nona Dara sebagai penyelamat dan dermawan keluarga kami" ucap Emir
"Apa yang sudah di lakukan putri kami sampai mendapat kehormatan seperti itu tuan Rukmana?" tanya Adnan penasaran
"Nona Dara sudah menyelamatkan ayahku yang saat itu tengah sekarat dengan obat buatannya lewat bantuan nyonya Rudianto" ucap Emir.
"Ah seperti itu, memang putri kami sangat berbakat dengan ilmu medisnya ha-ha. Dia kebanggaan keluarga kami" ucap Adnan bangga dengan Dara.
"Tapi maaf tuan, anda benar orang tua nona Dara?" tanya Emir sedikit gugup, ia sangat penasaran dengan itu.
"Ah itu..." Adnan menoleh ke arah Dara, Dara hanya tersenyum dan mengangguk ringan.
"Dara adalah keponakanku, dia anak dari mendiang adik perempuanku. Aku dan istriku sudah menganggapnya dan juga adik laki-laki Dara seperti anak kandung. Kami menyayangi mereka berdua, keduanya adalah harta paling berharga di keluarga Adi Raharjo" ucap Adnan
Keadaan hening, meskipun Dara bukan anak dari Adnan dan Ellena. Tapi Dara tetap cucu perempuan satu-satunya dari keluarga nomer satu di kota S itu, darah ningrat masih mengalir di tubuhnya. Semuanya kini tahu berasal dari mana aura bangsawan yang di keluarkan Dara.
"Sudah dulu mengobrolnya ayo silahkan di makan, nanti keburu dingin!" ucap Dara yang sudah bersiap untuk makan.
Semuanya pun makan dengan lahap, tidak ada yang bersuara saat mereka tengah makan karena itu adalah etika ketika makan.
...••••••...