The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
182. Babak pertama



"Salam Ki ageng, lama kita tidak bertemu" ucap Tirta yang membalas ucapan dari Prawoto, karena hanya dirinya yang tahu tentang orang-orang dunia kultivator di negara ini.


"Anda...." ucap Prawoto mencoba mengingat wajah Tirta yang terlihat tidak asing. Dirinya seperti pernah melihat Tirta entah di mana dan kapan.


"Anda lupa dengan saya Ki? Saya Tirta Jaya Kusuma, salah satu peserta kompetisi sepuluh tahun yang lalu" ucap Tirta dengan tersenyum


"Oh, kamu Tirta yang masuk ke semifinal? Wah sepertinya mata tuaku sudah mulai sulit melihat dengan jelas. Apa Cidera sudah sembuh?" tanya Prawoto, yang tahu jika dulu Tirta Cidera yang mungkin akan menghambat kultivasinya.


"Ya cidera saya sudah lama sembuh Ki, kalau kultivasi ku baru terbuka lagi awal tahun ini" ucap Tirta.


"Syukurlah kalau begitu. Oh iya Apa mereka rekan kamu Tirta, apa mereka bertiga ingin mengikuti kompetisi?" ucap Prawoto dengan pelan terkesan berbisik.


"Ah benar, perkenalkan Ki yang ini cucu tertua keluarga Narendra di ibukota, tuan muda Kaisar. Yang ini namanya nona Azalea dan yang ini bernama nona Puspa. Yang di bilang Ki Ageng benar, Tuan muda Kaisar dan Nona Puspa akan ikut kompetisi ini" ucap Tirta.


"Tuan muda, nona, perkenalkan ini Ki Ageng Prawoto patriak di padepokan maung sekaligus penyelenggara kompetisi tahun ini" ucap Tirta.


"Salam kenal senior" ucap Kai dan Flo bersamaan, dengan tangan mengepal di dada dan mengangguk sopan.


"Salam" ucap Dara tanpa mengucapkan embel-embel senior dan hanya mengepalkan tangan di depan tanpa menundukkan kepalanya.


"Salam kenal Senior Azalea, tuan muda Kai dan Nona Puspa" Ucap Prawoto dengan menunduk saat berhadapan dengan Dara.


"Saya lupa memperkenalkan tamu dari negara C yang akan melihat kompetisi tahun ini. Perkenalkan ini Tuan Steve dan juga Tuan Marco" ucap Prawoto lagi


"Salam kenal semua" ucap Marco dan Steve bersamaan dengan bahasa berbeda tentunya.


Steve dan Marco menundukkan kepala dengan sopan ke arah Dara. Meskipun Marco melupakan sebagian kejadian di restoran, namun ia tahu jika Dara adalah satu-satunya orang yang di hormati oleh tuan mudanya. Yang bahkan rela menggelontorkan dana yang begitu besar demi investasi di perusahaan kecil milik Dara.


Marco juga mengenali Dara yang menggunakan Cadar, karena selain wajahnya yang sebagian tertutup. Postur tubuh, suara dan aura Dara memiliki suatu khasnya sendiri.


Marco juga mengingat jika Dara Adalah kultivator saat pertemuan mereka saat itu. Yang ia lupakan hanya bagian Steve berlutut dan mengenali Dara sebagai leluhur nya.


Dara kini duduk di deretan kursi yang sama dengan Para pimpinan pondokan dan juga tamu kehormatan.


Sedangkan Tirta membawa Kai dan Puspa untuk melakukan pengecekan terakhir sebelum kompetisi. Pengecekan itu guna memastikan usia dan kekuatan peserta tidak melebihi batasan yang sudah di tentukan.


Para petinggi padepokan di seluruh negeri tidak ada yang protes mengenai tempat duduk Dara saat ini. Itu di karenakan mereka menjunjung tinggi dan menghormati yang memiliki kekuatan. Mereka bisa merasakan aura kekuatan yang sangat kuat dari dalam tubuh Dara.


Jadi alih-alih mereka membuat kerusuhan karena seseorang dari luar dan masih muda duduk sejajar dengan mereka. Mereka berbondong-bondong menjilat dan mencoba dekat dengannya, untuk membangun suatu hubungan yang bermanfaat.


.....


Kompetisi segera di mulai, pembawa acara menyampaikan peraturan kompetisi dan juga hadiah yang akan mereka dapatkan di kompetisi hari ini.


"Selamat pagi semuanya, saya tidak banyak menyampaikan beberapa aturan di kompetisi. Karena peraturan pertandingan masih sama dengan peraturan 10 tahun yang lalu. Semua peserta harus di periksa usia dan tingkat kultivasi nya.


Peserta tidak di perbolehkan menggunakan senjata fisik ke dalam arena. Peserta hanya akan menggunakan tangan kosong dan juga di perbolehkan menggunakan bentuk Qi sebagai senjata mereka.


Di larang keras untuk membunuh atau menghancurkan pusat energi lawan. Peserta akan di nyatakan kalah jika lawan menyatakan menyerah atau tidak sadarkan diri dan keluar arena" ucap pembawa acara menjelaskan peraturan di kompetisi.


Selagi lawan masih bernafas dan pusat energinya tidak hancur, itu tidak menyalahi aturan. Jadi tentu saja di kompetisi membuat lawan hampir sekarat atau cacat adalah hal yang biasa terjadi.


"Untuk hadiah, peserta yang masuk ke semifinal akan di berikan uang sebesar satu milyar. Sedangkan untuk juara pertama akan mendapatkan pil pondasi level 4, pil roh suci tingkat 3, Pil penyembuh level 3 dan juga sebuah senjata spiritual tingkat bumi level atas" ucap pembawa acara lagi, membuat semua orang kecuali Dara Dkk yang tidak tertarik dengan hadiahnya.


Bagaimana tidak? Pil buatan Dara jangan di ragukan, bahkan hampir rata-rata di level 7 ke atas. Sedangkan senjata spriritual, Dara bisa membuatnya sendiri. Malahan yang ada di level Nirvana.


....


Karena banyaknya peserta kompetisi, Peserta di bagi menjadi lima tempat dengan wasit yang berbeda di waktu yang bersamaan. Hal itu guna mempercepat memperkecil jumlah peserta.


"Peserta silahkan mengambil nomor yang sudah di acak terlebih dulu di sebelah sana. Masing masing-masing nomor mewakili tempat mana yang akan kalian tempati untuk pertandingan di putaran pertama" ucap Pembawa acara lagi.


Kai mengambil nomor yang di acak itu dan mendapatkan nomor Tiga, sedangkan Flo mendapatkan nomor Empat.


Sudah di sediakan arena luas berbentuk lingkaran total ada lima lingkaran. Dan masing-masing orang yang mengambil nomor langsung berdiri di area yang sudah terdapat nomor masing-masing di sana. Satu lingkaran terdapat sekitar 30 orang peserta.


"Pertandingan putaran pertama adalah BERTAHAN. Setiap arena kecuali nomor 5 akan di pilih tiga orang yang akan lolos ke babak selanjutnya. Kalian bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan lawan dan bertahan berdiri di arena sampai tersisa tiga orang. Sedangkan untuk di area lima akan di pilih 4 orang. Itu karena di area nomor 5 ada sekitar 40 peserta. Dengan ini saya nyatakan pertandingan di mulai!" ucap Pembawa acara.


Kai sudah berdiri di atas arena, beberapa orang memilih untuk melawan yang lemah terlebih dulu dan mengabaikan Kai yang memang ada di tingkat True Element level puncak. Selain Kai ada seorang pria lagi yang berada di tingkat yang sama namun satu level di bawahnya.


Kai yang bosan kini duduk bersila, melihat yang lain saling menyerang dan bertahan. Hal itu juga di lakukan oleh pria yang satu area dengan Kai, ia juga duduk menunggu yang lain tumbang dengan sendirinya.


Di pikiran yang lain, mustahil mengalahkan Kai dan pria itu karena tingkat mereka lebih rendah. Jadi mereka memilih untuk melawan yang lain dan berusaha menjadi peserta terakhir yang akan masuk ke babak selanjutnya.


Hal itu jauh berbeda dengan Flo, kini dirinya di serang oleh tiga orang sekaligus. Tentu saja Flo tidak diam saja dan menyerang balik.


BUAK!!!


BUAK!!!


BUAK!!!


Pukulan Flo telak mengenai ketiga lawannya yang langsung tersungkur, bahkan salah satu di antaranya terlempar keluar arena. Lawan yang lain menoleh dan tertegun melihat daya ledak Flo sangat kuat, karena yang Flo lawan adalah kultivator yang tingkat dan level yang sama dengannya.


"Si*l ternyata dia cukup kuat! Ayo kita lawan dulu dia" ucap yang lain yang kemungkinan rekan atau hanya sekedar saling kenal atau mungkin sama-sama menganggap Flo adalah lawan yang berat.


"Hiyaaa....." Empat orang langsung menyerang Flo bersamaan.


Flo dengan tenang dan sedikit menyeringai saat melihat empat orang itu menyerangnya sekaligus.


"Terlalu banyak celah!" Gumam Flo dalam Hati.


BAK! BUK! BLAM!!!


Flo memukul mereka tepat di kelemahan keempat orang itu, membuat mereka telak di kalahkan. Mereka mengerang kesakitan dan langsung menyerah saat organ dalam mereka terluka.


...••••••...