
Di negara K, tepatnya di rumah sakit tempat Megan menjalani operasi plastiknya.
"Aaaahhhhhhh!!!!!" teriak Megan saat perban di wajahnya di buka sepenuhnya dan dari cermin ia melihat pantulan wajahnya yang sekarang.
"Nona, tolong jangan berteriak, wajah anda belum pulih sepenuhnya. Itu akan merusak jaringan yang sudah di bentuk" ucap Dokter
"Bagaimana aku nggak berteriak, kenapa wajahku jadi begini??? Kamu kemanakan wajah cantikku!!! Kembalikan wajah cantikku! Kenapa wajahku jadi mengerikan seperti ini" teriak Megan lagi.
"Nona, tenanglah nona! Ini masih dalam tahap pertama operasi. Kita akan melakukan
perbaikan ulang di wajah anda, meskipun kita tidak bisa mengembalikan sepenuhnya wajah anda seperti dulu. Namun kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk di buat sama. Karena kontur wajah terutama hidung anda berubah karena insiden waktu itu" ucap Dokter dengan pelan tidak terpancing emosi yang sama dengan Megan.
"Benarkah? Lalu kapan operasi di lakukan lagi?" tanya Megan dengan tidak sabar.
"Dua Minggu lagi nona" ucap Dokter.
"Dua minggu? Itu terlalu lama, belum lagi masa pemulihan yang memakan waktu sangat lama. Aku sudah merindukan calon suamiku. Aku ingin segera bertemu dengannya, kenapa kau membuatku menunggu selama ini" ucap Megan marah..
"Tenanglah nona, jangan terlalu banyak bergerak. Wajah anda akan semakin parah nantinya. Operasi tidak bisa di lakukan dengan tergesa-gesa nona, yang ada hasilnya akan semakin buruk. Terlebih resiko melakukan operasi dalam jangka waktu berdekatan terlalu beresiko, ini menyangkut masalah nyawa" ucap Dokter
Megan terdiam memikirkan itu, Ia tahu jika resiko operasi plastik juga sangat besar. Bohong jika ia tidak merasakan sakit yang teramat sangat saat operasi di lakukan meskipun keadaannya saat itu tidak sadar.
Tapi setelahnya rasa sakit itu ia rasakan sangat menyiksa, ia kesulitan makan dan minum. Bahkan nernafasoun ia sedikit kesulitan.
Dokter yang melihat Megan diam angkat suara lagi.
"Setidaknya anda harus bersabar dan berusaha memperbaiki wajah anda sedikit demi sedikit. Kalau anda buru-buru yang ada calon suami anda tidak mengenali anda lagi sebagai calon istrinya karena banyak yang berubah di wajah anda" ucap Dokter.
"Baiklah, awas saja kalau wajahku tidak kembali menjadi cantik lagi" ucap Megan.
"Akan kami usahakan semaksimal mungkin nona" ucap Dokter mencoba menghibur Megan.
Dalam hati Dokter mengumpat Megan. Padahal dia sendiri yang membuat kondisi wajahnya menjadi tidak berbentuk itu. Namun ia tidak bisa marah-marah, karena bagaimanapun Megan adalah pasien yang harus di jaga perasaannya, agar tidak stres.
....
Di Bandara Ibukota.
Seorang gadis cantik yang memakai kacamata, dengan tubuh yang tinggi semampai bak model menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Gadis itu melewati banyak orang sembari menggeret koper berwarna biru laut itu.
Sembari berjalan gadis itu mencari seseorang dari balik kacamatanya. Bibirnya melengkungkan senyum lebarnya saat ia melihat seorang pria tampan, yang juga melambaikan tangan ke arahnya.
"Honey!!!" ucap gadis itu langsung berlari menuju pria itu dan memeluk sang pria dengan sangat erat.
"Kenapa kau berlari, Bagaimana kalau kamu sampai jatuh?" tanya sang pria, meskipun begitu ia tetap membalas pelukan hangat dari gadis di depannya.
"Aku sangat merindukanmu tau dan ini sudah tidak bisa terbendung lagi. He-He..." si gadis terkekeh.
"Dasar, apa kau sudah mengabari orang tuamu kalau kamu sudah pulang?" tanya sang pria lagi
"Belum, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dulu sebelum pulang" ucap gadis
"Kamu nakal hmm" ucap pria itu
"Hei Ferdi mahluk tuhan yang paling tampan sejagat raya, calon suami Ajeng Sri Narendra! Aku tuh nakal cuma sama kamu ya, wajar dong sama pacar sendiri. Yang penting nakalnya jangan keluar bates" ucap gadis yang tak lain adalah Ajeng itu, ia mengembung kan pipinya membuat pria yang tak lain adalah Ferdi itu gemas melihatnya dan mencubit pipinya.
"Iya deh, pacarku memang selalu benar" ucap Ferdi terkekeh.
"Kalau gitu, gass keun kita jalan-jalan ya honey. Kita ke taman bermain yuk" ucap Ajeng bergelayut manja di lengan Ferdi dan mengedipkan matanya lucu.
"Apapun untukmu tuan putri" ucap Ferdi terkekeh dan mengusap kepala Ajeng lembut.
Ya, keduanya kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Lebih tepatnya Ferdi yang luluh dan menerima perasaaan Ajeng. Ia luluh karena kesungguhan Ajeng yang begitu gigih mengejar cintanya.
Meskipun keduanya jadian lewat telepon, karena jarak mereka yang berjauhan. Namun tidak melunturkan rasa cinta di hati masing-masing.
Ferdi sudah mengatakan hubungannya itu pada Dara, Dara sendiri tidak mempermasalahkan tentang siapa pilihan orang terdekatnya yang akan di jadikan pasangan.
Ferdi mengatakan ia tidak ingin mengubah Ajeng menjadi kultivator, ia ingin Ajeng menjadi dirinya sendiri dan bahagia. Ferdi juga menanyakan pada Dara, apakah ada cara agar dirinya bisa menyesuaikan usia seperti manusia pada umumnya.
Dara mengatakan jika hanya satu cara, yakni dengan menggunakan pil perubahan. Pil itu bisa membuat kultivator yang mengkonsumsinya menyesuaikan penampilannya seperti penampilan manusia pada umumnya. Termasuk perubahan kulit seperti penuaan dan garis keriput yang umum terjadi di masyarakat.
Hanya saja pil ini memiliki jangka waktu penggunaan, yakni sekali minum reaksinya bertahan sampai tiga bulan lamanya. Yang artinya Ferdi harus meminum pil itu setiap tiga bulan sekali.
Ferdi tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting ia bisa menikmati hidup bersama dengan Ajeng dan menua bersama. Hanya saja ia belum mengatakan hal yang sebenarnya jika ia adalah seorang kultivator.
Dada juga sudah memberikan saran agar ia jujur pada Ajeng, karena hubungan yang bertahan lama itu adalah hubungan yang tidak di dasari dengan kebohongan.
....
Seorang pria tampan dengan wajah khas oriental terlihat tengah mengancing kemeja putih yang ia pakai. Pria itu berhenti mengancing bagian atas bajunya dan melihat ke arah dadanya, yang kini sudah tidak ada lagi bekas jahitan pasca operasi yang baru kemarin di jalaninya itu karena salah diagnosis.
Pria yang tak lain adalah diplomat muda bernama Richie Uchiha. Yang juga merupakan seorang pewaris tunggal perusahaan terbesar di negara J, Uchiha Group.
Perusahan Uchiha masuk ke dalam lima besar perusahan terbesar di benua itu. Sama seperti halnya Narendra Corporation dan juga A.R Corporation.
Richie masih berada di rumah sakit dan menginap semalam di sana, rencananya siang ini dia akan kembali ke hotel tempat ia menginap. Karena ia merasa dirinya sudah sembuh dan bisa beraktivitas kembali. Mengingat adanya pertemuan dengan presiden di kunjungan acaranya di kota S, dan bertemu dengan para Elite negara ini.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" ucap Richie.
"Permisi tuan muda, maaf menganggu waktu anda" ucap seseorang yang berwajah sama orientalnya seperti Richie yang bernama Alex, yang juga merupakan asisten Richie saat di negara sakura itu.
"Kami sudah menyelidikinya tuan muda, Braco ternyata mata-mata yang di kirim George. Ia juga yang menyuap pelayan restoran untuk menaruh racun arsenik di minuman anda" ucap Alex.
"Sudah mulai berani dia rupanya" ucap Richie yang kini duduk di sofa ruangan rawat inap VVIP dan mengetuk ujung kursi itu dengan jemarinya.p
"Siapa yang melaporkan Braco ke polisi?" tanya Richie lagi.
"Tuan Yama yang melaporkannya tuan muda, menurut keterangan Tuan Yama. Dokter yang berhasil menyelamatkan Anda keluar dari ruangan anda setelah menyelamatkan anda. Saat itu ia langsung menerjang Braco hingga Braco terhempas dengan keras. Ia mengatakan jika tuan muda di racuni dan meminta untuk melaporkan Braco ke kantor polisi karena ia adalah orang yang meracuni Anda. Dan ternyata setelah penyelidikan yang kami lakukan, hal itu benar adanya. Braco memang pelakunya" ucap Alex.
"Siapa dokter itu?" tanya Richie penasaran.
Saat ia sadar, ia tidak melihat begitu jelas siapa dokter yang telah menolongnya. Pandangannya buram menghalangi penglihatannya, Apalagi dokter itu mengenakan masker hingga ia tidak tahu rupa dari penyelamatnya itu.
"Dokter itu bernama Dokter Addara Azalea. Beliau Dokter umum magang di Unit Gawat Darurat. Tapi menurut Dokter Kepala, Dokter Dara adalah dokter terbaik di rumah sakitnya dan mendapat julukan sebagai Dokter ajaib" ucap Alex.
"Dokter magang? Dokter ajaib?" ucap Richie mengelus dagunya yang bersih tanpa adanya bulu.
"Itu benar tuan muda, saya menanyakan alasan kenapa Dokter kepala begitu percaya pada Dokter Dara yang hanya dokter magang, beliau mengatakan jika Dokter Dara memang dokter jenius yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit.
Menurut pengakuan Tuan Yama, sebelum Dokter Dara menyelamatkan Anda, ia di halangi oleh Braco dan dua rekannya. Braco ingin memukul Dokter kepala karena bersikeras meminta dokter Adara untuk menangani anda. Hanya saja pukulan itu di halangi oleh Dokter Dara dan justru Braco di pukul balik hingga jatuh tersungkur. Lalu Dokter Dara mengatakan jika ingin menuntut, silahkan mengajukan tuntutan an mengatakan jika ia adalah putri dari keluarga Adi Raharjo. Di mana dia merupakan putri perempuan satu-satunya dari keluarga paling berkuasa di kota ini, tuan muda.
Juga saya mendengar kalau Dokter Dara ternyata merupakan Tunangan dari cucu pertama Keluarga Narendra di ibukota. Keluarga terkuat, terkaya dan paling berpengaruh di negara ini" ucap Alex panjang lebar.
Richie mendengarkan itu dengan seksama tanpa memotong ucapan Alex. Ia semakin penasaran dengan Sosok Dara yang terdengar semakin menarik.
"Aku akan kembali ke hotel sekarang, beritahu dokter kepala jika aku ingin mengucapkan terimakasih secara langsung dengan penyelamat ku Dokter Dara!" ucap Richie
"Baik Tuan muda" ucap Alex
"Dan urus Braco, aku tidak ingin dia di hukum di sini, aku ingin dia di bawa kembali ke negara J. Biar aku sendiri yang menghukumnya di sana dengan caraku sendiri. Dia harus tahu resiko berurusan dengan seorang Uchiha" ucap Richie menyeringai
"Saya mengerti" ucap Alex menundukkan kepalanya patuh dan segera maksanakan tugasnya.
....
Dara yang ingin izin untuk pulang lebih cepat karena harus menjemput Kai di bandara, langsung menganti pakaiannya dan segera menuju ke ruangan Dokter kepala.
Ia sudah mengatakan pada rekannya untuk mengantikan ya hari ini setengah hari, dan rekannya tidak masalah untuk menggantinya bertugas.
Ia hanya ingin mendapat traktiran makan siang besok dan dara menyanggupinya. Jadi ia hanya perlu izin dari dokter kepala setelah itu ia berangkat ke Bandara.
Tok! Tok! Tok!
Dara mengetuk pintu dan terdengar seruan izin untuk dirinya masuk. Saat Dara masuk ia mengernyitkan dahinya saat melihat ada dua orang lain di ruangan Alden.
"Dara, kebetulan sekali kamu datang. Baru saja saya ingin menelepon bawah, agar kamu datang ke ruangan saya. Tapi kamu sudah kesini lebih dulu ternyata" ucap Alden.
"Ya, saya da perlu jadi saya kemari. Memang ada hal apa ya Kepala memanggil saya kesini?" tanya Dara penasaran.
"Kamu masih ingat Tuan Richie?" tanya Alden menunjuk ke arah pria muda nan tampan yang duduk di depannya.
Yang di tunjuk justru tengah diam menatap Dara dengan tatapan penuh terpesona, bukan hanya Richie tapi juga Alex sama dengannya yang terpaku melihat kecantikan Dara.
Respon keduanya tidak ada bedanya dengan orang lain yang baru pertama kali melihat Dara.
"Ah maksud Kepala, Pasien di VVIP? Apa ada keluhan dengan saya, Tuan? Apa obat yang saya berikan ada efek samping yang tidak enak pada anda?" tanya Dara dengan sopan meskipun nadanya begitu datar.
Namun yang di tanya hanya diam saja, masih belum sadar dan belum mengalihkan tatapan matanya dari Dara.
"Ekkhhmmm Tuan Richie" ucap Alden dengan cukup kencang, menyentak Richie dan Alex dari lamunannya.
"Ah, iya?" tanya Richie terkejut dan kikuk.
"Dokter Dara bertanya, apa obat yang di berikan oleh dokter Dara ada efek samping yang tidak enak pada anda Tuan? Apakah ada keluhan tentang itu?" tanya Alden.
"Ah, ekhmmm... tidak-tidak. Justru tubuh saya semakin sehat setelah meminum obat anda Dokter. Tidak ada efek samping yang saya rasakan, semuanya baik-baik saja. Ekhmm... Dan alasan saya ingin bertemu dengan anda karena saya ingin mengucapkan terimakasih, karena sudah menolong saya dari bang kematian dan menangkap pelakunya" ucap Richie dengan cukup lembut dan tersenyum tipis.
Alex yang mendengar suara lembut dan melihat senyum tipis tuan mudanya tentu saja terkejut. Pasalnya Richie adalah sosok yang sama seperti Kai, ia sangat dingin dan tegas.
Ia tidak pernah berbicara basa-basi pada lawan bicaranya dan juga tidak pernah tersenyum. Tapi apa yang ia lihat sekarang, si pangeran kutub dari negara J itu tersenyum ke arah Dokter cantik di depannya.
Alex berpikir itu wajar, karena ia juga terpesona, ia harus akui jika Dara adalah wanita yang paling cantik yang ia temui.
"Sama-sama, itu sudah tugas saya sebagai Dokter di rumah sakit ini" ucap Dara dengan nada yang begitu datar dan tenang.
Namun di telinga Orang yang mendengarnya, suara datar itu masih terdengar sangat merdu.
"Ah iya Kepala maaf saya menyela sebentar, saya ingin meminta izin pulang lebih cepat Kepala. Saya sudah mengatakan pada Dokter Susan untuk menggantikan saya untuk jaga" ucap Dara
"Apa kamu mau mengambil libur lagi? Apakah ada pekerjaan yang tidak bisa kamu tinggal di ibukota? Mau izin berapa hari?" tanya Alden dengan tenang. Ia tidak masalah dengan Dara izin, karena kakaknya sudah mewanti-wanti.
Ia juga tahu Dara selain menjadi dokter adalah seorang pebisnis.
"Ah tidak, hanya saja Kai datang ke Kota S. Jadi aku ingin menjemputnya di bandara. Aku hanya mengambil libur setengah hari" ucap Dara
"Ah, kalau begitu pergilah. Tidak masalah karena Dokter Susan mau mengantikan jam kamu untuk jaga" ucap Alden.
"Baik, terimakasih kalau begitu saya berangkat sekarang, karena ini sudah waktunya, saya takut terlambat" ucap Dara
"Tuan Richie, saya permisi" ucap Dara lagi kemudian keluar dari ruangan Alden.
...•••••••••...