The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
357.



Bisma mengerutkan kening tidak suka saat ia justru terdorong mundur dan tangannya merasa kebas karena nya.


Ia menatap tidak percaya pada sosok wanita cantik yang membuatnya tertarik dan berdebar itu, yang kini berada di depannya. Menangkis kekuatannya dan berhasil mendorongnya mundur.


Ya, yang memblokir serangan Bisma tak lain adalah Dara. Bukan hanya Bisma yang terkejut, melainkan Flo, Dark dan Kai juga sama. Mereka kini lebih khawatir saat Dara memilih turun tangan untuk melawan Bisma.


Bukan meremehkan kekuatan yang Dara miliki, mereka tahu Dara sangat kuat. Tapi mereka juga tahu jika Dara tidak dalam kondisi terbaiknya saat ini. Mereka juga juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka dalam keadaan terluka.


Selain karena luka yang mereka derita saat ini, tubuh mereka juga sangat berat untuk di gerakkan. Awalnya mereka akan memecahkan batu teleportasi untuk pergi dari sana, karena merasa tidak mungkin bisa melawan Bisma.


Bahkan jika mereka bersatu dan melawan bersamaan, itu akan sulit. Karena hanya dengan tekanan kekuatan Bisma saja mereka susah bergerak, apalagi untuk menyerang. Itu hanya akan mengantarkan kematian.


"Cantik, kenapa kamu memilih untuk menyelamatkan pria lemah itu. Jangan kamu buang-buang kekuatanmu hanya untuk melindungi pria lemah yang hanya bisa berlindung di belakang seorang wanita. Ayo kemarilah! Aku akan memaafkan mu yang telah menggagalkan seranganku dan akan aku jadikan kamu istriku dan ratu di dunia ini. Kita akan menguasai dunia bersama dan aku janji segala keinginanmu akan aku penuhi. Bagaimana, apa kamu tertarik cantik?" ucap Bisma tersenyum dengan percaya diri, jika tawaran yang ia ucapkan sangat menggiurkan.


Dara yang mendengar ucapan Bisma yang menjijikan merasa mual, ingin rasanya ia memusnahkan Bisma saat ini juga. Sungguh ia tidak pernah bertemu dengan orang yang sangat menjijikan sepertinya.


"Menjadi ratu di dunia ini? Hmm menarik, sepertinya itu ide yang sangat bagus. Tentu aku akan menjadi ratu!" ucap Dara.


Flo, Dark dan Kai terkejut mendengar ucapan Dara, Kai menatap punggung istrinya dengan tatapan tidak percaya. Ia merasa kecewa, marah, sedih dan juga hatinya merasa hancur, saat ia mendengar istri yang di cintainya menyatakan kesediannya pada laki-laki lain.


"Pilihan yang bijak sayang" ucap Bisma


Bisma pun tersenyum senang saat mendengar ucapan Dara, ia membayangkan hidupnya akan lebih sempurna dengan Dara yang merupakan wanita tercantik di sampingnya.


Namun itu hanya sebatas angan Bisma semata, bayangan indahnya itu langsung hancur saat Dara melanjutkan ucapannya dan membuat amarah di hatinya berkobar.


"Tapi hanya satu raja yang aku inginkan dan itu bukan kamu Bisma. Ah, atau aku panggil kamu Ki Rawa? Kau tahu, hanya satu Raja di hatiku selamanya, yakni suamiku Kaisar Raka Narendra" ucap Dara dengan senyum mengejek ke arah Bisma.


Kai yang kala itu menunduk karena patah hati, mendengar ucapan Dara sontak kembali mendongak. Debaran cinta di hatinya membuncah, ia merutuki dirinya karena sempat berpikiran yang tidak-tidak pada sang istri.


Bagaimana bisa ia tidak percaya pada istri yang di cintainya itu? Sungguh ia merasa bodoh dan malu, saat berpikir jika istrinya itu meninggalkannya demi keselamatan dan kekuasaan.


"Benar kata iparku yang cantik, sepertinya orang di kediaman mu ini sama sekali tidak memiliki cermin. Buktinya, kamu tidak pernah mengaca. Apa kamu pikir orang tua jelek sepertimu pantas untukku? Maaf, aku bukan orang bodoh dan buta, yang meninggalkan suami tampan blasteran syurga dan memilih setan tua yang jelek sepertimu. Itu sama sekali tidak akan pernah terjadi" ucap Dara sarkas.


Mendengar itu Kai, Flo dan Dark menahan tawa di sela rasa sakit yang mereka rasakan. Ucapan Dara yang sangat Savage, mereka tidak menyangka dalam keadaan seperti ini Dara masih bisa mengejek Bisma.


Bahkan ucapannya sukses membuat Bisma atau Ki Rawa itu mengeram marah dan merasa terhina.


"Kurang ajar! Jangan kira karena aku menyukaimu, aku tidak bisa membunuhmu dasar ja*ang si*lan!!!" ucap Bisma yang marah.


Wuuusshh...


BOOMM!!!


Sraaakkk...


DUARR!!!


Ia segera menyerang Dara membabi buta, Dara segera bergerak menyamping. Ia tidak ingin serangan itu malah mengenai suami dan orang-orangnya.


Meskipun Dara terlihat tenang dan berhasil menghindari serangan Bisma, dalam hati ia merasa sedikit kualahan. Pasalnya energi yang ia miliki saat ini sangat tipis dan itu hanya akan bertahan kurang dari satu menit lagi.


Kalaupun menyerang, itu tidak akan berpengaruh bagi Bisma dan hanya seperti gigitan semut. Dara berpikir keras sembari menghindari serangan Bisma yang menggila itu.


BUGH!!!


Bahu kiri Dara terkena pukulan meskipun hanya sedikit, namun berhasil membuat Dara terhuyung ke belakang.


"*Si*l, energiku turun drastis!" ucap Dara dalam hati*


"Sayang!!!"


"Dara!!!"


"Queen!!!" Teriak ketiganya dengan lemah, sat melihat Dara terdorong dan mengerang.


Kai berusaha untuk bangkit, ia tidak ingin istrinya kenapa-kenapa. Namun tekanan kekuatan Bisma dan juga luka yang ia alami membuatnya ambruk kembali dan merasa kesakitan pada lukanya.


Ia terus berjuang dan kembali ambruk di lantai, Kai menyalahkan dirinya yang tidak berguna. Ia tidak bisa menolong istrinya saat di butuhkan.


Dara sendiri tidak begitu merasakan sakit, namun energinya benar-benar tersisa sedikit. Bahkan wajahnya sudah sangat pucat dan sedikit dorongan saja, ia bisa langsung ambruk.


"Sayang, maafkan bunda... Bunda tidak bisa menjaga kalian" ucap Dara lirih, namun terdengar jelas oleh mereka di dalam mansion itu.


Dara merasa bersalah karena melibatkan calon anaknya, ia tahu tindakannya sangat beresiko. Jika sampai ada apa-apa dengannya, maka bayi-bayinya juga akan terkena dampaknya. Namun ia juga tidak bisa berpangku tangan melihat suami dan para sahabatnya berjuang, dan menghadapi bahaya.


"Sungguh mengharukan, perjuanganmu sungguh patut di apresiasi cantik. Sayang sekali, aku sudah kehilangan respect padamu. Aku tidak bisa mentolerir orang yang menghinaku, meskipun kamu adalah wanita pertama yang aku sukai.


Semua wanita cantik yang aku mau, aku bisa mendapatkannya. Jika tidak, maka pilihannya satu yaitu kematian.


Apa lagi saat ini aku tahu, ternyata kamu tengah mengandung. Aku pikir aku masih memiliki sebuah keberuntungan, dengan calon anakmu itu aku bisa meningkatkan kekuatanku. Namun aku harus membunuhmu terlebih dulu, baru mengambil calon bayimu" ucap Bisma tertawa


"Jangan sentuh istriku dan anakku" ucap Kai mengerang lemah.


"Kalau tidak mau? Memang apa yang bisa kamu lakukan pria lemah?" ucap Bisma berdecih.


Ia memang berniat membunuh semuanya, termasuk Dara yang sudah menghinanya sedemikian rupa. Ia juga berniat mengambil calon bayi Dara.


Meskipun itu baru calon bayi yang belum lahir, tapi tidak ada masalah. Calon bayi kultivator itu akan bermanfaat untuk kultivasinya dan akan membantunya menerobos ke tingkat emperor.


"Apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan? Ah tenang saja, setelah aku membunuhmu, suami dan juga orang-orang mu akan segera menyusul. Jadi kau tidak akan kesepian di akhirat, bagaimana? Aku sangat baik bukan?" ucap Bisma lagi.


Dara hanya diam, ia kembali menyentuh perutnya. Ia meneteskan air matanya, ia merasa tidak berguna sebagai seorang ibu yang menempatkan anak-anak nya dalam bahaya. Hormon ini hamil membuatnya mudah sekali berganti Mood.


Begitu pun dengan Kai yang merasa hancur saat mendengar istrinya akan di habisi dan anak-anak nya akan di jadikan tumbal ritual.


"Diammu aku artikan bahwa kau sudah siap untuk mati, maka terimalah ajalmu!" ucap Bisma mengumpulkan kekuatan di tangannya dan segera ia tembakan pada Dara.


Wuuushhh....!!!!


TING!!!


DUUAARR!!!!


"TIDAAAAKKK, DARAAAAAA!!!!" Teriak Kai


...•••••••...