
AR Hotel, baik keluarga besar Narendra, Falcon korps, Dara, Flo dan Kai sudah sampai di sana. Flo sebagai tangan kanan Dara memanggil Manager yang mengatur kamar untuk mereka semua.
Acara pertunangan besok akan di adakan di hotel ini, jadi semuanya menginap di hotel yang sama agar memudahkan mereka.
Sarah mengeryitkan keningnya melihat putranya menatap sesuatu seperti orang bodoh, ia pun melihat apa yang sedang di pandangi oleh putranya itu.
"Bukankah itu asisten Dara? Apa anakku sedang jatuh cinta?" ucap Sarah dalam hatinya.
Sarah terus memperhatikan putranya itu hingga membuat Genta menatap istrinya heran. Biasanya istrinya cerewet, namun kali ini Sarah hanya diam saja.
"Ada apa mah?" tanya Genta menyentuh pundak istrinya itu.
"Nggak ada apa-apa pah" jawab Sarah tersentak kaget.
"Yakin?" tanya Genta
"Hmm... Nanti mama bilang di kamar aja pah" ucap Sarah.
"Papa tau, mama mau bikin kejutan buat papa ya?" bisik Genta menaik turunkan alisnya.
"Iisshh, jangan sembarangan ngomong gitu. Nanti kalau di dengar para kaum muda gimana? Berabe karena mereka nggak ada lawannya" ucap Sarah mencubit perut suaminya.
Mereka semua sudah masuk ke kamar masing-masing kecuali Dada, Kai dan Flo. Ketiganya berjalan menuju ke ballroom hotel, Untuk mengecek tempat pertunangan.
Kai sangat puas melihat dekorasi yang sederhana namun tetap elegan. Ia mempercayai semuanya pada Dara dan Ellena.
Selesai dari mengecek tempat pertunangan, Dara mengantar Kai ke kamarnya. Sedangkan Flo memilih untuk menunggu di Lounge.
TRAP!!!
Suara pintu kamar Kai tertutup, Dara terkejut saat Kai menariknya masuk dan langsung menciumnya begitu dalam seakan tidak hari esok.
"Emmmmppphh...." Keduanya berciuman cukup lama.
"Aku sangat merindukanmu" ucap Kai setelah sesaat melepaskan ciuman mereka lalu kembali me**mat bibir manis milik Dara.
Sudah hampir 10 menit Kai tidak ada keinginan untuk menyelesaikan ciuman mereka. Dara menepuk dada Kai karena hampir kehabisan nafas. Kai pun melepaskan pagutannya menciptakan benang Saliva di antara mereka.
"Maaf Yang..." ucap Kai mengusap bibir Dara kemudian menjatuhkan kepalanya ke bahu Dara.
"Tidak apa, sekarang istirahatlah" ucap Dara mengerti jika kekasihnya sangat merindukannya begitu pun dengan ia yang juga merindukan kekasihnya itu.
"Aku masih kangen yang" ucap manja Kai
"Aku tahu, tapi kita butuh istirahat agar besok segar dan acara pertunangan kita berjalan dengan lancar" ucap Dara
"Sebentar lagi ya" ucap Kai masih memeluk kekasihnya itu enggan melepaskannya.
"Lima menit, habis itu aku pulang. Aku harus bicara dengan Dimas mengenai masalahnya di sekolah, aku belum sempat menanyakan padanya secara langsung" ucap Dara memberikan pengertian.
Kai mengangguk, ia paham Dara punya kepentingan lainnya. Kai juga tahu apa yang terjadi pada Dimas, karena Dimas sudah menceritakan padanya saat di pesawat tentang kejadian di sekolahnya.
Awalnya Kai ingin membantu, namun masalah Dimas sudah di selesaikan oleh Flo dan Theo. Jadi Kai hanya menjadi pendengar yang baik dan menasehati Dimas, jika apapun masalahnya harus di selesaikan dengan kepala dingin, bukan dengan tinju.
Tapi Kai juga tidak menyalahkan Dimas karena niat Dimas menolong temannya dan itu sudah seharusnya menolong orang yang membutuhkan.
Lima menit kemudian Dara pun keluar dari kamar Kai dan menghampiri Flo yang masih setia menunggunya di bawah. Kemudian keduanya pergi menuju mansion Adi Raharjo.
Sebenarnya ia juga ingin menanyakan tentang Flo, namun ia memutuskan untuk menanyakan itu nanti saja.
....
Dara menyapa semuanya, menanyakan kabar Dimas dan yang lain. Setelah basa-basi sebentar, Dara meminta bicara secara pribadi dengan Dimas.
Dimas mengikuti sang kakak ke kamarnya, sedangkan yang lain menatap heran karena tidak biasanya raut wajah Dimas sendu seperti itu.
"Ada apa Flo? Kenapa Dimas sendu begitu?" tanya Ellena
"Maaf nyonya, saya tidak berani mengatakannya sebelum Nona yang mengatakannya lebih dulu" ucap Flo
"Haaahhh kau ini, ya sudah nanti aku tanya ke Ryan aja. Ryan sayang, bisa kamu ceritain apa yang terjadi pada Dimas?" tanya Ellena
"Maaf mah, tapi Ryan juga nggak berani mendahului kak Dara atau Dimas bercerita" ucap Ryan
"Kalian itu ya, bisa bestie gitu ya, kompak bener" ucap Ellena merajuk yang di respon tertawa ringan oleh semuanya.
....
Di dalam kamar Dara, Dimas masih menundukkan kepalanya tidak berani menatap Kakaknya. Ia takut melihat tatapan kecewa kakaknya pada dirinya.
"Kak..." ucap Dimas gugup melihat Dara tetap diam.
GREP!!!
Dimas terkejut karena bukannya ceramah atau kemarahan Dara yang ia terima, ia justru di peluk dengan hangat oleh kakaknya itu.
"Apa ada yang terluka?" tanya Dara lembut dan penuh perhatian.
Dimas menggeleng dan membalas pelukan kakaknya.
"Maafin Dimas kak..." ucap Dimas bergetar
"Kakak lega kamu tidak mengalami luka, maafin kakak karena saat kamu membutuhkan kakak, kakak malah sedang jauh dan sibuk karena mengurus persiapan pertunangan di sini" ucap Dara tersenyum tipis dan mengelus kepala adiknya itu.
"Kakak nggak salah, tapi ini salah Dimas yang buat masalah di sekolah" ucap Dimas.
"Bisa kamu ceritakan ke kakak apa yang terjadi?" tanya Dara
Dimas mengangguk, keduanya duduk di pinggir kasur. Lalu Dimas kemudian menceritakan apa yang terjadi di sekolah.
"Dimas nggak sengaja lihat cewek yang hampir di lecehkan di gudang sekolah saat Dimas mau ambil bola basket di sana. Yang Dimas denger, cewek itu tidak mau di minta mengerjakan tugas cowok itu. Jadi cowo itu mau memberikan pelajaran dengan cara melecehkan cewek itu dan membuatnya kera. Dimas gelap mata dan memukuli itu cowok dan buat dia hampir sekarat" ucap Dimas mengambil nafas sejenak.
"Orang tua si cowok datang ke sekolah dan mau nuntut Dimas, untungnya Kak Flo dan Kak Theo nolongin Dimas. Dimas nggak tahu apa yang di lakuin kak Theo sampai buat orang tua tuh cowok yang katanya orang terpandang itu jadi bungkam dan justru meminta maaf balik ke Dimas dan ke cewek yang jadi korban. Bahkan memutuskan memindahkan anaknya ke sekolah lain dan tutup mulut atas kejadian putranya yang di buat hampir sekarat oleh Dimas" ucap Dimas menjelaskan semuanya.
"Maafin Dimas kak, Dimas tahu Dimas salah" ucap Dimas
"Kamu nggak salah meskipun kakak tidak membenarkan cara kamu. Kamu boleh memukul cowok itu untuk memberikannya pelajaran, tapi tidak harus membuat dia sampai sekarat. Kakak tidak mau kamu bermasalah karena membunuh orang, apalagi kamu masih berada di lingkungan sekolah. Negara kita adalah negara hukum, segala sesuatunya ada aturan dan hukumnya. Jadi jika ada suatu hal yang urgent di masa depan, kamu bisa meminta bantuan kakak, kak Flo. Biar kami yang mengurusnya, kamu mengerti?" ucap Dara lembut dan Dimas mengangguk.
"Tapi kakak harus tetap menghukum kamu. Tulis pernyataan maaf dan tidak akan mengulanginya lagi sebanyak sepuluh lembar saat sudah kembali ke ibukota" ucap Dara mutlak.
"Baik kak, Dimas mengerti dan akan melakukan hukuman Dimas" ucap Dimas.
"Sudah, ayo kita turun dan bergabung dengan yang lain" ucap Dara
Dimas pun mengangguk dan keduanya turun untuk bergabung bersama yang lain di ruang keluarga yang menunggu keduanya itu.
...••••••••...