The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
260. Memberikan kesempatan dan Membantu Meta



Setelah Meta menyelesaikan makannya, Dara pun meminta pelayan membungkus makanan untuk Maria dan juga sekalian makanan ringan untuk di bawa ke rumah meta.


Dara juga membelikan obat-obatan, selimut dan beberapa baju lain untuk keduanya.


Setelah membayar semuanya Dara mengantar Meta ke rumah kumuh yang hanya terbuat dari tumpukan Kardus dan juga papan triplek. Hanya ruangan berbentuk kotak dengan luas 3x3 meter. Tidak ada kasur di sana, pintu juga tidak ada. Jika hujan deras mengguyur, pasti mereka pergi mencari tempat teduh lain karena pastinya bangunan itu akan roboh.


Dara merasa prihatin melihat keadaan Meta. Karena itu ia juga merasa bersyukur, setidaknya dulu ia, ibunya dan Dimas hidup jauh lebih baik. Meskipun sama-sama harus bersusah payah.


Melihat Maria yang terbaring lemah, sangat kurus dan tidak bisa apa-apa. Dara teringat kembali ibunya yang juga sakit-sakitan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya meninggal. Namun Ibunya tidak sampai kurus kering dan tidak bisa bergerak seperti Maria saat ini.


Masih ada perasaan benci saat melihat Maria, namun Dara berusaha untuk menekannya.


"Maaf tempat tinggalku seperti ini dan juga bau" ucap Meta tersenyum sendu ke arah Dara.


"Tidak apa-apa" ucap Dara


Tercium bau Pesing yang menyengat, sudah pasti itu bau dari Maria yang tidak bisa pergi ke kamar mandi karena kondisinya saat inj. Sedangkan Meta tengah hamil dan tidak akan mungkin kuat memapah Maria pergi ke tempat mandi umum untuk sekedar buang air.


Ya, tempat mandi umum jaraknya sekitar 50 meter, ada sumur pompa yang menjadi tempat mandi warga di pemukiman ini. Namun mereka harus mengantri, terlebih saat pagi dan sore hari. Sedangkan untuk buang air besar, mereka semua menggunakan ****** di area sungai.


Dara merasa tercubit hatinya, ia memikirkan keselamatan Meta yang harus bertaruh nyawa jika ingin buang air. Itu terlalu beresiko terlebih Meta tengah hamil, karena ****** itu hanya setapak dan rawan tergelincir jika di injak.


"Dokter Dara, bisakah kau memeriksa ibuku?" tanya Meta hati-hati.


Bisa di lihat dari mata Meta yang sangat menyayangi ibunya meskipun keduanya dalam kondisi yang memprihatinkan, namun Meta setia menemani Maria..


Saat di perjalanan tadi Dara menanyakan kenapa ia tidak menggugurkan kandungannya dan mengapa Dara mau merawat ibunya.


Dengan berlinang air mata Meta menjawab jika ia hanya memiliki ibu sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya. Ia tidak bisa meninggalkan ibunya dalam kondisi seperti ini. Bagaimana pun Maria adalah wanita yang melahirkan dirinya.


Lalu mengenai Meta yang tidak mau menggugurkan kandungannya, Itu karena Meta tidak ingin membunuh calon bayinya. Karena jabang itu ada karena ia yang melakukan kesalahan besar dengan ayah calon bayi. Ia akan menambah dosa jika ia juga membunuh bayi itu.


Dia juga mengatakan bahwa ia menerima apapun yang sekarang ia jalani, karena menurutnya itu adalah balasan dari apa yang ia perbuat di masa lalu. Kalau saja ia bisa menjaga dirinya sendiri dan tidak hanyut dalam perasaan pada mantan pacarnya dulu dan melakukan dosa berulang-ulang. Tidak mungkin Tuhan menegurnya dengan cara seperti ini dan membuka aibnya di depan semua orang.


"Hmm tidak masalah, aku akan memeriksa" ucap Dara.


Dara kemudian memeriksa Maria yang sudah dalam keadaan kurus itu, persis seperti mayat hidup. Nanya yang membedakan hanyalah nafasnya, karena Maria masih bernafas. Maria ternyata menderita diabetes dan juga infeksi di lambungnya yang cukup parah, hingga ia sulit mencerna makanannya.


"Ibumu mengalami Infeksi lambung yang cukup parah, dan menderita diabetes kering juga, karena kadar gulanya cukup tinggi. Met Perhatian pola makanmu dan ibumu, minum obat yang teratur dan jauhi makanan manis" ucap Dara


Mendengar itu Meta tertunduk, ia ingin menangis namun ia berusaha menahannya. Ia terlalu malu menangis di depan orang. Dara menyadari itu dan ia mengelus kepala Meta dengan lembut.


"Aku memiliki obat, aku akan memberikannya untuk ibumu. Kau tidak perlu khawatir soal harga" ucap Dara


"Benarkah?" tanya Meta terkejut dan antusias.


"Hmm tentu saja, aku juga memiliki rumah di sekitar sini yang tidak pernah aku tinggali. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di sana" ucap Dara menawarkan sebuah rumah pada Meta.


Hal itu membuat meta mendongak dengan mata berbinar, namun tiba-tiba senyum di wajahnya memudar.


"Untuk rumah, aku tidak bisa menerimanya, bukankah kita baru saling kenal. Mengapa dokter sangat baik padaku, hingga menyiapkan tempat tinggal dan aku juga tidak mau merepotkan dokter Dara dengan memberikan tumpangan pada kami berdua" ucap Meta.


"Aku hanya melihat mu seperti diriku dulu, aku juga dulu tidak memiliki apa-apa dan hidup dalam kekurangan. Jadi aku hanya ingin membantu karena teringat diriku sendiri di masa lalu. Setidaknya kamu bisa tinggal di tempat yang layak agar kondisi ibumu membaik dan juga nyaman untuk ibu hamil seperti kamu. Ya meskipun rumahnya kecil, tapi itu bersih dan nyaman" ucap Dara


Setelah membujuk Meta berkali-kali, akhirnya Meta menyetujuinya juga. Dara kemudian menelepon Flo untuk datang membawa mobil dan orang untuk membantu membawa Maria ke rumah yang ia beli di pinggir kota S.


Rumah itu Dara beli atas namanya sendiri, bukannya tidak ingin memberikan Meta rumah atas nama Meta sendiri. Tapi Dara melakukan ini agar Meta tidak tersinggung dan bertanya-tanya mengapa dirinya sangat baik pada mereka, bahkan memberikannya rumah.



*ilustrasi rumah yang di beli Dara untuk di tinggali Meta dan Maria.


Mereka akhirnya sampai di sebuah Rumah berukuran 36 meter persegi. Letaknya tidak jauh dari jalan raya, hanya masuk ke gang dengan jarak 2 rumah dari jalan utama lintas kota. Rumah itu sudah terlihat di antara beberapa pohon membuat suasana di sana sejuk.


Rumah itu sangat asri karena masih banyak pohon di sekitarnya. Memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, Dapur dan kamar mandi. Rumah itu terlihat sederhana namun sangat nyaman di tinggali.


Meta berkaca-kaca melihatnya, meskipun rumah itu sangat kecil di banding rumahnya di masa lalu, namun ia bersyukur Tuhan mempertemukan dia dengan Dara. Sosok bidadari dan penyelamat keluarganya.


"Dokter terimakasih Banyak. Jika di masa depan aku sudah memiliki uang sendiri untuk membeli rumah, aku akan segera pindah dari sini. Atau jika rumah ini nanti mau dokter tempati atau gunakan, Dokter tinggal bilang saja. Aku dan ibu akan keluar saat itu juga" ucap Meta dengan serius.


"Tidak perlu khawatir, rumah ini tidak pernah aku tempati karena aku tinggal di ibukota. Kalaupun aku datang ke kota S aku tinggal bersama keluargaku di pusat kota. Akan sayang jika rumah ini di biarkan kosong begitu saja dan tak terawat. Jadi tolong rawat baik-baik rumahku ya Meta. Anggap saja rumah sendiri agar kamu nyaman menempatinya" ucap Dara


"Tentu dokter, aku akan menjaga amanah dari mu" ucap Meta dengan yakin.


Lalu ini susu ibu hamil untukmu, perlengkapan bayi untuk calon anak kamu. Karena aku nggak tahu jenis kelaminnya, aku beli yang warna netral. Terus di dapur juga ada stok beras dan telor dan lain-lain, ini untuk kebutuhan kamu sehari-hari. Kamu juga bisa membuka warung kecil-kecilan di depan rumah, kebetulan di sini jarang ada warung jadi pasti ramai jika kamu buka warung di sini" ucap Dara


"Hiks, dokter. Kenapa anda baik sekali padaku. Padahal aku bukan siapa-siapa dokter dan baru kenal" ucap Meta tak kuasa menahan air matanya yang turun begitu saja.


"Sssttt, mungkin aku sebagai perantara yang di kirim tuhan untuk membantumu. Aku hanya ingin melihat kamu hidup dengan baik, lupakan masa lalu dan tatap masa depan yang lebih baik" ucap Dara


"Ya, aku berdoa semoga Tuhan memberikan balasan atas kebaikan Dokter Dara pada aku dan Mama. Aku berhutang Budi sangat banyak padamu dok, aku janji akan hidup dengan baik, aku juga harap dokter terus hidup bahagia" ucap Meta tulus


"Iihh bumil kenapa cengeng gini, udah ah kasihan itu Dede bayi nanti ikut sedih juga kalau Ibunya mewek gini" ucap Dara menyeka air mata Meta.


Flo yang menyimak Dara hanya tersenyum tipis, ia tidak menyangka jika Dara akan melakukan hal seperti ini. Karena Flo tahu bagaimana sakit hatinya Dara pada keluarga dari ayahnya itu, termasuk pada ibu tiri dan saudara tirinya.


Tapi Dara justru membuka hatinya dan mencoba mengikhlaskan semua, meskipun masih ada rasa sakit dan benci di hatinya yang tentu akan sulit di hilangkan.


"Dok ini..." ucap Meta menatap wajah cantik Flo yang berdiri di samping Dara.


"Astaga aku lupa, kenalin Dia asisten pribadiku sekaligus calon adik iparku, namanya Flo" ucap Dara memperkenalkan Flo.


"Hallo, aku Meta" ucap Meta


"Flo..." sahut Flo menyambut uluran tangan Meta.


"Nona Flo sama-sama cantik seperti Dokter Dara. Ah aku jadi insecure hehe. Eh tapi tadi Dokter bilang kalau nona Flo calon adik ipar Dokter. Calon suami Dokter Dara kakaknya nona Flo?" Tanya Meta


"Calon suamiku dan Calon suami Flo sepupu-an. Dan kebetulan tunanganku adalah kakak sepupu dari calon suami Flo" ucap Dara


"Oohh, semoga kalian bersatu dengan pasangan masing-masing ya. Nggak seperti aku" ucap Meta mengelus perutnya.


Ia jadi teringat mantan pacarnya yang begitu tega tanpa hati, memutuskannya begitu saja saat tahu Keluarganya bangkrut.


"Jangan ingat-ingat lagi, yang penting sekarang kehidupan kamu dengan bayi kamu" ucap Dara.


"Dokter benar, yang terpenting sekarang adalah mama dan bayiku" ucap Meta tersenyum. Ia sudah memutuskan untuk menjadi single mom. Jadi ia akan menjalaninya dengan ikhlas dan juga semangat.


Setelah mengobrol beberapa lama, Dara dan Flo pun akhirnya pamit pulang. Sebelumnya Dara sudah meletakan amplop berisi uang untuk Meta dan ibunya secara diam-diam di kamar Meta.


Tidak banyak yang Dara kasih, hanya lima juta saja. Meskipun tidak banyak bagi Dara, itu sangat banyak bagi Meta yang memang sudah lama tidak memegang uang dalam jumlah banyak.


Itu akan di pergunakan untuk modal Meta membuat warung kecil-kecilan.


....


Dara kembali ke mansion Adi Raharjo bersama dengan Flo. Keduanya kemudian mengobrol di ruang tamu, sedangkan penghuni yang lain sudah terlelap dalam mimpi, karena saat ini sudah jam 10 malam.


"Ra, kenapa kamu memutuskan untuk membantu mereka, apa kamu sudah memaafkan mereka?" Tanya Flo pada Dara


"Setiap orang memiliki kesempatan kedua, Flo. Aku hanya tidak ingin menyesal seumur hidup karena mengabaikan mereka, padahal aku tahu mereka kesulitan. Jika aku terus menutup mata sedangkan mereka menderita, lalu apa bedanya aku dengan mereka dulu? Bagaimana pun mereka sudah menerima karmanya meskipun hanya sebentar" ucap Dara


"Lalu kenapa kamu hanya membantunya sampai sana saja" ucap Flo, karena setelah ini Dara memutuskan untuk tidak terlibat lagi dengan pasangan ibu dan anak itu.


"Aku memang ingin membantunya untuk hidup mereka yang lebih baik. Tapi aku tidak akan mengembalikan apa yang mereka miliki dulu, anggap saja itu karma mereka. Masalah apa yang aku berikan, itu terserah bagaimana mereka menggunakan kebaikan yang aku berikan saat ini.


Setidaknya aku tidak memiliki penyesalan dan juga dengan tulus mengulurkan tangan untuk membantu mereka keluar dari kesulitan. Ini merupakan kesempatan terakhir untuk mereka yang aku berikan, jadi kedepannya seperti apa mereka sendiri yang menentukan jalan hidup mereka.


Entah mengapa aku merasa yakin jika Meta adalah orang baik, meskipun sikapnya dulu sangat identik dengan gadis dari keluarga kaya yang arogan, sombong, nakal dan juga boros. Tapi semenjak hidupnya jatuh, ia berusaha memperbaiki diri. Aku harap ia akan selalu seperti itu dan berubah menjadi lebih baik lagi" ucap Dara


"Lalu wanita itu?" tanya Flo


"Karmanya di kehidupan lama dan baru, itu urusannya. Aku hanya membantu sebagai dokter pada umumnya, aku tidak berkeinginan untuk menggunakan pengobatan kuno yang aku miliki untuk menyembuhkannya. Aku sudah melakukan yang terbaik guna mengobatinya dengan cara modern, urusan apakah ia sembuh dan seperti sediakala atau sebaliknya. Itu adalah takdir yang harus ia hadapi. Karena bagaimana pun, hidup seseorang kembali pada keinginan orang itu sendiri. Apakah semangat untuk hidupnya masih tinggi atau memutuskan menyerah" ucap Dara


"Kalau pria tua itu? Apa kamu juga sudah memaafkannya?" tanya Flo


"Tidak! Setidaknya untuk saat ini aku tidak bisa memaafkannya, entah kalau di masa depan aku berubah pikiran aku tidak tahu. Aku masih belum bisa menerima kelakuannya dulu pada ku, ibu dan Dimas. Apalagi aku masih melihat jika ia memiliki tempramen dan sifat yang arogan juga serakah. Bahkan di saat ia tengah dalam kondisi yang terpuruk seperti sekarang ini. Sungguh sangat di sayangkan bahwa di tubuhku mengalir darahnya yang seorang bajingan" ucap Dara. Mencibir


"Kau benar, aku setuju. Mau tahu tim Beta bilang jika pria tua itu masih bertingkah seolah dia menggenggam dunia. Padahal untuk makan dan tidur saja ia harus susah payah di jalanan. Tapi sifat dasarnya masih mendoninasi" ucap Flo ikut mencibir.


Dara memang tidak pernah melepas pantauannya dari orang-orang yang dulu bersinggungan dengannya. Tidak terkecuali ayahnya sendiri, yang Sampai saat ini masih Luntang lantung di jalan sebagai gelandangan.


Meskipun begitu Dara beberapa kali meminta anak buahnya untuk memberikan ia makan saat pria itu kelaparan. Tapi bukannya berterima kasih, tapi pria itu justru memalak uang anak buahnya. Sungguh tidak tahu diri dan berterima kasih.


...•••••••...