The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
375.



Mama Hesti dan Tante Sarah mengangguk, Dara dan Flo pun langsung beranjak dari sana lalu masuk ke ruangan kerja Dara. Meskipun Flo bingung apa yang mau di bahas, namun ia tetap menurut dan kini keduanya duduk di Sofa di ruangan kerja.


"Ada apa Ra?" tanya Flo menatap iparnya itu


"Maaf Flo kalau perkataan aku akan sedikit menyinggung sesuatu, yang sebenarnya tidak ingin kamu bahas. Tapi aku memang serius ingin kembali bekerja, jadi kamu dan Lingga bisa istirahat dan menikmati masa pengantin baru kalian.


Maaf karena permintaan ku dan Abang membuat kalian lelah bekerja di kantor. Kamu tahu kan kalau faktor kelelahan juga bisa menghambat proses program hamil. Meskipun sebagai kultivator kamu kuat dan tidak mudah lelah, tapi tidak menutup kemungkinan ada masa kalian lelah juga. Kamu tetap seorang manusia dan bukan dewa yang tidak membutuhkan istirahat, me time dan healing" ucap Dara lembut.


"Apa ini murni karena faktor kelelahan atau memang karena aku tidak bisa memiliki anak, Ra?" ucap Flo yang sudah pesimis dan menundukkan kepalanya.


"Boleh aku periksa kondisi kamu?" ucap Dara


Flo terlihat ragu, selama ini ia tidak mau memeriksakan diri ke dokter. Jika hasilnya ternyata memang dirinya yang sulit hamil. Ia takut dosanya dulu sebagai seorang pembunuh bayaran dan tangannya yang sudah berlumur darah, Tuhan menghukumnya dengan tidak memiliki anak.


Memang Suami dan keluarganya tidak pernah mendesak agar ia cepat hamil, apalagi Lingga pernah mengatakan padanya. Jika tidak masalah di dalam pernikahannya ia memiliki anak atau tidak, yang penting Flo selalu berada di sampingnya dalam setiap keadaan. Itu lebih dari cukup bagi Lingga.


Namun sebagai seorang wanita dan seorang istri, tentu Flo merasa ada yang kurang. Akan lebih baik jika sebuah pernikahan yang lengkap jika ia menjadi seorang ibu juga.


"Aku takut..." ucap Flo lirih namun terdengar jelas oleh Dara.


Dara merasa sakit melihat Flo yang tidak semangat, ia juga merasa marah pada orang yang sudah membuat semangat dan rasa percaya diri dari orang kepercayaan yang sangat ia sayangi itu meredup.


Memang di keluarga tidak pernah membahas soal anak, namun di luar? Orang luar kadang merasa lebih merasa tahu semua tentang kita, mereka kadang sengaja atau tidak melukai hati seseorang dengan perkataan mereka. Bahkan dengan mudah membanding-bandingkan kita dengan orang lain, yang jelas satu sama lain berbeda.


Dara menggenggam tangan Flo dan tersenyum lembut.


"Jangan takut, jika pun ada sesuatu yang salah. Lebih baik kita tahu sekarang dan mengobatinya sejak dini. Aku bukan Tuhan ataupun Dewa, tapi aku akan berusaha semampu yang aku bisa untuk membantumu" ucap Dara


Flo menatap manik Dara, ia kemudian mengangguk. Ia percaya pada Dara, jika pun nanti hasilnya tidak seperti yang ia inginkan. Ia sudah pasrah dan berusaha menerimanya.


Dara kemudian memeriksa denyut nadi Flo, keningnya mengerut saat ia merasa ada sesuatu yang salah.


"Flo, maaf aku akan memasukan Chi milikku. Ada yang harus aku periksa di dalam tubuhmu, apa kamu bisa menahannya sebentar? Ini akan terasa sakit mengingat kekuatan ku lebih besar dari kekuatan milikmu" ucap Dara, membuat Flo tidak bisa tidak khawatir. Namun ia tetap mengangguk setuju.


Dara pun kemudian Fokus untuk memeriksa apa yang ada di dalam tubuh sahabatnya itu. Ia mulai mengeluarkan Chi miliknya dan memasukannya memeriksa langsung kondisi tubuh Flo.


"Akkhh..." Flo berusaha untuk menahan sakit yang teramat, Kala Chi milik Dara merangsek masuk ke pembuluh darah dan terasa panas di area perutnya.


Wuushhhh.....


Dara menarik kembali Chi miliknya, ia menatap Flo tidak terbaca dan menghela nafas.


"A-apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang salah?" ucap Flo lirih dan gugup.


"Hmm..." Dara mengangguk, membuat Flo merasa gelisah dan juga takut. Namun ia berusaha untuk tetap tenang, meskipun ketakutan yang ia takutkan kemungkinan benar-benar terjadi.


Dara menatap Flo dan menghela nafasnya lagi.


"Jangan salah paham Flo, ini tidak sepenuhnya buruk. Karena beruntung aku memeriksanya lebih awal" ucap Dara


"Ada apa? Tolong katakan saja, aku sudah siap apapun yang terjadi" ucap Flo yang mau tidak mau, siap tidak siap ia harus menerima segala sesuatu nya.


"Kamu mengalami kondisi Janin tidur" ucap Dara


"Hah? Maksudnya? Aku tidak mengerti" ucap Flo


"Maksudnya? Aku masih tidak mengerti, bisa kau lebih menjabarkannya lebih jelas" ucap Flo


"Hmm...." Dara mengangguk.


"Intinya kamu sedang hamil sekarang, kandunganmu sudah lebih dari empat bulan. Namun kondisi janinmu tidak berkembang, dia mengalami koma karena dalam kondisi terluka. Di jaman dulu kasus yang kamu alami di sebut Janin Tidur, di mana kondisi bayi di dalam perut masih tetap hidup namun tidak berkembang di dalam rahim.


Kasus kehamilan mu ini sangat langka dan bisa saja membahayakan jika tidak di tangani dengan cepat dan tepat. Karena tidak bisa di deteksi oleh peralatan modern, mungkin jika teknologi sekarang itu di sebut janin tidak berkembang jadi harus di angkat.


Tapi kasusmu berbeda karena kamu seorang kultivator, dan janinmu masih hidup meskipun tidak berkembang sebagaimana mestinya. Ini bisa di sebut juga mati waktu di dalam rahim, sama seperti mahkluk hidup yang di letakan di cincin ruang yang aku buat. Contoh kecilnya seperti itu" ucap Dara


"Aku hamil? Janin tidur? Lalu apa anakku masih bisa di selamatkan? Dan kenapa ini bisa terjadi Ra?" tanya Flo terkejut mendengar penjelasan Dara.


Ia terkejut jika ternyata dirinya tengah hamil, ia memang sudah lama tidak menstruasi. Awalnya ia mengira dirinya hamil dan membeli testpack, namun setelah mengetest berkali-kali hasilnya tetap negatif. Jadi ia pikir ia tidak menstruasi karena gangguan hormon.


Tapi sekarang Dara mengatakan jika ia sebenarnya hamil, dan kandungannya lebih dari empat bulan. Sesuai dengan terakhir kali ia menstruasi, sekitar hampir lima bulan yang lalu.


"Jika aku terlambat memeriksanya itu akan jadi masalah besar, selain Janin itu akan mati. Itu akan mengakibatkan penyakit yang membahayakan, itu menyerupai sel kanker dan perlahan memakan semua vitalitas kehidupan kamu. Dan rahim kamu akan mengecil bahkan tidak bisa lagi berfungsi.


Aku tebak ini semua terjadi saat kita melakukan penyerangan di kediaman tuan muda pertama Damian dulu, jika di hitung usia kandunganmu. Kamu sudah hamil muda saat penyerangan itu, mungkin Janin mu baru berusia satu minggu saat itu.


Kamu juga terluka pada saat itu, dan bisa jadi itu berkaitan dengan janin mu yang juga ikut terluka oleh ilmu hitam yang di lancarkan oleh Bisma. Aku minta maaf, karena saat mengobatimu waktu itu. Aku tidak berhasil mendeteksinya lebih awal" ucap Dara


"Ini bukan salahmu, ini semua adalah sesuatu yang tidak bisa kita tebak dan tidak ada orang yang menginginkannya. Lalu apa anakku masih bisa di selamatkan Ra?" ucap Flo memiliki harapan jika Janinnya masih bisa di selamatkan.


"Ya, aku pikir itu mungkin, tapi aku harus membuat pil kehidupan lebih dulu. Jujur aku belum pernah mencoba membuatnya, aku hanya pernah di beritahu guru tentang pembuatan pil itu" ucap Dara


"Apa gurumu bisa datang dan membuatnya?" tanya Flo


"Tidak, aku juga tidak tahu beliau di mana saat ini. Namun yang aku tahu dia sedang berada di suatu tempat yang sangat jauh dan entah kapan kembali atau mungkin tidak akan kembali" ucap Dara berbohong, karena yang di maksud Gurunya adalah Liu Annchi.


"Apa kamu bisa membuatkan pil itu untukku?" tanya Flo.


Sejujurnya ia malu, karena ia selalu merepotkan Dara. Namun sekarang hanya ini satu-satunya cara, agar janinnya terselamatkan.


"Jika kamu percaya padaku, aku akan coba membuatnya. Aku akan melakukan apapun demi menyelamatkan janinmu dan juga menyelamatkan kamu. Bagaimana pun ini akan berefek pada vitalitas hidup yang kamu miliki" ucap Dara


"Aku percaya, aku mohon tolong selamatkan aku dan juga anakku" ucap Flo


"Baiklah, tapi setelah pil itu jadi, kamu akan melakukan pemulihan tertutup. Lebih tepatnya, kamu akan melakukan pengobatan selama seminggu untuk mengembalikan masa hidup janin dan mengembangkannya seperti usia yang seharusnya. Dan itu akan terasa menyakitkan Flo" ucap Dara.


"Makasih Ra, aku akan melakukan apapun demi anakku. Berapa pun lamanya waktu yang di butuhkan dan seberapa sakit yang harus aku terima untuk pengobatan itu, aku sudah siap menghadapinya" ucap Flo.


"Baiklah, kamu bisa bicarakan hal ini sama Lingga dulu, di berhak tahu segalanya karena kamu adalah tanggung jawab nya. Kalau tidak, aku akan membantumu menjelaskan hal ini padanya. Setelahnya aku akan fokus untuk membuat pil kehidupan" ucap Dara


"Kalau begitu, aku mohon bantuannya buat jelasin ke Lingga tentang semua ini" ucap Flo


"Tentu.... Jadi jangan terlalu banyak fikiran hmm? Semuanya akan baik-baik saja, percayalah" ucap Dara menepuk ringan kepala Flo.


Flo mengangguk dan memeluk Dara dengan erat dengan sedikit terisak.


"Terimakasih, sungguh sebuah kata terimakasih tidak akan cukup untuk membalas semua yang sudah kamu berikan padaku Ra" ucap Flo.


...••••••••...