The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
377. Pilihan sulit



Dara menggeliat saat ia terbangun dari tidurnya, ia meraba samping kasur tempat tidurnya. Ia tidak mendapati Kai di sana dan lagi kasur itu terasa dingin, yang berarti sudah lama kosong.


Matanya kemudian perlahan terbuka dan melihat dengan benar bahwa tidak ada suaminya di sana. Dara segera terduduk karena merasa tidak biasanya Kai meninggalkan dirinya saat dirinya tengah tidur.


Namun kini matanya jatuh pada sosok yang tengah tertidur di sofa sembari memangku Rakesh. Dara juga terkejut saat ia melihat jam di atas nakas samping tempat tidur, sudah pukul 6 pagi.


Seutas senyum indah nan tulus mengembang di sana, Dara kemudian turun dari tempat tidur dan mendekati suami dan ketiga anaknya.


Dapat ia lihat berapa botol susu tergeletak di atas meja, di tangan Kai juga masih ada botol susu yang sudah kosong. Popok triplet juga ada di keranjang kotor, itu tandanya Kai juga Menganti popok tiga bayi kembarnya itu.


Dara merasa bersalah karena ia tidur terlalu nyenyak hingga tidak sadar jika bayinya menangis, tapi ia juga sangat terharu dan bangga terhadap sang suami. Ia sangat beruntung mendapatkan suami yang penuh perhatian dan juga penuh kasih sayang seperti Kai.


Terlihat Rakesh menggeliat dan akan menangis, dengan sigap Kai menggoyangkan tangannya dan menepuk dengan pelan. Namun matanya yang berat dan mengantuk masih terpejam .


"Sshhh, sayangnya ayah, bobo ya, jangan nangis nanti bunda kebangun" ucap lembut Kai namun serak itu, setelahnya Kai kembali tidur.


Dara tersenyum melihat betapa lembutnya sang suami, ia pun melangkah lebih dekat dan mengambil Rakesh pelan. Ia ingin membiarkan Kai beristirahat, namun gerakannya justru membuat Kai terbangun dan terkejut.


"Astaga sayang, aku kira siapa. Kenapa kamu sudah bangun?" ucap Kai dengan suara serak dan deep nya itu.


Dara kini duduk di samping Kai, ia tersenyum dan mengecup bibir sang suami. Tentu hal itu membuat Kai melototkan matanya karena terkejut, Dara terkekeh melihatnya.


"Morning Abang sayang. Aku sudah bangun ini udah pagi. Maaf udah buat Abang begadang semalaman buat jaga triplet, kenapa nggak bangunin aku Abang? Kan Abang capek sendiri" ucap Dara lembut mengelus rahang kokoh sang suami dan kembali mencium dagunya.


Kai sadar dan tersenyum, ia kemudian membalas mengecup kening sang istri dalam.


"Tidak perlu minta maaf, mereka juga anak-anak Abang. Kamu butuh istirahat juga, Abang nggak mau kamu sampai sakit karena kurang istirahat sayang" ucap lembut Kai masih dengan suara seraknya.


"Makasih Abang, aku mencintaimu" ucap Dara


"Abang lebih-lebih mencintaimu" ucap Kai memeluk Dara dari samping.


"Abang lanjutin bobo lagi gih di ranjang, kalau nggak pindah ke kamar kita aja" ucap Dara


"Abang udah nggak ngantuk lagi sayang" ucap Kai masih melingkar kan tangannya ke pinggang sang istri.


"Bobo lagi, aku tahu abang tidur baru bentaran kan. Apalagi triplet lagi rewel karena abis imunisasi, abang pasti cape dan butuh istirahat" ucap Dara


"Kamu lupa kalau suami kamu kultivator, Abang kuat sayang. Jangan khawatir" ucap Kai


"Tetap aja, kultivator juga butuh istirahat. Sana istirahat dulu, lumayan beberapa jam istirahat" ucap Dara


"Nanti yang bantu mandiin dan jaga triplet siapa?" tanya Kai,


"Ada ART, ada mama Hesti di bawah, ada Shine, ada banyak orang nanti yang ikutan bantuin Abang sayang" ucap Dara


"Ya udah iya, abang bobo di kamar aja deh kalau gitu" ucap Kai, Dara mengangguk dan tersenyum.


"Kamu nanti kalau mau ke kantor bangunin Abang, biar Abang siap-siap dulu" ucap Kai


"Iya Abang, nanti aku bangunin. Istirahat aja, lagian ke kantornya nanti siangan kok" ucap Dara


Dara dan Kai memang akan ke kantor untuk bertemu dengan Lingga dan Flo. Mereka ingin membicarakan soal janin tidur yang di alami oleh Flo.


Setelahnya Dara juga akan ke markas kuning untuk meminta beberapa anggota GOD untuk menjadi baby sitter triplet.


.....


Siang harinya, Dara sudah siap dengan mamakai Dress midi berwarna broken White dengan kancing depan. Itu akan memudahkannya untuk menyusui.


Meskipun Dara sudah menyetok banyak ASI dalam tas khusus yang di bawa ke kantor, namun selama Dara bisa ia akan menyusui triplet secara langsung.


Kai juga sudah siap dengan pakaian formalnya, begitupun dengan Triplet, Shine dan juga Langit. Karena mereka akan pergi ke Star Corporation.


Kunjungan bos besar membuat semua karyawan heboh, terlebih bos membawa keempat anaknya. Semua karyawan di Star Corporation mengetahui jika Dara melahirkan kembar tiga dan salah satunya seorang princess.


Bahkan ada berita yang mengklaim jika keempat anak dari tuan muda pertama Keluarga Narendra dan Ketua Star Corporation yang merupakan nona besar Keluarga Adi Raharjo. Mendapat julukan bayi terkaya di negara ini.


"Kak..." Sapa Langit dan Flo, saat mereka berada di dalam ruangan kerja ketua. Yang mana itu adalah ruangan milik Dara yang sementara waktu di tempati Lingga.


Mereka pun masuk dan membicarakan tentang maksud dan tujuan Dara dan Kai datang. Hanya ada mereka berempat di sana, karena Langit, triplet dan Shine berada di ruangan sebelah di temani Firly, sekretaris Dara.


"Ada apa kak, tumben ke sini dadakan? Sepertinya ada hal serius" ucap Lingga setelah mempersilahkan mereka duduk.


"Ya ada hal serius yang ingin kami sampaikan" ucap Kai


"Ada apa?" tanya Lingga penasaran karena sepertinya yang ingin di sampaikan sepupunya itu sangat lah penting.


"Aku yakin kalau Flo belum mengatakannya padamu" ucap Dara


"Aku akan mengatakannya, tapi bisakah kamu jangan memotong ucapanku lebih dulu?" ucap Dara


"Hmm" Lingga mengangguk.


"Flo, istrimu saat ini tengah mengandung" ucap Dara, tentu mendengar hal itu Lingga merasa bahagia. Terlihat dari raut wajahnya yang sangat bahagia.


"Tapi... Dia kehamilannya tidak berjalan dengan semestinya" ucap Dara


Senyum di wajah Lingga perlahan meredup, ia mengerutkan kening berusaha mencerna ucapan Dara. Kemudian ia menatap kembali sang istri yang tengah menunduk. Dirinya tahu kabar yang di bawa Dara saat ini bukanlah kabar baik.


Lingga melihat sang istri terdiam pun mengulurkan tangannya menggenggam tangan Flo memberikan kekuatan pada sang istri.


Tentu dirinya juga sangat terkejut, namun ia tahu perasaan istrinya saat ini pasti lebih syok di banding dirinya. Lingga sangat tahu betapa besar keinginan sang istri untuk memiliki anak, terlebih ia sering melihat istrinya kehilangan semangat saat mendapat pertanyaan soal anak dari orang-orang.


Tentu bukan hanya Flo yang menginginkan anak, dirinya juga demikian. Namun Lingga pasrah menghadapi apa yang terjadi di masa depan, baginya kehadiran Flo di sampingnya adalah suatu hal yang sangat besar dan lebih dari cukup.


Masalah anak ia serahkan pada sang pencipta, ia menganggap anak sebagai bonus dalam pernikahan. Baginya ada atau tidak adanya anak, tidak akan melunturkan rasa cinta dalam dirinya untuk istrinya itu.


"Sebelumnya kami minta maaf Lingga, karena hal ini terjadi tidak lepas dari peran kami semua dan juga ketidakpekaan ku" ucap Dara


"Maksudnya?" tanya Lingga tidak mengerti.


"Kamu ingat setelah kalian menikah Flo menemaniku melakukan sesuatu?" tanya Dara, Lingga mengangguk.


"Saat itu kami tengah melakukan penyerangan ke pihak kultivator jahat. Saat itu Flo sempat mengalami terluka karena terkena pukulan dan saat aku mengobatinya, aku tidak berhasil mendeteksi adanya kehidupan di perut istrimu. Saat itu Flo tengah hamil muda, mungkin janinnya berusia satu minggu jadi aku tidak begitu merasakannya" ucap Dara membuat Lingga terkejut dan mengusap wajahnya.


"Itu sudah lebih dari empat bulan yang lalu...." gumam lirih Lingga


"Ya, dan aku baru mengetahui jika Flo mengalami kondisi Janin Tidur. Maka dari itu aku mengatakan jika istrimu tengah mengandung, namun tidak berjalan sebagaimana mestinya" ucap Dara


"Apa dia masih hidup?" tanya Lingga, ia berharap anaknya masih bisa di selamatkan.


"Bisa di katakan iya atau tidak" ucap Dara


"Apa ada cara menyelamatkan anakku?" tanya Lingga


"Ada... Tapi Flo harus menjalani perawatan tertutup kurang lebih seminggu dan proses nya tentu akan sangat menyakitkan. Maka dari itu aku mengatakannya padamu, kami butuh izin darimu sebagai suami Flo dan juga ayah dari janin" ucap Dara


"Apa itu akan membahayakan istriku?" tanya Lingga kembali menggenggam tangan Flo.


"Aku belum bisa memastikannya secara pasti, Karena ini adalah kali pertama aku melakukan ini. Tapi aku akan berusaha semampu yang aku bisa, aku juga tidak akan membiarkan sahabatku kenapa-kenapa" ucap Dara


"Bagaimana kalau Flo tidak melakukan pengobatan itu? Aku tidak ingin menyakitinya, karena itu juga akan menyakitiku" ucap Lingga


"Mas..." ucap Flo


"Sayang, aku tahu kita menginginkan anak. Tapi kamu lebih penting dari pada apapun, aku tidak masalah dengan punya anak atau tidak, yang penting kamu berada di sisiku. Aku tidak ingin mengambil resiko yang akan menyakitimu dan kehilangan kamu" ucap Lingga menatap sang istri.


"Tapi mas..." ucap Flo


"Aku mencintaimu Flo, sangat... Aku rela kehilangan semuanya asal bukan kamu!" ucap Lingga menitikkan air matanya. Hal itu membuat Flo sakit melihat air mata tulus dari sang suami.


"Lingga, kamu tahu kalau Flo tidak melakukan pengobatan, itu akan membahayakan juga bagi Flo" ucap Kai


"Maksud kakak?" tanya Lingga terkejut saat mendengar ucapan Kai


"Jika janin tidak segera di obati dengan cepat, dia akan mati dan membuat sel yang menyerupai kanker dan menggerogoti vitalitas hidup Flo. Rahim Flo akan mengecil dan tidak akan bisa memiliki anak lagi sepanjang hidupnya. Kalaupun Flo kuat bertahan hidup, paling lama hanya sepuluh tahun" ucap Dara.


Mendengar itu membuat Lingga seperti tersambar petir, nyawanya seperti tengah di tarik paksa. ini pilihan yang sulit.


"Apa tidak bisa janinnya di ambil saja kak? Melakukan operasi pengangkatan janin mungkin?" ucap Lingga.


"Ini bukan kasus janin biasa Lingga, Flo adalah kultivator dan yang di alaminya adalah kasus langka. Janin itu tidak bisa di angkat karena menyatu dengan tubuh Flo sendiri, ini tidak bisa di hancurkan dengan metode pengobatan modern. Bahkan Pil penyembuhan yang aku miliki tidak bisa mengatasinya. Satu-satunya cara adalah melakukan pengobatan dan aku akan membuat pil kehidupan untuk membantu menyelamatkan dan menyembuhkan anak kalian. Meskipun aku belum tahu ini berhasil atau tidak" ucap Dara


"Ya Tuhan...." ucap Lingga frustasi.


"Mas biarkan aku mencobanya, hmmm" ucap Flo


"Sayang..." ucap Lingga berat, menatap sang istri bimbang.


Ini pilihan berat untuknya. Satu sisi jika ia menolak, ia masih memiliki waktu hidup bersama istrinya kurang lebih sepuluh tahun. Tapi ia ingin hidup lebih lama dengan Flo, ia masih ingin membahagiakan istrinya itu.


Namun jika ia mengizinkan, kemungkinan hidup anak dan istrinya akan terselamatkan. Namun itu masih belum pasti karena bisa saja kemungkinan terburuk terjadi saat masa pengobatan. Ia bisa saja kehilangan Flo dan anaknya saat itu juga.


...•••••••...