The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
243. Lingga kembali - Memulai penyelidikan



Di Ibukota, Flo merasa kesal karena kedatangan Lingga yang tiba-tiba membuatnya tidak bisa ke mana-mana.


Ya, pria itu baru saja sampai di negara tercintanya, ia tidak bisa lagi menahan lebih lama untuk tidak bertemu dengan gadis pujaannya. Ia sangat merindukan Flo dan ia nyaris gila karena ingin bertatap muka dengannya.


Bahkan ia belum sempat pulang ke Manor, setelah sampai di ibukota. Ia langsung menuju kantor di mana Flo tengah bekerja mengurus pekerjaan Dara.


"Isshh kenapa kamu mengekori ku terus" ucap Flo kesal.


"Baby aku tidak mengikutimu, aku hanya mengikuti kemanapun calon istriku pergi" ucap Lingga terkekeh, melihat Flo kesal itu sangat menyenangkan.


Mungkin dia gila, tapi ia benar-benar merindukan semua yang ada pada diri Flo, termasuk omelan dan kekesalannya. Bisa jadi ini akan menjadi hal yang selalu ia lakukan. Baginya wajah kesal Flo sangat menggemaskan.


Yang terpenting saat ini Flo tidak lagi menolak kehadirannya dan juga sudah mulai membuka hati untuknya.


"Haaahhh, terserah kamu" ucap Flo menyerah.


"Kalau begitu kita menikah saja bagaimana" ucap Lingga


"Bercandamu nggak lucu" ucap Flo.


"Bagian mana yang bercanda Babe, aku serius. Bagaimana kalau kita menikah hari ini, yuk ke KUA yuk!" ucap Lingga


"Astaga..." ucap Flo mengusap wajahnya lalu beranjak keluar dari ruangan


Entah mengapa hati Flo merasakan sesuatu yang aneh, ia merasakan begitu menyenangkan di perut dan naik ke hatinya yang begitu menggelitik.


Lihat saja tanpa di sadari sudut bibir Flo terangkat membentuk bukan sabit. Tentu saja itu tidak lepas dari pandangan Lingga, yang melihatnya dari pantulan kaca di sana.


Lingga merasa perjuangannya hanya butuh sedikit lagi agar bisa mendapatkan Flo. Ia akan mendapatkan gadis pujaannya, ia hanya butuh bersabar sedikit lagi.


Setelah ini ia akan pulang dan berterima kasih pada mamanya, karena hal ini tidak lepas dari bantuan mamanya.


Sebenarnya Flo juga kesal, karena kedatangan Lingga di rasa tidak tepat. Awalnya Flo ingin ikut Theo menyusul nonanya di Pulau N, karena ia merasa ada suatu hal besar yang di hadapi nonanya.


Hanya saja saat ia hendak berangkat dan mengambil berkas yang butuh di tanda tangani Dara, Lingga tiba-tiba datang ke perusahaan dan menahannya di sana


Flo sendiri bingung saat dirinya justru memilih tidak jadi berangkat dan malah diam di sana bersama dengan Lingga. Yang di pikirannya saat itu, ia merasa tidak tega meninggalkan Lingga yang sebenarnya datang demi dirinya dari luar negeri.


Flo sempat mengirim pesan pada Dara dan menceritakannya, namun ternyata Nonanya itu juga justru menyuruh Flo tetap stay dan menemani Lingga.


Dara juga mengatakan, Flo bisa menyusulnya jika Lingga kembali ke luar negeri. Sejujurnya Dara juga tengah membantu calon sepupu iparnya itu untuk dekat dengan orang kepercayaannya itu.


.....


Theo yang baru sampai di pulau N pun langsung menuju ke hotel di mana Dara menginap.


Orang suruhan Kai yang tak lain adalah salah satu anggota Falcon yang menjemputnya secara langsung di bandara.


Setelah sampai di kamarnya, Theo istirahat sebentar sebelum bertemu dengan nonanya itu.


Dan kini tiba waktunya ia bertemu dengan nonanya yang berada di kamar yang berbeda lantai dengannya. Ia sengaja menghampiri Dara yang ia tahu tengah bersama Kai di kamarnya.


"Bos, tuan muda" sapa Theo begitu ia melihat keduanya.


"Kau sudah datang, masuk dulu. Apa kau tidak istirahat dulu?" tanya Dara pengertian pada semua orang-orang nya itu.


Baginya semua orang-orangnya adalah Keluarganya dan dalam perlindungannya pula.


"Saya sudah istirahat sejenak tadi, anda tidak perlu khawatir Bos. Saya dalam keadaan yang baik dan sehat" ucap Theo yakin


"Bagus kalau begitu, kemarilah aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Dara meminta Theo untuk duduk di dekatnya dan Kai.


Kemudian Dara menceritakan semuanya pada Theo, Theo yang mendengarnya pun terkejut. Namun tak lama ia mengangguk dengan semangat.


Tentu selain urusan komputer, mesin juga merupakan minatnya yang lain. Ia setidaknya menguasai mesin di tingkat atas dan melakukan banyak hal pula pada mesin dan otomotif.


"Baik Bos" ucap Theo mengangguk.


Theo setelahnya terlihat sangat fokus mencoba membuka sandi rumit di Chip itu, dan berusaha melihat ada hal apa di balik Chip ini.


Sudah satu jam lamanya Theo berkutat di laptop canggih miliknya itu. Ini salah satu rekor terlama yang di lakukan Theo untuk membongkar sesuatu.


"Yeesss!!!" Akhirnya perjuangan Theo berbuah hasil manis. Ia berhasil membuka isi dari Chip itu, tidak sia-sia jarinya seperti tanpa tulanh karena terlalu banyak bermain dan menari di papan keyboard itu


"Kau berhasil?" tanya Dara dan Kai bersamaan dengan semangat.


Keduanya memang diam di sana dan melihat Theo yang mencoba meretas data di dalam Chips itu.


"Ya, lihat ini Bos. Sepertinya ini sangatlah penting bagi mereka, ini sudah aman dan bisa langsung di buka" ucap Theo kemudian


"Kau benar, biar aku lihat" ucap Dara


Dara dan Kai kemudian melihat apa isi Chips itu, keduanya bahkan Theo juga terkejut melihatnya. Itu adalah sesuatu yang sangat besar yang mereka lihat di sana.


"Astaga...." ucap Theo terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Dara dan Kai saling pandang, bisa Theo rasakan jika kedua junjungannya itu tengah menahan amarah saat ini. Bukan cuma Dara dan Kai, tapi dirinya juga marah. Ah tidak, tapi SANGAT MARAH! Mengetahui apa yang ia lihat di layar monitor.


"B-Bos...." ucap Theo


"Aku akan mempelajarinya, setelahnya hancurkan Chip ini. Selebihnya Theo, kau lacak siapa yang membuatnya dan siapa saja yang memiliki Chip ini" ucap Dara


"Baik!" ucap Theo.


Theo sadar betul, mulai saat ini ia akan terlibat dalam sesuatu yang sangat besar. Namun ia pantang untuk menyerah, ia akan selalu berada di samping nonanya dan melakukan yang terbaik sesuai sumpahnya.


"Cari tahu saat ini juga, Biar aku mempelajari cairan itu juga. Kita tidak punya banyak waktu karena lusa aku harus bekerja" ucap Dara


"Sayang..." ucap Kai


"Kai, lebih baik kamu kembali ke pangkalan. Jangan buat pergerakan yang membuat si tupai itu curiga, apalagi kamu sering keluar seperti ini, aku yakin tupai mengirim mata-mata lain. Lakukan sehalus mungkin dan bermainlah dengan cantik. Kabari aku jika kau menemukan sesuatu yang mencurigakan, tunggu aba-aba dariku untuk membuat gerakan lainnya. Biar urusan barang ini aku yang urus. Kau percaya padaku kan?" ucap Dara pada Kai


"Aku percaya padamu, lakukan apa yang kamu mau. Aku akan menuruti ucapanmu dan kembali ke pangkalan sekarang. Tapi kau harus berjanji akan baik-baik saja dan kabari aku jika ada apa-apa hmm?" ucap Kai lembut dan menggenggam tangan Dara.


"Tentu sayang, jangan khawatir. Aku percayakan Tupai itu padamu. Kumpulan bukti sebanyak yang kau bisa, setelah siap kita akan meledakkan bom waktu padanya dan menghancurkannya hingga ke akar dan tak mampu untuk bangkit lagi" ucap Dara


"Hmm, maaf aku merepotkanmu Yang. Jangan terlalu lelah dan memaksakan diri" ucap Kai


"Tidak masalah, ini untuk negara, dan juga masa depan kita semua. Ini sama sekali tidak melelahkan" ucap Dara


"Aku mencintaimu" ucap Kai mengecup bibir Dara


"Aku juga mencintaimu juga Kai" ucap Dara


Theo yang melihat kemesraan bosnya itu hanya mengigit jarinya.


"Emaaaakk, anakmu juga pengen. Tapi pertanyaannya sama siapa gue cap cip cup gitu, wong pacar aja gue nggak punya. Huuuhh nasib-nasib... Harusnya si bos jangan bikin jiwa jomblo gue meronta minta di lepaskan gini" gumam Theo dalam hati.


Setelahnya Kai pamit kembali ke pangkalan, Dara hanya menghela nafas menyadari masalah kali ini sungguh sangat besar. Ia tidak mungkin membiarkan Kai berjuang seorang diri, setidaknya ia juga memberikan bantuan meskipun hanya sedikit.


Ia sangat tahu jika Kai sangat kompeten dan mampu melakukan semuanya sendiri, namun ia tidak ingin mengambil resiko kalau sampai Kai lengah nantinya.


"Kita bekerja sekarang Theo!" ucap Dara tegas


"Siap Bos!" ucap Theo


Dara kemudian mengeluarkan cairan itu dan melakukan penelitiannya. Ia akan membongkar semuanya dan menghancurkan siapapun dalang dari semua masalah ini.


...•••••••...