
Dara melihat Kai yang melajukan motornya keluar dari lingkungan kampus. Dara merasa senang Kai mengantarnya ke kampus dan juga cemburu karena banyak orang yang menatapnya. Bukankah itu artinya Kai memang benar-benar mencintainya dan takut kehilangan dirinya?
Setelah Kai sudah tidak terlihat, Dara yang merasakan tepukan di belakangnya menoleh ke belakang. Ia melihat Cindy yang menatapnya cengo dan tatapan tidak percaya.
Cindy adalah salah satu dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berada di sana dan melihat Dara turun dari motor Kai. Ia juga terkejut melihat kecantikan Dara.
"Sumpah, cantik banget kamu Ra...." ucap Cindy dengan tatapa penuh dengan kekaguman.
"Cindy, aku kira siapa. Terimakasih Cindy kamu juga cantik kok" ucap Dara tersenyum tipis.
"Lihat Ra, mereka masih cengo melihat kecantikan paripurna bak Dewi khayangan" ucap Cindy heboh menunjuk ke arah orang-orang.
Benar saja, Dara melihat beberapa orang-orang masih cengo meskipun beberapa sudah Sadar dan menyeka darah di hidung mereka.
"Tadi itu yang nganter kamu, mas ganteng pacar kamu yang di bandara bukan?" tanya Cindy penasaran
"Iya, itu dia" ucap Dara mengakui nya dengan bangga. Dia tidak masalah orang lain menyebut Kai ganteng. Toh kenyataan nya memang demikian.
"Waaahhhh, untung aja si mas ganteng nggak buka helm. Kalau nggak, banjir-banjir minisan dah tuh di kampus karena kalian berdua" ucap Cindy terkekeh, karena dia memang sudah pernah melihat ketampanan Kai yang war biasah.
"Ha-ha kamu bisa saja, sudah ayo masuk" ucap Dara menarik Cindy
"Mendadak jadi insecure nih, aku sama kamu kaya angsa dan itik buruk rupa Ra. Jompang bener" ucap Cindy meringis minder.
"Jangan lebay ah, semua cewek itu cantik. Kamu cantik kok Cin, jadi jangan insecure. Kamu pasti punya kelebihan yang tidak aku punya, begitupun sebaliknya. Kamu cantik dan menarik" ucap Dara
Dara dan Cindy kemudian berjalan bersama dan pisah di lorong gedung yang memisahkan gedung Kedokteran dan juga gedung dosen.
Sepanjang perjalanan semua orang yang melihat Dara, sudah menjadi pemandangan umum yang terjadi saat melihat kecantikan Dara. Hidung hampir semua orang tergenang darah mimisan.
Dara mengabaikan pemandangan yang mengarah padanya, ia sudah memutuskan untuk terbiasa dengan itu mulai dari sekarang.
Ia kemudian masuk ke ruangan Dosen yang sama-sama menatap nya dengan tatapan penuh terpesona, meskipun tidak terlalu karena mereka sebelumnya sudah pernah melihat Dara saat pertama kali Dara datang ke kampus.
Dara langsung berjalan ke arah meja pak Sugeng, setiap melewati Dosen lain Dara menunduk dan menyapa dengan sopan. Dara sudah mengirimkan pesan pada pak Sugeng dan ingin bertemu pagi ini, jadi pak Sugeng sudah berada di mejanya saat ini.
"Selamat pagi Pak" sapa Dara
"Pagi Dara.... Astaga, bidadari!!!" pekik Pak Sugeng saat terkejut saat ia mendongak dan menatap Dara.
"Ke-kenapa kamu tidak pakai masker Dara?" tanya Pak Sugeng, karena tidak terbiasa melihat kecantikan Dara meskipun sudah pernah melihat keindahan ciptaan Author itu, eh salah ciptaan sang maha kuasa.
"Saya malas pakai masker Pak, engap juga tiap hari pakai masker. Apalagi cuaca terik gini dan saya juga mau menikmati waktu seperti mahasiswi yang lain, makan di kantin gitu misalnya" ucap Dara.
Ya Dara tidak berbohong, semenjak memutuskan untuk mempercepat kuliahnya. Ia juga ingin dalam waktu singkatnya kuliah, ia menikmati masa dirinya menjadi mahasiswi normal seperti yang lain.
Kan selama ini ia tidak pernah makan di kantin karena tidak ingin orang-orang heboh melihatnya. Tapi sekarang ia ingin merasakan hal sepele seperti makan di kantin kampusnya itu.
"Hah..." Pak Sugeng menghela nafasnya mendengar ucapan Dara. Ia tidak memiliki hak untuk melarang Dara, meskipun ia khawatir kampusnya akan gempar.
Bukan akan lagi sebenarnya, karena sepanjang Dara jalan barusan sudah membuat kehebohan, bahkan dirinya masuk ke akun lambe turah dan akun media sosial kampus.
"Jadi ada keperluan apa kamu ingin bertemu?" tanya Pak Sugeng
"Saya ingin mengajukan judul skripsi Pak" ucap Dara sembari menyodorkan berkas pada Pak Sugeng.
Sugeng dan Dosen yang lain yang ada di sana terkejut mendengar ucapan Dara. Meskipun Dara adalah mahasiswi yang sangat cerdas, bahkan saat ujian selalu mendapatkan nilai sempurna. Namun tetap saja ia kaget mendengar muridnya yang baru beberapa bulan ia ajar, sudah mau mengajukan skripsi.
"Apa kamu yakin? Apa tidak terlalu terburu-buru Dara? Saya tahu kamu sangat pintar, tapi untuk lulus dengan cepat sangat sulit untuk di lakukan. Untuk orang normal butuh empat atau lima tahun untuk lulus, bahkan ada yang lebih dari lima tahun" ucap Pak Sugeng.
"Saya sudah yakin dan sudah memikirkannya dengan masak-masak, saya sanggup untuk melakukan syarat untuk kelulusan sesuai prosedur" ucap Dara.
Baginya tidak ada masalah berarti untuk membuatnya lulus dengan cepat. Ia yakin jika dirinya bisa lulus dengan cepat.
"Baiklah, permohonan kamu bapak akan keep lebih dulu. Bapak akan kasih kabar paling lambat dua hari lagi. Jika pun permohonan kamu di terima, kamu harus siap dengan ujian-ujian yang harus di lewati. Baik itu tertulis dan praktek, kamu juga harus koas yang belum bisa di tentukan di mana kamu akan melakukan koas" ucap Sugeng.
"Saya siap pak" ucap Dara dengan yakin.
Kehebohan tentang kecantikan Dara tidak membutuhkan waktu yang lama untuk meluas. Bahkan semua orang dari fakultas dan jurusan lain, kini berbondong-bondong datang ke kelas Dara untuk membuktikan nya.
Dara yang merasakan semua tatapan mata mengarah padanya hanya cuek saja membaca buku tentang kedokteran tingkat lanjut di atas meja.
Daffa yang di sebelahnya menatap Dara tanpa berkedip, lalu ia sadar saat melihat banyak orang melihat ke arah Dara.
"Ngapain kalian berkumpul di sini hah?? Bubar!! Bubar!!" ucap geram Daffa melihat beberapa orang menatap terpesona ke arah Dara.
Dengan susah payah Daffa mengusir mereka, namun mereka tidak bergeming dengan ucapannya. Mereka baru bubar saat Pak Sugeng masuk ke kelas dan dengan tegas mengusir mereka yang bukan mahasiswa dari kelas nya.
Sepanjang pelajaran Daffa yang jantungnya berdetak makin kencang, sesekali mencuri pandang ke arah Dara. Ia tidak menyangka jika gadis pujaannya secantik bak bidadari.
Ia juga tak ayal merasa kesal karena saat ini Dara menjadi pusat perhatian, ia merasa saingannya semakin banyak.
....
"Daraaaaa!!!!" teriak Celine yang masuk ke kelas Dara bersama dengan Samuel di belakangnya. Saat kelas Dara baru selesai rampung.
Keduanya terkejut saat mendengar Dara sudah tidak memakai masker saat datang ke kampus. Terutama Samuel yang sudah misuh-misuh sendiri saat tahu berita itu.
"Iiissshh bisa nggak, nggak teriak-teriak comel!!" omel Daffa kesal dengan kedatangan Celine dan Samuel.
"Nggak bisa tuh! Lo mau apa???" tantang Celine
"Dasar cewek toa!" umpat Daffa
"Diihh dasar knalpot racing! Diem lo! Bukan urusan Lo, minggir gue mau ketemu Bestie gue" ucap Celine.
Dara yang mendengar keduanya ribut hanya menggelengkan kepalanya. Samuel juga tidak ada niatan untuk melerai keduanya, ia sibuk menatap Dara.
Ia terpesona dan juga merasa tidak rela kecantikan Dara bisa di lihat banyak orang orang sekarang. Dalam hati ia sudah bertekad untuk maju dan meluluhkan Dara. Ia tidak lagi mengangumi dari jauh seperti sebelumnya.
"Hai Ra..." sapa Samuel dengan senyum di wajahnya yang selalu datar itu. Ia menarik bangku kosong di depan meja Dara dan duduk di sana.
"Hai Sam" sapa balik Dara biasa saja, tanpa senyum di wajahnya. Ia tidak bodoh dan mengerti kalau Samuel menyimpan perasaan untuknya.
Sayangnya itu sudah sangat terlambat, karena hati Dara sudah di miliki Kai seorang.
"Kenapa kamu lepas maskernya?" tanya Samuel lembut.
"Pengen lepas aja, pengap, udara sangat panas" ucap Dara.
Samuel mengangguk mengerti, karena ia pikir cuaca memang lagi terik-teriknya. Melihat Celine dan Daffa tidak berhenti berdebat, lama kelamaan membuat Dara pusing juga.
"Kalian ribut Mulu kalau bertemu, jangan-jangan kalian jodoh!" celetuk Dara
"Idiihhh... Najiiisss!!! Ogaaahh!!! Hueekkkk!" ucap keduanya
"Wow kompak sekali, Fix kalian jodoh, no debat!" ucap Dara terkekeh melihat respon kedua nya.
"Whaaaattt??? Diiihh Amit-amit jabang keboo!!! Kagak mau sama modelan kaya dia" teriak keduanya kompak.
Kemudian Celine dan Daffa saling pandang dan bergidik ngeri. Menyadari jika keduanya berbicara bersamaan dengan kata yang sama.
"Lo jangan ngikutin kata-kata gue ya!" ucap Celine marah
"Diihh siapa juga yang ikutin, itu Lo yang ikutin gue!" Daffa tidak mau kalah.
"Issh dasar Cowok rese, nyebelin, knalpot racing!" sahut Celine
Dara yang semakin pusing pergi meninggalkan kelas tanpa di sadari dua orang yang masih asik berdebat. Samuel juga mengikuti Dara keluar dari kelas.
...•••••••...